Archive

Archive for the ‘sepakbola’ Category

Apakah kita semakin tidak sabaran?

Sir Alex Ferguson, mengawali kiprahnya di Manchester United dengan kekalahan 0-2. Jadi manajer sejak 1986, tapi baru juara pada musim 1992-1993. Bagi para manajer zaman sekarang, itu kesempatan yang amat langka. Para “analis” akan mendapatkan mangsa empuknya pada si sosok manajer yang tak “berprestasi” dalam rentang waktu selama itu, pada klub yang sebesar itu (MU sudah pernah menjuarai berbagai kompetisi pada tahun-tahun sebelumnya, meski tak semengkilap pada era SAF).

9 Agustus 1965, dalam keadaan serba tak siap, Singapura berpisah dengan Malaysia. Lee Kuan Yew, yang hingga saat itu amat meyakini persatuan dengan Malaysia adalah jalan terbaik bagi masa depan Singapura, amat terpukul. Dikisahkan ia menyepi hingga enam minggu sebelum melakukan langkah apapun. Sungguh tak terbayangkan kondisi semacam itu terjadi di zaman sekarang. Demo pasti sudah terjadi di mana-mana. “Ada di mana pemerintah?”, mungkin begitu kira-kira isi demonya.

SAF dan LKY jelas bukan sosok yang sempurna, namun pada akhirnya ada banyak prestasi yang mereka catatkan dalam sejarah. Catatan prestasi istimewa itu tak mungkin terwujud tanpa “kesabaran” orang-orang di sekitarnya. “Kesabaran” untuk menunggu, sekaligus “memberikan toleransi” pada sisi-sisi negatif diri mereka.

Mungkin ada yang mengira tulisan ini untuk mengomentari keriuhan politik Indonesia akhir-akhir ini. Silakan saja.

Tapi ada banyak hal lain yang mungkin bisa ikut kita cermati juga.

Di hari-hari ini, orang bisa memutuskan hal besar hanya karena satu atau dua hal kecil. Memutuskan hubungan dengan pasangan hanya karena satu dua perselisihan. Marah besar pada anak hanya karena satu dua nilai ulangan yang kurang memuaskan. Memecat karyawan hanya karena satu dua penilaian kinerja yang mungkin hanya sedikit di bawah standar. Bahkan, mencelakai atau membunuh orang hanya karena satu dua masalah yang amat sangat sepele.

Apakah sungguh kita semakin tidak sabaran?

Advertisements

We need a great comeback!

Beberapa minggu belakangan ini, saya – seperti banyak orang Indonesia lainnya – mendadak jadi penonton setia pertandingan2 tim nasional Indonesia. Mendadak saya jadi hafal nama2 pemain timnas Indonesia, siapa menduduki posisi mana. Rasanya ini dimulai dari kemenangan mencolok 5-1 atas Malaysia pada pertandingan pertama AFF 2010. Kapan terakhir kita menang dengan skor seperti itu? Saya tidak pernah ingat. Saat itu, ada beberapa orang yang memperkirakan timnas kita akan bertemu lagi dengan Malaysia di final. Entah mengapa, saya termasuk yang meyakininya, namun banyak orang tidak. Akhirnya sampailah kita di hari ini, hari ketika timnas kita akan kembali bermain melawan mereka, dengan posisi tertinggal 3 gol.

Jika ingin mencari momen berbaliknya sebuah tim dari (calon) pecundang menjadi pemenang, partai MU – Bayern Munich di Final Champions League tahun 1999 adalah partai yang selalu menancap di benak saya. Saya tidak akan berpanjanglebar mengisahkan partai itu di sini, tapi cukuplah jika saya menyebutkan bahwa mengejar ketertinggalan satu gol dengan dua gol balasan yang keduanya dicetak pada masa perpanjangan waktu babak kedua adalah suatu hal yang luar biasa. Luar biasa dari sisi kemampuan fisik, tapi terlebih lagi luar biasa dari sisi kemampuan mental. Setelah berjerih lelah tanpa hasil mengupayakan gol berpuluh2 menit sebelumnya dan kesempatan yang tersisa cuma beberapa menit saja, butuh dorongan mental yang luar biasa untuk terus berusaha hingga saat terakhir.

Partai Liverpool – AC Milan di Final Champions League tahun 2005 tak kalah menggetarkannya. Saat ini kita tertinggal 3 gol dan masih punya waktu 90 menit tersisa, plus akan bermain di kandang sendiri. Liverpool, kala itu, tertinggal 3 gol hingga hanya 36 menit tersisa, dan hebatnya, mereka sanggup membalikkan keadaan dengan waktu yang tersisa itu.

Semangat apa yang mendorong pemain tim2 besar itu untuk terus berusaha, mengupayakan yang terbaik, sampai waktu benar2 tidak bersisa? Suntikan motivasi macam apa yang diberikan oleh para pelatih mereka? Itu mungkin pertanyaan kita.

Adalah betul bahwa pada suatu ketika dorongan semangat yang mendadak begitu besar bisa mengubah banyak hal. Kata2 yang tepat, mungkin mampu menginspirasi dan mendorong orang untuk berbuat yang terbaik. Tapi ada baiknya untuk juga mengingat, mereka, para tim2 besar itu dan juga para pengurus asosiasi sepakbolanya, telah mengerjakan pekerjaan rumah mereka jauh2 hari, selama puluhan tahun: membangun sistem yang baik. Pemain2 mereka, entah didikan klub mereka sendiri ataupun hasil didikan klub lain, telah tertempa kompetisi yang ulet dan fair selama bertahun2. Kemampuan teknis, kekuatan fisik, dan ketangguhan mental sudah diasah selama sekian lama. Racikan strategi dan suntikan motivasi yang tepat dari pelatih melengkapi semuanya itu.

Keajaiban tentu bisa muncul di mana saja. Tapi tanpa mengerjakan pekerjaan rumah yang seharusnya sudah berbelas2 tahun atau bahkan berpuluh2 tahun lalu kita kerjakan, itu ibarat maju ujian dengan modal hanya suntikan semangat dan dukungan doa dari sanak saudara.

Itu PR yang semoga jangan pernah lagi dilupakan untuk dikerjakan, terutama oleh para pengurus persepakbolaan kita. Tapi untuk hari ini, untuk malam ini, saya bergabung dengan rekan2 yang lain berpesan pada timnas kita: “Balikkan keadaan! Rebut piala! Jadilah juara!”