Perubahan Gaya Parenting?

Saat bulan puasa lalu, saya bertemu teman yang anaknya berkuliah di sebuah PTN. Ngobrol macam-macam, sampai akhirnya dia bercerita mengenai grup WhatsApp untuk “orang tua mahasiswa”.

Read more…

AI dan Kemanusiaan, menurut Yuval Noah Harari

Beberapa hari lalu, saya menonton rekaman diskusi berjudul An Honest Conversation on AI and Humanity. Yuval Noah Harari hadir sebagai narasumber, bersama Irene Tracey sebagai moderator. Harari dikenal sebagai penulis sejumlah buku – beberapa buku Harari sudah saya baca, dan menurut saya buku-bukunya menarik – dan profesor sejarah di Hebrew University of Jerusalem. Sedangkan Tracey adalah wakil rektor Oxford University. Diskusi ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan World Economic Forum 2026 di Davos.

Ada beberapa bagian dari diskusi tersebut yang menurut saya menarik.

Read more…
Categories: teknologi Tags: , , ,

Sejarah yang Penuh Cerita

Saat saya sekolah dulu, pelajaran sejarah penuh dengan nama orang, nama tempat, dan tanggal-tanggal yang mesti dihafalkan, dan oleh karenanya menjadi pelajaran yang membosankan dan menyebalkan. Meski demikian saya suka membaca buku sejarah.

Anak saya, seperti banyak anak lelaki lainnya, meminati topik Perang Dunia ke 2. Ada masa ketika dia suka nonton kanal Youtube “The Armchair Historian”, “Oversimplified”, atau kanal sejenis lainnya untuk menyimak topik itu.

Read more…

Merayakan Proses

Beberapa bulan ini, anak lanang dan beberapa orang temannya disibukkan oleh proses pembuatan film pendek. Sejak mereka duduk di kelas IX, angkatan mereka mulai membahas pembuatan year book dan film pendek. Untuk itu mereka membentuk panitia. Beberapa anak, termasuk anak lanang, mengajukan usul untuk membuat sendiri saja year book dan film itu. Tim pengusul ini – mereka menyebut diri sebagai DKK – sebelumnya sudah pernah membuat film pendek, waktu itu untuk tugas sekolah. Tapi akhirnya keputusan panitia adalah menyewa vendor untuk membuatnya.

Read more…

Tekanan

Semalam kami bertiga pergi makan di luar, untuk perayaan kecil-kecilan kelulusan SMP Anak Lanang. Ngobrol ngalor ngidul sampai akhirnya membahas soal tekanan, dalam hal ini tekanan orang tua terhadap anaknya.

Siangnya, dalam acara pelepasan lulusan di sekolah, dalam kata sambutan saya mewakili orang tua wali murid, saya menyampaikan permintaan maaf dari orang tua pada anak-anak jika dirasakan ada tuntutan terlalu banyak dari orang tua pada anaknya selama belajar. Meski demikian, saya merasa sebagai orang tua tidak menuntut terlalu banyak, terutama dalam soal target nilai pelajaran, pada anak saya. Tapi apa benar demikian? Maka saya menanyakan itu pada AL.

Read more…

Meja Makan

Beberapa minggu lalu, istri mengajak saya dan anak lanang menata ulang sebuah ruang di rumah menjadi ruang makan. Kami menggunakan meja makan pemberian orang tua saya, yang sebelum ini saya gunakan sebagai meja kerja saya bersama tim. Meja makan itu dulu ada di rumah masa kecil saya. Usianya lebih tua dari usia saya.

Read more…
Categories: keluarga Tags: , ,

Makan Siang Bersama: Untuk Apa?

Mungkin karena tahu di sini sedang dimulai program Makan Bergizi Gratis, salah satu video yang ditawarkan oleh Youtube untuk saya tonton adalah sebuah film dokumenter mengenai makan siang bersama di sebuah sekolah di Jepang. Videonya tidak terlalu panjang, jadi saya coba menontonnya. Video ini merekam program makan siang (kyushoku) di SD Umejima di Tokyo.

Di Jepang, bisa dibilang semua SD dan SMP milik pemerintah menyelenggarakan kyushoku [1]. Sejak 1954, ada undang-undang yang khusus mengatur kyushoku.

Tujuan diadakannya kyushoku adalah: anak menyadari pentingnya makan makanan bergizi untuk pertumbuhan dirinya, anak juga diajak mengenal budaya dalam makanan yang disajikan, dan yang tak kalah pentingnya anak diajak untuk menghargai upaya yang dilakukan banyak orang hingga makanan bisa tersaji dan siap dinikmati.

Read more…

My Father’s Playlist

Di rumah masa kecil saya, tiap pagi hingga siang ada musik yang mengisi ruang dengar. Baik dari stasiun radio ataupun dari kaset yang diputar. Kesukaan saya pada musik bermula dari situ. Selera musik saya terbangun dari pilihan musik yang diputar di stasiun radio yang dipilih ibu saya dan dari koleksi kaset ayah saya.

Read more…

Hamster

Saya hendak bercerita tentang sebuah film pendek, dan bukan hamster. Lho kok? 🙂

Minggu lalu, di sekolah Anak Lanang (AL) ada kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Para siswa dibagi ke dalam kelompok berisi tiga anak, dan diminta membuat sesuatu – bisa poster, bisa komik, bisa dalam bentuk lainnya – dengan tema Kesehatan Mental, untuk nantinya dipresentasikan. Selain mengerjakan tugas kelompoknya sendiri, AL diajak oleh temannya sesama penghobi fotografi untuk membantu kelompok si teman dalam membuat sebuah film pendek dalam rangka kegiatan P5 itu.

Total ada 5 anak yang terlibat dalam pembuatan film pendek itu. 3 anggota kelompok, dan 2 tenaga bantuan, salah satunya AL. AL bersedia terlibat karena “sepertinya asyik” 🙂

Read more…

Akal Imitasi

Kemarin di harian Kompas digital saya mendapati penggunaan istilah “akal imitasi” sebagai terjemahan dari “artificial intelligence”. Saya tidak tahu siapakah pencetus penggunaan istilah tersebut pada mulanya, harian Kompas atau mungkin pihak lain.

Menurut saya, istilah “akal imitasi” ini menarik.

Pertama karena singkatannya akan sama dengan singkatannya dalam bahasa Inggris: “AI”, sehingga akan memudahkan penggunaannya terutama bagi banyak orang yang sudah terlanjur akrab dengan istilah AI dengan kepanjangannya dalam bahasa Inggris.

Kedua karena “akal imitasi” cukup akurat dalam menggambarkan konsep yang dibawa dalam istilah “artificial intelligence”.

Selama ini publik lebih banyak mengenal “kecerdasan buatan” sebagai terjemahan dari “artificial intelligence”. Menurut saya, sebenarnya “kecerdasan buatan” lebih akurat dalam mewakili makna “artificial intelligence”.

Mari kita lihat, apakah popularitas “akal imitasi” akan mampu menyusul “kecerdasan buatan” atau tidak.

Design a site like this with WordPress.com
Get started