Archive

Posts Tagged ‘simpus’

Mendadak ke Australia

Semua bermula dari keisengan belaka.

Suatu hari di bulan April 2016, saya mendapat informasi tentang acara HIMAA NCCH 2016 National Conference yang diadakan di Melbourne, Australia. Ada satu hal yang menarik dalam informasi yang saya baca: ada tawaran sponsorship bagi presenter paper yang naskahnya diterima. Sponsorship akan dapat digunakan untuk membiayai transportasi, akomodasi, dan biaya pendaftaran acara.

Saya, yang seumur-umur belum pernah menulis abstrak ilmiah untuk dikirimkan ke acara seminar, memberanikan diri menulis sebentuk abstrak. Saya memaparkan proses pengembangan dan implementasi bridging system SIMPUS dan PCare. Akhir Mei naskah saya nyatakan siap dan saya kirimkan. Saya juga melengkapi berbagai persyaratan yang diminta panitia. Setelah itu, saya pasrah dan bisa dibilang melupakan soal ini.

Hingga akhirnya kabar kejutan saya terima di awal Juli 2016. Saya mendapat email yang menyatakan naskah saya diterima, dan saya diminta memaparkannya dalam bentuk poster. Saya berkirim email dengan panitia untuk mendapat rincian informasi yang saya butuhkan. Dan petualangan dimulai.

Beberapa keputusan mesti diambil terlebih dahulu, seperti misalnya dalam soal: anak dan istri akan ikutkah (meski ini alasan utama perjalanan ini adalah urusan acara seminar ilmiah, ya konyol aja kalau tidak sekalian berwisata singkat, betul atau betul?) dan kapan tanggal persisnya berangkat dan pulang. Saya dan istri memutuskan bahwa istri akan ikut berangkat (orang menyebutnya hanimun, dan kami biasanya hanya senyum-senyum saja, tidak mengiyakan atau menolak), namun anak tidak, karena ia bersekolah dan ia akan terlalu lama meninggalkan sekolah bila ia ikut. Bantuan datang dari kedua pasang orang tua kami yang menyanggupi secara bergantian akan mendampingi anak kami selama kami pergi. Setelah bantuan ada, tanggal berangkat dan pulang kami putuskan.

Kebetulan ada kerabat kami yang tinggal di Melbourne, yang dengan girang menyambut rencana perjalanan kami dan menawarkan segenap bantuan yang bisa mereka berikan. Dalam pengurusan visa, kami mendapat bantuan dari banyak orang, berupa surat-surat rekomendasi yang dibutuhkan.

Setelah semua urusan akomodasi dan transportasi tuntas, tinggallah urusan utamanya: membuat poster. Selain poster, saya juga berkeinginan membuat satu naskah yang berisi penjelasan yang lebih lengkap tentang topik yang akan saya presentasikan. Bantuan dari teman dan kerabat amat memperlancar proses ini. Naskah saya yang amburadul dipermak agar lebih layak baca. Rancangan poster yang sempat saya buat, akhirnya juga dirancang ulang agar lebih menarik dan mudah disimak. Menjelang waktu keberangkatan, semuanya siap.

Bahkan hingga kami tiba di bandara untuk berangkat, saya masih terus meyakinkan diri bahwa rencana perjalanan ini nyata adanya dan bukan sekedar rencana gila. Pesawat mendarat selamat di tujuan, dan saya yakin bahwa ini buah karya Sang Maha Perencana yang Jenaka.

Perjalanan dan pemaparan saya berlangsung lancar, semuanya atas bantuan banyak pihak.

Terimakasih pada HIMAA NCCH yang berkenan mengundang saya untuk hadir dan menyampaikan paparan di sana.

Terimakasih pada kedua pasang orang tua kami yang bersedia berkorban waktu dan tenaga mendampingi cucu mereka selama kami pergi.

Terimakasih pada Icha dan Dion yang sudah mempermak habis naskah amburadul yang saya buat, yang sudah menyiapkan surat rekomendasi, dan yang kemudian memandu perjalanan kami, juga menyediakan tempat bagi kami untuk menginap.

Terimakasih pada Mas Jojok, tim Kinaryatama Raharja, dan tim Kunang yang memberikan dukungan informasi, foto, dan semangat.

Terimakasih pada Sinang, yang bersedia saya ganggu hari-harinya dengan urusan penyusunan poster.

Terimakasih pada Pak Judhi Pramono, yang berkenan memberikan surat rekomendasi yang berharga.

Cara Baru Pengembangan SIMPUS?

Sudah beberapa bulan ini saya bersama tim bergelut dengan ritme cepat dalam pengembangan fitur baru dalam SIMPUS (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas). Ini bermula dari keputusan kami untuk mulai membuat fitur bridging PCare – sebuah fitur untuk membuat SIMPUS mampu mengirim dan mengambil data dari WebService PCare milik BPJS Kesehatan – sekitar September 2015.

Sedari mula, kami sudah menyadari bahwa ini bukan proses sekali jadi. Mungkin ada penyesuaian di masa datang, baik penyesuaian fitur SIMPUS sendiri maupun penyesuaian WebService PCare (yang mengakibatkan ada penyesuaian di SIMPUS). Dengan kesadaran itu, saya merasa sepertinya baik jika kami “meminta bantuan” teman-teman di puskesmas selaku pengguna langsung SIMPUS (dan juga PCare). Yang terjadi pada akhirnya bukan interaksi searah: “teman-teman puskesmas membantu kami” tapi juga “kami membantu teman-teman puskesmas”.

Saya membuat satu grup kecil di Telegram yang berisi anggota tim inti pengembang SIMPUS dan beberapa teman-teman dari puskesmas (ada yang dokter, perawat, analis lab — yang memiliki kemampuan dan minat lebih di bidang IT). Teman-teman dari puskesmas ini memang sengaja dipilih yang kami rasa bersedia segera memberikan umpan balik kepada kami jika mereka menemukan kendala di SIMPUS, juga mereka yang bersedia “mencoba” update terbaru kami.

Komunikasi di dalam grup kecil ini berlangsung baik. Laporan kendala dan permintaan pengembangan fitur baru (terutama yang terkait dengan fitur bridging PCare) mengalir lancar. Di sisi lain, kami juga berupaya secepatnya memberikan update yang dibutuhkan untuk mengatasi kendala yang dilaporkan. Saat satu bagian fitur dianggap sudah stabil, barulah update untuk bagian tersebut didistribusikan ke puskesmas-puskesmas lain.

Saya bukan ahli konsep pengembangan software, tapi jika digambarkan secara sederhana kira-kira proses yang kami jalankan seperti ini:

Model_pengembangan_software

Sekilas, sebetulnya model pengembangan software seperti ini tidak berbeda jauh dengan yang sebelumnya kami lakukan. Perbedaannya ada pada kecepatan ritme saling berbalas pesan, berbalas antara laporan kendala dan respon berupa update software. Proses coding juga dituntut lebih cepat, demikian pula proses testing. Perbaikannya mungkin untuk hal-hal kecil, update hanya meliputi perbaikan-perbaikan kecil tersebut, tapi perkembangannya jadi terasa, terlihat.

Model pengembangan seperti ini, jika diniatkan untuk berlangsung dalam jangka panjang, tentu butuh stamina yang memadai; dari sisi kami selaku programmer, tester, dan implementator, juga dari sisi teman-teman puskesmas selaku pengguna dan penyampai umpan balik. Pada akhirnya arah pengembangan software, tidak lagi hanya bergantung pada kami selaku pengembang, tapi banyak pula dipengaruhi dari masukan-masukan dari lapangan. Ini semua dengan harapan, agar SIMPUS semakin mempermudah pekerjaan banyak teman di puskesmas.

Catatan dari Workshop SIKDA Generik dan Connectathon, 2 Desember 2011

Pada tanggal 2 Desember 2011, saya dan Mas Jojok diundang untuk menghadiri Workshop SIKDA Generik dan Connectathon yang diadakan di Novotel Mangga Dua Jakarta. Workshop dan Connectathon adalah dua acara terpisah, meski diadakan di tempat dan hari yang sama. Workshop diselenggarakan pagi hingga menjelang sore, sedangkan Connectathon diselenggarakan setelahnya hingga larut malam, dengan hanya dihadiri oleh pihak pengembang sistem informasi kesehatan (SIK) yang diundang. Mengutip Term of Reference (TOR) yang dibagikan panitia, tujuan dari kegiatan workshop ini terutama adalah sebagai ajang sosialisasi SIKDA Generik sebagai salah satu alternatif pilihan dan acuan standar SIK di Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Sedangkan connectathon direncanakan sebagai kegiatan ujicoba teknis dalam usaha mengintegrasikan data kesehatan dari berbagai sistem informasi puskesmas dengan Bank Data Nasional. Pada umumnya, connectathon diadakan dengan melibatkan tim programmer untuk memodifikasi kode program secara langsung di lokasi acara connectathon sesuai standar yang diharapkan. Kami diundang selaku salah satu pihak pengembang SIK di Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Jika saya tidak salah menghitung, dalam acara tersebut terdapat 6 pihak pengembang yang diundang.

SIKDA Generik (Sistem Informasi Kesehatan Daerah Generik) adalah sebuah SIK yang sedang dikembangkan oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Pusdatin Kemkes). SIKDA Generik dirancang untuk menjadi model SIK yang sesuai standar. Dalam waktu yang sama, sebuah format data kesehatan standar (agar sederhana, kita sebut saja sebagai dataset standar) sedang dikembangkan oleh Pusdatin, dan dataset standar inilah yang diacu oleh SIKDA Generik. Dataset standar ini direncanakan untuk menjadi acuan semua SIK yang telah ada selama ini. Keberadaan sebuah dataset standar diperlukan, karena selama ini SIK yang telah ada tidak memiliki dataset standar yang sama, dan tentu ini menimbulkan kesulitan ketika pengguna data (Kemkes misalnya) menerima data dengan berbagai format yang berbeda.

Workshop SIKDA Generik

Pada hari Jumat itu, dari pagi hingga menjelang sore acara diisi oleh paparan dari beberapa pihak yaitu: drg. Rudi Kurniawan, M.Kes. mewakili Pusdatin, Kelvin Hui dari GIZ selaku konsultan teknis yang membantu Pusdatin, Yudi Permana dari Dinkes Bekasi selaku pihak pengguna sebagai lokasi ujicoba SIKDA Generik, dr. Lutfan Lazuardi, PhD dari SIMKES UGM, dan tim pengembang SIKDA Generik. Sebagian besar (atau bahkan semua) paparan berisi daftar poin-poin dan bagan konseptual. Bahkan ketika tim pengembang SIKDA Generik memberikan paparan tentang fitur-fitur SIKDA Generik, screenshot SIKDA Generik (yang sebenarnya adalah tema utama workshop ini) tidak tampil. Setelah sedari pagi sebagian peserta menahan rasa penasaran tentang “look-and-feel” SIKDA Generik, akhirnya ada juga peserta yang meminta secara terbuka agar peserta dapat melihat tampilan dan jika memungkinkan mencoba SIKDA Generik. Tim pengembang menjelaskan bahwa sebenarnya SIKDA Generik akan ditampilkan dan dicobakan nanti pada sesi Connectathon (yang menurut rencana hanya akan dihadiri oleh para pengembang SIK yang diundang). Namun demi menjawab keinginan peserta workshop, akhirnya SIKDA Generik disediakan secara terbuka untuk diakses dan dicoba oleh para peserta. Saya sendiri belum begitu banyak mencoba, karena akses baru dibuka pada sekitar 15 – 30 menit terakhir sebelum sesi workshop diakhiri (dan kemudian dilanjutkan oleh acara Connectathon).

Dalam sesi tanya jawab yang dibuka pada acara workshop, ada beberapa pertanyaan yang diajukan, termasuk dari saya. Dari beberapa peserta yang mewakili Dinkes dari berbagai daerah (terutama yang telah mengembangkan atau menggunakan SIK non SIKDA Generik), muncul kekhawatiran adanya keharusan untuk beralih dari SIK yang selama ini telah dengan lancar digunakan ke SIKDA Generik. Pertanyaan ini dijawab tuntas oleh staf Pusdatin, bahwa itu tidak benar. SIKDA Generik disiapkan sebagai SIK alternatif, terutama bagi daerah yang selama ini tidak memiliki kemampuan dana yang memadai untuk membeli (atau apalagi mengembangkan) SIK. SIKDA Generik akan diedarkan secara gratis dan opensource (catatan: gratis dan opensource adalah dua hal yang berbeda), sehingga diharapkan ini akan mengeliminasi keperluan biaya pengadaan perangkat lunak SIK. Menurut saya pribadi, dari pengalaman selama ini, sejauh yang saya tahu, biaya harga SIK (terutama Simpus Jojok, dengan berbagai versinya) justru tidak pernah menjadi komponen biaya utama dari total biaya implementasi SIK di berbagai daerah. Komponen biaya terbesar justru terletak pada biaya pelatihan dan pendampingan sebagai upaya penyiapan manajemen dan SDM puskesmas / Dinkes pengguna. Oleh karena itu, menurut saya ketika SIK disediakan secara gratis (dalam konteks SIKDA Generik), persoalan masih ada: bagaimana dengan pembiayaan dan pelaksanaan pelatihan dan pendampingan? Belum lagi, bagaimana dengan pembiayaan pengadaan perangkat keras? Sayangnya pertanyaan ini belum sempat saya ajukan dalam acara workshop kemarin.

Pertanyaan lain yang juga diajukan oleh peserta adalah, bagaimana dengan pelatihan dan pendampingan penggunaan SIKDA Generik nantinya? Pusdatin menjawab, pelatihan dan pendampingan SIKDA Generik akan melibatkan penyedia jasa lokal. Para penyedia jasa lokal ini sebelumnya akan dilatih tentang penggunaan SIKDA Generik. Hanya memang bagaimana mekanismenya, juga seperti apa materi pelatihan para penyedia jasa lokal ini belum sempat dipaparkan secara terperinci. Saya sendiri mengajukan beberapa pertanyaan terkait dataset standar. Salah satu pertanyaan saya adalah tentang mekanisme sinkronisasi pengkodean. Di dalam rancangan dataset standar yang telah diedarkan secara terbatas di kalangan pengembang SIK, terdapat kode standar untuk berbagai variabel, misalnya kode jenis kelamin, kode obat, kode tindakan. Ada sebagian kode yang sifatnya dinamis, karena bisa diubah sesuai situasi di masing-masing daerah. Misalnya kode obat. Dengan sifatnya yang dinamis, tentu ada kemungkinan untuk terjadinya situasi kode obat yang sama digunakan untuk obat yang berbeda. Misalnya, di satu daerah, kode obat “A01” digunakan untuk obat bernama “Obat ABC”, sedangkan di daerah lain, kode obat “A01” digunakan untuk obat bernama “Obat ACD”. Ketika data dikirimkan ke Bank Data Nasional, tentu bisa terjadi kekacauan, karena yang dikirim sama-sama kode “A01”, padahal yang dimaksud adalah obat yang sepenuhnya berbeda. Bagaimana strategi sinkronisasinya? Tim pengembang menjawab, jika ditemui kejadian seperti itu, Pusdatin akan melakukan revisi dataset standar dengan menambahkan kode dan nama obat baru tersebut ke dalam dataset standar. Secara berkala, setiap puskesmas pengguna SIK (baik SIKDA Generik ataupun SIK lain) harus menyesuaikan kode-kode obat (juga kode-kode variabel lain yang direvisi) agar sesuai dengan dataset standar. Terus terang saya belum mampu membayangkan kerumitan pelaksanaannya. Kelvin Hui lalu menambahkan keterangan, bahwa revisi tidak bersifat historikal, artinya data yang sudah terlanjur ada dengan kode lama dibiarkan saja, kode baru hanya digunakan pada data yang baru saja. Ini tentunya lebih mudah dilaksanakan.

Connectathon

Terus terang, saya dan Mas Jojok berangkat tanpa memiliki bayangan akan seperti apa acara connectathon itu nantinya. Jika benar connectathon adalah acara yang bersifat sangat teknis (seperti yang saya jelaskan di atas), tentunya petunjuk dan dokumentasi teknis sudah disebarkan semenjak jauh-jauh hari, agar para peserta siap. Memang benar, petunjuk teknis telah dikirimkan sebelumnya, namun sejujurnya saya tidak begitu memahami isinya, karena isinya didominasi daftar variabel yang masuk dalam dataset standar, dan tanpa disertai satupun contoh. Melalui beberapa obrolan, saya mendapati peserta connectathon yang lain juga belum memahami petunjuk teknis yang telah dikirimkan.

Dalam pembukaan connectathon oleh Kelvin Hui, disampaikan bahwa connectathon kali ini tidak akan terlalu bersifat teknis, karena ini baru kali pertama connectathon diadakan. Connectathon ini akan didominasi oleh penjelasan konsep dataset standar dan jika memungkinkan, beberapa ujicoba sederhana. Ini sedikit melegakan beberapa peserta yang tidak membawa serta tim programmer mereka. Acara dilanjutkan dengan paparan konsep SDMX-HD dan rancangan dataset standar. Melihat kebingungan yang mungkin tampak di wajah sebagian peserta saat paparan teknis disampaikan, tim pengembang SIKDA Generik berulang kali bertanya, “apakah penjelasan teknis ini dapat diikuti?”. Saya mengajukan usul, bagaimana jika penjelasan teknis disampaikan dalam bentuk contoh, langsung saja didemokan bagaimana SIKDA Generik dioperasikan untuk mengirimkan data (dalam format yang sesuai dengan dataset standar, karena SIKDA Generik diposisikan sebagai acuan SIK lainnya terkait dengan dataset standar) ke Bank Data yang telah disiapkan. Usulan saya disambut baik oleh sebagian besar peserta dan juga tim pengembang SIKDA Generik. Server untuk menjalankan SIKDA Generik dan Bank Data disiapkan. Namun rupanya terjadi kendala teknis, sehingga server belum dapat difungsikan.

Sekian menit ditunggu-tunggu, penyebab permasalahan teknis tak kunjung ditemukan meski teman-teman itu sudah berupaya keras. Akhirnya Mas Jojok mengusulkan untuk mengisi waktu dengan perkenalan dan diskusi. Usulan ini disambut baik oleh Pak Rudi. Peserta yang hadir bergantian memperkenalkan diri. Bagi saya, terlepas dari kenyataan bahwa saya merupakan bagian dari tim Simpus Jojok, apa yang disampaikan oleh Mas Jojok dalam sesi diskusi malam itu sangat menarik dan menyentuh hati. Saya tidak yakin mampu menuliskannya secara akurat, tapi yang saya coba tulis berikut ini adalah kurang lebihnya.

Mas Jojok menyampaikan bahwa dia berangkat ke acara ini dengan membawa titipan dari beberapa teman staf Puskesmas pengguna Simpus Jojok. Mereka menyampaikan titipan harapan, agar jangan sampai Simpus yang telah mereka gunakan diubah atau diganti. Artinya ada harapan agar tidak terjadi perubahan yang berarti pada kenyamanan menggunakan SIK yang telah ada, meskipun akan diberlakukan standar nasional untuk data kesehatan. Di situ tampak jelas pentingnya komunikasi antara pembuat kebijakan dan stakeholder yang lain.

Mas Jojok juga menyampaikan bahwa dia mengawali perjalanan sebagai pengembang SIK sekitar 10 tahun yang lalu dengan kesadaran, bahwa ini adalah semacam panggilan hidup. Pengguna Simpus Jojok telah menaruh kepercayaan pada produk yang ia buat, dan dengan demikian ia mesti menjawab kepercayaan itu dengan pendampingan secara utuh. Relasi itu bukan sekedar relasi transaksi jual beli. Pengguna membeli Simpus Jojok, produk diinstall, dilatihkan, lalu selesai. Bukan seperti itu menurut Mas Jojok. Pengguna mesti selalu didampingi, terutama jika mereka mengalami kendala terkait penggunaan produk. Masalah bukan hanya mungkin datang sepanjang masa kontrak yang biasanya hanya 1 tahun setelah produk dibeli, tapi juga bisa datang dalam tahun-tahun mendatang, jauh setelah kontrak awal berakhir. Dan Mas Jojok berharap itu juga yang akan terjadi pada produk bernama SIKDA Generik. Dalam tahun-tahun sebelumnya, banyak produk hasil proyek dari instansi pusat dikirimkan dan “dipaksakan” untuk digunakan di puskesmas, hanya untuk diabaikan dan dilupakan segera setelah masa kontrak pengembang produk tersebut berakhir. (Mas Jojok menyebut beberapa contohnya, yang tidak akan saya kutip di sini.)

Mas Jojok menyadari bahwa adanya suatu standar format data secara nasional amat penting, bahkan standar semacam itu telah ia nanti-nantikan selama bertahun-tahun. Dalam momentum yang cukup baik ini (dalam konteks pengembangan SIK dan dataset standar), ia berharap komunikasi antara pengembang SIK dan Pusdatin selaku pembuat kebijakan tentang standar nasional untuk data kesehatan dapat terus berlangsung, agar pengalaman dari berbagai pengembang SIK selama bertahun-tahun dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan standar.

Satu hal lain yang sangat menarik dikemukakan di dalam diskusi oleh Mas Harmi, pengembang Sikesda (sebuah SIK yang dikembangkan oleh Sisfomedika). Di Kabupaten Sleman, terdapat 3 produk SIK yang hidup berdampingan. Ada puskesmas yang menggunakan Simpus Jojok, ada yang menggunakan Sikesda, dan ada yang menggunakan IHIS (semoga saya tidak salah menyebutkan nama produknya). Pak Haryanto dari Dinkes Sleman mengajak pengembang ketiga SIK ini untuk saling berkomunikasi, agar Dinkes Sleman tetap dapat memperoleh data dalam format seragam dari ketiga SIK tersebut. Dengan komunikasi intensif, terutama antara tim Sikesda dan Simpus Jojok, itu dapat diwujudkan. SIK yang ketiga menyusul kemudian. Format datanya tidak kompleks, hanya menggunakan text file berformat CSV (comma seperated value). Ini sebenarnya merupakan gambaran mini dari apa yang saat ini dihadapi oleh Pusdatin: ada berbagai SIK dengan fitur dan format beragam dan ada kebutuhan untuk mendapatkan data dari semua SIK dalam format seragam (agar dapat masuk dalam sebuah bank data). Seingat saya, proses teknis penambahan fitur untuk menghasilkan format data yang disepakati bersama itu hanya beberapa jam saja, tidak melebihi setengah hari. Sangat singkat! Tentu data yang dikirimkan belum semua, baru beberapa data standar saja, seperti data laporan LB 1. Tapi setidaknya, itu membuktikan bahwa hal semacam itu memungkinkan untuk dikerjakan. Mulai dengan sesuatu data dan format yang sederhana, disepakati bersama, lalu langsung dikerjakan.

Bagi saya, dalam forum itu, hal-hal yang penting telah disampaikan, terutama setidaknya dari yang saya ingat dari Mas Jojok dan Mas Harmi seperti saya tuliskan tadi. Sekarang perlu ditunggu kelanjutannya, baik dalam soal pengembangan SIKDA Generik dan dataset standar, juga dalam soal komunikasi antara Pusdatin dan para pengembang dan pengguna SIK yang telah ada. Semoga tulisan panjang ini bermanfaat.

Short course OpenMRS bersama Nyoman Winardi Ribeka

Dua hari ini, saya mengikuti short course OpenMRS yang diadakan oleh Simkes FK UGM. Acara short course dipandu oleh Nyoman Winardi Ribeka, pemuda Bali yang ramah dan bersemangat yang kini bekerja di Regenstrief Institute. Acara dibuka dengan sambutan dari Mas Anis Fuad, dan kemudian dilanjutkan dengan sesi instalasi OpenMRS. Kebetulan sejak 2 hari sebelum acara saya sudah mencoba2 sendiri menjalankan OpenMRS appliance, dan sudah berjalan baik, sehingga saya sekedar menyimak sekilas saja sesi instalasi itu.

Acara pengenalan konsep OpenMRS dimulai menjelang makan siang. Beberapa domain utama OpenMRS yaitu person, patient, user, concept, observation, encounter, dan form mulai diperkenalkan. Peserta dengan latar belakang teknis rasanya tidak terlalu mendapat kesulitan untuk mengikuti.

Menurut saya, “nyawa” OpenMRS terletak pada concept domain. Hampir semua dirumuskan, didefinisikan, dan direlasikan di situ. Malaria? Didefinisikan di concept. Berat badan? Juga didefinisikan di situ. Antibiotik? Ada juga di concept domain. Semua yang ada dalam bentuk concept, dapat direlasikan dan dapat saling dikelompokkan. Semua concept dapat digunakan dan disusun di dalam form yang kita buat, yang nantinya diisi data oleh pengguna.

Sejauh apa yang dapat saya pahami dalam dua hari ini, OpenMRS adalah sebuah platform yang menurut saya cukup fleksibel. Orang dapat mendefinisikan sendiri concept yang menurutnya perlu ditambahkan. Orang juga dapat membuat module untuk memperluas fungsionalitas OpenMRS, jika ia menguasai bahasa pemrograman Java, tentunya.

Dari apa yang saya ketahui tentang kebutuhan pengelolaan data rekam medis di sini, salah satu kebutuhan utama yang belum tercakup (setidaknya secara built-in) oleh OpenMRS adalah masalah billing. Bahkan banyak institusi medis yang cenderung lebih mendahulukan pembuatan sistem billing elektronis ketimbang sistem rekam medis elektronis. Apakah concept domain dapat menampung masalah billing ini? Saya masih perlu mencari tahu tentang itu.

Peserta short course cukup beragam, baik latar belakang ataupun asal daerah. Sangat menyenangkan dapat saling bertukar cerita dan pengalaman dengan beberapa rekan peserta (dan juga teman lama yang kebetulan bertemu lagi di situ) yang kebetulan bersilang jalan dengan saya. Pengalaman Mas Sigit dan Mas Yoga di RS Panti Rapih tentang pengembangan dan implementasi sistem informasi baru sangat menarik untuk disimak, dan memperkaya wawasan saya. Sharing Mas Agus Mutamakin dari RSCM tentang interaksi rekan2 dokter dengan teknologi canggih tak kalah menariknya. Baru kali ini saya menjumpai seorang dokter yang mampu dengan fasih berdiskusi tentang NoSQL 🙂 Kevin dari Jakarta juga berbagi cerita dengan saya tentang mengumpulkan informasi dan menimbang sistem informasi yang mampu menjawab kebutuhan Ukrida. Semuanya menarik.

Dalam beberapa kesempatan berbincang di luar forum, Win (panggilan Winardi) bercerita tentang Regenstrief Institute dan visi mereka untuk OpenMRS, sekilas kehidupan di Kenya dan implementasi OpenMRS di sana. Di sisi lain, saya juga mencoba berbagi cerita tentang tantangan implementasi Simpus di berbagai daerah. Adalah menarik bagi saya mengetahui Win sepakat dengan saya bahwa seharusnya developer mengenali betul tantangan yang ada di lapangan sana. Sebagai developer, kita bisa saja mengembangkan suatu aplikasi, dan merasa semuanya baik dan lancar saja. Padahal tantangan sesungguhnya adalah agar apa yang dengan susah payah kita kembangkan itu sungguh bermanfaat di lapangan. Di lapangan banyak sekali masalah non teknis yang harus dilihat dan dipikirkan solusinya, bukan saja melulu masalah teknis.

Saya menyambut baik rencana Mas Anis Fuad untuk mencoba membangun komunitas OpenMRS di sini, dengan harapan semakin banyak orang yang paham dan mendapat manfaat darinya, baik langsung ataupun tidak langsung.

Demikian cerita singkat saya, semoga bermanfaat.

Categories: IT, OpenMRS, simpus Tags: , , ,

Mengantar Mas Didieb melihat implementasi Simpus

Dari pagi hingga siang kemarin, saya pergi ke Puskesmas Salam, kantor Dinas Kesehatan Kab. Magelang, dan Puskesmas Magelang Selatan bersama Mas Jojok, Uun, Mas Didieb Ajibaskoro, dan Ruth.

Ini semua berawal dari perkenalan yang berlanjut dengan komunikasi via email beberapa bulan yang lalu dengan Mas Didieb. Beliau kebetulan diundang untuk hadir dalam sebuah acara dengan subtopik mengenai software healthcare di Hanoi. Sebagai bekal untuk hadir di sana, beliau ingin mendapatkan informasi mengenai Simpus. Saya mewakili tim Simpus mengundangnya datang ke Yogya untuk kami antar melihat beberapa puskesmas pengguna Simpus di daerah dekat Yogya.

Perjalanan kami awali dengan menuju ke Puskesmas Salam. Kehadiran kami disambut meriah oleh beberapa staf puskesmas, yang sudah membawa beberapa masukan dan saran untuk perbaikan Simpus. Beberapa masalah kecil yang dapat ditangani langsung saya tangani di tempat, sementara perbaikan yang lebih berat saya bawa pulang untuk PR. Mas Didieb merasa tertarik dengan antusiasme staf puskesmas terhadap Simpus. Ini karena saat berangkat, Mas Didieb menyangka akan mendapati staf puskesmas yang duduk pasif di depan komputer, menanti instruksi dari tim Simpus untuk mencoba ini dan itu. Setelah masalah yang sudah teratasi disampaikan ke staf puskesmas, perjalanan kami lanjutkan ke kantor Dinas Kesehatan Kab. Magelang.

Tidak begitu banyak kegiatan yang kami lakukan di sana, tapi Mas Didieb dan Ruth sempat mencoba membantu kami mengatasi masalah pada Simkes yang terinstall di sana. Belum berhasil, tapi ada hal yang mereka temukan yang mungkin dapat membantu saya mencari penyebab masalahnya. Sempat berbincang sejenak dengan Pak Dwi, perjalanan segera kami lanjutkan ke Puskesmas Magelang Selatan.

Di Puskesmas Magelang Selatan, saya melakukan update Simpus, sementara Mas Didieb dan Ruth berbincang dengan Pak Deddy. Mas Didieb bertanya pada Pak Deddy, seberapa jauh manfaat keberadaan Simpus untuk pasien yang berkunjung ke puskesmas. Pak Deddy menjelaskan, bahwa efek langsungnya susah dilihat. Ya tentu saja data yang akurat, alur data yang lebih cepat dari bagian ke bagian, menunjang baiknya pelayanan untuk pasien, tapi tidak terlihat langsung. Saya menambahkan bahwa jika sistem informasinya baik, efek langsungnya ke pasien tidak akan banyak terasa, tapi jika sistem informasinya buruk, efek (buruk) langsungnya ke pasien akan langsung terasa (pelayanan jadi jauh lebih lama, data sering salah, dll). Pak Deddy menjelaskan bahwa manfaat keberadaan Simpus lebih terasa bagi staf puskesmas yang tiap bulan harus menyusun laporan ke Dinas Kesehatan. Penyusunan laporan dapat dilakukan seketika, tidak lagi perlu banyak waktu. Hal baik lain bagi staf puskesmas adalah, proses input data selesai bersamaan dengan selesainya proses pelayanan pasien. Tidak ada lagi pekerjaan tambahan yang perlu dilakukan selepas usainya pelayanan pasien.

Selepas berbincang dengan Pak Deddy, sebelum pulang, kami menyempatkan diri foto bersama di depan Puskesmas Magelang Selatan 🙂

Mas Jojok, saya, Mas Didieb di depan Puskesmas Magelang Selatan

Mas Jojok, saya, Mas Didieb di depan Puskesmas Magelang Selatan

Harapan kami, pengalaman yang kami berikan buat Mas Didieb ini bermanfaat sebagai bekal kehadirannya ada acara di Hanoi.

Categories: simpus Tags: , ,

Mendayagunakan sebuah server yang setahun lebih menganggur

Hari ini, bersama Mas Jojok, saya mengunjungi kantor Dinas Kesehatan di sebuah kabupaten. Kunjungan kami bertujuan untuk mencoba mendayagunakan sebuah server milik Dinas Kesehatan Kabupaten tersebut, yang telah menganggur selama lebih dari satu tahun.

Lebih dari setahun? Menganggur?

Ya, demikianlah kenyataannya. Saya tidak begitu paham detil cerita awal proyeknya, tapi secara garis besar, server tersebut disediakan bersamaan dengan dibangunnya beberapa puluh tower yang tersebar di tiap puskesmas pada kabupaten tersebut. Jaringan besar (dan mahal, sepertinya) tersebut dibangun, dengan harapan akan ada data kesehatan yang akan mengalir melaluinya. Entah mengapa aliran data kesehatan tersebut tak kunjung dilewatkan jaringan yang sudah siap. Belakangan malah jaringan tersebut (hanya) digunakan untuk mengakses internet. Mengakses internet untuk keperluan apa, saya sendiri tidak begitu paham.

Itu sekelumit latar belakang ceritanya. Sekarang soal petualangan kami hari ini.

Kami datang ke sana untuk menginstall Simkes (Sistem Informasi Manajemen Kesehatan – aggregator data Simpus, yang memang dirancang untuk diletakkan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota) di server yang lama menganggur tersebut. Server diletakkan dalam sebuah rak yang dilengkapi pendingin. Wow! Saya belum pernah melihat yang seperti ini, apalagi di sebuah kantor Dinas Kesehatan. Di dalam rak yang sama, selain server, terdapat pula mesin router Mikrotik (yang digunakan untuk mengatur jalur ke dunia luar, ke internet), perangkat UPS, dan sebuah monitor LCD. Ternyata monitor LCD itu tidak terhubung ke perangkat apapun, tergeletak menganggur di situ selama ini. Dengan bercanda, saya sempat berkomentar bahwa saya bersedia menampung monitor itu bila tidak digunakan di situ :)

Kami disodori secarik kertas berisi diagram jaringan yang telah digelar. Tapi di situ tidak dijelaskan IP servernya, juga tidak tersedia cara mengaksesnya, termasuk spesifikasi instalasinya juga. Dari traceroute terlihat bahwa akses internet tidak melalui si server, karena dari komputer client dalam jaringan, koneksi langsung menuju Mikrotik, dan setelah itu langsung menuju internet. Tidak mampir ke mana2 lagi dalam jaringan itu. Petugas dinkes mencoba menghubungkan kami dengan vendor yang dulu melakukan instalasi dan setting jaringan. Setelah melalui beberapa kali “ping pong” dan waktu tunggu lebih dari satu jam kemudian, akhirnya kami mendapat informasi IP server, OS server, user dan password yang dapat digunakan untuk mengaksesnya.

OS yang digunakan pada server adalah CentOS, OS yang asing buat saya. CentOS dijalankan secara virtual. Entah mengapa dibuat demikian, saya tidak tahu. Apache, MySQL, dan PHP telah terinstall. Tapi yang aneh, package PHP-MySQL belum terinstall. Dari beberapa referensi di internet, saya mendapati bahwa itu adalah salah satu keanehan CentOS. Package PHP-MySQL dengan mudah terinstall. Tak berapa lama kemudian, Simkes juga selesai terinstall. Simkes telah siap menerima kiriman data dari puskesmas.

Pertanyaan yang tersisa buat saya tetaplah: mengapa bisa terjadi yang seperti ini? Server menganggur. Jaringan menganggur, baru belakangan digunakan, itupun hanya untuk mengakses internet (yang sebetulnya cukup menggunakan modem usb yang belakangan ini makin murah, tidak perlu menggelar sekian puluh tower). Saya tidak tahu. Tapi bahwa kami (saya dan Mas Jojok) mendapat kesempatan untuk membantu mereka mendayagunakan server dan jaringan tersebut, adalah hal yang menggembirakan kami 🙂

Categories: pekerjaan, simpus Tags: , ,

Memandu perbaikan database Simpus secara remote, dengan operator awam

Minggu lalu, terjadi masalah kegagalan proses restore data di salah satu puskesmas di kota Magelang. Puskesmas tersebut, Puskesmas Magelang Tengah, menggunakan Simpus Web. Akibat dari kegagalan proses restore data ini, data yang ada di dalam database tidak lagi utuh. Ada sebagian data yang tidak lengkap. Tentu saja karena kondisi ini Simpus Web tidak dapat berjalan sempurna. Penyebab kegagalan proses restore sudah diidentifikasi dan sudah dibuatkan patch perbaikannya.

Mengapa sampai terjadi masalah kegagalan restore adalah topik menarik, dan mungkin akan saya bahas pada posting lain. Yang ingin saya ceritakan saat ini adalah bagaimana saya secara remote via telepon memandu dr. Majid (Kapus Puskesmas Magelang Tengah) untuk memulihkan database yang rusak tersebut.

Pak Majid adalah pengguna komputer yang cukup cakap. Operasional dasar komputer dan aplikasinya, termasuk Simpus Web, beliau kuasai. Tapi untuk mengakses server, masuk ke database, menghapus dan memuat ulang data backup yang tersedia, beliau belum berpengalaman sama sekali. Saat terjadi masalah tersebut, saya belum dapat datang ke lokasi untuk membenahinya secara langsung. Saya bersedia memandu proses tersebut, dan kebetulan Pak Majid (setelah dibujuk2 sedikit, hehehe) bersedia juga saya pandu.

Yang perlu dilakukan sebetulnya relatif sederhana, bagi mereka yang paham tentunya, yaitu memeriksa backup mana yang terbaru, menghapus database yang rusak, memuat data backup yang terlengkap dan terbaru, dan mengubah beberapa kode PHP untuk menanggulangi masalah serupa di kemudian hari. Aplikasi bantu yang digunakan adalah, WinSCP, PuTTY, dan phpMyAdmin.

WinSCP & PuTTY

WinSCP & PuTTY

Bermodalkan program telepon murah dari salah satu penyedia jasa telepon seluler, saya memandu Pak Majid via handphone. Oh ya, penting untuk diketahui pula bahwa Simpus Web diinstall di server Ubuntu, Pak Majid mengaksesnya dari komputer dengan Windows XP. Pertama-tama, Pak Majid saya minta untuk masuk ke server dengan menggunakan PuTTY. Untungnya saya mengingat user dan password yang dapat digunakan. Pak Majid berhasil masuk ke server, kemudian saya minta masuk ke folder tempat data backup disimpan. Perintah yang perlu diketikkan oleh Pak Majid saya diktekan satu per satu, bila perlu huruf per huruf. Saya hanya membayangkan saja apa yang tampil di layar komputer Pak Majid. Yang perlu kami ketahui pertama kali adalah, yang mana file backup yang terbaru. Dengan mengetikkan perintah “ls“, akan tampil daftar file yang ada. Ketika saya minta Pak Majid mencari data tanggal file, Pak Majid bingung. Pikir punya pikir, saya meralat perintahnya menjadi “ls -al”, agar data tanggal file muncul. File backup terbarunya ketemu!

Langkah selanjutnya adalah menghapus database yang ada dengan bantuan phpMyAdmin (selanjutnya saya sebut PMA, biar singkat). PMA sudah terinstall, dan Pak Majid saya pandu mengaksesnya dengan browser. Ternyata user dan password yang saya ingat salah. Wah gawat, pikir saya, bagaimana cara mendapatkan user dan password yang benar? Akhirnya saya teringat bahwa di salah satu file konfigurasi aplikasi Simpus Web terdapat data itu. Pak Majid saya minta menggunakan WinSCP (diawali dengan mengatur setting untuk dapat masuk ke server) untuk melihat salah satu isi file konfigurasi Simpus Web. Data user dan passwordnya ketemu! Dengan data tersebut, masuklah Pak Majid ke PMA, untuk dapat memilih database yang rusak dan menghapusnya. Layar tampilan PMA cukup simpel, tidak susah memandu Pak Majid untuk mengeksekusi langkah ini.

Untuk memuat data backup yang tadi telah diidentifikasi, Pak Majid kembali saya minta masuk ke server dengan PuTTY. Dengan perintah “mysql -u blablabla…” Pak Majid tinggal mengisikan password untuk mengeksekusi proses restore data secara manual ini. Sempat terjadi kebingungan ketika Pak Majid berusaha memasukkan password, tapi tidak menjumpai indikator apapun di layar yang menunjukkan bahwa password telah dimasukkan. Saya lupa memberitahu Pak Majid bahwa ketika password dimasukkan, memang tidak akan muncul indikator apapun. Kebingungan segera teratasi, data backup termuat.

Saat memandu Pak Majid untuk mengubah kode PHP, saya harus memastikan bahwa kode ditulis secara benar, dan ditulis pada tempat yang benar. Untuk memastikannya, saya minta Pak Majid untuk membacakan kode beberapa baris di atas dan beberapa baris di bawah tempat kode PHP tambahan ditempatkan. Sedikit repot, tapi cukup aman.

Akhirnya, setelah beberapa sesi panduan, Simpus Web dapat digunakan lagi untuk sementara. Setidaknya, input data dapat dilakukan dengan aman. Beberapa masalah yang masih tersisa, terkait dengan masalah restore data yang gagal, saya benahi beberapa hari kemudian saat saya pergi ke Magelang. Saat ini semuanya sudah berfungsi normal seperti sediakala.

Dari pengalaman ini, saya mendapatkan beberapa hal yang menarik:

  1. Dengan ketekunan, kekompakan, dan ketelitian, panduan secara remote mungkin dilakukan, termasuk dengan operator yang awam teknis, tapi cukup cakap mengoperasikan komputer.
  2. Pemandu harus dapat membayangkan secara utuh apa yang sedang dihadapi, baik dengan pengalaman sebelumnya yang ia miliki, juga dilengkapi dengan informasi yang detil dari operator.
  3. Ketersediaan akses internet pada kedua pihak amat membantu. Pada pengalaman kemarin, Pak Majid hanya memiliki akses internet di rumah, dan tidak di Puskesmas.
  4. Program telepon murah amat membantu 🙂

Buat Pak Majid, saya mengucapkan terimakasih untuk kesediaannya saya pandu 🙂 Jangan kapok ya Pak.

Menginstall Pidgin di Ubuntu 9.10… (tanpa koneksi internet)

Topik seperti ini kok dibahas? Bukannya tinggal buka Synaptic Package Manager, centang Pidgin (kalau belum ada di daftarnya, update dulu list package-nya), terus klik Apply? Betul, 100% gampang……. jika Anda punya koneksi internet di Ubuntu yang mau diinstalli Pidgin.

Ini malah lebih aneh lagi, sudah tidak punya koneksi internet, mau install Pidgin buat apa? Buat gaya2an aja?

(Orang sabar disayang Tuhan..)

Jadi ceritanya begini. Puskesmas2 sekota Magelang menggunakan Simpus Web, belakangan ini mereka menambah komputer2 baru, dengan sistem operasi Ubuntu 9.10. Sebelumnya, saat semua komputer di sana menggunakan Windows XP, mereka menggunakan Yak sebagai alat bantu komunikasi antar ruang. Karena Yak hanya dapat diinstall di Windows XP, saya sebagai salah satu pihak pengompor penggunaan Ubuntu harus ikut bertanggung jawab mencarikan pengganti Yak.

Sebentar… Jadi hubungannya dengan Simpus Web apa yah?

Mmmmm… Nggak ada ya?

Itu tadi niatnya numpang ngiklan aja sih… (ngaku) 🙂

Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya mendapat informasi bahwa Pidgin dapat digunakan untuk komunikasi antar komputer dalam LAN. Segera setelah mendapat kabar itu, saya dengan gembira menuju ke situs resmi Pidgin, langsung ke bagian download untuk mencari paket installasi untuk Ubuntu. Eng ing eng.. Ternyata yang ada cuma petunjuk untuk menambahkan Pidgin dalam daftar paket Ubuntu, untuk kemudian didownload dan diinstall lewat package manager. Atau, bisa juga install dengan mengompile source code Pidgin.

Awalnya, saya ambil pilihan untuk mencoba compile dulu saja. Source Pidgin diperoleh. Kemudian.. masalah berikutnya mulai muncul. Untuk bisa mengompile Pidgin, banyak sekali dependensinya. Sampai tingkatan cucu saya coba cari dependensinya (maksudnya dependensi level ke 3), tidak habis2. Selalu saja ada paket instalasi yang butuh paket lain. Dan, paket2 dependensi ini saya download di komputer lain, karena saya cuma punya modem ZTE AC2726 nya Smart. Beda dengan modem Huaweinya Telkomflash, modem ZTE ini tidak langsung dikenali oleh Ubuntu. Jadi, saya download paket dependensi yang dibutuhkan Pidgin di komputer lain (dengan Windows XP), lalu dikopi ke Ubuntu, baru dicoba diinstall, kalo masih butuh lagi, cari lagi di komputer Windows XP. Total hingga saat saya menyerah dengan cara ini, saya sudah mengumpulkan lebih dari 30 paket instalasi.

Saya putuskan mencari cara agar si Ubuntu bisa pakai modem ZTE. Jadi, saya harus cari cara install modem ZTE dulu di Ubuntu. Ternyata, di internet bertebaran informasi soal ini, yang saya acu yang ini. Semua saya ikuti dengan lancar, sampai pada langkah “.. lalu jalankan usb_modeswitch ..”. usb_modeswitch sudah dijalankan, tapi tidak ada perubahan. Macet. Stress.

Dikutak kutik, dikutak kutik.. Ternyata jalan, dengan tambahan sudo: “sudo usb_modeswitch”. Sama juga dengan langkah terakhir, yang di acuan itu dituliskan “untuk konek ke internet jalankan perintah wvdial pada terminal..”, juga minta pake sudo. Mungkin user yang saya pakai tidak memiliki otoritas yang cukup untuk menjalankan kedua perintah itu.

Akhirnya, bisa juga internetan dengan ZTE AC2726 di Ubuntu 9.10. Singkat kata, paket instalasi Pidgin muncul di daftarnya Synaptic. Centang, dan jalankan. Pidgin terinstall.

Tapi tunggu..

Di sana ada beberapa komputer Ubuntu yang lain. Konyol rasanya kalau setiap kali mau install harus setting modem dulu.

Pikir punya pikir, tadi waktu muncul di Synaptic, yang dicentang adalah paket “pidgin” dan “pidgin-data”, kenapa tidak mencoba download langsung kedua paket itu, untuk kemudian langsung diinstall di komputer Ubuntu yang lain? Didownloadlah kedua paket itu, di sini dan di sini.

Dan ternyata, bisa!!

ubuntu-pidgin

Setelah menjalani banyak ketersesatan, akhirnya saya mendapati jalan yang lurus dan terang (halah!). Cukup download 2 paket itu, lalu install. Selesai.

Lalu bagaimana dengan cara setting Pidgin agar bisa dipakai untuk chat dalam LAN? Soal ini sudah banyak dibahas di internet. Bisa langsung dicari pakai google.

Categories: IT, pekerjaan Tags: , , , ,

Simpus, diakses dengan Puppy Linux

Hari ini, saya dan Roy pergi ke Puskesmas Magelang Selatan dengan dua tujuan: mengupdate Simpus dan mencoba menginstall Linux untuk PC klien. Ubuntu 9.10 Karmic Koala (beta) yang selama ini terinstall tidak dapat memberikan tampilan lebih dari 800×600. Berbagai upaya utak atik sudah dilakukan, tapi tidak memberikan hasil. Demi menghindari frustasinya para staf puskesmas (karena 34 PC baru diserahkan dengan Ubuntu KK beta, dengan kendala tampilan yang seragam, seperti saya jelaskan tadi), saya mencoba memberikan solusi mudah dan ringan. Saya membawa Puppy Linux 4.2.1, Nusantara IGOS, dan DSL, untuk dicoba pada PC yang ada. Saya juga membawa Sabayon release lawas, sekedar untuk dicoba juga.

Instalasi dilakukan pada PC Acer (tidak mencatat serinya), dengan monitor LCD Acer X163W, yang kebetulan memiliki resolusi maksimal dengan angka yang agak ganjil: 1366×768. Pertama kali mencoba Puppy Linux (selanjutnya saya singkat PL) yang sudah saya siapkan di flashdisk bootable saya. PL berjalan lancar, resolusi yang digunakan 1280×1024, tampilan agak tidak proporsional, tapi semua fungsi berjalan. Ethernet card dikenali. Tampilan Simpus baik, secara sekilas, fungsi2 Simpus berjalan, termasuk peta persebaran penyakit dan laporan2 grafis.

Selanjutnya, sekalian mencoba pikir saya, saya mencoba booting dengan CD Sabayon dan CD Nusantara. Dengan Sabayon, tidak bisa masuk mode grafis (runlevel 5), entah mengapa. Tidak ada waktu untuk menyelidiki lebih jauh (dan itu bukan tujuan saya ke Magelang hari ini), saya segera tinggalkan dan melanjutkan menjajal Nusantara. CD Nusantara yang saya punya tidak memiliki mode LiveCD, jadi harus menginstall dulu. Baiklah, saya ikuti proses instalasi. Selesai instalasi, ternyata Nusantara juga tidak dapat memberikan tampilan apapun saat masuk mode grafis. Saya memutuskan langsung kembali ke PL saja.

PL yang ada di flashdisk saya install ke harddisk. PC yang ada memiliki kapasitas harddisk yang besar, bahkan berlebihan menurut saya (300GB), mengingat fungsi utamanya hanya untuk mengakses aplikasi berbasis web. Bahkan seandainya tanpa disertai harddiskpun tidak apa2, bisa langsung booting dengan flashdisk. Flashdisk berukuran 128MB juga sudah memadai, seperti yang saya gunakan tadi. Instalasi berjalan relatif lancar. Sedikit coba2 saat instalasi GRUB, tapi secara umum tidak ada hambatan. Setting jaringan juga mudah dan cepat. Berikut beberapa contoh tampilan Simpus dengan menggunakan browser SeaMonkey (browser ini memakai engine Mozilla):

Grafik Kunjungan per Diagnosis

Grafik Kunjungan per Diagnosis

Form Isian Rekam Medis

Form Isian Rekam Medis

Peta Persebaran Penyakit

Peta Persebaran Penyakit

Setelah 1 PC terinstall dengan baik, hal berikutnya yang perlu saya lakukan adalah memberikan pelatihan singkat cara instalasi PL pada Pak Deddy, staf Puskesmas Magelang Selatan, yang bantuan dan dukungannya untuk Simpus sudah tidak perlu dipertanyakan lagi (makasih Pak!). Langkah2 yang tadi telah saya lakukan dicatat oleh Pak Deddy. Master PL saya serahkan juga. Semoga langkah2 tadi cukup jelas, dan bisa diajarkan juga pada rekan2 dari puskesmas2 Magelang yang lain.

Catatan kecil seputar GCOS (Global Conference on Open Source), 26-27 Oktober 2009 (bag 3)

Pada hari kedua GCOS, saya dan Mas Jojok hadir pada Workshop 141, yang memasang tema “FOSS for Health”. Mas Jojok mendapat bagian untuk ikut berbicara pada sesi kedua, dimana ia diminta untuk menceritakan pengalamannya berkeliling dan mengimplementasikan Simpus ke banyak puskesmas. Dari pengamatan saya, pembicara yang ada sebagian berasal dari kalangan akademis, hanya ada satu yang berasal dari kalangan birokrat (Pak Untung dari Pusdatin Depkes), dan satu yang lain lagi dari kalangan freelancer, Mas Jojok sendiri. Oh ya, terlewat satu, ada Mas Yudhi Yuswaldi yang datang dari RS Pertamina Jaya, yang telah mengimplementasikan sebuah HIS di sana.

Read more…