Archive

Archive for the ‘Indonesia’ Category

Museum Sangiran

Baru sekali kemarin itu saya berkunjung ke Museum Sangiran. Dan saya terkesan.

Sejauh pengalaman saya mengunjungi museum di Indonesia (yang belum bisa dibilang banyak), Museum Sangiran adalah salah satu yang terbaik. Koleksi dan informasi yang ditampilkan banyak dan ditampilkan secara cukup menarik, terawat cukup baik (masih relatif baru juga sih), dan biaya masuk (amat) murah (lima ribu rupiah per orang).

Saya juga baru mengerti jika ternyata Museum Sangiran terdiri dari lima museum klaster yang letaknya saling terpisah cukup jauh. Museum-museum klaster – setidaknya empat di antaranya – terletak cukup terpencil di tengah desa, dan dicapai dengan melalui jalan desa yang sebagiannya hanya pas untuk dilalui satu mobil. Meski demikian, bangunan museum bagus dan berAC. Jarak antar museum terpisah sekitar 3-10 km. Petunjuk jalan menuju tiap lokasi klaster tersedia cukup jelas, baik arah maupun jaraknya.

Lima klaster itu adalah:

1. Museum Klaster Krikilan
Ini adalah yang terbesar di antara lima klaster. Menurut saya, Klaster Krikilan ini semacam “rangkuman” dari klaster-klaster lainnya. Biasanya orang berkunjung hanya ke Klaster Krikilan, dan menurut saya itu keputusan yang kurang tepat 🙂

2. Museum Klaster Bukuran
Museum Klaster Bukuran menyajikan informasi yang cukup mendetail tentang sosok Homo Erectus dan tentang asal muasal kehidupan. Desain interiornya modern.

3. Museum Klaster Manyarejo

Museum Klaster Manyarejo menyajikan informasi tentang proses ekskavasi fosil dan peran masyarakat Sangiran dalam proses ekskavasi. Ditunjukkan pula peran ilmu paleontologi, arkeologi, dan geologi di dalamnya. Di sini ada display lokasi ekskavasi tempat fosil ditemukan. Dari lokasi parkir kendaraan, untuk mencapai lokasi museum, kita harus menaiki sejumlah undak-undakan. Siapkan stamina 🙂

4. Museum Klaster Ngebung
Museum Klaster Ngebung menyajikan informasi tentang tokoh-tokoh yang berperan dalam penemuan, penelitian, dan diskusi (juga debat) soal fosil-fosil yang banyak ditemukan di Sangiran. Ada banyak tokoh dari luar Indonesia, namun banyak pula tokoh Indonesia.

5. Museum Klaster Dayu

Museum Klaster Dayu menyajikan secara nyata lapisan-lapisan tanah Sangiran. Kompleks Museum Klaster Dayu dirancang menurun, membawa pengunjung menyusuri lapisan-lapisan tanah, dengan banyak informasi ditampilkan pada tiap bagiannya. Di dalam bangunan museum ditampilkan informasi tentang budaya manusia purba. Sama seperti di Museum Klaster Manyarejo, pengunjung perlu memiliki stamina yang cukup untuk menyusuri seluruh bagian museum.

Secara umum, kelima klaster mengandung informasi yang padat, sehingga idealnya pengunjung punya waktu yang cukup untuk menyerap dan mencerna semua informasi yang tersedia. Informasi ditampilkan dalam banyak ragam cara yang menarik: diorama, replika, grafik, teks, media interaktif seperti permainan komputer dan juga video/film.

Menurut saya ada beberapa perbaikan yang perlu dilakukan agar Museum Sangiran menjadi lebih baik lagi, di antaranya:

  • Pencahayaan dalam ruang perlu dibuat lebih terang, agar seluruh display tampak jelas. Dalam kunjungan saya kemarin, ruangan minim cahaya, dengan tiap display diberi lampu spot yang menerangi display secara kurang merata, menyulitkan pembacaan pada bagian-bagian tertentu.
  • Display informasi sebagian besar masih berupa teks, termasuk yang dalam bentuk media interaktif. Ini membuat pengunjung harus banyak sekali membaca. Seandainya sebagian informasi ditampilkan dalam bentuk selain teks, informasi mungkin akan lebih mudah ditangkap oleh pengunjung. Selain itu, tampilan museum bisa jadi lebih menarik, karena tidak melulu dihiasi oleh teks.
  • Akan baik seandainya pengelola menyediakan buku-buku yang berisikan informasi yang disajikan di museum. Tidak harus gratis. Dengan penyajian yang menarik, buku-buku tersebut dapat menjadi media informasi tambahan bagi pengunjung, selain dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi pengelola museum.

Meski demikian, saya merasa senang dan puas dapat mengunjungi Museum Sangiran.

Museum Sangiran buka setiap hari kecuali hari Senin.

Advertisements

Keanekaragaman

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan main ke negeri tetangga. Di sedikit waktu luang yang saya punya selepas menuntaskan keikutsertaan di acara yang menjadi alasan utama saya pergi ke sana, saya diantar bepergian ke luar kota oleh kedua sepupu saya yang manis dan baik hatinya 🙂

Salah satu hal yang saya tangkap dari pemandangan di luar jendela kendaraan yang saya tumpangi adalah kesan betapa teratur dan tertatanya segala sesuatu yang nampak oleh mata. Misalnya baliho. Baliho tidak tersebar banyak, seandainyapun ada juga dalam ukuran yang wajar, tidak nampak terlalu menyolok.

Setelah saya amati dan pikir lebih jauh, sepertinya kesan teratur dan tertata itu lebih dipengaruhi oleh sedikitnya jenis tanaman yang tumbuh di sana. “Tumbuh di sana” mungkin berlebihan dan belum tentu akurat, terlebih karena saya bukan pengamat atau peneliti jenis-jenis tanaman. Tapi setidaknya dari yang terlihat oleh mata di sepanjang perjalanan, tanaman yang ada banyak yang tampak serupa.

Kesan berbeda saya peroleh ketika saya berkesempatan jalan-jalan di negeri sendiri. Kesan tanaman yang rimbun, beraneka jenis yang tercampur  di satu tempat, melekat kuat hampir di setiap tempat. Kesannya tidak begitu teratur dan tertata. Menurut saya ini bukan sekedar masalah penataan penanaman tanaman, tapi ya karena memang tanaman di negeri kita sungguh lebih beraneka macam.

Kata orang, biodiversitas Indonesia paling tinggi kedua di dunia setelah Brasilia. Jadi keanekaragaman tanaman kita mungkin memang lebih unggul dari negeri tetangga yang saya kunjungi itu.

=====

Nah, kebetulan beberapa waktu sesudah saya pulang, saya membaca artikel Mbak Elizabeth Pisani ini. Saya tidak begitu peduli dengan bagian awal artikelnya. Yang paling menarik perhatian saya justru kalimat-kalimat di paragraf kedua dari akhir. Saya kutipkan di sini:

The fact is, the more diverse a democracy, the more political compromise you need to glue it together. And Indonesia is probably the most diverse democracy in the world. A great deal of the country’s energy, attention and resources for many years to come will be turned inwards, focused on maintaining the exquisite balancing act that is Indonesian democracy.

Saya rasa kita semua sudah sejak lama menyadari, betapa Indonesia dikaruniai banyak hal yang beraneka ragam. Tidak hanya jenis tanamannya, tapi juga budaya, suku, ras, dan agamanya. Namun keanekaragaman itu juga membawa konsekuensi pada besarnya upaya yang harus dikerahkan untuk menjaga keseimbangan dan merekatkan, bukan hanya flora, fauna, dan alamnya, tapi juga budaya, suku, ras, dan agamanya.

Saya percaya bahwa kesediaan untuk mendengar dan selalu peka pada kebutuhan pihak lain akan memudahkan upaya untuk merekatkan keanekaragaman budaya, suku, ras dan agama yang berbeda itu. Pertanyaannya adalah: Masihkah ada kesediaan untuk itu?

Atau mungkinkah sudah semakin banyak orang merasa bahwa hidup akan lebih mudah ketika keanekaragaman itu diganti menjadi keseragaman?

Selamat pagi Indonesia.

Memberi Hingga Terluka?

Minggu lalu, dalam kunjungan terkait pengerjaan sebuah proyek, dalam beberapa hari berturut-turut saya mengunjungi RS Waa Banti, sebuah RS yang dikelola oleh LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro), yang berada sekitar 5 kilometer dari Tembagapura, Kabupaten Mimika. Sebuah pengalaman perjalanan yang baru dan berkesan buat saya.

RS Waa Banti banyak dikunjungi pasien warga lokal, terutama dari suku Amungme dan Kamoro, juga dari 5 suku lain yang berkerabat dengan 2 suku tersebut. Sekitar 90% pasien berstatus tidak bekerja. Heran dengan statistik ini, saya mendapat penjelasan dari staf RS bahwa sebagian besar pasien adalah penambang emas di sungai yang mengalirkan tailing (sisa hasil proses tambang). Pekerjaan tersebut dianggap bukan pekerjaan tetap, sehingga pasien dianggap tidak bekerja. Umumnya, orang setempat baru bekerja bila membutuhkan uang, meski bila mereka bekerja dalam sehari mereka bisa mendapat 2 gram emas.

Penambang emas dari tailing. Sehari. 2 gram emas. Bekerja bila butuh uang.

Dalam salah satu waktu luang yang ada selama di sana (yang adalah kesempatan langka), saya sempat berbincang dengan seorang staf RS, menggali pengalaman dia selama bekerja di RS Waa Banti. Kisah menarik muncul dari penuturannya. Suatu kali seorang pasien warga lokal menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah kepada dia setelah si pasien diperiksa (penting untuk dicatat, kebanyakan pasien tidak perlu membayar untuk mendapat pelayanan di RS Waa Banti). Percakapan pun terjadi dalam bahasa Indonesia logat lokal (yang sayangnya saya tidak mampu mereplikasinya di sini). Ibu staf RS bertanya pada si pasien, “Untuk apa uang itu diberikan pada saya? Bukankah pelayanan di sini gratis?” Si pasien (yang juga seorang ibu) menjawab, “Untuk anak kamu, untuk membeli susu buat anak kamu, untuk membeli makanan untuk anak kamu.” Padahal jelas-jelas gaji si staf RS tentu sudah amat mencukupi untuk kebutuhan dia dan keluarganya, dan di sisi lain uang itu tentu lebih berarti bagi si pasien. Si pasien terus mendesak, “Sudahlah ibu, terima saja. Saya memberi dengan senang hati. Kalau saya sudah beri, janganlah ditolak.” Diterimalah uang itu. Namun si ibu staf RS tak kurang akal, ia berkata, “Sekarang uang ini milik saya. Saya mau beri uang ini untuk kamu. Untuk anakmu. Untuk beli susu dan makanan untuk anakmu. Tolong diterima, janganlah ditolak.” Diterima kembalilah uang itu oleh si pasien.

Kejadian seperti itu bukan hanya sekali dua kali terjadi. Dari keterangan yang saya kumpulkan kemudian dari obrolan dengan beberapa staf RS, tidak ada konsep menabung dalam budaya setempat. Itu menjelaskan mengapa mereka bekerja hanya bila butuh uang. Bila mereka telah punya cukup uang untuk hari tersebut, bisa saja mereka dengan senang hati memberikan sisa uangnya untuk orang lain. Ini menjelaskan mengapa terjadi kejadian seperti yang dikisahkan staf RS di atas.

Teringatlah saya pada potongan doa yang terkenal itu: “berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya”.

Ketika saya mengambil gambar beberapa anak yang melintas di depan RS, Mas Jojok (yang mengajak saya ikut serta dalam kunjungan kerja itu) berkata, “Mungkin mereka itulah pemilik sesungguhnya emas di gunung sana.” Saya tidak sepenuhnya paham mengenai sistem bagi hasil pertambangan yang diterapkan untuk pertambangan emas di sana: berapa bagian pemerintah Indonesia, berapa bagian perusahaan pengelola, berapa bagian yang dialokasikan untuk pengembangan masyarakat setempat. Tapi melihat kenyataan itu, tak terelakkan sebuah pertanyaan melintas di benak saya: apakah mereka telah memberi terlalu banyak pada orang lain termasuk kita? Dan: apakah kita telah mengambil terlalu banyak dari mereka?

Saya bukan seorang ekonom, dan mungkin benar seperti yang pernah dikatakan seseorang pada saya bahwa saya terlalu bodoh untuk memahami konsep-konsep ekonomi sehingga saya tak bisa memahami apa yang saya lihat di sana.

Film “Di Timur Matahari”

“Di Timur Matahari” tidak begitu menarik sebagai sebuah film. Alur cerita terkesan kurang mulus, terselipnya humor ‘garing’ di sana-sini (contoh: Mazmur yang awalnya dikabarkan meninggal, ternyata tidak), akting yang tampak agak kaku dari beberapa aktornya.

Tapi sebagai sebentuk usaha menyampaikan apa saja yang ada dan terjadi di tanah Papua, ia tampak lengkap, tentu dengan asumsi kita percaya pada kacamata produser dan sutradaranya. Ada banyak hal yang ditampilkan di film itu, mulai dari keindahan pemandangan di sana, hingga ketimpangan kondisi masyarakatnya bila dibandingkan dengan bagian Indonesia yang lain, katakanlah Jawa.

Persoalan dalam hal pendidikan ditunjukkan dengan sekolah yang hadir tanpa tenaga guru hingga berbulan-bulan. Jomplangnya harga bahan pokok dan potensi masalah dalam NKRI ditampilkan secara mencolok melalui ucapan tokoh Vina: “Minyak goreng 10 liter Rp 350 ribu. Beras 2 karung Rp 1,8 juta. Gila.. Gimana nggak pada minta merdeka…”

Masalah perbedaan cara pandang terhadap hukum adat ditampilkan berkali-kali, diwakili oleh soal denda adat, balas dendam hutang nyawa, dan soal adat potong jari tangan.

Tak ketinggalan pula ditunjukkan potensi SDA Papua, yang menarik Ucok si perantau untuk mengadu nasib di sana, di tengah banyaknya SDM setempat yang menganggur dan sulit mencari kerja karena tak punya kemampuan bekerja yang memadai.

“Di Timur Matahari” mencoba menyampaikan begitu banyak hal, sehingga tiap penonton bisa saja menangkap pesan yang berbeda. Adegan penutupnya pun bisa ditafsirkan beraneka rupa: seorang bocah Papua beringus duduk menunggu di gubuk sebelah lapangan rumput tempat pendaratan pesawat perintis sambil memegang secarik kain merah putih yang tampak kusam.

Catatan saya tentang KLC Yogya 4 Juli 2011

Kemarin malam saya mengikuti pertemuan sebuah kelompok kecil alumni UGM (terwadahi dalam KLC) yang menghadirkan Mas Hikmat Hardono, Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar (bagi rekan2 yang belum pernah mendengar apa itu Indonesia Mengajar (IM), bisa coba baca halaman ini dan ini). Dalam pertemuan tersebut, Mas Hikmat Hardono berbagi kisah tentang IM.

Kisah dibuka dengan cerita tentang seorang Koesnadi Hardjasoemantrimuda yang menginisiasi PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa) – sebuah gerakan yang mengajak mahasiswa untuk membuka SMA dan menjadi guru di daerah terpencil. Pak Koes berangkat ke Kupang pada tahun 1950an. Silakan dibayangkan. Kupang. 1950an. Selama beberapa tahun beliau tinggal di sana. Dan sekembalinya dari sana, beliau membawa tiga orang siswa paling cerdas dari sana untuk berkuliah di UGM. Seorang di antaranya, Adrianus Mooi, kemudian menjadi Gubernur BI. Mengajar di ujung negeri dan mengubah jalan hidup banyak orang. Itu inspirasi yang mengilhami IM.

Menurut saya ide besar IM menarik, sangat menarik bahkan. IM berusaha membantu menyuntikkan kemajuan ke berbagai pelosok negeri, sambil berusaha merekatkan rajutan ikatan antar anak bangsa. Anak muda yang tinggal selama setahun di daerah yang sebelumnya ia tidak kenal, akan pulang dengan ikatan tali persaudaraan dengan masyarakat tempat ia pernah tinggal itu. Dan bisa jadi ikatan itu terjalin seumur hidup. Setinggi apapun karir profesional si anak muda kemudian, kemungkinan besar ia tidak akan pernah lupa pada daerah tempat ia pernah tinggal dan berbagi selama satu tahun itu. Ia akan selalu ingat bahwa masih ada banyak pojok2 Indonesia yang perlu diperhatikan dan dibantu untuk terus maju. Ia akan ingat bahwa Indonesia amat luas dan amat beragam budayanya.

Saya kira ini tawaran jawaban yang menarik dari IM untuk tantangan Indonesia masa kini. Tentu kita tidak pernah tahu akan menjadi apa anak2 muda itu nantinya. Apakah nantinya mereka akan masih berpegang pada idealisme mereka sekarang, yang mendorong mereka untuk berangkat mengajar, kita tidak akan tahu. Tapi setidaknya, IM sudah memberi kesempatan bagi banyak anak muda untuk mengenal Indonesia dengan lebih baik.

Kupasan Mas Hikmat soal KAGAMA tidak kalah menariknya.

Kupasan soal KAGAMA dibuka dengan sebuah disclaimer bahwa dia akan berbicara terus terang apa adanya, dan berharap tidak ada yang sakit hati :)

Pertama, Mas Hikmat menyampaikan tentang ketidaksesuaian bentuk organisasi KAGAMA dengan platform komunikasi modern. Organisasi KAGAMA masih bersifat teritorial, mengikuti struktur administrasi negara, selain juga bersifat mengelompokkan diri sesuai bidang ilmu. Pada masa sekarang ini, komunikasi umumnya tidak lagi berjalan dalam struktur teritorial ataupun kelompok bidang ilmu (saja), melainkan justru berjalan melintasi struktur teritorial dan juga kelompok bidang ilmu. Sekarang orang berkomunikasi juga melalui media online, dan di situ tatanan teritorial tidak lagi penting. Mungkin perlu dipikirkan bentuk organisasi yang lebih mengakomodasi hal2 semacam ini. Dan sepertinya KAGAMA Virtual berusaha mengisi ruang di sini.

Selanjutnya adalah soal solidaritas alumni. Seperti yang sering disebutkan dan diakui banyak orang, solidaritas alumni UGM termasuk rendah. Mengapa demikian? Menurut Mas Hikmat, ini imbas dari kurangnya usaha untuk merekatkan hubungan antar mahasiswa, baik seangkatan ataupun antar angkatan, semasa kuliah. Berbeda dengan ITB, yang masa orientasinya berlangsung selama satu tahun pada tahun pertama kuliah, yang di dalamnya ada program mentoring yang berupaya mendekatkan hubungan antara kakak angkatan dengan adik angkatan. Terkait soal solidaritas, Pak Budi Wignyosukarto juga mengakui bahwa bahkan antar dosen sendiri juga masih kurang kompak, tidak jarang malah sikut2an saat berburu proyek. Tentu ini jadi catatan dan PR banyak pihak untuk diperbaiki. KLC, yang dulu diawali dengan KLP di Jakarta, adalah salah satu upaya untuk menjalin solidaritas alumni. Solidaritas selalu berawal dari hubungan pertemanan yang intens. KLP/KLC berupaya menyediakan wadah seperti itu secara mandiri. Berbeda dengan kursus atau pelatihan singkat, di mana ada penyelenggara dan ada peserta, KLP/KLC memiliki anggota yang sekaligus sebagai penyelenggara. Mereka menentukan kurikulum sendiri dan berupaya mendapatkan narasumber yang sesuai untuk setiap topik dalam kurikulum yang telah disepakati bersama. Melalui hubungan yang intens selama beberapa bulan, diharapkan tumbuh solidaritas dalam kelompok tersebut. Tentunya kelompok tersebut diharapkan tidak terlalu besar, hanya berisi sekitar 20-30 orang saja.

Pak Budi WS menjelaskan bahwa sebenarnya dalam tingkatan tertentu sudah terjalin komunikasi dan solidaritas yang baik antar alumni UGM. Saat ada delegasi UGM berangkat ke Palembang untuk mengikuti lomba, beliau bisa dengan mudah menghubungi teman2 KAGAMA Palembang untuk membantu delegasi yang diberangkatkan. Dan benar, bantuan itu diberikan oleh teman2 KAGAMA Palembang pada delegasi yang berlomba. Tentu diharapkan agar alumni/peserta KLP/KLC dapat membantu KAGAMA untuk menjalin solidaritas antar alumni.

========================

Pertemuan ini berlangsung tanggal 4 Juli 2011, diawali pukul 19:20, dan diakhiri pukul 21:40, diadakan di Wisma KAGAMA. Dihadiri oleh sekitar 15 orang (daftar hadirnya tidak ada pada saya).

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai resume utuh pertemuan KLC, sehingga mungkin memang tidak lengkap. Tulisan ini hanya menampilkan hal2 yang menurut saya menarik, yang muncul dalam pertemuan kemarin.

Semoga bermanfaat.

We need a great comeback!

Beberapa minggu belakangan ini, saya – seperti banyak orang Indonesia lainnya – mendadak jadi penonton setia pertandingan2 tim nasional Indonesia. Mendadak saya jadi hafal nama2 pemain timnas Indonesia, siapa menduduki posisi mana. Rasanya ini dimulai dari kemenangan mencolok 5-1 atas Malaysia pada pertandingan pertama AFF 2010. Kapan terakhir kita menang dengan skor seperti itu? Saya tidak pernah ingat. Saat itu, ada beberapa orang yang memperkirakan timnas kita akan bertemu lagi dengan Malaysia di final. Entah mengapa, saya termasuk yang meyakininya, namun banyak orang tidak. Akhirnya sampailah kita di hari ini, hari ketika timnas kita akan kembali bermain melawan mereka, dengan posisi tertinggal 3 gol.

Jika ingin mencari momen berbaliknya sebuah tim dari (calon) pecundang menjadi pemenang, partai MU – Bayern Munich di Final Champions League tahun 1999 adalah partai yang selalu menancap di benak saya. Saya tidak akan berpanjanglebar mengisahkan partai itu di sini, tapi cukuplah jika saya menyebutkan bahwa mengejar ketertinggalan satu gol dengan dua gol balasan yang keduanya dicetak pada masa perpanjangan waktu babak kedua adalah suatu hal yang luar biasa. Luar biasa dari sisi kemampuan fisik, tapi terlebih lagi luar biasa dari sisi kemampuan mental. Setelah berjerih lelah tanpa hasil mengupayakan gol berpuluh2 menit sebelumnya dan kesempatan yang tersisa cuma beberapa menit saja, butuh dorongan mental yang luar biasa untuk terus berusaha hingga saat terakhir.

Partai Liverpool – AC Milan di Final Champions League tahun 2005 tak kalah menggetarkannya. Saat ini kita tertinggal 3 gol dan masih punya waktu 90 menit tersisa, plus akan bermain di kandang sendiri. Liverpool, kala itu, tertinggal 3 gol hingga hanya 36 menit tersisa, dan hebatnya, mereka sanggup membalikkan keadaan dengan waktu yang tersisa itu.

Semangat apa yang mendorong pemain tim2 besar itu untuk terus berusaha, mengupayakan yang terbaik, sampai waktu benar2 tidak bersisa? Suntikan motivasi macam apa yang diberikan oleh para pelatih mereka? Itu mungkin pertanyaan kita.

Adalah betul bahwa pada suatu ketika dorongan semangat yang mendadak begitu besar bisa mengubah banyak hal. Kata2 yang tepat, mungkin mampu menginspirasi dan mendorong orang untuk berbuat yang terbaik. Tapi ada baiknya untuk juga mengingat, mereka, para tim2 besar itu dan juga para pengurus asosiasi sepakbolanya, telah mengerjakan pekerjaan rumah mereka jauh2 hari, selama puluhan tahun: membangun sistem yang baik. Pemain2 mereka, entah didikan klub mereka sendiri ataupun hasil didikan klub lain, telah tertempa kompetisi yang ulet dan fair selama bertahun2. Kemampuan teknis, kekuatan fisik, dan ketangguhan mental sudah diasah selama sekian lama. Racikan strategi dan suntikan motivasi yang tepat dari pelatih melengkapi semuanya itu.

Keajaiban tentu bisa muncul di mana saja. Tapi tanpa mengerjakan pekerjaan rumah yang seharusnya sudah berbelas2 tahun atau bahkan berpuluh2 tahun lalu kita kerjakan, itu ibarat maju ujian dengan modal hanya suntikan semangat dan dukungan doa dari sanak saudara.

Itu PR yang semoga jangan pernah lagi dilupakan untuk dikerjakan, terutama oleh para pengurus persepakbolaan kita. Tapi untuk hari ini, untuk malam ini, saya bergabung dengan rekan2 yang lain berpesan pada timnas kita: “Balikkan keadaan! Rebut piala! Jadilah juara!”

Indonesia yang kompak dan perkasa

Sukarelawan yang turun langsung ke lapangan tentu saja patut diacungi jempol. Tapi selain mereka, seperti dalam banyak peristiwa besar lainnya, selalu ada saja sekrup2 kecil yang ikut berperan berjalannya proses tanggap darurat. Sekrup2 kecil ini seringkali tak bernama, tak berbendera, tapi perannya tak kalah luar biasa.

Bagi teman2 yang memantau twitter hari2 ini, khususnya terkait bencana Merapi, tentulah tahu ada banyak orang yang menolong melancarkan jalannya potongan2 informasi ke arah yang tepat. Ada yang memberitahukan di posko pengungsi X kekurangan suplai barang ini dan itu. Yang lain menanggapi dengan menyatakan akan mengirimkan si anu menuju ke sana membawa sebagian yang dibutuhkan tadi. Ada yang menyediakan diri terus menerus memantau dan melaporkan aktivitas Merapi dari menit ke menit. Ada pula yang menyediakan diri memberikan tips2 praktis menghadapi bencana. Di sisi lain, ada yang berusaha menggalang dana dan bantuan dari teman2nya. Tak ketinggalan, ada yang dengan sukarela menyumbang pulsa buat mereka, agar arus informasi tak terhenti.

Beragam peta praktis terkait kebencanaan Merapi juga disusun dengan cepat untuk dipublikasikan. Peta radius bencana saja ada beberapa yang mencoba membuat, semuanya tentu bermanfaat. Peta daerah terdampak awan panas dan perkiraan aliran lahar dingin juga ada. Ada yang membuat, ada yang menyebarkan dan meneruskan informasi itu. Semua berperan.

Evakuasi yang mendadak membuat pengungsi lari tanpa bersiap apa2. Sebelum ada himbauan resmi untuk menyediakan nasi bungkus, ada banyak rumah tangga biasa dan juga warung2 sederhana menyediakan diri membuat bungkusan nasi dan lauk untuk pengungsi. Lagi2, ada yang membuat dan ada juga yang membagi dan mengantar sampai di tujuan.

Ketika malam Jumat amukan Merapi mendadak menjadi parah, mobil pengungsi dari arah utara berduyun turun. Di tepi jalan, ada orang yang menyediakan diri menyiramkan air ke jalan dan ke mobil pengungsi untuk membantu menghilangkan abu dari kaca mobil. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang meminta, dan terlebih lagi, tidak ada yang membayar mereka untuk melakukan itu. Semua dilakukan begitu saja.

Dari sekian banyak orang yang terlibat dalam proses tanggap bencana itu, saya yakin banyak di antaranya yang tidak saling kenal, tapi mereka bersedia bekerja sama. Instruksi Gubernur, “Bendera selain Merah Putih harap diturunkan.” melengkapi semua ini.

Indonesia yang kompak dan perkasa: itulah kesan yang saya lihat dalam hari2 berlangsungnya bencana letusan Merapi. Bukan Indonesia yang loyo tak berdaya, yang terpecah2 atas identitas kelompok dan golongan. Terkadang, bencana memang perlu untuk mengingatkan kita, bahwa sesungguhnya kita adalah bangsa yang kompak dan perkasa.

Salam hormat saya untuk semua rekan, yang menyediakan diri tanpa merasa perlu menempelkan label identitas diri. Anda semua adalah pahlawan kami.