Archive

Archive for the ‘kehidupan’ Category

Bangkit

Siang tadi, anak lanang mengikuti sebuah lomba. Lombanya adalah menyusun balok Lego menjadi suatu bentuk alat untuk memenuhi misi tertentu. Kali ini misinya adalah untuk membawa bola ping-pong sebanyak mungkin dan mampu merobohkan sejumlah tiang yang tersedia. Alat dirancang tiap peserta, bentuk bebas, dengan bimbingan pengajar. Hasil lomba penting, namun yang lebih penting adalah proses dan pengalaman yang dijalani saat persiapan dan juga saat jalannya perlombaan.

Tiap peserta diberi waktu untuk membangun alat sesuai rancangan mereka, dan diberi kesempatan sebanyak tiga kali untuk menguji kerjanya alat, sebelum nantinya diberi dua kali kesempatan untuk menjalankan alat sambil dinilai. Pada kali pertama ujicoba, alat bikinan anak lanang berfungsi baik, namun masih tersedia ruang untuk perbaikan. Demikian pula pada ujicoba kedua kali. Namun, saat mengusung alat setelah ujicoba kedua, sepertinya dia membawanya kurang berhati-hati, alat jatuh dan hancur berkeping-keping.

Bikin alat

Hancur

Kami selaku orang tua mengamati dari jauh dari awal, dan tetap demikian ketika “masalah” terjadi. Rupanya dia tetap tenang, mengumpulkan kembali balok-balok Lego yang berceceran, dan mulai membangun lagi alatnya. Tidak tampak dia celingukan mencari “dukungan mental” dari kami. Masalah ia hadapi dan tangani sendiri. Alat terangkai kembali, dan dia mengambil kesempatan untuk mengujicoba lagi alatnya.

Bikin lagi

Alat dijalankan, dinilai. Dia menunggu pengumuman lomba dengan santai, mendapati bahwa dia tidak termasuk di jajaran pemenang, pulang tetap dengan hati riang.

=====

Hidup tak selalu berjalan sebagaimana direncanakan. Masalah bisa terjadi dari arah yang tidak kita sangka dan antisipasi. Hal yang penting setelah masalah terjadi adalah bagaimana kita bisa bangkit lagi.

Kami senang melihatnya bisa tenang menghadapi “masalah besar” saat lomba tengah berlangsung. Alat dibangun lagi, malah dengan sedikit improvisasi.

Setiap masalah adalah latihan Nak, latihan untuk menghadapi masalah yang mungkin lebih besar lagi. Mungkin tidak selalu kita bisa menghadapinya dengan tenang. Tak apa gelisah sebentar, menenangkan diri juga bagian dari pelajaran hidup.

Selamat menjalani petualangan selanjutnya.

Advertisements
Categories: anak, kehidupan Tags: , , ,

Belajar Tidak Mengantri

Saat saya kecil dulu, saya banyak diajari untuk mengantri. Tidak hanya oleh orang tua, tapi juga oleh guru di sekolah. Tidak hanya sekali, berkali-kali. Tidak hanya lewat perkataan, tapi juga lewat teladan yang mereka berikan. Semuanya saya ingat betul, dan saya coba selalu terapkan hingga saat ini.

Namun saya juga masih ingat betul, kapan saya belajar untuk tidak mengantri.

Suatu kali saat saya masih duduk di bangku SD, saya diminta ibu saya untuk membeli sesuatu di pasar, di warung langganan ibu saya. Saya sudah sering diajak ibu berbelanja di pasar, termasuk di warung itu. Warung Bu Rakih namanya. Meski sering diajak ke situ, saya biasanya tidak memperhatikan proses ibu menawar dan membeli, saya lebih suka mengamati barang-barang dagangan yang ada. Nah, saat saya diminta ibu membeli sesuatu di situ, itu jadi pengalaman pertama saya bertransaksi di pasar.

Warung Bu Rakih ramai, seperti biasanya. Saya mendekat ke Bu Rakih dan pegawai-pegawainya, menunggu giliran saya untuk menyampaikan barang apa yang mau saya beli. Saya sudah mengamati siapa-siapa saja yang datang sebelum saya, dan saya sabar menunggu giliran saya. Singkat kata, saya mencoba mengantri. Para calon pembeli meneriakkan pesanannya. Hingga saat semua orang yang datang sebelum saya selesai dilayani, saya belum juga mendapat kesempatan menyampaikan pesanan saya. Orang-orang itu langsung saja meneriakkan pesanannya, dan mereka semua dilayani. Saya marah, saya bingung. Mengapa mereka tidak mengantri? Hingga suatu ketika Bu Rakih menanyai saya, apa yang mau saya beli.

Saya hingga saat itu banyak diajari mengantri, namun hari itu saya belajar tentang tidak mengantri.

Categories: budaya, kehidupan Tags: , ,

Obrolan Anak Lelaki dan Ayahnya

Hubungan antara anak lelaki dan ayahnya tidak jarang seperti hubungan antara dua bocah lelaki, hanya saja yang satunya punya trik dan pengalaman lebih banyak. Kadar keisengan antara keduanya tak jauh beda, hal-hal yang diminatinya juga mirip-mirip saja, misalnya seputar mainan.

Baru saja saya ngobrol panjang dengan anak lanang saya. Bermula dari soal kerennya Lego Bionicle, berlanjut dengan soal Kungfu Panda 3 dan cerita dia soal pertemanan di sekolahnya, dan diakhiri dengan doa Bapa Kami bersama #eh 🙂

Sebelum tidur dia bilang, “Asyik ya ngobrol kayak gini sama Papi..”

Saya juga bilang, “Memang asyik..”

Dia bilang, “Tapi kalo besok kayaknya Papi gak bisa, kan Papi kerja..” (belakangan ini memang saya punya pekerjaan yang harus dikerjakan sampai malam)

Dia lanjutkan, “Mungkin bisa lagi minggu depan.” (maksudnya Sabtu – Minggu depan)

Saya jawab, “Ok!”

Obrolan seperti tadi memang bukan kejadian satu-satunya. Juga bukan kejadian yang jarang terjadi. Tapi komentar dia soal asyik itu memang baru sekali ini terucap. Dan itu menyentuh hati saya #eh

Kita akan ngobrol banyak lagi anakku. Masih ada banyak hal yang kita bisa obrolkan bersama. Soal mainan, soal buku (kalo ini sih kesukaan Papi ya..), soal keisengan-keisengan yang mungkin bisa kita lakukan bersama (dan mungkin bikin Mami ngomel-ngomel, hehehe), dan banyaaaaak soal lain, termasuk soal cewek (suatu hari nanti ya…).

Sekarang tidurlah dahulu, keasyikan sehari di sekolah sudah menantimu esok hari.

Categories: anak, kehidupan, keluarga Tags: ,

Kisah Sepeda Motor

odometer

Kemarin odometer sepeda motor yang saya gunakan hampir balik ke angka awal 000000 (malamnya akhirnya tembus sih). 

Saya tidak tahu seberapa banyak atau sering hal ini terjadi pada sepeda motor yang digunakan orang lain. Tapi bagi saya, ini baru pertama kalinya.

Sepeda motor itu buatan/rakitan tahun 1993. Mulai saya gunakan ketika menjelang kuliah tahun 1997 (jadi ketahuan kalo sudah tua ya, hehehe). Ayah saya membelinya dari pemilik pertamanya, mantan Ketua RT tempat dulu kami tinggal. Jadi, andaikan sepeda motor itu anak yang lahir tahun 1993, sekarang mungkin ia sudah lulus kuliah.

Sudah sejak beberapa tahun yang lalu, setiap kali saya membawanya untuk service rutin saya mendapati sepeda motor itu kendaraan tertua di bengkel service.

Banyak peristiwa yang saya alami bersama sepeda motor itu. Perjalanan kos-kampus, perjalanan Solo-Yogya berulang kali dilakoni bersamanya. Bertahun-tahun membonceng pacar (yang lalu jadi istri), yang kemudian juga memboncengkan anak, semua bersama sepeda motor itu. Perjuangan saya mencari rejeki, juga banyak dibantu oleh sepeda motor itu, bahkan hingga saat ini.

Sepeda motor itu adalah salah satu modal awal penting dari orang tua saya untuk membantu saya menjalani hidup dewasa saya.

Semoga ia tetap setia menemani saya dalam tahun-tahun mendatang.

Categories: kehidupan Tags: ,

Apakah kita semakin tidak sabaran?

Sir Alex Ferguson, mengawali kiprahnya di Manchester United dengan kekalahan 0-2. Jadi manajer sejak 1986, tapi baru juara pada musim 1992-1993. Bagi para manajer zaman sekarang, itu kesempatan yang amat langka. Para “analis” akan mendapatkan mangsa empuknya pada si sosok manajer yang tak “berprestasi” dalam rentang waktu selama itu, pada klub yang sebesar itu (MU sudah pernah menjuarai berbagai kompetisi pada tahun-tahun sebelumnya, meski tak semengkilap pada era SAF).

9 Agustus 1965, dalam keadaan serba tak siap, Singapura berpisah dengan Malaysia. Lee Kuan Yew, yang hingga saat itu amat meyakini persatuan dengan Malaysia adalah jalan terbaik bagi masa depan Singapura, amat terpukul. Dikisahkan ia menyepi hingga enam minggu sebelum melakukan langkah apapun. Sungguh tak terbayangkan kondisi semacam itu terjadi di zaman sekarang. Demo pasti sudah terjadi di mana-mana. “Ada di mana pemerintah?”, mungkin begitu kira-kira isi demonya.

SAF dan LKY jelas bukan sosok yang sempurna, namun pada akhirnya ada banyak prestasi yang mereka catatkan dalam sejarah. Catatan prestasi istimewa itu tak mungkin terwujud tanpa “kesabaran” orang-orang di sekitarnya. “Kesabaran” untuk menunggu, sekaligus “memberikan toleransi” pada sisi-sisi negatif diri mereka.

Mungkin ada yang mengira tulisan ini untuk mengomentari keriuhan politik Indonesia akhir-akhir ini. Silakan saja.

Tapi ada banyak hal lain yang mungkin bisa ikut kita cermati juga.

Di hari-hari ini, orang bisa memutuskan hal besar hanya karena satu atau dua hal kecil. Memutuskan hubungan dengan pasangan hanya karena satu dua perselisihan. Marah besar pada anak hanya karena satu dua nilai ulangan yang kurang memuaskan. Memecat karyawan hanya karena satu dua penilaian kinerja yang mungkin hanya sedikit di bawah standar. Bahkan, mencelakai atau membunuh orang hanya karena satu dua masalah yang amat sangat sepele.

Apakah sungguh kita semakin tidak sabaran?

Belajar soal adab dari Pak Majid

Dalam sebuah pertemuan koordinasi petugas loket pendaftaran dan kasir puskesmas yang dipimpin Pak Majid, kepala puskesmas, siang tadi, saya mencuri dengar pembicaraan yang menarik.

Ada banyak kasus di puskesmas, saat pelajar mendaftarkan diri ke loket pendaftaran puskesmas untuk memperoleh layanan kesehatan, mereka diminta oleh petugas loket untuk menunjukkan surat pengantar dari sekolah, untuk memastikan bahwa mereka adalah benar pelajar (sekalipun mereka ke puskesmas masih mengenakan seragam sekolah). Para petugas loket berdalih, ini agar tarif jasa kesehatan khusus pelajar tidak disalahgunakan.

Pak Majid menanggapinya dengan sangat menarik. Ini yang beliau katakan:
“Apakah kita sudah kalah beradab dengan kondektur bus kota? Pernahkah kondektur bus meminta surat pengantar dari sekolah pada para pelajar yang jadi penumpang bus? Bagaimana jika putra-putri bapak ibu yang masih bersekolah diminta surat seperti itu ketika mau naik bus?”

Pak Tarno

Ada seorang tukang langganan kami sekeluarga. Pak Tarno namanya. Berusia paruh baya, anaknya sudah mapan semua. Meski demikian, Pak Tarno menolak tinggal duduk diam di rumah menimang cucu. Pak Tarno selalu aktif bekerja memperbaiki rumah orang, sesuai pesanan. Tinggal di Solo, tapi tidak jarang kami minta ke Yogya jika ada yang perlu diperbaiki di rumah kami di Yogya.

Bermula dari kebutuhan kami untuk memperbaiki beberapa bagian rumah agar rapi dan tidak berbahaya bagi anak kami yang masih kecil, saya dikenalkan oleh Pak Tarno oleh mertua. Sudah beberapa waktu Pak Tarno jadi andalan perbaikan rumah di rumah mertua. Semenjak itu, setiap ada kebutuhan perbaikan rumah, mulai dari pintu yang rusak, kusen yang keropos, pemasangan keramik, hingga saluran air yang bermasalah, kami selalu menggunakan jasa Pak Tarno. Di mata kami, Pak Tarno tukang yang hebat. Hasil kerjanya rapi, penuh akal dalam menyelesaikan permasalahan yang ada, selalu berusaha menggunakan apapun yang ada agar biaya bahan optimal, bekerja tanpa banyak cakap.

Tiap kali kami undang ke Yogya, Pak Tarno naik kereta Prameks. Saya jemput dari dan antar ke stasiun. Pak Tarno tidak pernah mau punya handphone, namun Pak Tarno selalu datang pada jam yang sama, jadi saya sudah hafal jam berapa mesti menjemputnya di stasiun.

Anak kami selalu senang saat bertemu Pak Tarno. Pak Tarno dipanggilnya Eyang, “Yang” begitu panggil anak kami. Gerak gerik Pak Tarno saat bekerja tak jarang ditirunya. Pak Tarno selalu tersenyum melihat tingkah polah anak kami.

====================

Hari Kamis minggu yang lalu, Pak Tarno kami minta ke Yogya untuk mengatasi saluran air rumah kami yang bermasalah. Bekerja dari pagi hingga sore, hingga akhirnya saluran air kembali lancar. Sore itu, seperti biasanya Pak Tarno saya antar ke stasiun untuk pulang ke Solo. Di jalan, saat saya boncengkan naik motor, tidak seperti biasanya Pak Tarno menitipkan pesan pada saya agar mengabarkan pada menantunya untuk tidak menjemput ke stasiun (biasanya Pak Tarno diantar-jemput oleh menantunya di stasiun). “Soalnya kalo sore biasanya pada repot Mas. Nanti bilang saja saya mau naik ojek,” pesan Pak Tarno pada saya. Pesan saya kerjakan. Terus terang, saya dan mertua (yang mendengar ini dari saya) merasa agak heran. “Kok tumben,” kata mertua saya waktu itu.

Esoknya, hari Jumat, tepat seminggu yang lalu, pada sore hari istri saya menerima kabar dari ayahnya bahwa Pak Tarno jatuh dari ketinggian hingga tidak sadarkan diri. Informasi lanjutan terus disusulkan. Perkaranya amat sepele. Pak Tarno jatuh dari pohon matoa karena dahannya patah. Dan jatuhnya kepala duluan. Dokter di Rumah Sakit memutuskan untuk mengoperasi. Operasi dilangsungkan, namun Pak Tarno masih belum juga siuman. Ada gerakan-gerakan kecil pada tangan dan kakinya. Ada air mata yang mengalir ketika istri, anak, cucunya berbicara padanya.

Sore ini, istri saya mendapat kabar bahwa Pak Tarno meninggal dunia.

Terimakasih Pak Tarno, untuk semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan pada kami sekeluarga. Hasil karyamu akan terukir abadi di sudut-sudut rumah kecil kami dan juga di hati kami. Selamat jalan.

Categories: kehidupan