Home > kehidupan > Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

Apa yang Anda pahami dengan kata cukup? Apa arti kata cukup buat Anda? Saya mendapati diri saya mengalami kesulitan saat harus memaknai kata cukup. Petikan teks doa Bapa Kami yang sederhana di atas, seakan tidak lagi sesuai dengan zaman yang melaju makin cepat ini.

Makanan adalah kebutuhan harian manusia. Tiap hari, setiap orang, butuh makanan. Dan dengan makanan itu, manusia dapat melanjutkan hidupnya. Sederhana. Dengan bekerja, orang dapat membeli makanan untuk melanjutkan hidupnya. Sederhana? Sepertinya tidak sesederhana itu. Hidup di zaman sekarang tidak lagi cukup dijalani dengan cukup makan setiap hari. Kita harus bisa membaca dan menulis (dan oleh karena itu kita harus bersekolah). Kita juga harus sehat (muncul biaya kesehatan). Kita harus punya tempat tinggal (timbul biaya sewa atau biaya beli rumah). Tidak jarang tempat kita bekerja jauh dari rumah (timbul biaya transportasi). Dan seterusnya, dan seterusnya..

Seorang teman saya, tiap hari berdoa, “Tuhan, berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Dari usaha dagang yang dijalankannya, ia menargetkan sejumlah angka pendapatan tertentu yang ia pandang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya (entah bagaimana ia menghitungnya). Jika pada hari itu ia telah mencapai angka yang ditargetkannya itu, tidak jarang ia menyarankan orang yang datang ke tokonya untuk kembali datang esok hari. Seandainya orang itu lebih memilih mencari toko lain, iapun tak berkeberatan. Aneh? Lucu? Bodoh? Suatu kali kisah ini menjadi bahan diskusi antara saya dan seorang teman yang lain. Sudut pandang teman yang ini menarik bagi saya. Ia berkata, “Justru mungkin karena ia paham betapa penghasilannya setiap hari sudah cukup terpenuhi sehingga berani melakukan hal yang semacam itu, Tuhan jadi sayang padanya, dan terus menolong dan memelihara kehidupan keluarganya tiap hari.”

Tiap hari kita bekerja keras, bahkan tidak jarang bekerja dengan amat sangat keras. Tapi kita lupa memikirkan apa makna cukup bagi kita.

Pekerjaan ayah teman saya membuatnya sering pergi berkeliling ke pelosok Indonesia. Di banyak masyarakat Papua, konsep menabung belum dipahami. Bagi mereka yang tinggal di tepi laut misalnya, tiap pagi mereka pergi ke tepi laut, menyerok kepiting dan ikan yang ada di situ, dan pulang. Ya, menyerok di tepi laut, dan bukan pergi menjala ikan ke tengah laut. Besoknya, mereka kembali pergi ke tepi laut, menyerok kepiting dan ikan yang ada di situ, dan pulang. Mereka menerima makanan hari itu, yang secukupnya. Menjadi masalah ketika orang2 dari peradaban yang lebih maju datang, dan mencoba memberi berbagai bantuan dalam berbagai rupa: pendidikan, bantuan dana, pengajaran keterampilan, dll. Dana yang diterima, langsung dibelanjakan sampai habis pada hari itu juga. Tidak ada konsep menabung dalam benak mereka. Bersekolah? Mengapa saya harus bersekolah, sedangkan kebutuhan harian saya sudah terpenuhi dengan pergi ke tepi laut? Itu mungkin pertanyaan mereka. Cerita ini sungguh menantang saya untuk memikirkan ulang makna cukup buat saya.

Kita hidup di zaman ketika berbagai kebutuhan muncul dalam pandangan kita. Ada kebutuhan yang sifatnya segera (anak sakit, harus segera dibawa ke dokter), ada kebutuhan yang sifatnya jangka panjang (sekolah, menabung untuk membeli rumah), ada juga kebutuhan yang sifatnya rutin. Banyak dari kebutuhan itu tak terhindarkan, dan harus dipenuhi. Tapi pertanyaannya masih sama, berapa banyak yang cukup bagi kita?

“Tuhan, berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”

  1. 15/08/2010 at 01:41

    dalem eh, jadi ikut termenung …

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: