Archive

Archive for the ‘buku’ Category

Cara mendidik anak ala “ibu Cina”

Sedikit waktu luang di akhir tahun lalu saya isi dengan membaca buku Battle Hymn of The Tiger Mother (edisi terjemahan bahasa Indonesia) tulisan Amy Chua. Amy Chua adalah seorang profesor hukum di Yale Law School. Istri dari suami berdarah Yahudi (dan seorang profesor juga). Putri dari imigran Cina yang berasal dari Filipina. Dilahirkan di tahun Cina berzodiak Macan. Seorang ibu dari dua anak perempuan. Buku ini mengisahkan pengalaman Amy membesarkan kedua putrinya dengan cara ala “ibu Cina”.

Lalu sebenarnya siapa saja yang dimaksud dengan “ibu Cina”, dan apa yang dimaksud dengan cara mendidik anak ala “ibu Cina” oleh Amy?

Buku ini ditulis dalam konteks Amerika, dan di sana banyak dijumpai anak imigran Cina (atau negara Asia Timur lainnya) yang sukses, terutama dalam studinya, tentunya berkat peran seorang “ibu Cina”. Dalam buku Amy Chua ini, “Ibu Cina” tidak selalu merujuk pada seorang ibu berdarah Cina, tapi merujuk pada setiap ibu yang memiliki atribut tertentu, yang umumnya (lagi-lagi dalam konteks Amerika) dimiliki oleh seorang ibu imigran Cina. Jadi, bisa saja seorang ibu Amerika, ibu imigran Polandia atau India termasuk “ibu Cina” juga. “Ibu Cina” percaya bahwa anak-anak mereka mampu menjadi murid yang “terbaik”, dan bahwa “pencapaian di sekolah mencerminkan keberhasilan dalam membesarkan anak”, dan jika anak tidak jadi juara di sekolah pasti ada “masalah” dan orang tua “tidak berhasil melakukan tugasnya”. Berbeda dengan “orang tua Barat”, “orang tua Cina” menggunakan waktu jauh lebih banyak untuk mendampingi dan melatih anak-anak belajar. Keyakinan yang umumnya dimiliki oleh seorang “ibu Cina” di antaranya:
1. Tugas sekolah selalu menempati urutan pertama.
2. Nilai A minus itu jelek.
3. Orangtua tidak boleh memuji anak di depan orang lain.
4. Pergi menginap di rumah teman itu tidak perlu.
5. Menonton TV atau main game komputer itu tidak baik.

Berbeda dengan “ibu Barat” yang “harus memahami anaknya”, yang “berusaha mencari tahu bakat dan minat anaknya”, yang “selalu berusaha membuat anak dalam suasana hati baik dan gembira”, yang “tidak memaksa anaknya untuk melakukan ini dan itu”, membiarkan mereka “menemukan jalannya sendiri”; “ibu Cina” meyakini bahwa adalah tanggung jawab orang tua untuk memandu (dan bila perlu memaksa) anak untuk menjalani sesuatu yang dianggap terbaik. Ini bukan berarti “ibu Cina” seperti Amy mudah tugasnya. Sebaliknya, bagi Amy, ini justru tugas berat untuk orang tua. Orang tua harus mendedikasikan tenaga dan waktu yang besar untuk berperan sebagai “orang tua Cina”.

Buku ini hadir (pada awal 2011 di Amerika) tepat pada saat Cina tengah hadir mengancam dominasi ekonomi Amerika. Dari berbagai pembahasan yang saya baca tentang buku ini, kehadiran buku ini sedikit banyak memaksa orang Amerika untuk bertanya ulang pada diri mereka sendiri, “adakah yang salah dalam sistem pendidikan kita, yang berpengaruh pada merosotnya ekonomi kita?” Pada rilis hasil tes PISA (Program for International Student Assessment) Desember 2010, para siswa Amerika menempati peringkat 17 dalam hal membaca, 23 dalam ilmu pengetahuan alam, dan 31 pada matematika; dalam nilai totalnya menempati peringkat ke 17. Pada rilis tahun 2010 itu, siswa dari Shanghai (bukan Cina secara keseluruhan) mengikuti PISA. Dan hasilnya menggetarkan: mereka menempati peringkat pertama dalam ketiga kategori tersebut. Para analis menjelaskan bahwa ini karena siswa dari Shanghai belajar lebih keras, dengan konsentrasi lebih baik, dalam jumlah jam yang lebih banyak ketimbang siswa Amerika.

Yang cukup mengejutkan, tindakan “ibu Cina” yang selalu menuntut 110% dari anak-anaknya, ternyata mendapat dukungan dari riset dalam bidang ilmu psikologi. Dalam buku A Nation of Wimps, Hara Estroff Marano (editor majalah Psychology Today) mengatakan “riset menunjukkan bahwa anak yang tidak mengalami situasi ‘bergulat’ dengan tugas-tugas sulit, tidak mengembangkan apa yang disebut sebagai ‘pengalaman untuk menguasai sesuatu (kemampuan/keadaan)'”. Marano menjelaskan, “anak-anak yang punya kemampuan dan pengalaman itu cenderung lebih optimistis dan tegas; mereka telah belajar bahwa mereka mampu untuk menaklukkan kesulitan dan meraih berbagai tujuan.”

Terlepas dari semua itu, buku ini jelaslah bukan sebuah manual tentang “bagaimana menjadi ‘ibu Cina'”. Buku ini mengisahkan pengalaman Amy Chua sebagai seorang “ibu Cina”. Dan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang dimaksud oleh Amy dengan “ibu Cina” (karena apa yang coba saya tuliskan di atas tentu tidak lengkap), tidak ada cara lain selain membaca sendiri buku ini.

Buku ini menarik bagi saya, salah satunya karena ternyata cara mendidik anak ala “ibu Cina” tidak begitu asing bagi saya. Kembali ke masa saya duduk di bangku SD dulu, banyak “ibu Cina” yang mendorong anak-anaknya untuk duduk di peringkat satu kelas. Menunggui anak mengerjakan PR, menjejali anak dengan berbagai les selepas jam sekolah, rajin berkonsultasi dengan para guru membahas apa yang masih kurang dari anak-anak mereka. Ada di antara anak-anak itu yang menjadi orang sukses, ada di antaranya yang terpuruk dalam berbagai kesulitan pribadi.

Secara umum buku ini menarik perhatian saya, bukan karena saya tertarik untuk mencoba pendekatan “ibu Cina”, tapi karena ini sebuah kisah yang cukup lengkap dan detail tentang menjadi orang tua beserta segala tantangannya, yang disampaikan dalam bahasa yang sederhana dan menarik.

============

Beberapa pembahasan yang menarik untuk dibaca:

http://www.time.com/time/printout/0,8816,2043477,00.html
http://healthland.time.com/2011/01/11/chinese-vs-western-mothers-q-a-with-amy-chua/
http://www.theatlantic.com/magazine/archive/2011/04/sympathy-for-the-tiger-moms/8399/?single_page=true

Buku tutorial pemrograman

Tadi sore, saya ditanya oleh seorang teman, “Kalo mau belajar CakePHP, biasanya pake buku apa ya?”. Pertanyaan sederhana, tapi saya kesulitan menjawabnya. Tersadarlah saya, bahwa sudah sekian tahun lamanya, saya tidak membeli buku tutorial pemrograman. Sekarang, ide membeli buku tutorial terdengar aneh bagi saya.

Saya masih ingat, sekitar 10 tahun yang lalu, seorang teman memiliki sebuah buku tentang PHP, berbahasa Inggris (waktu itu buku PHP berbahasa Indonesia belum ada). Buku itu menjadi semacam kitab keramat bagi kami. Forum di internet yang membahas PHP belum semarak sekarang. Untuk sekedar menggandengkan webserver atau database dengan PHP saja masih perlu perjuangan, setting sana setting sini. Buku itu menyajikan hampir semua jawab atas pertanyaan kami tentang PHP. Sampai akhirnya beberapa waktu kemudian, saya dan teman2 hafal urutan bab2nya. 10 tahun yang lalu, buku tutorial penting sekali.

Waktu berjalan, akses internet semakin mudah dan murah, kandungan informasi di internet juga semakin padat. Saya tidak pernah lagi membeli buku tutorial pemrograman. Salah satu sebabnya, karena buku semacam itu cepat usang informasinya, tidak jarang malah sudah usang dalam hitungan bulan. Informasi terbaru selalu tersedia di internet. Berkat Google, informasi apapun mudah dan cepat sekali ditemukan.

Saya jadi ingin tahu, apakah buku2 tutorial yang banyak dipajang di toko buku itu laris terjual? Jika tidak, mengapa masih banyak ditawarkan? Atau memang masih ada banyak orang yang membutuhkan buku2 tutorial itu? Yang mungkin belum menikmati akses internet sebanyak saya?

Yang jelas, akhirnya jawaban yang saya berikan pada si teman tadi, “Wah, saya tidak pernah beli buku soal CakePHP. Dulu saya cari manualnya di internet, dan kemudian saya belajar dari manual itu.”

Ulasan singkat tentang Outliers

Outliers - Malcolm Gladwell

Baru 2 hari yang lalu saya menyelesaikan membaca buku Outliers, hasil pinjaman dari teman saya, Dindit. Apakah Outliers itu? Outlier dalam ilmu statistik bisa kita artikan sebagai pencilan (masih ingat istilah statistik yang satu ini?). Pencilan adalah data yang terletak di luar (terpisah dari) kumpulan data-data lainnya. Biasanya, dalam perhitungan statistik tertentu, data ini diabaikan. Dalam konteks buku ini, outliers dipahami sebagai orang-orang atau kejadian-kejadian yang istimewa, yang seperti halnya pencilan tadi, terletak di luar kumpulan data-data yang lain, sehingga orang-orang atau kejadian-kejadian ini tampak menonjol.

Kembali ke buku Outliers, menurut saya, buku itu menarik. Seperti biasanya, saya menganggap suatu buku menarik jika buku itu menawarkan sudut pandang yang berbeda dari yang biasa kita (atau setidaknya saya) gunakan. Buku karya Malcolm Gladwell (yang juga mengarang The Tipping Point dan Blink!) ini mengajak kita melihat bahwa penyebab terjadinya suatu hal, tidak melulu seperti yang kita duga selama ini. Dengan harapan agar penjelasan yang mungkin tidak jelas ini menjadi lebih mudah dipahami, saya akan cukilkan sebuah contoh dari buku tersebut.

Ketika kita melihat sekumpulan anak bertanding hoki di sebuah liga antar sekolah, kita biasa menganggap bahwa anak-anak itu tentulah yang paling berbakat dari antara anak-anak di sekolah mereka masing-masing. Namun, benarkah demikian? Apakah bakat atau kemampuan adalah satu-satunya parameter yang berpengaruh atas terpilihnya mereka masuk dalam tim sekolah mereka? Ternyata tidaklah demikian. Ada faktor lain yang jauh lebih dominan daripada itu, yaitu tanggal lahir. Buku ini tidak mengarahkan kita untuk membahas astrologi, tentu saja 🙂 Buku ini hanya menunjukkan pada kita bahwa sebagian besar dari anak-anak yang bertanding itu lahir pada antara bulan Januari hingga Maret. Ketika diselidiki lebih jauh, ternyata pola yang sama dijumpai pula pada atlet-atlet hoki profesional. Ada apa dengan mereka yang lahir pada bulan Januari hingga Maret?

*Sebelum berlanjut lebih jauh, penting untuk diketahui bahwa di Kanada (dimana cerita ini terjadi), satu angkatan anak sekolah terdiri dari mereka yang lahir antara bulan Januari hingga Desember pada tahun yang sama. Ini sedikit berbeda dengan di Indonesia, dimana satu angkatan anak sekolah terdiri dari mereka yang lahir antara bulan Juli hingga Juni tahun berikutnya.

Pada anak-anak, perbedaan fisik antara mereka yang berselisih lahir 6 bulan atau lebih cenderung tampak jelas. Mereka yang lahir 6 bulan (atau lebih) lebih awal, tentu saja akan tampak lebih tinggi, lebih tegap, dan lebih kuat. Contoh ekstremnya, kita bisa bandingkan antara mereka yang lahir pada bulan Januari dan mereka yang lahir pada bulan Desember pada tahun yang sama. Tentu saja mereka yang lahir pada bulan Januari, hampir satu tahun lebih awal, akan tampak lebih tinggi, tegap, dan kuat. Ketika diadakan seleksi untuk tim hoki sekolah, tentu saja pelatih dan pemandu bakat akan melihat anak-anak yang lahir pada bulan-bulan awal (katakanlah, Januari sampai Maret) sebagai anak-anak yang lebih mampu dan siap secara fisik untuk disertakan dalam tim dan dilatih lebih keras. Keunggulan fisik, dan kemudian ditambah dengan keunggulan jumlah latihan yang diterima, semakin memperlebar jarak kemampuan antara mereka yang lahir pada bulan-bulan tersebut dengan rekan-rekannya yang lain. Tentu saja, ada anak-anak yang lahir pada bulan lain yang ikut masuk dalam tim yang sama, tapi jumlah mereka tidaklah banyak, meski sebetulnya, jika dibandingkan dengan anak yang benar-benar seusia, kemampuan dan bakat mereka bisa jadi lebih baik. Ini menunjukkan bahwa, untuk menjadi atlet hoki profesional yang hebat, bakat dan kemampuan saja tidaklah cukup. Kita juga perlu beruntung untuk lahir pada bulan tertentu.

Pola seperti ini juga terjadi pada banyak hal-hal lain. Buku ini memberikan beberapa contoh yang menarik, yang mampu mengajak kita untuk melihat suatu peristiwa dari sudut pandang yang benar-benar berbeda. Tahukah Anda, bahwa ada hubungan antara latar belakang budaya dan kewarganegaraan dengan tingkat kecelakaan pesawat? Tahukah Anda, bahwa ada hubungan antara keberhasilan beberapa orang di bidang teknologi informasi (Steve Jobs, Bill Gates, Steve Balmer) dengan tahun dan tempat lahir mereka? Tahukah Anda, mengapa orang Asia Timur (Cina, Jepang, dan Korea) cenderung berbakat dalam matematika?

Bagi saya, buku ini menunjukkan pada kita bahwa selain dengan bekerja keras, untuk berhasil juga diperlukan peluang dan momentum (yang mungkin ada di luar kendali dan kekuasaan kita) yang benar-benar tepat. Tersedianya peluang dan momentum saja, tanpa kerja keras kita untuk memanfaatkannya, juga tidak akan menghasilkan apa-apa.

Semoga ulasan singkat ini bermanfaat.

Categories: buku Tags: , , ,