Archive

Author Archive

Squid Game

[mengandung spoiler]

Menggunakan permainan yang melibatkan kematian sebagai sarana utama untuk menghantar cerita, Squid Game mengajukan pertanyaan mengenai masih adakah kebaikan dalam diri tiap orang pada para penontonnya.

Squid adalah nama sebuah permainan anak-anak di Korea. Dinamakan demikian karena menggunakan arena dengan bentuk menyerupai cumi-cumi yang digambar di atas tanah. Dalam serial ini, sekelompok orang mengadakan serangkaian permainan yang terdiri dari 6 permainan anak-anak dengan imbalan uang tunai dalam jumlah luar biasa jika menang, dan resiko kematian jika kalah. Para pesertanya adalah orang-orang yang dipilih dan diundang secara rahasia, semuanya orang yang memiliki hutang yang sangat banyak. Tiap peserta diberi nomor urut, yang digunakan sebagai identitas selama permainan berlangsung. Permainan diadakan di sebuah tempat yang dirahasiakan dari publik.

Di antara 456 orang peserta, terdapat Seong Gi-hoon seorang duda cerai yang hidup pas-pasan bersama ibunya, Cho Sang-woo seorang manajer investasi yang menyalahgunakan uang kliennya, Kang Sae-byeok seorang gadis pelarian dari Korea Utara, kakek tua Oh Il-nam yang punya tumor di kepala, dan Ali imigran dari Pakistan yang terjerat hutang karena gajinya tidak dibayarkan selama berbulan-bulan.

Kesulitan hidup sebagai orang yang dihimpit masalah finansial digambarkan dengan lugas. Keikutsertaan dalam Squid Game ditawarkan sebagai solusi atas masalah hidup para peserta. Bagi para calon peserta, Squid Game memang benar tampak sebagai jalan keluar satu-satunya, sedangkan konsekuensi adanya kematian tidak terlalu dipikirkan. Baru ketika di permainan pertama benar ada peserta yang tewas karena melanggar aturan permainan atau kalah, para peserta menyadari bahwa lebih dari sekedar permainan dengan iming-iming hadiah uang, ini adalah soal hidup dan mati.

Kematian digambarkan secara brutal dan apa adanya. Darah muncrat, kepala berlubang, dicitrakan secara visual. Kengerian dalam porsi yang pas – tidak kurang dan tidak berlebih – disampaikan pada para penonton.

Sifat manusia sebagai makhluk sosial yang punya keinginan untuk saling membantu dan bekerja sama terakomodasi di permainan-permainan awal, ketika jumlah peserta masih banyak dan memang masih tersedia ruang untuk itu. Penonton diberi harapan bahwa dengan bekerja sama, para tokoh utama akan bisa memenangkan secara bersama-sama. Kejadian perkelahian hebat di malam hari makin menguatkan harapan itu.

Namun ilusi harapan itu dihancurkan begitu permainan makin bersifat individual dan jumlah peserta makin sedikit. Peserta-peserta yang saling akrab dan saling percaya, harus mulai saling berhadapan dan saling bunuh.

Episode Gganbu menggambarkan dengan sangat baik hal itu. Ketika peserta diminta untuk bermain secara berpasangan, harapan adanya ruang untuk saling bekerja sama itu terus dipupuk. Para peserta memilih pasangan yang paling mereka percaya, ada yang pasangan suami istri bahkan. Peserta saling bersalaman, mengikat rasa saling percaya. Semua berharap mereka akan bisa memenangkan permainan berikutnya secara berpasangan. Kakek Il-nam berkata pada Gi-hoon pasangannya, bahwa mereka adalah gganbu – sahabat yang saling berbagi. Namun ternyata peraturan permainan mengharuskan mereka untuk saling berhadapan. Tidak ada celah untuk mereka keluar bersama sebagai pemenang. Salah satu harus kalah (dan tewas) agar yang satunya menang.

Bagian yang menurut saya paling cemerlang adalah dialog antara kakek Il-nam dan Gi-hoon. Gi-hoon yang merasa terdesak dan putus asa berkali-kali menipu kakek Il-nam yang sudah setengah pikun. Ketika akhirnya tinggal satu kelereng di tangan si kakek, si kakek mengajak Gi-hoon untuk memainkan satu babak permainan lagi yang mempertaruhkan semua kelereng yang dimiliki. Gi-hoon mengeluh bahwa itu tidak adil. Lepas dari kesan pikun yang sebelumnya digambarkan, Kakek Il-nam menohok balik, “Apakah berkali-kali menipuku itu adil?” Ketika Gi-hoon tak mampu lagi berkata-kata, kakek Il-nam melanjutkan, “Kita adalah ‘gganbu’, satu kelereng ini buatmu..”

Squid Game mengajukan pertanyaan bertubi-tubi pada para penontonnya: andaikan kita dalam situasi terdesak semacam itu, jadi karakter yang manakah kita, apa yang mau kita lakukan?

Apakah kejutan di bagian akhir membuka ruang untuk hadirnya season lanjutan?

Categories: kdrama Tags: , ,

Racket Boys

Dengan menggunakan bulutangkis sebagai tema utama, serial ini berusaha menuturkan cerita tentang sekelompok anak remaja pemain bulutangkis, lengkap dengan aneka dinamika hidup bertetangga di desa tempat mereka tinggal.

Yoon Hae-kang, bersama orang tuanya yang adalah pasangan pelatih bulutangkis, pindah tinggal hidup dari kota ke desa. Ayah dan ibunya menjadi pelatih di sekolah desa tempat mereka tinggal. Tim bulutangkis sekolah mereka beranggota sedikit dan selalu diremehkan dalam pertandingan antar sekolah. Bersama teman-temannya, Hae-kang yang penuh rasa percaya diri (the one and only Yoon Hae-kang!) meniti jalan menuju tim nasional bulutangkis Korea.

Cerita mengalir ringan sambil menyinggung banyak topik, di antaranya: senioritas (banyak sekali drama Korea yang menyinggung topik ini), prasangka orang desa terhadap orang kota, hubungan orang tua dan anak. Romantika cinta anak remaja ikut menjadi bumbu cerita.

Adegan-adegan aksi permainan bulutangkis cukup banyak ditayangkan, sebagian di antaranya terasa terlalu dramatis. Lee Yong-dae, pemain nasional bulutangkis Korea, muncul sejenak sebagai cameo.

Meski tidak meninggalkan kesan mendalam untuk saya, serial ini tidaklah buruk, bisa dinikmati. Bagian cerita yang sempat menimbulkan kehebohan penggemar bulutangkis Indonesia sebenarnya bukan bagian utama cerita. Han Se-yoon, karakter pemain bulutangkis remaja putri, malah sempat menyatakan rasa iri dengan penggemar bulutangkis Indonesia yang besar jumlahnya.

Siapa yang sempat nonton tapi berhenti di episode 5? 🙂

Saya yakin Indonesia sebenarnya bisa bikin serial bertema bulutangkis yang lebih bagus, dengan banyaknya pemain bulutangkis level dunia yang perjuangannya penuh inspirasi. Semoga suatu hari terwujud.

Categories: kdrama Tags: , ,

Taxi Driver

Dalam dunia hukum pidana ada adagium: lebih baik membebaskan seribu orang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah. Serial Taxi Driver mengajukan pertanyaan “lalu di mana keadilan untuk korban dari seribu orang yang bersalah yang dibebaskan itu?” dan mencoba “menawarkan” jawabannya.

Kim Do-gi bekerja sebagai sopir taksi di perusahaan taksi Pelangi yang dimiliki Jang Sung-chul. Di malam hari, dengan dukungan anggota tim lainnya: Ahn Go-eun, Choi Kyung-goo, dan Park Jin-eon mereka mengoperasikan “taksi mewah” – sebuah organisasi gelap yang menawarkan jasa balas dendam untuk orang-orang yang merasa kasusnya sulit untuk diselesaikan secara hukum. Mereka bahkan memasang iklan dengan tagline menarik: “jangan mati, balas dendam saja”. Mereka punya hubungan kerja sama dengan organisasi gelap lainnya yang dipimpin Baek Sung-mi.

Sembari mengupas kasus-kasus yang mereka hadapi, jalannya cerita juga menguak latar belakang tiap anggota tim Pelangi, menjelaskan alasan mereka bersedia terlibat dalam operasi taksi mewah.

Serial ini juga menghadirkan tokoh jaksa Kang Ha-na yang idealis tapi seiring hadirnya kasus-kasus sulit makin menyadari keterbatasan “jangkauan tangan” hukum.

Menarik untuk diikuti bagaimana pergulatan tim Pelangi maupun Kang Ha-na dalam menghadapi keterbatasan aturan hukum di satu sisi dan menghadapi penderitaan korban kejahatan yang sulit diselesaikan di sisi lainnya.

Awalnya mungkin para penonton mengira bahwa ini semata soal membalaskan dendam. Namun seperti yang banyak orang sadari juga, pembalasan dendam akan dapat menghasilkan balas dendam berikutnya. Gandhi pernah berkata: mata ganti mata hanya akan membuat dunia buta. Lalu bagaimana?

Lee Je-hoon bagaikan memainkan banyak karakter di serial ini, karena sebagai Kim Do-gi ia menjalankan banyak penyamaran. Esom memainkan karakter Kang Ha-na dengan baik.

Soundtracknya menurut saya juga menarik. Model Taxi, Silence, dan Collision menghadirkan aura “hero” seperti di film 80-90an.

Akan menarik jika ada season 2 nya.

Categories: film, kdrama Tags: , ,

Pandemiceo.com

Dalam masa pandemi ini, pemerintah tiap negara mengambil aneka macam keputusan dengan aneka macam pertimbangan di tengah aneka macam tarik ulur kepentingan. Di medsos sering kita jumpai pendapat yang pro maupun kontra dengan keputusan pemerintah.

Seorang game developer dari Turki membuat game yang mensimulasikan situasi pandemi ini. Disediakan 5 negara untuk kita pilih: Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, dan Australia dengan setting awal yang berbeda-beda. Kita dapat menjalankan peran sebagai pemerintah untuk memutuskan beberapa hal, di antaranya: berapa persen lockdown yang akan dijalankan, berapa banyak bantuan keuangan yang akan diberikan pada warga yang terdampak, dan berapa banyak vaksin yang akan didistribusikan. Semuanya akan berujung pada 3 indikator utama yang menentukan bertahan tidaknya “pemerintahan” kita: ekonomi, kesejahteraan, dan kesehatan. Pemerintah akan dianggap gagal bila salah satu saja indikator jelek skornya.

Jadi penasaran untuk mencoba bagaimana seberapa mudah atau sulit “menjalankan pemerintahan” di tengah pandemi? 🙂

Silakan kunjungi: https://www.pandemiceo.com. Game ini berjalan di browser, tidak perlu diinstall.

Categories: game Tags: , , ,

Desmond Doss

Suatu hari anak lanang bercerita mengenai sosok Desmond Doss. Doss adalah seorang prajurit Amerika Serikat yang ikut dalam Perang Dunia II di arena Pasifik. Ia menolak membawa senjata dalam perang mengikuti imannya sebagai penganut Kristen Adven yang melarangnya membunuh, termasuk dalam situasi perang. Dalam perang ia berperan sebagai prajurit medis. Sosoknya dikenal makin luas setelah diceritakan dalam film Hacksaw Ridge.

Anak lanang memang meminati topik Perang Dunia II. Saya lalu bertanya darimana ia tahu mengenai sosok Desmond Doss. Ia menjawab dari channel sejarah di Youtube. Channel ini memaparkan aneka topik sejarah dalam bentuk animasi sederhana. Kengerian perang tetap digambarkan, meski dalam bentuk animasi. Yang bagi saya menarik, dia tertarik pada sosok Doss karena atributnya sebagai “prajurit tapi nggak mau bawa senjata”.

Awal bulan ini, gurunya memberi tugas pada semua anak untuk menyiapkan paparan singkat mengenai seorang tokoh, boleh tokoh apa saja. Waktu pemaparan singkat saja, 10 menit. Ada temannya yang memaparkan sosok James Naismith (penemu permainan bola basket), temannya lain lagi memilih memaparkan sosok ibunya. Tugas yang sederhana tapi bisa memunculkan sosok-sosok yang “tidak biasa”. Saya mengusulkan padanya untuk memaparkan mengenai Desmond Doss. Ia menyambut usul saya dengan penuh semangat.

Ia mulai mengumpulkan bahan tulisan dan gambar untuk diolah jadi bahan paparan. Dari bahan yang terkumpul, saya memandu dia untuk menentukan topik-topik yang mau dipaparkan, seperti latar belakang Doss, mengapa ia menolak membawa senjata, dan apa yang terjadi di Okinawa. Penentuan topik dia susun sendiri, beserta teks singkatnya. Berkas paparan dia buat sendiri, gambar dan teks ia atur sendiri peletakannya. Saya memberi masukan mengenai penulisan ejaan yang salah.

Pada hari paparan, ia milih mojok sendiri di kamar lain, tidak mau terlihat oleh kami waktu ia menyampaikan paparan. Tapi ibunya nguping dong 🙂 Kata istri, ia lancar dalam menyampaikan paparan, cukup jelas bagi guru dan teman-temannya harusnya.

Itaewon Class

Itaewon Class (2020) poster

[mengandung spoiler]

Itaewon Class menceritakan tentang perjalanan hidup seorang anak muda sejak ia menghajar seorang pelaku bullying di sekolahnya hingga ia mencapai kesuksesan dengan usaha kedai makannya.

Dua tiga episode awal mengantar cerita dalam ritme cepat. Dalam episode-episode pembuka itu, kejadian yang dialami Park Saeroyi, si tokoh utama, menarik perhatian saya untuk terus mengikuti cerita.

Park Saeroyi yang berjuang mengembangkan kedai makanannya menghidupkan cerita dengan aneka pelajaran mengenai nilai hidup dan kerja keras. Berwarnanya jalan cerita jelas juga atas dukungan karakter-karakter lainnya dalam serial ini.

Oh Soo-ah – cinta pertama Saeroyi – tidak sekuat dan seberani Saeroyi. Meski demikian pilihan-pilihan jalan hidup yang diambil Soo-ah dimaklumi Saeroyi. Jo Yi-seo yang kemudian hadir sebagai manajer kedai makanan Saeroyi (ia cerdas!), melengkapi hubungan cinta segitiga mereka. Choi Seung-kwon mantan preman, Ma Hyun-yi koki transgender, dan Kim Toni orang kulit hitam berdarah Korea memungkinkan munculnya mini story-arc.

Jang Dae-hee pemilik grup Jang Ga, menjalani masa muda yang berat. Setelah meraih kesuksesan ia menjadi sosok yang kuat dan berpengaruh. Banyak orang yang memilih takluk padanya. Saeroyi menjadi sosok yang berbeda di mata Dae-hee. Ia terpancing untuk melakukan banyak hal demi melihat Saeroyi takluk padanya.

Dalam serial ini ada dua tokoh pendukung yang menarik perhatian saya.

Yang pertama adalah Park Sung-yul, ayah Saeroyi, mantan manajer di grup Jang Ga. Kehadirannya singkat saja, tapi pengaruhnya mewarnai sepanjang cerita. Saya sangat terkesan dengan adegan “pertemuan kembali” Saeroyi dengan si ayah. Pembicaraan mereka di masa lalu “diputar ulang” dengan situasi yang baru.

Yang kedua adalah Lee Ho-jin, korban bullying di masa sekolah, yang kemudian dengan caranya sendiri bangkit mendukung Saeroyi di balik layar. Tanpa Ho-jin, jalannya cerita tak akan sama.

Tokoh Kim Soon-rye, si nenek “lintah darat”, sebetulnya menarik juga andaikan tidak terlalu banyak kebetulan yang menyertai kehadirannya di cerita.

Serial ini menghadirkan banyak detil yang menarik untuk disimak. Saya suka serial ini.

Categories: film, kdrama Tags: , , ,

Vaksinasi Lansia, Pendataan, dan Kerumitannya

Kemarin sudah tuntas keempat orang tua kami menjalani program vaksinasi COVID-19. Mereka mendapatkan vaksin di dua RS yang berbeda. Dari sedikit keterlibatan kami dalam proses yang berlangsung 1 bulan lebih itu (dari pendaftaran hingga tuntasnya vaksinasi yang kedua), ada beberapa hal yang saya catat.

Pendaftaran

Pendaftaran dilakukan secara elektronik dengan mengisi form online. Form online menggunakan produk Google. Ini sempat membuat kami bertanya-tanya apakah ini benar form yang resmi, karena data yang diisikan adalah data pribadi. Ternyata itu adalah form resmi.

Pengisian form membutuhkan ketelitian dan kecepatan (karena ternyata ada kuota – form ditutup saat kuota tahap 1 vaksinasi terpenuhi). Ini bisa menyulitkan warga lansia yang tidak terbiasa menggunakan produk teknologi informasi, terlebih jika mereka tidak memiliki anggota keluarga yang mendampingi atau membantu.

Situasi RS dan Pelaksanaan Vaksinasi

Tiap RS bisa berbeda prosedur pelaksanaan vaksinasinya. Di RS tempat mertua saya divaksinasi (sebut saja RS A), ada petugas satpam yang secara khusus melayani pengambilan nomor antrian. Nantinya satpam tersebut pula yang akan memanggil pasien berdasarkan nomor. Di RS tempat orang tua saya divaksinasi (sebut saja RS B), ada satpam yang melayani pengambilan nomor antrian untuk aneka macam layanan. Nantinya pemanggilan no urut antrian dilakukan oleh perawat di tempat terpisah.

Ruang pelaksanaan vaksinasi RS A berada di ruang basement yang terbuka tanpa AC. Sedangkan di RS B pelaksanaan vaksinasi ada di dalam gedung RS, dekat ruang IGD, dan dalam ruang tertutup berAC. Menurut saya, ruang tunggu RS A relatif lebih aman.

Di RS lain, ada yang mengirimkan pesan pendek (via SMS/WA) mengenai jadwal jam pelayanan vaksinasi pada H-1. Dengan demikian pada hari H, pasien dapat datang pada jam yang disebutkan dan tidak perlu mengantri dari pagi. Kebetulan baik di RS A maupun RS B tidak ada layanan seperti ini, sehingga pasien harus mengambil nomor antrian dari pagi lalu menunggu hingga dilayani. Pasien yang menunggu bisa mencapai puluhan/ratusan.

Di RS A, pada vaksinasi pertama dokter yang melayani vaksinasi ada satu orang saja, pada vaksinasi kedua ada dua orang dokter. Penyuntikan dilakukan di dekat area pendaftaran dan skrining. Di RS B, pada vaksinasi pertama dan kedua dokter yang melayani vaksinasi hanya satu orang. Penyuntikan dilakukan di ruang dokter yang tertutup dan berAC.

Masalah Data dan Aplikasi Peduli Lindungi

Sebelum vaksinasi pertama dilakukan, saya sudah membantu mereka untuk menginstall aplikasi Peduli Lindungi ke ponsel mereka. Instalasi disertai dengan pengisian data. Pengisian data tidak mudah, karena ada beberapa bagian form isian yang sulit dijangkau (tersembunyi – ukuran form tidak menyesuaikan ukuran layar perangkat).

Setelah data terisi, kami mendapati bahwa status mereka dalam aplikasi Peduli Lindungi “tidak terdaftar”, meski pada kenyataannya saat itu data mereka sudah diisikan pada form pendaftaran (yang saya jelaskan di awal tadi). Baru setelah vaksinasi pertama, data kedua mertua saya muncul dalam aplikasi tersebut. Beda halnya dengan data kedua orang tua saya, yang bahkan hingga setelah selesai vaksinasi kedua tetap tidak muncul dalam aplikasi.

Dari pengalaman orang-orang lain yang telah mengikuti vaksinasi, kami tahu bahwa dari aplikasi bisa diunduh sertifikat vaksinasi. Mertua saya mendapatkannya dari link yang dikirimkan via SMS, tidak melalui aplikasi. Sedangkan orang tua saya tidak bisa mendapatnya, karena data pendaftaran saja tidak muncul di dalamnya, mereka juga belum menerima SMS/WA. Dengan demikian, satu-satunya bukti bahwa mereka telah menerima vaksinasi hanya kartu vaksinasi yang ditulis tangan. Sempat ada kesalahan tulis data pada kartu vaksinasi orang tua saya. Koreksi juga dilakukan secara manual: coret lalu tulis ulang.

Saya sempat bertanya pada petugas di RS B mengenai mengapa data orang tua saya tidak muncul pada aplikasi Peduli Lindungi. Petugas menjelaskan bahwa data dalam aplikasi tersebut belum tentu valid. Lebih jauh lagi, ia menunjukkan bahwa data ayah saya tidak muncul pada aplikasi vaksinasi PCare BPJS Kesehatan, meskipun kedua orang tua saya terdaftar sebagai anggota dan pernah menggunakan layanannya sebelumnya. Kasus ini terjadi pada banyak pasien vaksinasi.

Saya membayangkan betapa rumitnya pengolahan datanya nanti jika seperti ini.. Ini masih di kota besar. Bagaimana dengan di pelosok sana? PR besar untuk pengelola data kesehatan kita.

Di ujung tulisan ini, ada satu hal yang ingin saya garisbawahi: program vaksinasi ini adalah kegiatan yang luar biasa. Melibatkan banyak orang dengan aneka peran dan tanggung jawab masing-masing serta melibatkan pertukaran data dan koordinasi antar lembaga besar. Dengan segala kekurangan yang ada, bahwa program ini bisa berlangsung sampai saat ini, seluruh pihak yang terlibat patut mendapatkan apresiasi dan dukungan termasuk kritik dan saran, dengan disertai harapan program ini bisa tuntas hingga akhir.

Reply 1988

Reply 1988 (2015) poster

[Mengandung spoiler]

Dari saran beberapa teman, beberapa minggu lalu saya dan istri memutuskan mulai menonton serial ini.

Saya sudah membaca sebelum menonton bahwa serial ini bertema kehidupan bertetangga sehari-hari. Terus terang pada awalnya saya sempat memandang remeh serial ini. Oh betapa salahnya saya..

Mirip dengan kebanyakan serial lain, serial ini dimulai dengan mengenalkan tokoh-tokoh dan setting ceritanya. Karena tokohnya cukup banyak, sesi perkenalan ini butuh waktu (dan kesabaran para penontonnya). Serial ini berlatar tahun 1988 (dan kemudian 1994, dinarasikan dari sudut pandang sekarang – 2015) di sebuah gang di Ssangmun-dong pinggiran kota Seoul.

Saya mendapati betapa penggambaran hidup bertetangga dalam serial ini luar biasa mirip dengan yang saya (dan mungkin banyak penonton lain) alami dulu. Saling kirim makanan antar tetangga dengan anaknya yang diminta antar, anak yang saling bertandang ke rumah masing-masing sekedar untuk numpang nonton TV, ibu-ibu yang saling berbagi gosip – dan kadang beban hidup, juga teman-teman yang saling bantu (dan ejek). Sampai di situ mungkin banyak serial atau film lain yang menggambarkan situasi serupa.

Detil penggambaran suasana era itu memang adalah salah satu kekuatan Reply 1988. Kirim-kirim salam lewat radio, merekam lagu dari kaset teman, kaos nomor 23 milik Jordan, model rambut keriting khas ibu-ibu zaman itu ada di antaranya.

Tapi kekuatan sejati Reply 1988 adalah pada kedalaman pesan yang disampaikan. Detilnya sangat kaya, dan dalam jumlah yang nyaris tak terhitung, karena diceritakan sepanjang serial berjalan.

Ada banyak hal kecil yang diceritakan lewat gambar, tanpa kata.

Menjelang pernikahannya, Sung Bo-ra membelikan ayahnya sepatu baru. Berkali-kali sang ayah menyatakan betapa pas sepatu yang dibelikan putrinya itu. Tapi terlihat jelas (oleh penonton) di pada hari pernikahan bahwa ternyata sepatu itu terlalu besar ukurannya.

Pada adegan lain, digambarkan Bo-ra tinggal di asrama/indekos untuk persiapan ujian. Orang tuanya mengirimkan makanan untuknya. Diperlihatkan Bo-ra makan sepanci kepiting, dan pada adegan selanjutnya orang tuanya dengan bahagia makan sewadah kaki kepiting yang kecil-kecil.

Kim Jung-hwan yang cenderung serius dan pendiam suatu ketika bersedia memberikan candaan “Presiden Kim!” khas ayahnya pada si ayah ketika si ayah sedang marah untuk mencairkan suasana rumah.

Ada banyak sekali yang seperti ini, juga yang diwujudkan dalam kata-kata, termasuk voice-over tokohnya. Akumulasi dari penggambaran seperti ini menjadikan Reply 1988 luar biasa.

Bagaikan supermarket yang serba lengkap, serial ini menyajikan aneka hal tentang relasi antar manusia: antar tetangga, antara adik – kakak, antara anak – orang tua, antara murid – guru, antar teman, antar sepasang kekasih.

Jadi, tidak tepat jika dikatakan serial ini melulu soal nostalgia 80an.

Jika ada teman atau kerabat yang menyarankan untuk menonton serial ini, saya menyetujui saran itu. Serial ini lebih dari layak untuk ditonton.

Jangan lupa, nantikan suara kambing yang terdengar ketika terjadi situasi konyol 🙂

Categories: film, kdrama Tags: , , ,

Percaya pada Tuhan

Anak lanang tidak tertarik ikut Sekolah Minggu. Dulu waktu usia PG/KB ia pernah ikut SM barang beberapa kali. Tapi kemudian ia bilang tidak lagi mau ikut SM. Alasan dia cukup masuk akal buat kami: menurut dia kakak-kakaknya SM banyak yang nakal, dia kuatir jadi ikut nakal. “Kakak” yang dia maksud di sini bukan kakak guru SM, tapi istilah buat teman-temannya sesama murid SM, kebetulan memang dia termasuk yang paling muda di situ. Duh, kayak dia nggak ada nakal-nakalnya aja..

Kami menerima alasan dia itu. Sebagai gantinya ia bersedia ikut kebaktian dewasa. Ketika dia masuk kelas 1 SD, kami tawari lagi untuk ikut SM, dia sempat bersedia ikut beberapa kali bahkan sempat ikut acara Natal SM. Tapi sesudah itu dia tidak mau lagi, dengan alasan yang sama dengan sebelumnya.

Akhirnya kami membuat kesepakatan. Dia tetap ikut kebaktian dewasa dan dia harus mencatat ayat yang dibacakan dan ringkasan khotbah – tentu saja sejauh pemahaman dia. Jika dia tidak lagi mau mencatat, dia harus berangkat ke SM. Maka demikianlah yang berlangsung hingga hari ini, termasuk ketika tiap Minggu kami mengikuti ibadah secara virtual.

Catatannya menarik, meski tulisan tangannya tidak (duh..). Kami kadang malah merasa belajar sesuatu dari catatan dia, melihat dari sudut pandang anak-anak.

Ada satu atau dua catatan yang isinya ringkas saja: “tidur mohon maaf”. Itu ceritanya dia ngantuk berat, malamnya susah tidur, terus minta izin pada kami untuk tidur waktu khotbah (mohon dimaapkan Pak/Bu Pendeta).

Ada banyak kali ketika ia merasa isi khotbah agak rumit dan ia enggan berupaya mencerna isinya sebisanya, ia menuliskan catatan sederhana saja yang intinya: “kita harus percaya pada Tuhan”. Saking seringnya ini terjadi, kadang sampai kami kasih peringatan, “Nanti nulisnya jangan ‘kita harus percaya pada Tuhan’ lho. Dengerin dulu baik-baik khotbahnya, baru ditulis yang lebih jelas.”

Tapi hari-hari ini saya memikirkan lagi dan mendapati betapa benar catatan dia yang super sederhana itu: “kita harus percaya pada Tuhan”. Di masa yang tak mudah untuk dijalani ini, betapa kita semua diingatkan lagi untuk tetap percaya kepadaNya, percaya pada perlindungan dan penyertaanNya.

Terimakasih Nak.

2006

Hari Senin kemarin ada pesan masuk ke ponsel saya. Isi pesannya begini:

“Slm mlm mas Albert. Maaf mengganggu. Kapan ada waktu memperbaiki program di Klinik saya? Tks”

Pengirimnya adalah seorang dokter, yang sudah lama menggunakan aplikasi yang saya buat. Saya menyanggupi datang ke klinik beliau sore ini tadi.

Saya ingat bahwa aplikasi itu sudah lama sekali saya buat, dan ada sekitar 5 kali beliau atau admin kliniknya menghubungi saya untuk konsultasi saat mereka mengalami kesulitan, entah PCnya atau printernya bermasalah. Bahwa beliau menghubungi saya berarti aplikasi saya masih mereka gunakan.

Ketika tadi saya datang ke klinik beliau, saya takjub melihat bahwa PC dan aplikasi saya di dalamnya masih ada lengkap dengan datanya. Pada aplikasi saya ada penanda tahun buatannya, 2006. PC bersih dan rapi, lengkap dengan sistem operasinya: Windows XP.

Beliau menyampaikan bahwa tiap hari beliau masih mengisikan data pasien ke dalamnya. Sudah ada puluhan ribu data pasien di situ. Hanya ada sedikit kendala: si admin klinik lupa passwordnya. Sambil saya bantu mengatur ulang password si admin, kami berbincang ringan mengenai kemungkinan upgrade aplikasi.

Saya senang mendapati bahwa aplikasi yang sudah lama sekali saya buat, masih terus bermanfaat untuk penggunanya.

Categories: bisnis, IT, pekerjaan