Archive

Author Archive

Mengurus Perpanjangan SIM Secara Online

SIM saya sudah mendekati akhir masa berlakunya. Sudah sejak awal tahun ini saya menyimak pengalaman beberapa teman mengurus perpanjangan SIM secara online. Saya tertarik untuk mencobanya.

Mulai awal bulan ini saya mengumpulkan informasi mengenai prosedurnya. Ada 3 aplikasi yang harus digunakan:

Read more…

“Selera” Musik

Biasanya anak ikut mendengarkan musik yang didengarkan oleh orang tuanya. Demikian yang terjadi pada anak saya, sebagaimana dulu terjadi pada saya juga. Dari proses itulah ia mendengarkan lagu Celebrate nya Lake.

Beberapa waktu lalu di tempat les, ia mengajukan Celebrate untuk “proyek” latihan drumnya. Guru lesnya menyetujui dan mendukung. Gurunya sering menyebutnya sebagai anak dengan selera lagu “lawasan” 🙂 Hampir seluruh sesi latihan dilakukan secara online. Baru beberapa minggu belakangan ini saja anak lanang kembali ikut les luring.

Kemarin anak lanang diminta ikut pentas bareng tempat lesnya. Ini pentas kedua buat anak lanang setelah pandemi.

Fritz Haber

Mungkin tidak banyak di antara kita yang tahu siapa Fritz Haber. Saya juga selama ini tidak tahu. Saya baru tahu minggu lalu, setelah dijelaskan anak lanang.

Read more…

Categories: anak, keluarga Tags: , ,

Don’t Look Up

Film komedi satir ini dibuka dengan penemuan sebuah komet yang berukuran cukup besar dan sedang mengarah ke Bumi, yang jika bertumbukan dengan Bumi akan bisa mengakibatkan kepunahan umat manusia.

Read more…

One Ordinary Day

One Ordinary Day

Mulanya itu sebuah hari yang biasa saja bagi Kim Hyun-soo, seorang mahasiswa. Ajakan temannya untuk main bareng, yang diikutinya dengan “meminjam” mobil taksi ayahnya, ternyata berujung terjadinya perkara kriminal di dini hari esoknya, dengan dia sebagai tersangka pembunuhan. Hadirnya Shin Joong-han, pengacara kelas teri yang menaruh minat pada sosok lugu Hyun-soo, membawa secercah harapan untuk Hyun-soo bisa keluar dari belitan perkara yang dihadapinya.

Read more…

Squid Game

[mengandung spoiler]

Menggunakan permainan yang melibatkan kematian sebagai sarana utama untuk menghantar cerita, Squid Game mengajukan pertanyaan mengenai masih adakah kebaikan dalam diri tiap orang pada para penontonnya.

Squid adalah nama sebuah permainan anak-anak di Korea. Dinamakan demikian karena menggunakan arena dengan bentuk menyerupai cumi-cumi yang digambar di atas tanah. Dalam serial ini, sekelompok orang mengadakan serangkaian permainan yang terdiri dari 6 permainan anak-anak dengan imbalan uang tunai dalam jumlah luar biasa jika menang, dan resiko kematian jika kalah. Para pesertanya adalah orang-orang yang dipilih dan diundang secara rahasia, semuanya orang yang memiliki hutang yang sangat banyak. Tiap peserta diberi nomor urut, yang digunakan sebagai identitas selama permainan berlangsung. Permainan diadakan di sebuah tempat yang dirahasiakan dari publik.

Di antara 456 orang peserta, terdapat Seong Gi-hoon seorang duda cerai yang hidup pas-pasan bersama ibunya, Cho Sang-woo seorang manajer investasi yang menyalahgunakan uang kliennya, Kang Sae-byeok seorang gadis pelarian dari Korea Utara, kakek tua Oh Il-nam yang punya tumor di kepala, dan Ali imigran dari Pakistan yang terjerat hutang karena gajinya tidak dibayarkan selama berbulan-bulan.

Kesulitan hidup sebagai orang yang dihimpit masalah finansial digambarkan dengan lugas. Keikutsertaan dalam Squid Game ditawarkan sebagai solusi atas masalah hidup para peserta. Bagi para calon peserta, Squid Game memang benar tampak sebagai jalan keluar satu-satunya, sedangkan konsekuensi adanya kematian tidak terlalu dipikirkan. Baru ketika di permainan pertama benar ada peserta yang tewas karena melanggar aturan permainan atau kalah, para peserta menyadari bahwa lebih dari sekedar permainan dengan iming-iming hadiah uang, ini adalah soal hidup dan mati.

Kematian digambarkan secara brutal dan apa adanya. Darah muncrat, kepala berlubang, dicitrakan secara visual. Kengerian dalam porsi yang pas – tidak kurang dan tidak berlebih – disampaikan pada para penonton.

Sifat manusia sebagai makhluk sosial yang punya keinginan untuk saling membantu dan bekerja sama terakomodasi di permainan-permainan awal, ketika jumlah peserta masih banyak dan memang masih tersedia ruang untuk itu. Penonton diberi harapan bahwa dengan bekerja sama, para tokoh utama akan bisa memenangkan secara bersama-sama. Kejadian perkelahian hebat di malam hari makin menguatkan harapan itu.

Namun ilusi harapan itu dihancurkan begitu permainan makin bersifat individual dan jumlah peserta makin sedikit. Peserta-peserta yang saling akrab dan saling percaya, harus mulai saling berhadapan dan saling bunuh.

Episode Gganbu menggambarkan dengan sangat baik hal itu. Ketika peserta diminta untuk bermain secara berpasangan, harapan adanya ruang untuk saling bekerja sama itu terus dipupuk. Para peserta memilih pasangan yang paling mereka percaya, ada yang pasangan suami istri bahkan. Peserta saling bersalaman, mengikat rasa saling percaya. Semua berharap mereka akan bisa memenangkan permainan berikutnya secara berpasangan. Kakek Il-nam berkata pada Gi-hoon pasangannya, bahwa mereka adalah gganbu – sahabat yang saling berbagi. Namun ternyata peraturan permainan mengharuskan mereka untuk saling berhadapan. Tidak ada celah untuk mereka keluar bersama sebagai pemenang. Salah satu harus kalah (dan tewas) agar yang satunya menang.

Bagian yang menurut saya paling cemerlang adalah dialog antara kakek Il-nam dan Gi-hoon. Gi-hoon yang merasa terdesak dan putus asa berkali-kali menipu kakek Il-nam yang sudah setengah pikun. Ketika akhirnya tinggal satu kelereng di tangan si kakek, si kakek mengajak Gi-hoon untuk memainkan satu babak permainan lagi yang mempertaruhkan semua kelereng yang dimiliki. Gi-hoon mengeluh bahwa itu tidak adil. Lepas dari kesan pikun yang sebelumnya digambarkan, Kakek Il-nam menohok balik, “Apakah berkali-kali menipuku itu adil?” Ketika Gi-hoon tak mampu lagi berkata-kata, kakek Il-nam melanjutkan, “Kita adalah ‘gganbu’, satu kelereng ini buatmu..”

Squid Game mengajukan pertanyaan bertubi-tubi pada para penontonnya: andaikan kita dalam situasi terdesak semacam itu, jadi karakter yang manakah kita, apa yang mau kita lakukan?

Apakah kejutan di bagian akhir membuka ruang untuk hadirnya season lanjutan?

Categories: kdrama Tags: , ,

Racket Boys

Dengan menggunakan bulutangkis sebagai tema utama, serial ini berusaha menuturkan cerita tentang sekelompok anak remaja pemain bulutangkis, lengkap dengan aneka dinamika hidup bertetangga di desa tempat mereka tinggal.

Yoon Hae-kang, bersama orang tuanya yang adalah pasangan pelatih bulutangkis, pindah tinggal hidup dari kota ke desa. Ayah dan ibunya menjadi pelatih di sekolah desa tempat mereka tinggal. Tim bulutangkis sekolah mereka beranggota sedikit dan selalu diremehkan dalam pertandingan antar sekolah. Bersama teman-temannya, Hae-kang yang penuh rasa percaya diri (the one and only Yoon Hae-kang!) meniti jalan menuju tim nasional bulutangkis Korea.

Cerita mengalir ringan sambil menyinggung banyak topik, di antaranya: senioritas (banyak sekali drama Korea yang menyinggung topik ini), prasangka orang desa terhadap orang kota, hubungan orang tua dan anak. Romantika cinta anak remaja ikut menjadi bumbu cerita.

Adegan-adegan aksi permainan bulutangkis cukup banyak ditayangkan, sebagian di antaranya terasa terlalu dramatis. Lee Yong-dae, pemain nasional bulutangkis Korea, muncul sejenak sebagai cameo.

Meski tidak meninggalkan kesan mendalam untuk saya, serial ini tidaklah buruk, bisa dinikmati. Bagian cerita yang sempat menimbulkan kehebohan penggemar bulutangkis Indonesia sebenarnya bukan bagian utama cerita. Han Se-yoon, karakter pemain bulutangkis remaja putri, malah sempat menyatakan rasa iri dengan penggemar bulutangkis Indonesia yang besar jumlahnya.

Siapa yang sempat nonton tapi berhenti di episode 5? 🙂

Saya yakin Indonesia sebenarnya bisa bikin serial bertema bulutangkis yang lebih bagus, dengan banyaknya pemain bulutangkis level dunia yang perjuangannya penuh inspirasi. Semoga suatu hari terwujud.

Categories: kdrama Tags: , ,

Taxi Driver

Dalam dunia hukum pidana ada adagium: lebih baik membebaskan seribu orang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah. Serial Taxi Driver mengajukan pertanyaan “lalu di mana keadilan untuk korban dari seribu orang yang bersalah yang dibebaskan itu?” dan mencoba “menawarkan” jawabannya.

Kim Do-gi bekerja sebagai sopir taksi di perusahaan taksi Pelangi yang dimiliki Jang Sung-chul. Di malam hari, dengan dukungan anggota tim lainnya: Ahn Go-eun, Choi Kyung-goo, dan Park Jin-eon mereka mengoperasikan “taksi mewah” – sebuah organisasi gelap yang menawarkan jasa balas dendam untuk orang-orang yang merasa kasusnya sulit untuk diselesaikan secara hukum. Mereka bahkan memasang iklan dengan tagline menarik: “jangan mati, balas dendam saja”. Mereka punya hubungan kerja sama dengan organisasi gelap lainnya yang dipimpin Baek Sung-mi.

Sembari mengupas kasus-kasus yang mereka hadapi, jalannya cerita juga menguak latar belakang tiap anggota tim Pelangi, menjelaskan alasan mereka bersedia terlibat dalam operasi taksi mewah.

Serial ini juga menghadirkan tokoh jaksa Kang Ha-na yang idealis tapi seiring hadirnya kasus-kasus sulit makin menyadari keterbatasan “jangkauan tangan” hukum.

Menarik untuk diikuti bagaimana pergulatan tim Pelangi maupun Kang Ha-na dalam menghadapi keterbatasan aturan hukum di satu sisi dan menghadapi penderitaan korban kejahatan yang sulit diselesaikan di sisi lainnya.

Awalnya mungkin para penonton mengira bahwa ini semata soal membalaskan dendam. Namun seperti yang banyak orang sadari juga, pembalasan dendam akan dapat menghasilkan balas dendam berikutnya. Gandhi pernah berkata: mata ganti mata hanya akan membuat dunia buta. Lalu bagaimana?

Lee Je-hoon bagaikan memainkan banyak karakter di serial ini, karena sebagai Kim Do-gi ia menjalankan banyak penyamaran. Esom memainkan karakter Kang Ha-na dengan baik.

Soundtracknya menurut saya juga menarik. Model Taxi, Silence, dan Collision menghadirkan aura “hero” seperti di film 80-90an.

Akan menarik jika ada season 2 nya.

Categories: film, kdrama Tags: , ,

Pandemiceo.com

Dalam masa pandemi ini, pemerintah tiap negara mengambil aneka macam keputusan dengan aneka macam pertimbangan di tengah aneka macam tarik ulur kepentingan. Di medsos sering kita jumpai pendapat yang pro maupun kontra dengan keputusan pemerintah.

Seorang game developer dari Turki membuat game yang mensimulasikan situasi pandemi ini. Disediakan 5 negara untuk kita pilih: Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, dan Australia dengan setting awal yang berbeda-beda. Kita dapat menjalankan peran sebagai pemerintah untuk memutuskan beberapa hal, di antaranya: berapa persen lockdown yang akan dijalankan, berapa banyak bantuan keuangan yang akan diberikan pada warga yang terdampak, dan berapa banyak vaksin yang akan didistribusikan. Semuanya akan berujung pada 3 indikator utama yang menentukan bertahan tidaknya “pemerintahan” kita: ekonomi, kesejahteraan, dan kesehatan. Pemerintah akan dianggap gagal bila salah satu saja indikator jelek skornya.

Jadi penasaran untuk mencoba bagaimana seberapa mudah atau sulit “menjalankan pemerintahan” di tengah pandemi? 🙂

Silakan kunjungi: https://www.pandemiceo.com. Game ini berjalan di browser, tidak perlu diinstall.

Categories: game Tags: , , ,

Desmond Doss

Suatu hari anak lanang bercerita mengenai sosok Desmond Doss. Doss adalah seorang prajurit Amerika Serikat yang ikut dalam Perang Dunia II di arena Pasifik. Ia menolak membawa senjata dalam perang mengikuti imannya sebagai penganut Kristen Adven yang melarangnya membunuh, termasuk dalam situasi perang. Dalam perang ia berperan sebagai prajurit medis. Sosoknya dikenal makin luas setelah diceritakan dalam film Hacksaw Ridge.

Anak lanang memang meminati topik Perang Dunia II. Saya lalu bertanya darimana ia tahu mengenai sosok Desmond Doss. Ia menjawab dari channel sejarah di Youtube. Channel ini memaparkan aneka topik sejarah dalam bentuk animasi sederhana. Kengerian perang tetap digambarkan, meski dalam bentuk animasi. Yang bagi saya menarik, dia tertarik pada sosok Doss karena atributnya sebagai “prajurit tapi nggak mau bawa senjata”.

Awal bulan ini, gurunya memberi tugas pada semua anak untuk menyiapkan paparan singkat mengenai seorang tokoh, boleh tokoh apa saja. Waktu pemaparan singkat saja, 10 menit. Ada temannya yang memaparkan sosok James Naismith (penemu permainan bola basket), temannya lain lagi memilih memaparkan sosok ibunya. Tugas yang sederhana tapi bisa memunculkan sosok-sosok yang “tidak biasa”. Saya mengusulkan padanya untuk memaparkan mengenai Desmond Doss. Ia menyambut usul saya dengan penuh semangat.

Ia mulai mengumpulkan bahan tulisan dan gambar untuk diolah jadi bahan paparan. Dari bahan yang terkumpul, saya memandu dia untuk menentukan topik-topik yang mau dipaparkan, seperti latar belakang Doss, mengapa ia menolak membawa senjata, dan apa yang terjadi di Okinawa. Penentuan topik dia susun sendiri, beserta teks singkatnya. Berkas paparan dia buat sendiri, gambar dan teks ia atur sendiri peletakannya. Saya memberi masukan mengenai penulisan ejaan yang salah.

Pada hari paparan, ia milih mojok sendiri di kamar lain, tidak mau terlihat oleh kami waktu ia menyampaikan paparan. Tapi ibunya nguping dong 🙂 Kata istri, ia lancar dalam menyampaikan paparan, cukup jelas bagi guru dan teman-temannya harusnya.