Main bola di kelas

Minggu lalu, kami mengambil rapor anak lanang. Mengenai nilai pelajarannya seperti biasanya tidak ada masalah. Dan seperti biasanya kami menanyakan mengenai kegiatannya selama di sekolah khususnya di kelas. 

Kami menanyakan ke guru apakah benar – seperti pengakuan anak lanang – bahwa dia kalau di kelas sekarang duduk anteng dan mendengarkan. Ini dibetulkan oleh guru wali kelasnya. Kemudian kami menanyakan lagi, bagaimana tingkah lakunya saat dia mengerjakan ulangan harian, karena di rumah untuk dia bisa belajar dia harus sambil bergerak seperti sambil main bola. Ternyata saat mengerjakan soal, anak lanang diberi keleluasaan untuk tetap bergerak tetapi tidak mengganggu teman lain, misal: bermain dengan pensil, penggaris, bahkan berdiri untuk bergerak-gerak. Ia diatur oleh wali kelas untuk duduk di belakang supaya tidak mengganggu teman lain.

Beberapa hari setelahnya ketika ada kesempatan yang menurut kami pas, kami “mewawancara” anak lanang untuk mencari tahu versi dia mengenai hal tersebut. Menurut dia, ia tak pernah berdiri berjalan-jalan di kelas saat pelajaran. Hanya memang ketika ia merasa bosan ia mengaku kadang minta izin ke kamar kecil atau minta izin untuk minum (botol minum diletakkan di luar kelas). Saat duduk di kelas mengikuti pelajaran, ia kadang melepas sepatunya lalu memainkan bola dengan kakinya (ia memang membawa bola sepak ke sekolah untuk dimainkan bersama temannya saat jam istirahat atau sepulang sekolah). Kata dia, kalau melakukan itu ia lebih mudah memahami isi pelajaran ketimbang bila ia duduk diam saja.

===

Kami sebagai orang tuanya sudah menyadari hal ini sejak ia masih duduk di bangku TK. Beberapa tulisan menjelaskan ini adalah bentuk kecerdasan kinestetik. Oleh karenanya kami mencoba berhati-hati dalam memilih sekolah dan mencari sekolah yang relatif toleran terhadap anak-anak seperti ini.

Kami menghargai sekolah dan terutama guru kelasnya yang bersedia memahami, memberikan toleransi yang cukup, dan mengarahkan anak lanang agar tetap berkembang sesuai potensinya.

Advertisements
Categories: anak, pendidikan Tags: ,

Tante Djie Bik

Hari Sabtu lalu saya mengantar Tante Untari berkunjung ke sebuah panti wredha di Yogya. Ada sosok yang sama2 kami kenal di sana. Kami mau menjumpai Ibu Tan Djie Bik.

Ibu Tan Djie Bik – saya biasa mengenalnya sebagai Tante Djie Bik – adalah salah satu guru Sekolah Minggu (SM) waktu saya kecil dahulu. Beliau dulu juga adalah guru SM Tante Untari (adik bungsu ayah saya) dan bahkan juga Tante Kris (adik ayah saya persis). Tante Djie Bik aktif sebagai guru SM dan aktif dalam berbagai kegiatan di gereja kami selama berpuluh tahun.

Tante Djie Bik tidak berkeluarga, dan di usia senjanya ia memutuskan untuk tinggal di panti wredha sejak dua tahun lalu. Ia kini berusia 89 tahun, dengan pikiran yang masih aktif dan ingatan yang masih tajam. Ia merasa damai dan sejahtera tinggal di panti wredha tersebut.

Tante Djie Bik, sosok yang menjadi inspirasi tentang hidup yang lurus dan setia dalam melayani Tuhan.

Bersama Tante Djie Bik

Gatal

Beberapa hari ini saya kena penyakit gatal, kena gigitan serangga. Gatal adalah jenis sakit yang amat menyebalkan. Pengennya digaruk karena akan terasa nikmat, tapi saya juga tahu jika digaruk bakal membuat kulit yang gatal semakin parah kondisinya, salah-salah malah makin melebar area gatalnya. Saya mesti kuat menahan diri agar tidak menuruti hasrat kenikmatan sesaat untuk menggaruk.

===

Tidak jarang kita menghadapi situasi yang membuat kita “gatal”.  Di saat berkendara nyaman di jalan, mendadak dipepet kendaraan lain, muncul rasa “gatal” untuk balas memepet. Ketika di medsos ada yang merendahkan nilai-nilai yang kita anggap baik dan mulia, muncul rasa “gatal” untuk membalas. Dan mungkin ada berjuta situasi lain lagi yang membuat hati terasa “gatal” dan menguatkan niat untuk segera “menggaruk”.

Segera balik membalas jelas menjanjikan rasa nyaman instan, rasa lega, rasa menang, rasa puas. Namun apakah itu membuat situasi lebih baik? Bagaimana jika orang yang kita balas pepet di jalan tambah naik emosinya dan kemudian semuanya berakhir dengan tabrakan di jalan? Masih merasa puas? Bagaimana jika balasan kita di medsos berbuah kericuhan besar? Masih merasa menang?

Tidak setiap rasa gatal mesti ditanggapi dengan garukan. Ada kalanya menguatkan hati menahan rasa gatal sambil mencari cara lain untuk mengurai persoalan membuahkan kondisi yang lebih baik, meski mungkin tidak diperoleh seketika.

===

Ada waktu di mana rasa gatal seolah tak tertahankan, dan jari jemari sudah mulai bergerak untuk mulai menggaruk. Niat menahan diri mesti diperkuat. Kini, rasa gatal akibat gigitan serangga itu sudah mereda, setelah rutin dioles salep selama beberapa hari. Perbaikan jelas tampak, walau terasa lambat.

AARRRRGGGHHHH.. GATAL..

Categories: kehidupan Tags: ,

Stylometry

Pada bulan April 2013, novel berjudul The Cuckoo’s Calling hasil karya Robert Galbraith – seorang pengarang baru – diterbitkan. Novel tersebut mendapat tanggapan baik, meski tidak istimewa. Namun pada Juli 2013, seseorang menulis twit bahwa novel tersebut sejatinya ditulis oleh J.K. Rowling, penulis yang dikenal melalui karyanya serial Harry Potter. Beberapa orang mulai mengadakan penyelidikan, dan kemudian mendapatkan hasil analisis bahwa kemungkinan besar The Cuckoo’s Calling benar ditulis oleh J.K. Rowling. Dunia penerbitan gempar, terlebih setelah J.K. Rowling memberikan konfirmasi bahwa benar dialah yang menulis novel tersebut.

Yang menarik dari kejadian tersebut adalah: bagaimana penyelidikan atas naskah novel dilakukan hingga akhirnya mendapatkan kesimpulan bahwa kemungkinan besar penulisnya benar J.K. Rowling? Di sinilah stylometry, penerapan ilmu stilistika – cabang ilmu linguistik yang membahas tentang gaya bahasa – berperan.

Kita sudah menyadari bahwa ada gaya bahasa tertentu dalam setiap tulisan. Gaya bahasa itu tentu mengikuti siapa penulisnya. Tiap penulis punya gaya bahasa, gaya tulisan tersendiri. Tidak jarang kita dapat mengenali seorang penulis sebuah tulisan dari kata-kata atau frase (gabungan kata) khas yang sering digunakannya. Bisa juga kita mengenali panjang pendek rumit sederhana kalimat-kalimatnya.

Dalam kasus The Cuckoo’s Calling tadi, orang-orang menggunakan perangkat lunak untuk membantu mengenali pola-pola seperti disebut di atas. Salah satu ciri J.K. Rowling adalah, ia sering menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Latin dalam novelnya. Ini tentu dapat dikenali oleh pengamat yang teliti, namun akan jauh lebih mudah diketahui jika menggunakan perangkat lunak. Perangkat lunak yang digunakan pada waktu itu adalah Java Graphical Authorship Attribution Program (JGAAP) – sebuah perangkat lunak gratis. JGAAP bekerja dengan memuat naskah referensi (dalam hal ini naskah novel-novel J.K. Rowling sebelumnya), dan kemudian membandingkannya dengan naskah The Cuckoo’s Calling.

Dengan alat bantu yang makin cepat dan cermat kerjanya: perangkat lunak, stylometry dapat digunakan untuk hal-hal lain seperti misalnya: mengenali penulis dari tulisan-tulisan anonim yang sering dijumpai di internet. Ini ancaman nyata atas anonimitas dan privasi orang. Jika selama ini orang dapat berlindung di balik akun-akun anonim atau bahkan palsu, dengan stylometry sosok di balik akun anonim dapat dikenali melalui gaya bahasa tulisan-tulisannya.

Referensi:
https://www.techwell.com/techwell-insights/2013/07/analysis-software-wrecked-jk-rowling-s-anonymity
http://languagelog.ldc.upenn.edu/nll/?p=5315

Bangkit

Siang tadi, anak lanang mengikuti sebuah lomba. Lombanya adalah menyusun balok Lego menjadi suatu bentuk alat untuk memenuhi misi tertentu. Kali ini misinya adalah untuk membawa bola ping-pong sebanyak mungkin dan mampu merobohkan sejumlah tiang yang tersedia. Alat dirancang tiap peserta, bentuk bebas, dengan bimbingan pengajar. Hasil lomba penting, namun yang lebih penting adalah proses dan pengalaman yang dijalani saat persiapan dan juga saat jalannya perlombaan.

Tiap peserta diberi waktu untuk membangun alat sesuai rancangan mereka, dan diberi kesempatan sebanyak tiga kali untuk menguji kerjanya alat, sebelum nantinya diberi dua kali kesempatan untuk menjalankan alat sambil dinilai. Pada kali pertama ujicoba, alat bikinan anak lanang berfungsi baik, namun masih tersedia ruang untuk perbaikan. Demikian pula pada ujicoba kedua kali. Namun, saat mengusung alat setelah ujicoba kedua, sepertinya dia membawanya kurang berhati-hati, alat jatuh dan hancur berkeping-keping.

Bikin alat

Hancur

Kami selaku orang tua mengamati dari jauh dari awal, dan tetap demikian ketika “masalah” terjadi. Rupanya dia tetap tenang, mengumpulkan kembali balok-balok Lego yang berceceran, dan mulai membangun lagi alatnya. Tidak tampak dia celingukan mencari “dukungan mental” dari kami. Masalah ia hadapi dan tangani sendiri. Alat terangkai kembali, dan dia mengambil kesempatan untuk mengujicoba lagi alatnya.

Bikin lagi

Alat dijalankan, dinilai. Dia menunggu pengumuman lomba dengan santai, mendapati bahwa dia tidak termasuk di jajaran pemenang, pulang tetap dengan hati riang.

=====

Hidup tak selalu berjalan sebagaimana direncanakan. Masalah bisa terjadi dari arah yang tidak kita sangka dan antisipasi. Hal yang penting setelah masalah terjadi adalah bagaimana kita bisa bangkit lagi.

Kami senang melihatnya bisa tenang menghadapi “masalah besar” saat lomba tengah berlangsung. Alat dibangun lagi, malah dengan sedikit improvisasi.

Setiap masalah adalah latihan Nak, latihan untuk menghadapi masalah yang mungkin lebih besar lagi. Mungkin tidak selalu kita bisa menghadapinya dengan tenang. Tak apa gelisah sebentar, menenangkan diri juga bagian dari pelajaran hidup.

Selamat menjalani petualangan selanjutnya.

Categories: anak, kehidupan Tags: , , ,

Kaya Raya

London, 1986.

Serombongan tamu berwajah oriental masuk ke satu hotel yang sangat mewah di London. Mereka terdiri dari tiga orang wanita dewasa dan tiga anak remaja yang saling bersepupu. Semuanya basah kuyup setelah berjalan sekian blok di bawah derasnya hujan. Felicity Leong, salah satu wanita dewasa dalam rombongan itu, sebelumnya memutuskan bahwa adalah sebuah pemborosan bagi mereka untuk menyewa taksi dari Stasiun Piccadilly menuju hotel yang hanya sekian blok saja.

Reginald Ormsby, manajer hotel itu, merasa kesal melihat hotelnya menjadi kotor oleh tamu-tamu yang basah kuyup itu. Ketika Eleanor Young menjelaskan bahwa mereka punya reservasi di hotel itu, Ormsby terkejut. Ia tak menyangka Eleanor Young yang membuat reservasi itu rupanya tamu berdarah China, yang saat ini mengotori hotelnya. Menurut Ormsby, hotel itu terlalu berkelas untuk menerima tamu semacam itu. Ia bersikeras tidak ada informasi reservasi atas nama Eleanor Young.

Rombongan tamu itu merasa bahwa mereka sedang diperlakukan tidak adil oleh si manajer hotel. Melalui telepon umum di seberang hotel, Felicity menghubungi suaminya, Harry, menceritakan kesulitan yang dialaminya. Rupanya Harry pernah main golf bersama si pemilik hotel, bangsawan Inggris tulen yang keluarganya telah memiliki hotel itu sejak berabad silam. Harry berjanji pada istrinya bahwa ia akan mengatasi persoalan itu.

Tak lama setelahnya, Felicity beserta rombongan kembali memasuki hotel. Ia menegaskan bahwa ia telah membuat reservasi dan mereka akan menginap di situ. Sebelum Ormsby sempat mengatakan sesuatu, ia melihat sang pemilik hotel masuk ke hotel. Sang pemilik hotel menjelaskan bahwa kamar untuk tamu-tamu dari Asia itu perlu segera disiapkan. Dan ia memberikan satu informasi tambahan: malam itu juga ia telah menjual hotelnya dengan harga bagus, pada Harry Leong, seorang pengusaha dari Singapura.

======

Beberapa waktu lalu saya membaca novel Crazy Rich Asians, karya Kevin Kwan. Novel itu dibuka dengan kisah seperti saya ceritakan ulang di atas. Novel ini (dan juga novel lanjutannya: China Rich Girlfriend dan Rich People Problems) menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga Cina superkaya dari Singapura. Kisah pembuka novel ini menggambarkan kekhasan orang China kaya: mereka bisa amat pelit di satu hal, tapi amat royal di lain hal.

Kondisi hidup berkelimpahan materi bisa dibilang asing bagi kebanyakan kita, termasuk saya. Bisa memiliki sebuah rumah dan sebuah mobil sudah bisa kita anggap sebagai sebuah hidup yang berkecukupan. Namun rupanya ada sebagian orang yang amat sangat berkelimpahan materi. Mereka amat sangat kaya hingga bisa makan pagi di Singapura, makan siang di Hong Kong, dan makan malam di Bali. Kekayaan mereka memampukan mereka untuk membuat properti keluarga yang mereka miliki tidak nampak di Google Maps. Mereka cukup kaya untuk bisa membuat editor majalah gosip bersedia membatalkan pemuatan berita gosip atas skandal sanak keluarga mereka.

Novel ini menceritakan juga bagaimana hubungan sosial antar orang kaya terbentuk dan dijaga, bagaimana mereka memilih besan dan para menantu, dan juga bagaimana orang-orang kaya itu menjaga citra diri dan keluarganya.

Sekilas tampak nyaman dan menyenangkan, hidup sebagai orang kaya. Namun memang benar, rumput tetangga tampak lebih hijau. Orang kaya juga tidak lepas dari masalah yang harus diatasinya dari waktu ke waktu. Orang kaya, sebagaimana orang yang tidak kaya, tetap menghadapi masalah yang sama: bagaimana merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Ini disampaikan dengan baik oleh rangkaian novel ini.

Novel ini cocok untuk hiburan ringan, mengisi waktu santai. Tapi hati-hati, sekali mulai membaca, rasanya akan sulit untuk berhenti sebelum novel ini usai, setidaknya itu pengalaman saya.

Novel ini juga sedang difilmkan, dan akan tayang akhir tahun ini.