Archive

Archive for the ‘keluarga’ Category

Mendadak ke Australia

Semua bermula dari keisengan belaka.

Suatu hari di bulan April 2016, saya mendapat informasi tentang acara HIMAA NCCH 2016 National Conference yang diadakan di Melbourne, Australia. Ada satu hal yang menarik dalam informasi yang saya baca: ada tawaran sponsorship bagi presenter paper yang naskahnya diterima. Sponsorship akan dapat digunakan untuk membiayai transportasi, akomodasi, dan biaya pendaftaran acara.

Saya, yang seumur-umur belum pernah menulis abstrak ilmiah untuk dikirimkan ke acara seminar, memberanikan diri menulis sebentuk abstrak. Saya memaparkan proses pengembangan dan implementasi bridging system SIMPUS dan PCare. Akhir Mei naskah saya nyatakan siap dan saya kirimkan. Saya juga melengkapi berbagai persyaratan yang diminta panitia. Setelah itu, saya pasrah dan bisa dibilang melupakan soal ini.

Hingga akhirnya kabar kejutan saya terima di awal Juli 2016. Saya mendapat email yang menyatakan naskah saya diterima, dan saya diminta memaparkannya dalam bentuk poster. Saya berkirim email dengan panitia untuk mendapat rincian informasi yang saya butuhkan. Dan petualangan dimulai.

Beberapa keputusan mesti diambil terlebih dahulu, seperti misalnya dalam soal: anak dan istri akan ikutkah (meski ini alasan utama perjalanan ini adalah urusan acara seminar ilmiah, ya konyol aja kalau tidak sekalian berwisata singkat, betul atau betul?) dan kapan tanggal persisnya berangkat dan pulang. Saya dan istri memutuskan bahwa istri akan ikut berangkat (orang menyebutnya hanimun, dan kami biasanya hanya senyum-senyum saja, tidak mengiyakan atau menolak), namun anak tidak, karena ia bersekolah dan ia akan terlalu lama meninggalkan sekolah bila ia ikut. Bantuan datang dari kedua pasang orang tua kami yang menyanggupi secara bergantian akan mendampingi anak kami selama kami pergi. Setelah bantuan ada, tanggal berangkat dan pulang kami putuskan.

Kebetulan ada kerabat kami yang tinggal di Melbourne, yang dengan girang menyambut rencana perjalanan kami dan menawarkan segenap bantuan yang bisa mereka berikan. Dalam pengurusan visa, kami mendapat bantuan dari banyak orang, berupa surat-surat rekomendasi yang dibutuhkan.

Setelah semua urusan akomodasi dan transportasi tuntas, tinggallah urusan utamanya: membuat poster. Selain poster, saya juga berkeinginan membuat satu naskah yang berisi penjelasan yang lebih lengkap tentang topik yang akan saya presentasikan. Bantuan dari teman dan kerabat amat memperlancar proses ini. Naskah saya yang amburadul dipermak agar lebih layak baca. Rancangan poster yang sempat saya buat, akhirnya juga dirancang ulang agar lebih menarik dan mudah disimak. Menjelang waktu keberangkatan, semuanya siap.

Bahkan hingga kami tiba di bandara untuk berangkat, saya masih terus meyakinkan diri bahwa rencana perjalanan ini nyata adanya dan bukan sekedar rencana gila. Pesawat mendarat selamat di tujuan, dan saya yakin bahwa ini buah karya Sang Maha Perencana yang Jenaka.

Perjalanan dan pemaparan saya berlangsung lancar, semuanya atas bantuan banyak pihak.

Terimakasih pada HIMAA NCCH yang berkenan mengundang saya untuk hadir dan menyampaikan paparan di sana.

Terimakasih pada kedua pasang orang tua kami yang bersedia berkorban waktu dan tenaga mendampingi cucu mereka selama kami pergi.

Terimakasih pada Icha dan Dion yang sudah mempermak habis naskah amburadul yang saya buat, yang sudah menyiapkan surat rekomendasi, dan yang kemudian memandu perjalanan kami, juga menyediakan tempat bagi kami untuk menginap.

Terimakasih pada Mas Jojok, tim Kinaryatama Raharja, dan tim Kunang yang memberikan dukungan informasi, foto, dan semangat.

Terimakasih pada Sinang, yang bersedia saya ganggu hari-harinya dengan urusan penyusunan poster.

Terimakasih pada Pak Judhi Pramono, yang berkenan memberikan surat rekomendasi yang berharga.

Obrolan Anak Lelaki dan Ayahnya

Hubungan antara anak lelaki dan ayahnya tidak jarang seperti hubungan antara dua bocah lelaki, hanya saja yang satunya punya trik dan pengalaman lebih banyak. Kadar keisengan antara keduanya tak jauh beda, hal-hal yang diminatinya juga mirip-mirip saja, misalnya seputar mainan.

Baru saja saya ngobrol panjang dengan anak lanang saya. Bermula dari soal kerennya Lego Bionicle, berlanjut dengan soal Kungfu Panda 3 dan cerita dia soal pertemanan di sekolahnya, dan diakhiri dengan doa Bapa Kami bersama #ehšŸ™‚

Sebelum tidur dia bilang, “Asyik ya ngobrol kayak gini sama Papi..”

Saya juga bilang, “Memang asyik..”

Dia bilang, “Tapi kalo besok kayaknya Papi gak bisa, kan Papi kerja..” (belakangan ini memang saya punya pekerjaan yang harus dikerjakan sampai malam)

Dia lanjutkan, “Mungkin bisa lagi minggu depan.” (maksudnya Sabtu – Minggu depan)

Saya jawab, “Ok!”

Obrolan seperti tadi memang bukan kejadian satu-satunya. Juga bukan kejadian yang jarang terjadi. Tapi komentar dia soal asyik itu memang baru sekali ini terucap. Dan itu menyentuh hati saya #eh

Kita akan ngobrol banyak lagi anakku. Masih ada banyak hal yang kita bisa obrolkan bersama. Soal mainan, soal buku (kalo ini sih kesukaan Papi ya..), soal keisengan-keisengan yang mungkin bisa kita lakukan bersama (dan mungkin bikin Mami ngomel-ngomel, hehehe), dan banyaaaaak soal lain, termasuk soal cewek (suatu hari nanti ya…).

Sekarang tidurlah dahulu, keasyikan sehari di sekolah sudah menantimu esok hari.

Categories: anak, kehidupan, keluarga Tags: ,

Mudik

Bertahun-tahun yang lampau, pada hampir setiap liburan panjang sekolah saya menjalani perjalanan mudik. Waktu itu saya bersama orang tua dan adik saya mudik ke Trangkil, desa kecil dekat kota Pati, tempat kakek dan nenek saya tinggal.

Perjalanan mudik belumlah semudah dan senyaman sekarang. Kami mesti naik bus, dari Solo ke Purwodadi, lalu berganti bus lain dengan tujuan Pati, lalu berganti lagi dengan bus atau angkutan lain yang lebih kecil menuju Trangkil. Kadang kami melalui rute lain: Solo – Semarang, Semarang – Kudus, Kudus – Pati, Pati – Trangkil. Itupun belum tiba di rumah kakek nenek. Kami mesti menunggang dokar atau becak agar sampai di tujuan. Dua orang tua, dua anak kecil, dengan bawaan tas berisi barang pribadi, belum lagi ditambah bawaan oleh-oleh, berganti-ganti kendaraan tumpangan, sungguh pengalaman yang mengesankan.

Ketika kakek nenek semakin menua, mereka pindah ke Semarang dan Solo, bergantian, tinggal di rumah anak-anaknya. Ritual mudik kami berakhir.

Sekarang, setelah mereka berdua tiada, keluarga besar kami jarang sekali berkumpul di masa libur lebaran. Keluarga besar kami lebih memilih untuk berkumpul di hari-hari lain di luar libur lebaran, menghindari arus padat pemudik.

Mudik dijalani umumnya karena satu alasan besar: berkumpul dengan orang tua dan kerabat di kampung halaman (atau di manapun orang tua dan kerabat tinggal). Tapi ketika alasan besar itu hilang karena berbagai sebab, ritual mudik mungkin juga tak lagi dijalani.

Dengan arus pergerakan penduduk yang makin mendekat ke kota-kota besar, kira-kira hingga berapa lama lagikah perjalanan mudik ini masih akan marak? Atau mungkin malah ada penjelasan lain yang memperkirakan perjalanan mudik justru akan lebih marak?

Categories: budaya, keluarga Tags: , ,

Membetulkan mainan milik anak lanang..

Salah satu mainan kereta kesayangan anak saya suatu hari beberapa bulan yang lalu mendadak mati. Seperti mainan rusak yang lain, ia langsung membawa kereta yang tewas tersebut pada tukang reparasi andalannya (walau sebenarnya cuma tukang reparasi abal-abal): saya. Yang saya coba lakukan sebenarnya biasa saja: membongkarnya, lalu mencari bagian yang tampaknya kurang pas atau macet, dan mengembalikannya pada tempat yang sepertinya tepat. Biasanya itu saja berhasil.

Namun kali ini tidak.

Saya tak kunjung bisa membongkar hingga masuk ke dalam blok mesin (halah). Blok mesin terbungkus plastik keras yang rapat. Kait-kait yang biasanya nampak jelas kali ini samar. Setelah kehabisan akal, mainan rusak itu saya simpan dalam sebuah wadah dalam kondisi setengah terbongkar, menunggu “wangsit” suatu hari nanti untuk mencoba membongkar lagi.

Beberapa bulan kemudian, yaitu siang tadi, wadah berisi kereta setengah terbongkar itu disodorkan anak saya pada saya. Rupanya ia teringat kembali pada mainan kesayangan yang rusak itu, dan menagih janji saya untuk memperbaikinya. “Nanti malam ya,” kata saya.

Dua jam lalu, mainan itu saya keluarkan dari wadahnya, lalu saya coba lihat lagi, mencari cara membongkarnya. Berbeda dari biasanya, tampak ada bagian yang sepertinya direkatkan dengan lem. Istri saya yang biasanya lebih jeli dengan barang-barang berukuran mini, saya minta bantu memastikan. Bagian yang direkatkan itu dicoba dilepas paksa. Rupanya benar, bisa dilepas. Beberapa roda bergerigi lepas dari tempatnya. Sambungan yang terpatri saya lepas sekalian, agar blok mesin plastiknya terbuka sekalian. Roda-roda bergerigi yang kotor saya bersihkan. Bagian yang terpasang kurang pas saya betulkan letaknya. Lalu semuanya saya coba rakit ulang. Memang yang namanya membongkar biasanya lebih mudah daripada memasang lagi. Apalagi tidak ada petunjuknya.

Sayangnya saya tidak mengambil foto saat semua komponen terbongkar. Maklum, lagi setengah panik. “Bisa masang lagi nggak nih?” Hehehe..

Singkat cerita, mainan kembali terpasang. Pelanggan puas. Sampai jumpa pada kunjungan berikutnya..

1 2 3

Categories: anak, keluarga Tags: , ,

Bagan Silsilah Keluarga

“Oh berarti kamu itu cucu dari adiknya kakek saya..”
“Rupanya ibu saya dan suami sepupu saya punya marga (nama keluarga) yang sama..”

Sudah dua kali saya diminta (dan setengah mengajukan diri, karena merasa berminat) untuk menyusun data dan bagan silsilah keluarga. Kali pertama hampir 10 tahun yang lalu, untuk keluarga saya, dari pihak ayah dan ibu. Lalu kali kedua baru saja tahun ini, untuk keluarga besar istri saya.

Ilmu mengumpulkan data silsilah keluarga ini dikenal dengan nama genealogi.

Contoh bagan silsilah keluarga

Contoh bagan silsilah keluarga

Bagi saya, silsilah keluarga adalah hal yang menarik. Dari situ saya bisa lebih mengenal anggota-anggota keluarga dan menelusuri hubungan antar kerabat. Orang-orang yang sering saya lihat hadir dalam acara-acara keluarga namun belum saya kenal, jadi bisa dikenal dengan tahu nama dan hubungan kekerabatannya dengan saya. Data yang tadinya kebanyakan hanya tersimpan dalam memori orang – dan akan tergerus dengan makin pudarnya daya ingat – dapat dilestarikan. Tidak jarang potongan-potongan data tentang satu hal dikumpulkan dari beberapa sumber. Sangat menyenangkan ketika data sudah terkumpul cukup lengkap dan akhirnya tergelar dalam bentuk daftar dan bagan.

Dalam sejarah, data silsilah banyak digunakan dalam keluarga-keluarga bangsawan, untuk menentukan hak atas kekuasaan dan jabatan di antara mereka. Tidak jarang dalam satu keluarga dengan nama marga yang sama, diciptakan simbol keluarga, seperti coats-of-arms atau dalam bentuk panji-panji bertuliskan karakter nama marga yang dibawa ketika berperang.

Dalam pengalaman saya, yang dikumpulkan terutama hanya data-data pribadi yang penting, seperti nama diri, nama keluarga, foto diri, tempat tanggal lahir, tempat tanggal meninggal (bila telah meninggal) beserta data-data yang sama dari pasangan (istri/suami) dan anak-anaknya. Bila ada, bisa pula disertakan tanggal pernikahan, pekerjaan, data kontak (alamat, no telepon, dll). Tidak jarang dari leluhur yang telah lama meninggal, data yang pentingpun hanya tersedia sebagian saja, misalnya hanya diketahui nama panggilannya saja, nama lengkapnya tidak ada yang tahu. Dari 2 silsilah yang telah saya susun, saat ini saya telah berhasil mengumpulkan data dari 5 generasi, yang secara total meliputi hampir 500 data pribadi, meski tidak semuanya lengkap.

Ada banyak software yang bisa digunakan untuk membantu kita mengumpulkan data silsilah ini. Setelah mencoba beberapa, salah satu di antaranya yang akhirnya saya gunakan adalah Family Tree Builder.

Buku Silsilah Gan Peng

Buku Silsilah Gan Peng

Gara-gara saya mengumpulkan data silsilah ini, saya jadi tahu bahwa keluarga Gan Peng (atau singkatnya keluarga Gan) juga mencoba menyusun silsilah keluarga mereka. Data yang berhasil dikumpulkan sudah mencapai ribuan orang dan meliputi 13 generasi, jumlah yang luar biasa menurut saya. Ketika membaca buku silsilah keluarga Gan ini – yang dari namanya kita bisa tebak berasal dari Cina, saya sempat heran ketika mendapati wajah-wajah dan nama-nama orang keturunan Arab. Rupanya, pada suatu masa dahulu ada beberapa anggota keluarga Gan yang menikah dengan orang Arab, dan dari situlah muncul keturunan-keturunannya yang berwajah dan bernama khas Arab. Keluarga Gan telah beberapa kali mengadakan acara reuni, dan banyak anggota keluarga Gan dari berbagai tempat (bahkan dari berbagai negara) dan berbagai latar belakang budaya hadir.

Tapi yang paling hebat, bahkan hingga masuk dalam Guinness Book of Records, adalah silsilah keluarga Konfusius yang meliputi 80 generasi, yang telah dicatat mulai 2.500 tahun yang lalu. (Referensi: http://www.china.org.cn/china/features/content_16696029.htm, http://news.xinhuanet.com/english/2008-02/16/content_7616027.htm, http://en.wikipedia.org/wiki/Family_tree_of_Confucius_in_the_main_line_of_descent)

Mau mencoba mencatat data silsilah keluarga juga?

Sekilas tentang Pendidikan Seks untuk Anak

Hari Minggu 22 April 2012 kemarin, saya dan istri mengikuti Kelas Belajar Bersama yang diadakan oleh Jogja Parenting Community. Kebetulan kami tertarik dan merasa butuh untuk tahu tentang topik yang akan dibahas: “Gimana Bicara tentang Seksualitas dengan Anak?”. Acara dipandu oleh Fitri Andyaswuri dari JPC, yang akrab disapa Mbak Titi; sedangkan topik dibawakan oleh Arief Sugeng Widodo, yang akrab disapa Paman Dodod. Keduanya alumni Fakultas Psikologi UGM.

Saat melakukan daftar ulang, peserta diberi secarik kertas dengan sebuah pertanyaan: “Apa sebutan yang Anda kenalkan pada anak Anda untuk alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan?” Peserta diminta menuliskan jawabannya di situ sebelum kertas kembali dikumpulkan. Paman Dodod membuka pembahasan dengan menjelaskan bahwa kita adalah produk masyarakat yang belum matang. Ini ditandai dengan belum netralnya kata “seks” di tengah masyarakat. Apa sebetulnya makna kata “seks”? Banyak orang masih keliru dengan mengartikan “seks” sebagai “hubungan seks”, “tabu atau saru”, “jorok”, atau “sesuatu yang hanya untuk orang dewasa”. Padahal arti sebenarnya dari “seks” adalah “jenis kelamin”. Salah satu hambatan dalam memberikan pendidikan seks pada anak adalah dalam hal bahasa. Bahasa dalam pendidikan seks yang mestinya lugas apa adanya. Contoh selain kata “seks” tadi adalah istilah untuk alat kelamin laki-laki dan perempuan. Ada yang mengenalkan alat kelamin laki-laki pada anaknya sebagai “gajah-gajahan”. Padahal semestinya cukup disebutkan sebagai “penis”, dan untuk alat kelamin perempuan: “vagina”. Kedua istilah tersebut adalah istilah baku, sehingga mestinya tidak akan menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu.

Anak dikaruniai rasa ingin tahu yang tinggi. Keingintahuan yang tinggi ini seringkali terwujud dalam bentuk lontaran pertanyaan-pertanyaan, terutama mungkin pada orang tuanya. Saat anak bertanya adalah salah satu momen yang baik untuk memberikan pendidikan seks pada anak, tentunya bila pertanyaan anak menyangkut masalah seks, seperti misalnya: “mengapa punyaku (seorang anak laki-laki misalnya) berbeda dengan punya dik Lina (yang adalah perempuan)?”. Keingintahuan yang sehat ini tentu perlu dipuaskan dengan jawaban-jawaban yang benar dan bijaksana, dan bukan dengan jawaban yang “sopan” tapi salah, atau yang bersifat “menghindar”, karena misalnya orang tua merasa tidak nyaman atau malu menjelaskannya. Semakin keingintahuan tersebut tidak terpuaskan, akan semakin penasaran si anak, dan mungkin ini akan mendorong ia untuk mencari informasi dari sumber lain, seperti misalnya dari internet atau dari sesama teman (yang mungkin sama-sama masih terbatas pengetahuannya). Resiko yang timbul adalah, diperolehnya informasi yang salah. Idealnya, di dalam sebuah keluarga, orang tua dipandang sebagai sumber informasi terpercaya bagi anak. Ini bukan berarti orang tua harus tahu segalanya dan mampu menjawab semua pertanyaan anak. Namun setidaknya orang tua mampu mengarahkan anak untuk mencari (atau bersama-sama mencari) jawaban yang tepat.

Pendidikan seks idealnya mengikuti tumbuh kembang anak. Untuk anak balita misalnya, dapat mulai dikenalkan dengan nama-nama anggota tubuh, termasuk organ seks, untuk menjelaskan identitas jenis kelamin. Kemudian juga meliputi cara perawatan kebersihan dan kesehatan tubuh, termasuk alat kelamin. Dan tentunya, tidak ketinggalan juga pesan-pesan moral dan nilai, seperti misalnya: alat kelamin perlu selalu tertutup, tidak dipertontonkan, tidak boleh disentuh orang lain, dan tidak boleh menyentuh alat kelamin orang lain. Semakin bertambah usia anak, tentu keingintahuan mereka akan makin meluas cakupannya, dan pendidikan seks perlu untuk terus diberikan sesuai dengan usia anak.

Di tengah-tengah acara, ada banyak pertanyaan dan sharing yang muncul dari peserta, salah satu yang menarik menurut saya adalah sharing dari seorang ibu berusia 30 tahun. Ia menceritakan cara ibunya memberikan pendidikan seks pada dirinya. Salah satunya adalah dengan mandi bersama sang ibu. Melalui acara mandi bersama tersebut, si anak dikenalkan pada organ tubuh wanita dewasa. Sang ibu juga terbuka pada si anak saat sedang menstruasi. Sang ibu tidak menganggap hal-hal ini sebagai hal yang tabu. Si anak mendapatkan kesan yang sangat positif, ini membuatnya tidak bingung atau gelisah ketika masa pubertasnya tiba. Informasi yang telah diterimanya sebelumnya dari sang ibu membuatnya siap menghadapi perkembangan tubuhnya. Dan ia berniat untuk memberikan pengetahuan yang sama pada anaknya sekarang.

Tanpa terasa acara tersebut berlangsung selama 2,5 jam. Sebuah acara yang menarik dan bermanfaat bagi kami sebagai orang tua, yang memberikan bekal awal pada kami untuk mampu memberikan pendidikan seks yang tepat untuk anak kami.

Cara mendidik anak ala “ibu Cina”

Sedikit waktu luang di akhir tahun lalu saya isi dengan membaca buku Battle Hymn of The Tiger Mother (edisi terjemahan bahasa Indonesia) tulisan Amy Chua. Amy Chua adalah seorang profesor hukum di Yale Law School. Istri dari suami berdarah Yahudi (dan seorang profesor juga). Putri dari imigran Cina yang berasal dari Filipina. Dilahirkan di tahun Cina berzodiak Macan. Seorang ibu dari dua anak perempuan. Buku ini mengisahkan pengalaman Amy membesarkan kedua putrinya dengan cara ala “ibu Cina”.

Lalu sebenarnya siapa saja yang dimaksud dengan “ibu Cina”, dan apa yang dimaksud dengan cara mendidik anak ala “ibu Cina” oleh Amy?

Buku ini ditulis dalam konteks Amerika, dan di sana banyak dijumpai anak imigran Cina (atau negara Asia Timur lainnya) yang sukses, terutama dalam studinya, tentunya berkat peran seorang “ibu Cina”. Dalam buku Amy Chua ini, “Ibu Cina” tidak selalu merujuk pada seorang ibu berdarah Cina, tapi merujuk pada setiap ibu yang memiliki atribut tertentu, yang umumnya (lagi-lagi dalam konteks Amerika) dimiliki oleh seorang ibu imigran Cina. Jadi, bisa saja seorang ibu Amerika, ibu imigran Polandia atau India termasuk “ibu Cina” juga. “Ibu Cina” percaya bahwa anak-anak mereka mampu menjadi murid yang “terbaik”, dan bahwa “pencapaian di sekolah mencerminkan keberhasilan dalam membesarkan anak”, dan jika anak tidak jadi juara di sekolah pasti ada “masalah” dan orang tua “tidak berhasil melakukan tugasnya”. Berbeda dengan “orang tua Barat”, “orang tua Cina” menggunakan waktu jauh lebih banyak untuk mendampingi dan melatih anak-anak belajar. Keyakinan yang umumnya dimiliki oleh seorang “ibu Cina” di antaranya:
1. Tugas sekolah selalu menempati urutan pertama.
2. Nilai A minus itu jelek.
3. Orangtua tidak boleh memuji anak di depan orang lain.
4. Pergi menginap di rumah teman itu tidak perlu.
5. Menonton TV atau main game komputer itu tidak baik.

Berbeda dengan “ibu Barat” yang “harus memahami anaknya”, yang “berusaha mencari tahu bakat dan minat anaknya”, yang “selalu berusaha membuat anak dalam suasana hati baik dan gembira”, yang “tidak memaksa anaknya untuk melakukan ini dan itu”, membiarkan mereka “menemukan jalannya sendiri”; “ibu Cina” meyakini bahwa adalah tanggung jawab orang tua untuk memandu (dan bila perlu memaksa) anak untuk menjalani sesuatu yang dianggap terbaik. Ini bukan berarti “ibu Cina” seperti Amy mudah tugasnya. Sebaliknya, bagi Amy, ini justru tugas berat untuk orang tua. Orang tua harus mendedikasikan tenaga dan waktu yang besar untuk berperan sebagai “orang tua Cina”.

Buku ini hadir (pada awal 2011 di Amerika) tepat pada saat Cina tengah hadir mengancam dominasi ekonomi Amerika. Dari berbagai pembahasan yang saya baca tentang buku ini, kehadiran buku ini sedikit banyak memaksa orang Amerika untuk bertanya ulang pada diri mereka sendiri, “adakah yang salah dalam sistem pendidikan kita, yang berpengaruh pada merosotnya ekonomi kita?” Pada rilis hasil tes PISA (Program for International Student Assessment) Desember 2010, para siswa Amerika menempati peringkat 17 dalam hal membaca, 23 dalam ilmu pengetahuan alam, dan 31 pada matematika; dalam nilai totalnya menempati peringkat ke 17. Pada rilis tahun 2010 itu, siswa dari Shanghai (bukan Cina secara keseluruhan) mengikuti PISA. Dan hasilnya menggetarkan: mereka menempati peringkat pertama dalam ketiga kategori tersebut. Para analis menjelaskan bahwa ini karena siswa dari Shanghai belajar lebih keras, dengan konsentrasi lebih baik, dalam jumlah jam yang lebih banyak ketimbang siswa Amerika.

Yang cukup mengejutkan, tindakan “ibu Cina” yang selalu menuntut 110% dari anak-anaknya, ternyata mendapat dukungan dari riset dalam bidang ilmu psikologi. Dalam buku A Nation of Wimps, Hara Estroff Marano (editor majalah Psychology Today) mengatakan “riset menunjukkan bahwa anak yang tidak mengalami situasi ‘bergulat’ dengan tugas-tugas sulit, tidak mengembangkan apa yang disebut sebagai ‘pengalaman untuk menguasai sesuatu (kemampuan/keadaan)'”. Marano menjelaskan, “anak-anak yang punya kemampuan dan pengalaman itu cenderung lebih optimistis dan tegas; mereka telah belajar bahwa mereka mampu untuk menaklukkan kesulitan dan meraih berbagai tujuan.”

Terlepas dari semua itu, buku ini jelaslah bukan sebuah manual tentang “bagaimana menjadi ‘ibu Cina'”. Buku ini mengisahkan pengalaman Amy Chua sebagai seorang “ibu Cina”. Dan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang dimaksud oleh Amy dengan “ibu Cina” (karena apa yang coba saya tuliskan di atas tentu tidak lengkap), tidak ada cara lain selain membaca sendiri buku ini.

Buku ini menarik bagi saya, salah satunya karena ternyata cara mendidik anak ala “ibu Cina” tidak begitu asing bagi saya. Kembali ke masa saya duduk di bangku SD dulu, banyak “ibu Cina” yang mendorong anak-anaknya untuk duduk di peringkat satu kelas. Menunggui anak mengerjakan PR, menjejali anak dengan berbagai les selepas jam sekolah, rajin berkonsultasi dengan para guru membahas apa yang masih kurang dari anak-anak mereka. Ada di antara anak-anak itu yang menjadi orang sukses, ada di antaranya yang terpuruk dalam berbagai kesulitan pribadi.

Secara umum buku ini menarik perhatian saya, bukan karena saya tertarik untuk mencoba pendekatan “ibu Cina”, tapi karena ini sebuah kisah yang cukup lengkap dan detail tentang menjadi orang tua beserta segala tantangannya, yang disampaikan dalam bahasa yang sederhana dan menarik.

============

Beberapa pembahasan yang menarik untuk dibaca:

http://www.time.com/time/printout/0,8816,2043477,00.html
http://healthland.time.com/2011/01/11/chinese-vs-western-mothers-q-a-with-amy-chua/
http://www.theatlantic.com/magazine/archive/2011/04/sympathy-for-the-tiger-moms/8399/?single_page=true