Archive

Archive for the ‘pendidikan’ Category

Ketika Anak Memilih Pemimpin

Di kelas anak saya, ketua kelas dan wakilnya dipilih dua minggu sekali. Keduanya dipilih berselang-seling pasangan cowok dan pasangan cewek; misalnya minggu ini cowok-cowok, dua minggu lagi cewek-cewek. Bagi yang sudah pernah terpilih menjadi ketua kelas, tidak boleh dipilih lagi. Sedangkan yang sudah pernah jadi wakil ketua kelas, masih boleh dipilih lagi pada kesempatan berikutnya. Cara memilihnya sederhana saja: setiap anak menentukan pilihannya (boleh memilih diri sendiri juga), calon dengan suara terbanyak menjadi ketua, yang kedua terbanyak menjadi wakil ketua.

Namanya anak-anak, cara menentukan pilihannya ya sederhana saja: yang dipilih bisa teman baiknya, atau yang dianggap pintar, atau yang dianggap lucu atau keren. Terserah mereka, siapapun yang mereka anggap layak untuk jadi ketua kelas. Siapapun yang terpilih, semua senang, menikmati prosesnya. Gurunya juga tidak mengarahkan, siapa yang sebaiknya dipilih: “oh itu saja, dia anak guru, pas jadi ketua kelas”, atau “dia saja yang dipilih, anaknya baik dan sopan”. Setidaknya itu yang saya tangkap dari cerita anak saya.

Kemarin saya tanya ke anak saya, “Emang banyak yang pengen jadi ketua kelas?”

“Lho, SEMUA ANAK itu pengen jadi ketua kelas!” sahut dia.

“Emang kenapa kok pada mau jadi ketua kelas?”

“Soalnya bisa suruh-suruh yang lain.”

Maksudnya bisa kasih aba-aba berbaris saat mau masuk kelas, itu bagi mereka sesuatu yang keren, hehehehe..

Pada akhirnya, dengan cara yang mereka gunakan, saya rasa setiap anak – siapapun dia – akan memperoleh kesempatan menjadi ketua kelas, mencoba merasakan memimpin dalam skala kecil. Pengalaman yang menyenangkan buat mereka.

Ketika anak ingin bersekolah..

Anak bermain

Anak kami, Karel, berusia 3,5 tahun saat ini. Sudah sejak dia berusia kurang dari 2 tahun kami sering mendapat pertanyaan: Karel sudah (/belum/tidak) disekolahkan? Kami berencana untuk menyekolahkan dia langsung ke TK, tidak melalui Kelompok Bermain (KB). Mengapa? Karena kami berpandangan bahwa – dalam kadar yang mungkin berbeda – tanpa harus bersekolah di KB, Karel bisa mendapatkan apa yang akan didapatkannya di KB: teman bermain (kami orang tuanya, pengasuhnya, dan sejumlah anak-anak tetangga), pengenalan berbagai hal seperti: fauna (dengan pergi ke kebun binatang), mengenal bentuk-bentuk geometris (melalui berbagai bentuk permainan di rumah), pengenalan alfabet dan angka (melalui berbagai buku anak-anak yang kami punya di rumah, termasuk buku masa kecil saya dulu), pengenalan tempat dan hal baru (dengan bepergian bersama ke luar kota, ke tempat baru), belajar mandiri (makan dan berpakaian sendiri misalnya). Menurut kami, KB baik, namun tetap dengan beberapa kelemahan, seperti: anak dapat dengan mudah meniru hal-hal tidak baik dari temannya (berantem, berkata tidak baik, dll) karena bagaimanapun pengawasan guru di KB tetap terbatas. Selain itu, di KB anak lebih rentan tertular penyakit, pada masa sistem kekebalan tubuhnya belum mapan terbangun. Sedari mula akan menikah, kami memang telah menyiapkan diri dengan berniat untuk bekerja di rumah, agar dapat mengawasi dan membesarkan anak kami sendiri.

Namun beberapa minggu yang lalu, Karel bilang bahwa ia mau sekolah. Ketika ditanya lebih lanjut, ia bilang bahwa ia mau bersekolah di tempat yang mainannya banyak. Kami merasa bahwa ini mungkin memang waktunya bagi dia untuk sekolah. Dia sudah menyatakan kebutuhannya untuk bermain (dan mungkin bersosialisasi) di arena yang lebih luas. Maka mulailah kami berburu sekolah..

Kami mungkin adalah orang tua yang “aneh-aneh”, memilah dan memilih berbagai KB dengan banyak kriteria kami sendiri. Misalnya: berbahasa pengantar Indonesia (karena bagaimanapun kami tinggal di Indonesia, dan masih akan berhubungan dengan banyak orang Indonesia), tempat bermain outdoor yang cukup luas (pesanan Karel), kelas relatif kecil dengan jumlah guru pendamping yang cukup, tidak memaksakan mengajarkan anak untuk baca tulis (mengenalkan sih boleh, toh kami juga sudah mengenalkannya di rumah), relatif heterogen dalam hal suku (untuk mengajarkannya hidup berdampingan dengan keragaman budaya), bersih (kami memeriksa kondisi kelas dan toiletnya), dan relatif aman (sebisa mungkin ada gerbang berlapis, dengan ada halaman yang cukup luas sebelum terjumpa jalan raya), sebisa mungkin hanya berlantai satu (alasan keamanan, karena keterbatasan kemampuan pengawasan guru). Kami juga lebih menyukai sekolah yang memberi kesempatan pada calon murid dan orang tuanya untuk melihat terlebih dahulu kegiatan sekolah tersebut sebelum akhirnya si murid didaftarkan di situ.

Istri saya mengunjungi beberapa sekolah untuk melihat situasi fisik dan non-fisiknya. Tiap kali ia pulang ke rumah, Karel bertanya, “Sudah dapat sekolah yang mainannya banyak, Mami?” Akhirnya dari beberapa kunjungan istri saya, kami menyusun daftar sekolah yang akan dikunjungi kembali, bersama saya dan Karel.

Menurut kami, memilih sekolah bukan sekedar melihat dan membandingkan isi kurikulum, daftar kegiatan, juga daftar biayanya. Kami mencoba mengamati sikap guru dalam berbagai situasi (bagaimana bila ada anak yang nakal, ada anak baru, ada anak yang masih takut-takut, dsb). Dalam soal ini saja, kami mendapati sikap dan tanggapan yang beragam. Ada yang menerima dengan baik, tiap guru yang berpapasan menyapa si anak, meskipun jelas ia masih calon murid, belum tentu masuk ke KB itu. Ada yang menerima dengan biasa-biasa saja, sekedar melihat dari jauh kehadiran kami, tanpa usaha menyapa dan mengajak berbincang. Kami juga mengamati bagaimana staf administrasi sekolah bekerja. Ada yang menjanjikan untuk menghubungi pada sekian hari ke depan untuk menginformasikan ketersediaan kelas trial, namun hingga sekarang belum ada kabar apa-apa.

Dari semua hal yang kami amati dan kami pertimbangkan itu, kami akhirnya memutuskan untuk memasukkan Karel ke kelas trial di sebuah sekolah. Jauh dari tempat tinggal kami, tapi menurut kami, dari banyak sisi, sekolah tersebut lebih baik dibanding sekolah-sekolah lainnya.

Ini pengalaman kami, bagaimana pengalaman Anda?

Sekilas tentang Pendidikan Seks untuk Anak

Hari Minggu 22 April 2012 kemarin, saya dan istri mengikuti Kelas Belajar Bersama yang diadakan oleh Jogja Parenting Community. Kebetulan kami tertarik dan merasa butuh untuk tahu tentang topik yang akan dibahas: “Gimana Bicara tentang Seksualitas dengan Anak?”. Acara dipandu oleh Fitri Andyaswuri dari JPC, yang akrab disapa Mbak Titi; sedangkan topik dibawakan oleh Arief Sugeng Widodo, yang akrab disapa Paman Dodod. Keduanya alumni Fakultas Psikologi UGM.

Saat melakukan daftar ulang, peserta diberi secarik kertas dengan sebuah pertanyaan: “Apa sebutan yang Anda kenalkan pada anak Anda untuk alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan?” Peserta diminta menuliskan jawabannya di situ sebelum kertas kembali dikumpulkan. Paman Dodod membuka pembahasan dengan menjelaskan bahwa kita adalah produk masyarakat yang belum matang. Ini ditandai dengan belum netralnya kata “seks” di tengah masyarakat. Apa sebetulnya makna kata “seks”? Banyak orang masih keliru dengan mengartikan “seks” sebagai “hubungan seks”, “tabu atau saru”, “jorok”, atau “sesuatu yang hanya untuk orang dewasa”. Padahal arti sebenarnya dari “seks” adalah “jenis kelamin”. Salah satu hambatan dalam memberikan pendidikan seks pada anak adalah dalam hal bahasa. Bahasa dalam pendidikan seks yang mestinya lugas apa adanya. Contoh selain kata “seks” tadi adalah istilah untuk alat kelamin laki-laki dan perempuan. Ada yang mengenalkan alat kelamin laki-laki pada anaknya sebagai “gajah-gajahan”. Padahal semestinya cukup disebutkan sebagai “penis”, dan untuk alat kelamin perempuan: “vagina”. Kedua istilah tersebut adalah istilah baku, sehingga mestinya tidak akan menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu.

Anak dikaruniai rasa ingin tahu yang tinggi. Keingintahuan yang tinggi ini seringkali terwujud dalam bentuk lontaran pertanyaan-pertanyaan, terutama mungkin pada orang tuanya. Saat anak bertanya adalah salah satu momen yang baik untuk memberikan pendidikan seks pada anak, tentunya bila pertanyaan anak menyangkut masalah seks, seperti misalnya: “mengapa punyaku (seorang anak laki-laki misalnya) berbeda dengan punya dik Lina (yang adalah perempuan)?”. Keingintahuan yang sehat ini tentu perlu dipuaskan dengan jawaban-jawaban yang benar dan bijaksana, dan bukan dengan jawaban yang “sopan” tapi salah, atau yang bersifat “menghindar”, karena misalnya orang tua merasa tidak nyaman atau malu menjelaskannya. Semakin keingintahuan tersebut tidak terpuaskan, akan semakin penasaran si anak, dan mungkin ini akan mendorong ia untuk mencari informasi dari sumber lain, seperti misalnya dari internet atau dari sesama teman (yang mungkin sama-sama masih terbatas pengetahuannya). Resiko yang timbul adalah, diperolehnya informasi yang salah. Idealnya, di dalam sebuah keluarga, orang tua dipandang sebagai sumber informasi terpercaya bagi anak. Ini bukan berarti orang tua harus tahu segalanya dan mampu menjawab semua pertanyaan anak. Namun setidaknya orang tua mampu mengarahkan anak untuk mencari (atau bersama-sama mencari) jawaban yang tepat.

Pendidikan seks idealnya mengikuti tumbuh kembang anak. Untuk anak balita misalnya, dapat mulai dikenalkan dengan nama-nama anggota tubuh, termasuk organ seks, untuk menjelaskan identitas jenis kelamin. Kemudian juga meliputi cara perawatan kebersihan dan kesehatan tubuh, termasuk alat kelamin. Dan tentunya, tidak ketinggalan juga pesan-pesan moral dan nilai, seperti misalnya: alat kelamin perlu selalu tertutup, tidak dipertontonkan, tidak boleh disentuh orang lain, dan tidak boleh menyentuh alat kelamin orang lain. Semakin bertambah usia anak, tentu keingintahuan mereka akan makin meluas cakupannya, dan pendidikan seks perlu untuk terus diberikan sesuai dengan usia anak.

Di tengah-tengah acara, ada banyak pertanyaan dan sharing yang muncul dari peserta, salah satu yang menarik menurut saya adalah sharing dari seorang ibu berusia 30 tahun. Ia menceritakan cara ibunya memberikan pendidikan seks pada dirinya. Salah satunya adalah dengan mandi bersama sang ibu. Melalui acara mandi bersama tersebut, si anak dikenalkan pada organ tubuh wanita dewasa. Sang ibu juga terbuka pada si anak saat sedang menstruasi. Sang ibu tidak menganggap hal-hal ini sebagai hal yang tabu. Si anak mendapatkan kesan yang sangat positif, ini membuatnya tidak bingung atau gelisah ketika masa pubertasnya tiba. Informasi yang telah diterimanya sebelumnya dari sang ibu membuatnya siap menghadapi perkembangan tubuhnya. Dan ia berniat untuk memberikan pengetahuan yang sama pada anaknya sekarang.

Tanpa terasa acara tersebut berlangsung selama 2,5 jam. Sebuah acara yang menarik dan bermanfaat bagi kami sebagai orang tua, yang memberikan bekal awal pada kami untuk mampu memberikan pendidikan seks yang tepat untuk anak kami.

Class Year

In every Facebook personal info page, especially in education section, there is an entry field named Class Year. This entry is widely misunderstood by Indonesians. Class year is used to show the year when someone finished his/her study. See here for the explanation. This concept is not familiar here. Here in Indonesia, students usually identify themselves by the year when they started the study. Let me take myself for example. I started my study in Electrical Engineering GMU in 1997 (just remind me that it was 12 years ago, it has been quite a long time). So, people will recognize me as Albert from EE 97. People don’t care about when I finished my study. I finished my study in 2002, but people won’t recognize me as Albert from EE, the class of 02.

The effect is, many Indonesians fill that field with the year when they started the study, while some others fill that field with the year they finished their study. This is sometimes confusing.

This made me think a little bit further. Why is the concept of class year not familiar here? Is it because of the unpredictability of study duration, here in Indonesia?

What do you think?

Categories: lain-lain, pendidikan Tags:

Membonceng sepeda motor sambil belajar

copy-of-241120090661

Waktu belajar kurang ya Dik?

Gelar

Zaman dulu kala, orang yang dianggap memiliki kemampuan menyembuhkan orang lain disebut tabib. Waktu itu, tidak ada pendidikan formal bagi seseorang untuk bisa menjadi tabib. Seorang tabib menjadi tabib, dan dipanggil orang sebagai tabib, karena kemampuannya untuk menyembuhkan diakui dan diyakini orang lain. Tabib biasanya memiliki cantrik atau murid, yang mengikuti segala hal yang dilakukan si tabib dalam menyembuhkan orang lain. Setelah sekian tahun, ketika si tabib beranjak tua, si murid, yang dianggap menguasai ilmu si tabib tua, beserta segala pengalamannya, mulai dianggap orang sebagai tabib baru. Pada banyak profesi lain, hal seperti inilah yang terjadi. Tukang kayu, tukang batu, pedagang. Ilmu diwariskan dengan mengikuti segala tindak laku dan pengalaman si senior. Pola pikir dibentuk dalam waktu tahunan, bahkan mungkin puluhan tahun. Ketika waktunya tiba, masyarakatpun akan mengakui kemampuan si penerus.

Masyarakat modern tidak lagi cukup sabar untuk menanti datangnya si penerus profesi dalam waktu puluhan tahun. Mereka butuh proses regenerasi dilangsungkan dalam waktu yang lebih cepat. Diciptakanlah standar dan gelar. Tabib, yang kemudian disebut dokter, adalah seseorang yang telah melalui pendidikan dengan sejumlah pelajaran, dan telah lulus uji dengan standar tertentu. Selepas mereka lolos ujian, diberikanlah gelar resmi: dokter. Setiap orang yang telah melalui proses ini akan memperoleh gelar yang sama. Tidak hanya dokter, banyak profesi lain menciptakan proses regenerasi serupa.

Lama kelamaan, masyarakat makin percaya dengan gelar2 yang disandang orang. Siapapun yang memiliki gelar dokter, misalnya, akan mendapatkan penghargaan dan kepercayaan sebagaimana layaknya dulu masyarakat menghargai seorang tabib. Perhatikan, jika zaman dulu masyarakat percaya karena melihat sendiri kemampuan seseorang, maka kini, masyarakat percaya karena melihat gelar yang disandang. Tiap orang yang menyandang gelar dokter, diyakini memiliki kemampuan untuk menyembuhkan tiap orang sakit yang datang kepadanya. Tiap orang yang menyandang gelar sarjana ekonomi, dianggap mampu menganalisis berbagai peristiwa ekonomi yang terjadi dan memberikan solusi untuk tiap masalah ekonomi. Tiap orang yang menyandang gelar sarjana hukum, dianggap fasih akan bahasa2 hukum, memiliki kemampuan menafsirkan berbagai aturan hukum secara akurat.

Sistem seperti ini telah berlangsung lama, dan dianggap efisien. Akhir2 ini, makin banyak hal lagi disertifikasi, dengan harapan diperoleh kualitas yang sama, sama tingginya. Dua contoh yang cukup mutakhir: untuk menjadi guru, seseorang harus memiliki sertifikat guru, untuk menjadi sutradarapun nantinya seseorang harus memiliki sertifikat.

Masalahnya, tidak jarang ada hal2 yang tidak tercakup dalam proses sertifikasi. Bagi saya, syarat mutlak yang harus ada dalam diri guru adalah adanya jiwa pendidik di dalam dirinya. Mencintai siswa2nya, tulus memberikan semua ilmunya. Bagaimana hal2 ini mau diukur dalam sebuah proses sertifikasi? Untuk menjadi seorang sutradara, seorang seniman, hal utama yang harus ada tentunya daya kreatif yang tinggi. Bagaimana pula hal ini mau diukur dalam proses sertifikasi? Tidak semua hal bisa disertifikasi.

Ketika gelar dianggap masyarakat sebagai tujuan utama, muncul masalah lain. Proses yang ada di balik gelar tidak begitu diperhatikan lagi. Segala daya upaya dikerahkan agar gelar atau sertifikat diperoleh. Beberapa teman saya ketahui sering mengajak (dan membiayai) dosennya untuk mengikuti seminar. Nilai yang tinggi mudah mereka raih. Di sisi lain, tidak jarang pihak pemberi gelar (sekolah misalnya), terkesan semakin mempermudah proses untuk meluluskan peserta didiknya. Kurikulum disederhanakan, dipersingkat masa studinya. Semakin cepat mereka meluluskan peserta didik, semakin cepat pula peserta didik baru mengisi kursi yang ditinggalkan (dengan membawa dana segar, tentunya). Efeknya jelas, menurunnya kualitas lulusan. Pada kenyataannya, gelar yang mestinya menjadi standar, malah tidak lagi memberikan jaminan kualitas. Jarak antara kualitas yang mestinya terkandung dalam gelar dan gelar itu sendiri mulai melebar.

Gelar tidak lagi bermakna, bila proses di baliknya diabaikan.

Cermin kondisi pendidikan tinggi kita?

Beberapa hari yang lalu, saya menerima sebuah email sebagai berikut:

salam kenal pak albert nama saya xxxx (Albert: namanya saya sembunyikan) .. saya mahasiswa tingkat akhir jurusan teknik informatika di salah satu perguruan tinggi di jakarta..

saya tertarik dengan aplikasi rekam medis yg anda dan teman2 dari kunang kembangkan…. kebetulan skripsi saya mengambil topik tentang rekam medis pula..

adakah sekiranya saya bisa bertanya pada anda, sidplite itu dibuat menggunakan software apa…? dan apakah sekiranya teman2 dari kunang dapat membantu saya untuk mengirimkan tutorial dalam pembuatan rekam medis elektronik yang mirip dengan sidplite….

atau apakah teman2 dari kunang bisa juga membuatkan jasa untuk saya dalam pembuatan software rekam medis elektronik (semacam sidplite) namun dengan persyaratan teknis dari saya… (dengan harga terjangkau tapinya…)

mohon tanggapannya… terima kasih sebelumnya

Saya sungguh heran, mau jadi sarjana informatika macam apa mahasiswa ini ketika dia lulus? Baru mengerjakan skripsi saja sudah minta tolong orang lain mengerjakan skripsinya, lengkap dengan langkah-langkahnya. Jelas sekali dia tidak bersedia bersusah payah menganalisa masalah untuk kemudian memunculkan ide sebagai solusi atas masalah tersebut. Mau bayar, tapi belum-belum sudah nawar pula.

Singkatnya jawaban saya: saya bukan biro jasa pembuatan skripsi, dan saya merasa tidak mendidik Anda jika saya menanggapi permintaan Anda.

Pertanyaan saya: apakah ini cermin kondisi pendidikan tinggi kita?