Archive

Archive for the ‘anak’ Category

Ketika Anak Memilih Pemimpin

Di kelas anak saya, ketua kelas dan wakilnya dipilih dua minggu sekali. Keduanya dipilih berselang-seling pasangan cowok dan pasangan cewek; misalnya minggu ini cowok-cowok, dua minggu lagi cewek-cewek. Bagi yang sudah pernah terpilih menjadi ketua kelas, tidak boleh dipilih lagi. Sedangkan yang sudah pernah jadi wakil ketua kelas, masih boleh dipilih lagi pada kesempatan berikutnya. Cara memilihnya sederhana saja: setiap anak menentukan pilihannya (boleh memilih diri sendiri juga), calon dengan suara terbanyak menjadi ketua, yang kedua terbanyak menjadi wakil ketua.

Namanya anak-anak, cara menentukan pilihannya ya sederhana saja: yang dipilih bisa teman baiknya, atau yang dianggap pintar, atau yang dianggap lucu atau keren. Terserah mereka, siapapun yang mereka anggap layak untuk jadi ketua kelas. Siapapun yang terpilih, semua senang, menikmati prosesnya. Gurunya juga tidak mengarahkan, siapa yang sebaiknya dipilih: “oh itu saja, dia anak guru, pas jadi ketua kelas”, atau “dia saja yang dipilih, anaknya baik dan sopan”. Setidaknya itu yang saya tangkap dari cerita anak saya.

Kemarin saya tanya ke anak saya, “Emang banyak yang pengen jadi ketua kelas?”

“Lho, SEMUA ANAK itu pengen jadi ketua kelas!” sahut dia.

“Emang kenapa kok pada mau jadi ketua kelas?”

“Soalnya bisa suruh-suruh yang lain.”

Maksudnya bisa kasih aba-aba berbaris saat mau masuk kelas, itu bagi mereka sesuatu yang keren, hehehehe..

Pada akhirnya, dengan cara yang mereka gunakan, saya rasa setiap anak – siapapun dia – akan memperoleh kesempatan menjadi ketua kelas, mencoba merasakan memimpin dalam skala kecil. Pengalaman yang menyenangkan buat mereka.

Nak, Isa Tidak Jadi Main ke Rumah..

Sabtu, 9 April 2016 siang, di sekolah Karel. “Yuk Karel pulang dulu, udah siang nih. Dua minggu lagi main sama Isa lagi ya. Besok Isa mau ke Jakarta. Nanti abis dari Jakarta Isa juga mau main ke rumah kan?” kata saya mengajak Karel pulang, setelah setengah jam lebih dia main bareng Isa di sekolah, seusai jam sekolah. Kami pulang, tak menyadari itu bakal jadi pertemuan terakhir kami sekeluarga dengan sosok Isa (Dzulqarnain Haritsah Wibowo), salah satu teman akrab Karel di sekolah.

DSC00078

Ayah Isa bekerja di Jakarta, sedangkan ibu Isa dan tiga anaknya tinggal di Yogya. Beberapa waktu lalu mereka memutuskan untuk pindah ke Jakarta, nanti bertepatan dengan pergantian tahun ajaran sekolah. Mereka berencana pergi ke Jakarta selama dua minggu untuk mengurus perpindahan dan pendaftaran sekolah, dan setelah itu kembali lagi ke Yogya untuk menyelesaikan kegiatan bersekolah hingga akhir tahun ajaran.

Sebagaimana anak-anaknya, istri saya dan ibu Isa juga saling akrab. Beberapa kali ikut bareng-bareng repot ini itu ketika anak-anak ikut lomba atau kegiatan sekolah. Karel beberapa kali main juga ke rumah Isa.

P_20160219_172714

Jumat, 22 April 2016 lalu, istri saya mendapat kabar bahwa Isa sakit, dan opname di sebuah RS di Jakarta, kabarnya karena demam berdarah. Jalan cerita sakitnya Isa belum cukup jelas kami terima, karena faktor jarak dan juga kesibukan ibu Isa (ketiga anaknya sakit kebetulan sakit semua, sedang si ayah baru saja sembuh juga). Kemarin ada kabar Isa masuk ICU. Subuh tadi datang kabar Isa meninggal dunia. Ibu Isa menelepon istri saya, “Titip maaf buat Karel ya Mam, ‘Maaf Tante nggak cukup mampu untuk jagain Isa untuk bisa terus main sama Karel..'”

Kami hanya bisa bilang ke Karel, “Nak, Isa tidak jadi main ke rumah.. Isa meninggal dunia..”

Obrolan Anak Lelaki dan Ayahnya

Hubungan antara anak lelaki dan ayahnya tidak jarang seperti hubungan antara dua bocah lelaki, hanya saja yang satunya punya trik dan pengalaman lebih banyak. Kadar keisengan antara keduanya tak jauh beda, hal-hal yang diminatinya juga mirip-mirip saja, misalnya seputar mainan.

Baru saja saya ngobrol panjang dengan anak lanang saya. Bermula dari soal kerennya Lego Bionicle, berlanjut dengan soal Kungfu Panda 3 dan cerita dia soal pertemanan di sekolahnya, dan diakhiri dengan doa Bapa Kami bersama #eh 🙂

Sebelum tidur dia bilang, “Asyik ya ngobrol kayak gini sama Papi..”

Saya juga bilang, “Memang asyik..”

Dia bilang, “Tapi kalo besok kayaknya Papi gak bisa, kan Papi kerja..” (belakangan ini memang saya punya pekerjaan yang harus dikerjakan sampai malam)

Dia lanjutkan, “Mungkin bisa lagi minggu depan.” (maksudnya Sabtu – Minggu depan)

Saya jawab, “Ok!”

Obrolan seperti tadi memang bukan kejadian satu-satunya. Juga bukan kejadian yang jarang terjadi. Tapi komentar dia soal asyik itu memang baru sekali ini terucap. Dan itu menyentuh hati saya #eh

Kita akan ngobrol banyak lagi anakku. Masih ada banyak hal yang kita bisa obrolkan bersama. Soal mainan, soal buku (kalo ini sih kesukaan Papi ya..), soal keisengan-keisengan yang mungkin bisa kita lakukan bersama (dan mungkin bikin Mami ngomel-ngomel, hehehe), dan banyaaaaak soal lain, termasuk soal cewek (suatu hari nanti ya…).

Sekarang tidurlah dahulu, keasyikan sehari di sekolah sudah menantimu esok hari.

Categories: anak, kehidupan, keluarga Tags: ,

Berawal Dari Larangan Mengenakan Alas Kaki

Hari Minggu pagi kemarin, seperti biasanya, kami sekeluarga pergi beribadah di gereja. Di gereja kami, ada satu ruangan yang khusus diperuntukkan bagi keluarga yang membawa anak balitanya. Ruangan tersebut dirancang (agak) kedap suara, diberi alas karpet, dan disediakan beberapa mainan. Di dinding kaca ada tulisan “Alas kaki harap dilepas”.

Ibadah berlangsung lancar bagi kami hingga datanglah satu keluarga: kakek, nenek, ayah, ibu, dan seorang anak balita, semuanya masuk ke ruang balita dengan mengenakan sepatu. Semuanya.

Anak kami, Karel, mulai gelisah. Ia berbisik-bisik pada saya, “Papi, itu mosok sepatunya nggak dilepas ya? Kan keliru ya? Itu kan ada tulisannya ‘Alas kaki harap dilepas’.” Saya iyakan bahwa itu keliru. Ia mendesak saya untuk memberitahu keluarga itu agar melepas sepatunya. Saya balik menyarankan agar dia saja yang memberitahu mereka, “Karel betul, harusnya sepatunya dilepas. Kalo Karel gemes, boleh kasih tau mereka. Nanti coba bilang gini, ‘Tolong sepatunya dilepas ya, kan ada tulisannya.’ Gitu.”

Karel gemes tapi tak sanggup mengumpulkan keberanian untuk memberitahu mereka. Saya coba tawarkan ‘beking’ pada dia, “Nanti kalo ada yang marahin Karel, Papi akan bantu.” Ini juga tak sanggup menambah keberanian dia. Tapi dia tetap gemes.

Obrolan semacam ini berlangsung berkali-kali, tapi tidak seperti cerita-cerita “ideal” biasanya, kisah kami kemarin tidak berujung pada si anak berani menyampaikan “kebenaran” dan “yang salah kembali menjadi benar”.

Di tengah ibadah kemarin, saya jadi merenung dengan ‘tema’ saya sendiri.

Saya menyadari bahwa menyampaikan apa yang saya anggap benar tak selalu mudah, juga tak selalu perlu, apalagi jika ingin dilakukan secara langsung. Saya jadi berpikir apakah anak-anak juga sudah mempertimbangkan hal serupa..

Categories: anak

Apa itu pakaian adat?

Minggu lalu, anak saya yang duduk di bangku playgroup menyampaikan surat dari sekolah, bahwa pada tanggal sekian setiap anak diminta untuk mengenakan pakaian adat, dalam rangka memperingati Hari Kartini.

Cari info sana sini, akhirnya istri saya mendapat alamat tempat persewaan baju adat. Sabtu lalu, kami pergi ke sana. Setelah melihat-lihat pilihan baju adat yang tersedia, anak saya tetap tidak tertarik untuk memilih apalagi mencoba salah satunya.

Lalu ia mengajukan usul yang menurut saya amat menarik, “Pakai baju merah waktu dapat angpao itu saja.”

Bajunya kira-kira seperti ini:

cheongsam

 

Itu betul pakaian adat. Toh tidak juga disebut adat mana 🙂
Andaikan jadi dipakai, kira-kira apa tanggapan orang ya?

Dan sebenarnya, mengapa ya tiap Hari Kartini anak sekolah diminta mengenakan baju adat?

Categories: anak, budaya, Uncategorized

Membetulkan mainan milik anak lanang..

Salah satu mainan kereta kesayangan anak saya suatu hari beberapa bulan yang lalu mendadak mati. Seperti mainan rusak yang lain, ia langsung membawa kereta yang tewas tersebut pada tukang reparasi andalannya (walau sebenarnya cuma tukang reparasi abal-abal): saya. Yang saya coba lakukan sebenarnya biasa saja: membongkarnya, lalu mencari bagian yang tampaknya kurang pas atau macet, dan mengembalikannya pada tempat yang sepertinya tepat. Biasanya itu saja berhasil.

Namun kali ini tidak.

Saya tak kunjung bisa membongkar hingga masuk ke dalam blok mesin (halah). Blok mesin terbungkus plastik keras yang rapat. Kait-kait yang biasanya nampak jelas kali ini samar. Setelah kehabisan akal, mainan rusak itu saya simpan dalam sebuah wadah dalam kondisi setengah terbongkar, menunggu “wangsit” suatu hari nanti untuk mencoba membongkar lagi.

Beberapa bulan kemudian, yaitu siang tadi, wadah berisi kereta setengah terbongkar itu disodorkan anak saya pada saya. Rupanya ia teringat kembali pada mainan kesayangan yang rusak itu, dan menagih janji saya untuk memperbaikinya. “Nanti malam ya,” kata saya.

Dua jam lalu, mainan itu saya keluarkan dari wadahnya, lalu saya coba lihat lagi, mencari cara membongkarnya. Berbeda dari biasanya, tampak ada bagian yang sepertinya direkatkan dengan lem. Istri saya yang biasanya lebih jeli dengan barang-barang berukuran mini, saya minta bantu memastikan. Bagian yang direkatkan itu dicoba dilepas paksa. Rupanya benar, bisa dilepas. Beberapa roda bergerigi lepas dari tempatnya. Sambungan yang terpatri saya lepas sekalian, agar blok mesin plastiknya terbuka sekalian. Roda-roda bergerigi yang kotor saya bersihkan. Bagian yang terpasang kurang pas saya betulkan letaknya. Lalu semuanya saya coba rakit ulang. Memang yang namanya membongkar biasanya lebih mudah daripada memasang lagi. Apalagi tidak ada petunjuknya.

Sayangnya saya tidak mengambil foto saat semua komponen terbongkar. Maklum, lagi setengah panik. “Bisa masang lagi nggak nih?” Hehehe..

Singkat cerita, mainan kembali terpasang. Pelanggan puas. Sampai jumpa pada kunjungan berikutnya..

1 2 3

Categories: anak, keluarga Tags: , ,

Ketika anak ingin bersekolah..

Anak bermain

Anak kami, Karel, berusia 3,5 tahun saat ini. Sudah sejak dia berusia kurang dari 2 tahun kami sering mendapat pertanyaan: Karel sudah (/belum/tidak) disekolahkan? Kami berencana untuk menyekolahkan dia langsung ke TK, tidak melalui Kelompok Bermain (KB). Mengapa? Karena kami berpandangan bahwa – dalam kadar yang mungkin berbeda – tanpa harus bersekolah di KB, Karel bisa mendapatkan apa yang akan didapatkannya di KB: teman bermain (kami orang tuanya, pengasuhnya, dan sejumlah anak-anak tetangga), pengenalan berbagai hal seperti: fauna (dengan pergi ke kebun binatang), mengenal bentuk-bentuk geometris (melalui berbagai bentuk permainan di rumah), pengenalan alfabet dan angka (melalui berbagai buku anak-anak yang kami punya di rumah, termasuk buku masa kecil saya dulu), pengenalan tempat dan hal baru (dengan bepergian bersama ke luar kota, ke tempat baru), belajar mandiri (makan dan berpakaian sendiri misalnya). Menurut kami, KB baik, namun tetap dengan beberapa kelemahan, seperti: anak dapat dengan mudah meniru hal-hal tidak baik dari temannya (berantem, berkata tidak baik, dll) karena bagaimanapun pengawasan guru di KB tetap terbatas. Selain itu, di KB anak lebih rentan tertular penyakit, pada masa sistem kekebalan tubuhnya belum mapan terbangun. Sedari mula akan menikah, kami memang telah menyiapkan diri dengan berniat untuk bekerja di rumah, agar dapat mengawasi dan membesarkan anak kami sendiri.

Namun beberapa minggu yang lalu, Karel bilang bahwa ia mau sekolah. Ketika ditanya lebih lanjut, ia bilang bahwa ia mau bersekolah di tempat yang mainannya banyak. Kami merasa bahwa ini mungkin memang waktunya bagi dia untuk sekolah. Dia sudah menyatakan kebutuhannya untuk bermain (dan mungkin bersosialisasi) di arena yang lebih luas. Maka mulailah kami berburu sekolah..

Kami mungkin adalah orang tua yang “aneh-aneh”, memilah dan memilih berbagai KB dengan banyak kriteria kami sendiri. Misalnya: berbahasa pengantar Indonesia (karena bagaimanapun kami tinggal di Indonesia, dan masih akan berhubungan dengan banyak orang Indonesia), tempat bermain outdoor yang cukup luas (pesanan Karel), kelas relatif kecil dengan jumlah guru pendamping yang cukup, tidak memaksakan mengajarkan anak untuk baca tulis (mengenalkan sih boleh, toh kami juga sudah mengenalkannya di rumah), relatif heterogen dalam hal suku (untuk mengajarkannya hidup berdampingan dengan keragaman budaya), bersih (kami memeriksa kondisi kelas dan toiletnya), dan relatif aman (sebisa mungkin ada gerbang berlapis, dengan ada halaman yang cukup luas sebelum terjumpa jalan raya), sebisa mungkin hanya berlantai satu (alasan keamanan, karena keterbatasan kemampuan pengawasan guru). Kami juga lebih menyukai sekolah yang memberi kesempatan pada calon murid dan orang tuanya untuk melihat terlebih dahulu kegiatan sekolah tersebut sebelum akhirnya si murid didaftarkan di situ.

Istri saya mengunjungi beberapa sekolah untuk melihat situasi fisik dan non-fisiknya. Tiap kali ia pulang ke rumah, Karel bertanya, “Sudah dapat sekolah yang mainannya banyak, Mami?” Akhirnya dari beberapa kunjungan istri saya, kami menyusun daftar sekolah yang akan dikunjungi kembali, bersama saya dan Karel.

Menurut kami, memilih sekolah bukan sekedar melihat dan membandingkan isi kurikulum, daftar kegiatan, juga daftar biayanya. Kami mencoba mengamati sikap guru dalam berbagai situasi (bagaimana bila ada anak yang nakal, ada anak baru, ada anak yang masih takut-takut, dsb). Dalam soal ini saja, kami mendapati sikap dan tanggapan yang beragam. Ada yang menerima dengan baik, tiap guru yang berpapasan menyapa si anak, meskipun jelas ia masih calon murid, belum tentu masuk ke KB itu. Ada yang menerima dengan biasa-biasa saja, sekedar melihat dari jauh kehadiran kami, tanpa usaha menyapa dan mengajak berbincang. Kami juga mengamati bagaimana staf administrasi sekolah bekerja. Ada yang menjanjikan untuk menghubungi pada sekian hari ke depan untuk menginformasikan ketersediaan kelas trial, namun hingga sekarang belum ada kabar apa-apa.

Dari semua hal yang kami amati dan kami pertimbangkan itu, kami akhirnya memutuskan untuk memasukkan Karel ke kelas trial di sebuah sekolah. Jauh dari tempat tinggal kami, tapi menurut kami, dari banyak sisi, sekolah tersebut lebih baik dibanding sekolah-sekolah lainnya.

Ini pengalaman kami, bagaimana pengalaman Anda?