Berawal Dari Larangan Mengenakan Alas Kaki

Hari Minggu pagi kemarin, seperti biasanya, kami sekeluarga pergi beribadah di gereja. Di gereja kami, ada satu ruangan yang khusus diperuntukkan bagi keluarga yang membawa anak balitanya. Ruangan tersebut dirancang (agak) kedap suara, diberi alas karpet, dan disediakan beberapa mainan. Di dinding kaca ada tulisan “Alas kaki harap dilepas”.

Ibadah berlangsung lancar bagi kami hingga datanglah satu keluarga: kakek, nenek, ayah, ibu, dan seorang anak balita, semuanya masuk ke ruang balita dengan mengenakan sepatu. Semuanya.

Anak kami, Karel, mulai gelisah. Ia berbisik-bisik pada saya, “Papi, itu mosok sepatunya nggak dilepas ya? Kan keliru ya? Itu kan ada tulisannya ‘Alas kaki harap dilepas’.” Saya iyakan bahwa itu keliru. Ia mendesak saya untuk memberitahu keluarga itu agar melepas sepatunya. Saya balik menyarankan agar dia saja yang memberitahu mereka, “Karel betul, harusnya sepatunya dilepas. Kalo Karel gemes, boleh kasih tau mereka. Nanti coba bilang gini, ‘Tolong sepatunya dilepas ya, kan ada tulisannya.’ Gitu.”

Karel gemes tapi tak sanggup mengumpulkan keberanian untuk memberitahu mereka. Saya coba tawarkan ‘beking’ pada dia, “Nanti kalo ada yang marahin Karel, Papi akan bantu.” Ini juga tak sanggup menambah keberanian dia. Tapi dia tetap gemes.

Obrolan semacam ini berlangsung berkali-kali, tapi tidak seperti cerita-cerita “ideal” biasanya, kisah kami kemarin tidak berujung pada si anak berani menyampaikan “kebenaran” dan “yang salah kembali menjadi benar”.

Di tengah ibadah kemarin, saya jadi merenung dengan ‘tema’ saya sendiri.

Saya menyadari bahwa menyampaikan apa yang saya anggap benar tak selalu mudah, juga tak selalu perlu, apalagi jika ingin dilakukan secara langsung. Saya jadi berpikir apakah anak-anak juga sudah mempertimbangkan hal serupa..

Categories: anak

Kisah Sepeda Motor

odometer

Kemarin odometer sepeda motor yang saya gunakan hampir balik ke angka awal 000000 (malamnya akhirnya tembus sih). 

Saya tidak tahu seberapa banyak atau sering hal ini terjadi pada sepeda motor yang digunakan orang lain. Tapi bagi saya, ini baru pertama kalinya.

Sepeda motor itu buatan/rakitan tahun 1993. Mulai saya gunakan ketika menjelang kuliah tahun 1997 (jadi ketahuan kalo sudah tua ya, hehehe). Ayah saya membelinya dari pemilik pertamanya, mantan Ketua RT tempat dulu kami tinggal. Jadi, andaikan sepeda motor itu anak yang lahir tahun 1993, sekarang mungkin ia sudah lulus kuliah.

Sudah sejak beberapa tahun yang lalu, setiap kali saya membawanya untuk service rutin saya mendapati sepeda motor itu kendaraan tertua di bengkel service.

Banyak peristiwa yang saya alami bersama sepeda motor itu. Perjalanan kos-kampus, perjalanan Solo-Yogya berulang kali dilakoni bersamanya. Bertahun-tahun membonceng pacar (yang lalu jadi istri), yang kemudian juga memboncengkan anak, semua bersama sepeda motor itu. Perjuangan saya mencari rejeki, juga banyak dibantu oleh sepeda motor itu, bahkan hingga saat ini.

Sepeda motor itu adalah salah satu modal awal penting dari orang tua saya untuk membantu saya menjalani hidup dewasa saya.

Semoga ia tetap setia menemani saya dalam tahun-tahun mendatang.

Categories: kehidupan Tags: ,

Apakah kita semakin tidak sabaran?

Sir Alex Ferguson, mengawali kiprahnya di Manchester United dengan kekalahan 0-2. Jadi manajer sejak 1986, tapi baru juara pada musim 1992-1993. Bagi para manajer zaman sekarang, itu kesempatan yang amat langka. Para “analis” akan mendapatkan mangsa empuknya pada si sosok manajer yang tak “berprestasi” dalam rentang waktu selama itu, pada klub yang sebesar itu (MU sudah pernah menjuarai berbagai kompetisi pada tahun-tahun sebelumnya, meski tak semengkilap pada era SAF).

9 Agustus 1965, dalam keadaan serba tak siap, Singapura berpisah dengan Malaysia. Lee Kuan Yew, yang hingga saat itu amat meyakini persatuan dengan Malaysia adalah jalan terbaik bagi masa depan Singapura, amat terpukul. Dikisahkan ia menyepi hingga enam minggu sebelum melakukan langkah apapun. Sungguh tak terbayangkan kondisi semacam itu terjadi di zaman sekarang. Demo pasti sudah terjadi di mana-mana. “Ada di mana pemerintah?”, mungkin begitu kira-kira isi demonya.

SAF dan LKY jelas bukan sosok yang sempurna, namun pada akhirnya ada banyak prestasi yang mereka catatkan dalam sejarah. Catatan prestasi istimewa itu tak mungkin terwujud tanpa “kesabaran” orang-orang di sekitarnya. “Kesabaran” untuk menunggu, sekaligus “memberikan toleransi” pada sisi-sisi negatif diri mereka.

Mungkin ada yang mengira tulisan ini untuk mengomentari keriuhan politik Indonesia akhir-akhir ini. Silakan saja.

Tapi ada banyak hal lain yang mungkin bisa ikut kita cermati juga.

Di hari-hari ini, orang bisa memutuskan hal besar hanya karena satu atau dua hal kecil. Memutuskan hubungan dengan pasangan hanya karena satu dua perselisihan. Marah besar pada anak hanya karena satu dua nilai ulangan yang kurang memuaskan. Memecat karyawan hanya karena satu dua penilaian kinerja yang mungkin hanya sedikit di bawah standar. Bahkan, mencelakai atau membunuh orang hanya karena satu dua masalah yang amat sangat sepele.

Apakah sungguh kita semakin tidak sabaran?

Kosa kata terkendali

If we cannot name it, we cannot control it, finance it, research it, teach it or develop public policies…
– Norma Lang, nursing professor –

Pada tulisan sebelumnya, telah disinggung soal interoperabilitas semantik. Interoperabilitas semantik mencoba memastikan bahwa data yang saling dipertukarkan dimaknai secara sama oleh pihak-pihak yang menggunakan data yang sama tersebut.
Berikut adalah kutipan komentar dari seorang dokter:

“If I’m sent an electronic note via email that notes “Allergy to MS”, is that interoperable? Of course MS could mean Morphine Sulfate, Magnesium Sulfate, or even Minestrone Soup.”

MS ternyata bisa dimaknai macam-macam, berarti dalam konteks cerita di atas MS tidak memenuhi syarat interoperabilitas semantik.

Sebuah sistem informasi berfungsi tidak hanya mengumpulkan dan menyimpan data, seperti misalnya keterangan “Allergy to MS” seperti di atas, namun juga mengelompokkannya sesuai keperluan. Agar data dapat dikelompokkan, data harus dapat dimaknai secara jelas terlebih dahulu. Dalam contoh di atas, apa itu “MS” harus jelas.

Seringkali tanpa kita sadari, bahasa yang kita gunakan sehari-hari mengandung banyak kerancuan. Beberapa contohnya:

  • Sinonim: beberapa kata yang memiliki makna yang sama. Contohnya: demam dan pireksia.
  • Polisemi: satu kata yang bisa memiliki beberapa makna. Contohnya: bisa, yang dapat bermakna “mampu”, dapat pula bermakna “racun”. Ada pula yang berupa singkatan, seperti “MS” di atas.

Dalam komunikasi antar manusia sehari-hari, kerancuan itu teratasi dengan adanya konteks. Namun komputer tak dapat mengenali konteks (baca: dalam tingkatan tertentu bisa tapi dengan usaha luar biasa). Penggunaan kode adalah cara agar komputer dapat memahami bahasa (manusia). Perlu ada daftar kode dengan makna yang jelas. Dalam bahasa Inggris, istilahnya adalah controlled vocabulary. Saya belum tahu apa padanan istilah tersebut dalam bahasa Indonesia. Kosa kata terkendali? Kita gunakan kosa kata terkendali saja ya. Saya terbuka untuk diberi masukan padanan kata yang lebih tepat.

Kosa kata terkendali berisi daftar kata (medis) yang dibatasi penggunaannya untuk keperluan tertentu. Dalam sebuah antarmuka elektronik, kosa kata terkendali muncul dalam daftar yang dapat dipilih oleh pengguna untuk mewakili satu kondisi nyata tertentu. Misalnya ada pasien dalam kondisi demam, maka kosa kata terkendali cukup mencantumkan salah satu istilah saja: demam atau pireksia, agar pengguna dapat memilih satu saja dari daftar kosa kata terkendali yang muncul. Dengan demikian, maka menjadi jelas bahwa ketika pengguna memilih “demam” dari kosa kata terkendali, maka yang dimaksudkan oleh pengguna adalah kondisi demam yang sedang dialami pasien. Tidak akan ada istilah lain dari kosa kata terkendali yang memiliki makna serupa. Kerancuan bahasa sehari-hari terhindarkan.

Karakteristik utama dari kosa kata terkendali:

  • Ada satu set daftar kata yang terbatas, yang tidak ambigu, juga akurat.
  • Kata-kata yang digunakan ditentukan dengan standar tertentu.
  • Jika diperlukan penambahan kata/istilah, ada serangkaian proses tertentu yang harus dilakukan sebelumnya, sehingga biasanya penambahan kata baru tak dapat dilakukan seketika.
  • Pengguna harus mengikuti pelatihan sebelum dapat menggunakannya.

Kosa kata terkendali adalah kunci penting untuk terwujudnya interoperabilitas antar sistem informasi kesehatan. Mengapa kosa kata terkendali penting? Kosa kata terkendali dapat digunakan untuk:

  • Memberi standar istilah atas satu teks naratif.
  • Mewakili hasil pengamatan atau hasil evaluasi.
  • Mengkodekan hasil test (misalnya hasil test laboratorium).
  • Mengenali dengan pasti berbagai jenis obat.
  • Memudahkan pertukaran data secara real time.
  • Memudahkan pengolahan dan analisis atas data, mendukung proses pengambilan keputusan.

Ada banyak contoh kosa kata terkendali yang sudah dikembangkan:

  • Kosa kata terkendali untuk diagnosis: SNOMED CT, ICD-10, ICD-9-CM, ICPC-2
  • Kosa kata terkendali untuk obat: ATC, NDA
  • Kosa kata terkendali untuk laboratorium: LOINC

Sumber:
Coming to Terms: Scoping Interoperability for Health Care – Health Level Seven EHR Interoperability Work Group
HL7 E-Learning Course: Introduction to Vocabularies in Healthcare

Sedikit tentang interoperabilitas (dalam sistem informasi kesehatan)

Interoperabilitas adalah kemampuan dua sistem atau lebih untuk saling bertukar informasi, dan menggunakan informasi yang saling dipertukarkan tersebut. Kebutuhan akan interoperabilitas nyata di lingkungan fasilitas kesehatan yang menggunakan lebih dari satu sistem informasi. Sistem informasi rekam medis perlu dapat bertukar data dengan sistem informasi laboratorium, misalnya.

Interoperabilitas memerlukan satu set standar (atau banyak standar) untuk disepakati dan digunakan bersama oleh semua sistem informasi yang terlibat. Standar diperlukan agar data, di bagian manapun dari sistem informasi manapun, memiliki format dan makna yang sama. Dengan format dan makna yang sama, informasi dapat digunakan bersama oleh berbagai pihak yang terlibat dalam satu lingkungan kerja.

EHR Interoperability Work Group mengklasifikasikan interoperabilitas menjadi tiga:
– Interoperabilitas teknis: memastikan bahwa data dapat terkirim pada pihak-pihak yang berkepentingan, terlepas dari terstruktur atau tidaknya data yang dikirimkan tersebut.
– Interoperabilitas semantik: memastikan bahwa data dipahami secara sama oleh pihak-pihak yang berkepentingan, terlepas dari mekanisme pengirimannya.
– Interoperabilitas proses: memastikan bahwa data terkirim pada saat yang tepat, dalam urutan yang tepat, dalam satu kerangka koordinasi kerja antara pihak-pihak yang berkepentingan.
Untuk implementasi yang optimal dalam satu lingkungan kerja, ketiga klasifikasi interoperabilitas tersebut harus terwujud.

Namun ada yang membagi interoperabilitas hanya menjadi dua bagian saja: interoperabilitas sintaksis dan interoperabilitas semantik. Interoperabilitas sintaksis adalah tentang struktur atau format komunikasi data. Contoh standar interoperabilitas sintaksis adalah HL7 v2.x. Interoperabilitas semantik adalah tentang makna dari data yang dikomunikasikan/dipertukarkan, memastikan bahwa data yang dipertukarkan dimaknai secara sama oleh semua pihak/sistem yang saling bertukar data. Contoh standar interoperabilitas semantik adalah SNOMED CT atau LOINC. Tanpa interoperabilitas semantik, data dapat saling dipertukarkan, namun tak ada yang bisa memastikan penerima data akan memaknai data yang dikirimkan secara sama sebagaimana pihak pengirim data memaknainya.

Lalu bagaimana standar dibuat? Ada empat mekanisme yang mungkin dilakukan untuk terbentuknya sebuah standar.
1. Standar “ad hoc”.
Standar ini muncul ketika beberapa kelompok pengembang sistem informasi menyetujui secara informal untuk menggunakan seperangkat format yang sama, di mana kesepakatan tersebut tidak dipublikasikan secara meluas.
2. Standar “de facto”.
Standar ini muncul begitu saja ketika banyak pengguna sistem informasi yang terbiasa atau mengadopsi format yang sama.
3. Standar “de jure”.
Standar ini muncul ketika pemerintah menyusun, menetapkan, dan “memaksakan” implementasi seperangkat standar tertentu.
4. Standar berdasarkan konsensus.
Standar ini muncul dari hasil diskusi terbuka antara banyak pihak.

Sumber:
Coming to Terms: Scoping Interoperability for Health Care – Health Level Seven EHR Interoperability Work Group
HL7 E-Learning Course: Introduction to Healthcare Interoperability

Mudik

Bertahun-tahun yang lampau, pada hampir setiap liburan panjang sekolah saya menjalani perjalanan mudik. Waktu itu saya bersama orang tua dan adik saya mudik ke Trangkil, desa kecil dekat kota Pati, tempat kakek dan nenek saya tinggal.

Perjalanan mudik belumlah semudah dan senyaman sekarang. Kami mesti naik bus, dari Solo ke Purwodadi, lalu berganti bus lain dengan tujuan Pati, lalu berganti lagi dengan bus atau angkutan lain yang lebih kecil menuju Trangkil. Kadang kami melalui rute lain: Solo – Semarang, Semarang – Kudus, Kudus – Pati, Pati – Trangkil. Itupun belum tiba di rumah kakek nenek. Kami mesti menunggang dokar atau becak agar sampai di tujuan. Dua orang tua, dua anak kecil, dengan bawaan tas berisi barang pribadi, belum lagi ditambah bawaan oleh-oleh, berganti-ganti kendaraan tumpangan, sungguh pengalaman yang mengesankan.

Ketika kakek nenek semakin menua, mereka pindah ke Semarang dan Solo, bergantian, tinggal di rumah anak-anaknya. Ritual mudik kami berakhir.

Sekarang, setelah mereka berdua tiada, keluarga besar kami jarang sekali berkumpul di masa libur lebaran. Keluarga besar kami lebih memilih untuk berkumpul di hari-hari lain di luar libur lebaran, menghindari arus padat pemudik.

Mudik dijalani umumnya karena satu alasan besar: berkumpul dengan orang tua dan kerabat di kampung halaman (atau di manapun orang tua dan kerabat tinggal). Tapi ketika alasan besar itu hilang karena berbagai sebab, ritual mudik mungkin juga tak lagi dijalani.

Dengan arus pergerakan penduduk yang makin mendekat ke kota-kota besar, kira-kira hingga berapa lama lagikah perjalanan mudik ini masih akan marak? Atau mungkin malah ada penjelasan lain yang memperkirakan perjalanan mudik justru akan lebih marak?

Categories: budaya, keluarga Tags: , ,

Apa itu pakaian adat?

Minggu lalu, anak saya yang duduk di bangku playgroup menyampaikan surat dari sekolah, bahwa pada tanggal sekian setiap anak diminta untuk mengenakan pakaian adat, dalam rangka memperingati Hari Kartini.

Cari info sana sini, akhirnya istri saya mendapat alamat tempat persewaan baju adat. Sabtu lalu, kami pergi ke sana. Setelah melihat-lihat pilihan baju adat yang tersedia, anak saya tetap tidak tertarik untuk memilih apalagi mencoba salah satunya.

Lalu ia mengajukan usul yang menurut saya amat menarik, “Pakai baju merah waktu dapat angpao itu saja.”

Bajunya kira-kira seperti ini:

cheongsam

 

Itu betul pakaian adat. Toh tidak juga disebut adat mana 🙂
Andaikan jadi dipakai, kira-kira apa tanggapan orang ya?

Dan sebenarnya, mengapa ya tiap Hari Kartini anak sekolah diminta mengenakan baju adat?

Categories: anak, budaya, Uncategorized