Archive

Author Archive

Gatal

Beberapa hari ini saya kena penyakit gatal, kena gigitan serangga. Gatal adalah jenis sakit yang amat menyebalkan. Pengennya digaruk karena akan terasa nikmat, tapi saya juga tahu jika digaruk bakal membuat kulit yang gatal semakin parah kondisinya, salah-salah malah makin melebar area gatalnya. Saya mesti kuat menahan diri agar tidak menuruti hasrat kenikmatan sesaat untuk menggaruk.

===

Tidak jarang kita menghadapi situasi yang membuat kita “gatal”.  Di saat berkendara nyaman di jalan, mendadak dipepet kendaraan lain, muncul rasa “gatal” untuk balas memepet. Ketika di medsos ada yang merendahkan nilai-nilai yang kita anggap baik dan mulia, muncul rasa “gatal” untuk membalas. Dan mungkin ada berjuta situasi lain lagi yang membuat hati terasa “gatal” dan menguatkan niat untuk segera “menggaruk”.

Segera balik membalas jelas menjanjikan rasa nyaman instan, rasa lega, rasa menang, rasa puas. Namun apakah itu membuat situasi lebih baik? Bagaimana jika orang yang kita balas pepet di jalan tambah naik emosinya dan kemudian semuanya berakhir dengan tabrakan di jalan? Masih merasa puas? Bagaimana jika balasan kita di medsos berbuah kericuhan besar? Masih merasa menang?

Tidak setiap rasa gatal mesti ditanggapi dengan garukan. Ada kalanya menguatkan hati menahan rasa gatal sambil mencari cara lain untuk mengurai persoalan membuahkan kondisi yang lebih baik, meski mungkin tidak diperoleh seketika.

===

Ada waktu di mana rasa gatal seolah tak tertahankan, dan jari jemari sudah mulai bergerak untuk mulai menggaruk. Niat menahan diri mesti diperkuat. Kini, rasa gatal akibat gigitan serangga itu sudah mereda, setelah rutin dioles salep selama beberapa hari. Perbaikan jelas tampak, walau terasa lambat.

AARRRRGGGHHHH.. GATAL..

Advertisements
Categories: kehidupan Tags: ,

Stylometry

Pada bulan April 2013, novel berjudul The Cuckoo’s Calling hasil karya Robert Galbraith – seorang pengarang baru – diterbitkan. Novel tersebut mendapat tanggapan baik, meski tidak istimewa. Namun pada Juli 2013, seseorang menulis twit bahwa novel tersebut sejatinya ditulis oleh J.K. Rowling, penulis yang dikenal melalui karyanya serial Harry Potter. Beberapa orang mulai mengadakan penyelidikan, dan kemudian mendapatkan hasil analisis bahwa kemungkinan besar The Cuckoo’s Calling benar ditulis oleh J.K. Rowling. Dunia penerbitan gempar, terlebih setelah J.K. Rowling memberikan konfirmasi bahwa benar dialah yang menulis novel tersebut.

Yang menarik dari kejadian tersebut adalah: bagaimana penyelidikan atas naskah novel dilakukan hingga akhirnya mendapatkan kesimpulan bahwa kemungkinan besar penulisnya benar J.K. Rowling? Di sinilah stylometry, penerapan ilmu stilistika – cabang ilmu linguistik yang membahas tentang gaya bahasa – berperan.

Kita sudah menyadari bahwa ada gaya bahasa tertentu dalam setiap tulisan. Gaya bahasa itu tentu mengikuti siapa penulisnya. Tiap penulis punya gaya bahasa, gaya tulisan tersendiri. Tidak jarang kita dapat mengenali seorang penulis sebuah tulisan dari kata-kata atau frase (gabungan kata) khas yang sering digunakannya. Bisa juga kita mengenali panjang pendek rumit sederhana kalimat-kalimatnya.

Dalam kasus The Cuckoo’s Calling tadi, orang-orang menggunakan perangkat lunak untuk membantu mengenali pola-pola seperti disebut di atas. Salah satu ciri J.K. Rowling adalah, ia sering menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Latin dalam novelnya. Ini tentu dapat dikenali oleh pengamat yang teliti, namun akan jauh lebih mudah diketahui jika menggunakan perangkat lunak. Perangkat lunak yang digunakan pada waktu itu adalah Java Graphical Authorship Attribution Program (JGAAP) – sebuah perangkat lunak gratis. JGAAP bekerja dengan memuat naskah referensi (dalam hal ini naskah novel-novel J.K. Rowling sebelumnya), dan kemudian membandingkannya dengan naskah The Cuckoo’s Calling.

Dengan alat bantu yang makin cepat dan cermat kerjanya: perangkat lunak, stylometry dapat digunakan untuk hal-hal lain seperti misalnya: mengenali penulis dari tulisan-tulisan anonim yang sering dijumpai di internet. Ini ancaman nyata atas anonimitas dan privasi orang. Jika selama ini orang dapat berlindung di balik akun-akun anonim atau bahkan palsu, dengan stylometry sosok di balik akun anonim dapat dikenali melalui gaya bahasa tulisan-tulisannya.

Referensi:
https://www.techwell.com/techwell-insights/2013/07/analysis-software-wrecked-jk-rowling-s-anonymity
http://languagelog.ldc.upenn.edu/nll/?p=5315

Bangkit

Siang tadi, anak lanang mengikuti sebuah lomba. Lombanya adalah menyusun balok Lego menjadi suatu bentuk alat untuk memenuhi misi tertentu. Kali ini misinya adalah untuk membawa bola ping-pong sebanyak mungkin dan mampu merobohkan sejumlah tiang yang tersedia. Alat dirancang tiap peserta, bentuk bebas, dengan bimbingan pengajar. Hasil lomba penting, namun yang lebih penting adalah proses dan pengalaman yang dijalani saat persiapan dan juga saat jalannya perlombaan.

Tiap peserta diberi waktu untuk membangun alat sesuai rancangan mereka, dan diberi kesempatan sebanyak tiga kali untuk menguji kerjanya alat, sebelum nantinya diberi dua kali kesempatan untuk menjalankan alat sambil dinilai. Pada kali pertama ujicoba, alat bikinan anak lanang berfungsi baik, namun masih tersedia ruang untuk perbaikan. Demikian pula pada ujicoba kedua kali. Namun, saat mengusung alat setelah ujicoba kedua, sepertinya dia membawanya kurang berhati-hati, alat jatuh dan hancur berkeping-keping.

Bikin alat

Hancur

Kami selaku orang tua mengamati dari jauh dari awal, dan tetap demikian ketika “masalah” terjadi. Rupanya dia tetap tenang, mengumpulkan kembali balok-balok Lego yang berceceran, dan mulai membangun lagi alatnya. Tidak tampak dia celingukan mencari “dukungan mental” dari kami. Masalah ia hadapi dan tangani sendiri. Alat terangkai kembali, dan dia mengambil kesempatan untuk mengujicoba lagi alatnya.

Bikin lagi

Alat dijalankan, dinilai. Dia menunggu pengumuman lomba dengan santai, mendapati bahwa dia tidak termasuk di jajaran pemenang, pulang tetap dengan hati riang.

=====

Hidup tak selalu berjalan sebagaimana direncanakan. Masalah bisa terjadi dari arah yang tidak kita sangka dan antisipasi. Hal yang penting setelah masalah terjadi adalah bagaimana kita bisa bangkit lagi.

Kami senang melihatnya bisa tenang menghadapi “masalah besar” saat lomba tengah berlangsung. Alat dibangun lagi, malah dengan sedikit improvisasi.

Setiap masalah adalah latihan Nak, latihan untuk menghadapi masalah yang mungkin lebih besar lagi. Mungkin tidak selalu kita bisa menghadapinya dengan tenang. Tak apa gelisah sebentar, menenangkan diri juga bagian dari pelajaran hidup.

Selamat menjalani petualangan selanjutnya.

Categories: anak, kehidupan Tags: , , ,

Kaya Raya

London, 1986.

Serombongan tamu berwajah oriental masuk ke satu hotel yang sangat mewah di London. Mereka terdiri dari tiga orang wanita dewasa dan tiga anak remaja yang saling bersepupu. Semuanya basah kuyup setelah berjalan sekian blok di bawah derasnya hujan. Felicity Leong, salah satu wanita dewasa dalam rombongan itu, sebelumnya memutuskan bahwa adalah sebuah pemborosan bagi mereka untuk menyewa taksi dari Stasiun Piccadilly menuju hotel yang hanya sekian blok saja.

Reginald Ormsby, manajer hotel itu, merasa kesal melihat hotelnya menjadi kotor oleh tamu-tamu yang basah kuyup itu. Ketika Eleanor Young menjelaskan bahwa mereka punya reservasi di hotel itu, Ormsby terkejut. Ia tak menyangka Eleanor Young yang membuat reservasi itu rupanya tamu berdarah China, yang saat ini mengotori hotelnya. Menurut Ormsby, hotel itu terlalu berkelas untuk menerima tamu semacam itu. Ia bersikeras tidak ada informasi reservasi atas nama Eleanor Young.

Rombongan tamu itu merasa bahwa mereka sedang diperlakukan tidak adil oleh si manajer hotel. Melalui telepon umum di seberang hotel, Felicity menghubungi suaminya, Harry, menceritakan kesulitan yang dialaminya. Rupanya Harry pernah main golf bersama si pemilik hotel, bangsawan Inggris tulen yang keluarganya telah memiliki hotel itu sejak berabad silam. Harry berjanji pada istrinya bahwa ia akan mengatasi persoalan itu.

Tak lama setelahnya, Felicity beserta rombongan kembali memasuki hotel. Ia menegaskan bahwa ia telah membuat reservasi dan mereka akan menginap di situ. Sebelum Ormsby sempat mengatakan sesuatu, ia melihat sang pemilik hotel masuk ke hotel. Sang pemilik hotel menjelaskan bahwa kamar untuk tamu-tamu dari Asia itu perlu segera disiapkan. Dan ia memberikan satu informasi tambahan: malam itu juga ia telah menjual hotelnya dengan harga bagus, pada Harry Leong, seorang pengusaha dari Singapura.

======

Beberapa waktu lalu saya membaca novel Crazy Rich Asians, karya Kevin Kwan. Novel itu dibuka dengan kisah seperti saya ceritakan ulang di atas. Novel ini (dan juga novel lanjutannya: China Rich Girlfriend dan Rich People Problems) menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga Cina superkaya dari Singapura. Kisah pembuka novel ini menggambarkan kekhasan orang China kaya: mereka bisa amat pelit di satu hal, tapi amat royal di lain hal.

Kondisi hidup berkelimpahan materi bisa dibilang asing bagi kebanyakan kita, termasuk saya. Bisa memiliki sebuah rumah dan sebuah mobil sudah bisa kita anggap sebagai sebuah hidup yang berkecukupan. Namun rupanya ada sebagian orang yang amat sangat berkelimpahan materi. Mereka amat sangat kaya hingga bisa makan pagi di Singapura, makan siang di Hong Kong, dan makan malam di Bali. Kekayaan mereka memampukan mereka untuk membuat properti keluarga yang mereka miliki tidak nampak di Google Maps. Mereka cukup kaya untuk bisa membuat editor majalah gosip bersedia membatalkan pemuatan berita gosip atas skandal sanak keluarga mereka.

Novel ini menceritakan juga bagaimana hubungan sosial antar orang kaya terbentuk dan dijaga, bagaimana mereka memilih besan dan para menantu, dan juga bagaimana orang-orang kaya itu menjaga citra diri dan keluarganya.

Sekilas tampak nyaman dan menyenangkan, hidup sebagai orang kaya. Namun memang benar, rumput tetangga tampak lebih hijau. Orang kaya juga tidak lepas dari masalah yang harus diatasinya dari waktu ke waktu. Orang kaya, sebagaimana orang yang tidak kaya, tetap menghadapi masalah yang sama: bagaimana merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Ini disampaikan dengan baik oleh rangkaian novel ini.

Novel ini cocok untuk hiburan ringan, mengisi waktu santai. Tapi hati-hati, sekali mulai membaca, rasanya akan sulit untuk berhenti sebelum novel ini usai, setidaknya itu pengalaman saya.

Novel ini juga sedang difilmkan, dan akan tayang akhir tahun ini.

Belajar Tidak Mengantri

Saat saya kecil dulu, saya banyak diajari untuk mengantri. Tidak hanya oleh orang tua, tapi juga oleh guru di sekolah. Tidak hanya sekali, berkali-kali. Tidak hanya lewat perkataan, tapi juga lewat teladan yang mereka berikan. Semuanya saya ingat betul, dan saya coba selalu terapkan hingga saat ini.

Namun saya juga masih ingat betul, kapan saya belajar untuk tidak mengantri.

Suatu kali saat saya masih duduk di bangku SD, saya diminta ibu saya untuk membeli sesuatu di pasar, di warung langganan ibu saya. Saya sudah sering diajak ibu berbelanja di pasar, termasuk di warung itu. Warung Bu Rakih namanya. Meski sering diajak ke situ, saya biasanya tidak memperhatikan proses ibu menawar dan membeli, saya lebih suka mengamati barang-barang dagangan yang ada. Nah, saat saya diminta ibu membeli sesuatu di situ, itu jadi pengalaman pertama saya bertransaksi di pasar.

Warung Bu Rakih ramai, seperti biasanya. Saya mendekat ke Bu Rakih dan pegawai-pegawainya, menunggu giliran saya untuk menyampaikan barang apa yang mau saya beli. Saya sudah mengamati siapa-siapa saja yang datang sebelum saya, dan saya sabar menunggu giliran saya. Singkat kata, saya mencoba mengantri. Para calon pembeli meneriakkan pesanannya. Hingga saat semua orang yang datang sebelum saya selesai dilayani, saya belum juga mendapat kesempatan menyampaikan pesanan saya. Orang-orang itu langsung saja meneriakkan pesanannya, dan mereka semua dilayani. Saya marah, saya bingung. Mengapa mereka tidak mengantri? Hingga suatu ketika Bu Rakih menanyai saya, apa yang mau saya beli.

Saya hingga saat itu banyak diajari mengantri, namun hari itu saya belajar tentang tidak mengantri.

Categories: budaya, kehidupan Tags: , ,

Museum Sangiran

Baru sekali kemarin itu saya berkunjung ke Museum Sangiran. Dan saya terkesan.

Sejauh pengalaman saya mengunjungi museum di Indonesia (yang belum bisa dibilang banyak), Museum Sangiran adalah salah satu yang terbaik. Koleksi dan informasi yang ditampilkan banyak dan ditampilkan secara cukup menarik, terawat cukup baik (masih relatif baru juga sih), dan biaya masuk (amat) murah (lima ribu rupiah per orang).

Saya juga baru mengerti jika ternyata Museum Sangiran terdiri dari lima museum klaster yang letaknya saling terpisah cukup jauh. Museum-museum klaster – setidaknya empat di antaranya – terletak cukup terpencil di tengah desa, dan dicapai dengan melalui jalan desa yang sebagiannya hanya pas untuk dilalui satu mobil. Meski demikian, bangunan museum bagus dan berAC. Jarak antar museum terpisah sekitar 3-10 km. Petunjuk jalan menuju tiap lokasi klaster tersedia cukup jelas, baik arah maupun jaraknya.

Lima klaster itu adalah:

1. Museum Klaster Krikilan
Ini adalah yang terbesar di antara lima klaster. Menurut saya, Klaster Krikilan ini semacam “rangkuman” dari klaster-klaster lainnya. Biasanya orang berkunjung hanya ke Klaster Krikilan, dan menurut saya itu keputusan yang kurang tepat 🙂

2. Museum Klaster Bukuran
Museum Klaster Bukuran menyajikan informasi yang cukup mendetail tentang sosok Homo Erectus dan tentang asal muasal kehidupan. Desain interiornya modern.

3. Museum Klaster Manyarejo

Museum Klaster Manyarejo menyajikan informasi tentang proses ekskavasi fosil dan peran masyarakat Sangiran dalam proses ekskavasi. Ditunjukkan pula peran ilmu paleontologi, arkeologi, dan geologi di dalamnya. Di sini ada display lokasi ekskavasi tempat fosil ditemukan. Dari lokasi parkir kendaraan, untuk mencapai lokasi museum, kita harus menaiki sejumlah undak-undakan. Siapkan stamina 🙂

4. Museum Klaster Ngebung
Museum Klaster Ngebung menyajikan informasi tentang tokoh-tokoh yang berperan dalam penemuan, penelitian, dan diskusi (juga debat) soal fosil-fosil yang banyak ditemukan di Sangiran. Ada banyak tokoh dari luar Indonesia, namun banyak pula tokoh Indonesia.

5. Museum Klaster Dayu

Museum Klaster Dayu menyajikan secara nyata lapisan-lapisan tanah Sangiran. Kompleks Museum Klaster Dayu dirancang menurun, membawa pengunjung menyusuri lapisan-lapisan tanah, dengan banyak informasi ditampilkan pada tiap bagiannya. Di dalam bangunan museum ditampilkan informasi tentang budaya manusia purba. Sama seperti di Museum Klaster Manyarejo, pengunjung perlu memiliki stamina yang cukup untuk menyusuri seluruh bagian museum.

Secara umum, kelima klaster mengandung informasi yang padat, sehingga idealnya pengunjung punya waktu yang cukup untuk menyerap dan mencerna semua informasi yang tersedia. Informasi ditampilkan dalam banyak ragam cara yang menarik: diorama, replika, grafik, teks, media interaktif seperti permainan komputer dan juga video/film.

Menurut saya ada beberapa perbaikan yang perlu dilakukan agar Museum Sangiran menjadi lebih baik lagi, di antaranya:

  • Pencahayaan dalam ruang perlu dibuat lebih terang, agar seluruh display tampak jelas. Dalam kunjungan saya kemarin, ruangan minim cahaya, dengan tiap display diberi lampu spot yang menerangi display secara kurang merata, menyulitkan pembacaan pada bagian-bagian tertentu.
  • Display informasi sebagian besar masih berupa teks, termasuk yang dalam bentuk media interaktif. Ini membuat pengunjung harus banyak sekali membaca. Seandainya sebagian informasi ditampilkan dalam bentuk selain teks, informasi mungkin akan lebih mudah ditangkap oleh pengunjung. Selain itu, tampilan museum bisa jadi lebih menarik, karena tidak melulu dihiasi oleh teks.
  • Akan baik seandainya pengelola menyediakan buku-buku yang berisikan informasi yang disajikan di museum. Tidak harus gratis. Dengan penyajian yang menarik, buku-buku tersebut dapat menjadi media informasi tambahan bagi pengunjung, selain dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi pengelola museum.

Meski demikian, saya merasa senang dan puas dapat mengunjungi Museum Sangiran.

Museum Sangiran buka setiap hari kecuali hari Senin.

Ketika Anak Memilih Pemimpin

Di kelas anak saya, ketua kelas dan wakilnya dipilih dua minggu sekali. Keduanya dipilih berselang-seling pasangan cowok dan pasangan cewek; misalnya minggu ini cowok-cowok, dua minggu lagi cewek-cewek. Bagi yang sudah pernah terpilih menjadi ketua kelas, tidak boleh dipilih lagi. Sedangkan yang sudah pernah jadi wakil ketua kelas, masih boleh dipilih lagi pada kesempatan berikutnya. Cara memilihnya sederhana saja: setiap anak menentukan pilihannya (boleh memilih diri sendiri juga), calon dengan suara terbanyak menjadi ketua, yang kedua terbanyak menjadi wakil ketua.

Namanya anak-anak, cara menentukan pilihannya ya sederhana saja: yang dipilih bisa teman baiknya, atau yang dianggap pintar, atau yang dianggap lucu atau keren. Terserah mereka, siapapun yang mereka anggap layak untuk jadi ketua kelas. Siapapun yang terpilih, semua senang, menikmati prosesnya. Gurunya juga tidak mengarahkan, siapa yang sebaiknya dipilih: “oh itu saja, dia anak guru, pas jadi ketua kelas”, atau “dia saja yang dipilih, anaknya baik dan sopan”. Setidaknya itu yang saya tangkap dari cerita anak saya.

Kemarin saya tanya ke anak saya, “Emang banyak yang pengen jadi ketua kelas?”

“Lho, SEMUA ANAK itu pengen jadi ketua kelas!” sahut dia.

“Emang kenapa kok pada mau jadi ketua kelas?”

“Soalnya bisa suruh-suruh yang lain.”

Maksudnya bisa kasih aba-aba berbaris saat mau masuk kelas, itu bagi mereka sesuatu yang keren, hehehehe..

Pada akhirnya, dengan cara yang mereka gunakan, saya rasa setiap anak – siapapun dia – akan memperoleh kesempatan menjadi ketua kelas, mencoba merasakan memimpin dalam skala kecil. Pengalaman yang menyenangkan buat mereka.