Archive

Posts Tagged ‘magelang’

Mengantar Mas Didieb melihat implementasi Simpus

Dari pagi hingga siang kemarin, saya pergi ke Puskesmas Salam, kantor Dinas Kesehatan Kab. Magelang, dan Puskesmas Magelang Selatan bersama Mas Jojok, Uun, Mas Didieb Ajibaskoro, dan Ruth.

Ini semua berawal dari perkenalan yang berlanjut dengan komunikasi via email beberapa bulan yang lalu dengan Mas Didieb. Beliau kebetulan diundang untuk hadir dalam sebuah acara dengan subtopik mengenai software healthcare di Hanoi. Sebagai bekal untuk hadir di sana, beliau ingin mendapatkan informasi mengenai Simpus. Saya mewakili tim Simpus mengundangnya datang ke Yogya untuk kami antar melihat beberapa puskesmas pengguna Simpus di daerah dekat Yogya.

Perjalanan kami awali dengan menuju ke Puskesmas Salam. Kehadiran kami disambut meriah oleh beberapa staf puskesmas, yang sudah membawa beberapa masukan dan saran untuk perbaikan Simpus. Beberapa masalah kecil yang dapat ditangani langsung saya tangani di tempat, sementara perbaikan yang lebih berat saya bawa pulang untuk PR. Mas Didieb merasa tertarik dengan antusiasme staf puskesmas terhadap Simpus. Ini karena saat berangkat, Mas Didieb menyangka akan mendapati staf puskesmas yang duduk pasif di depan komputer, menanti instruksi dari tim Simpus untuk mencoba ini dan itu. Setelah masalah yang sudah teratasi disampaikan ke staf puskesmas, perjalanan kami lanjutkan ke kantor Dinas Kesehatan Kab. Magelang.

Tidak begitu banyak kegiatan yang kami lakukan di sana, tapi Mas Didieb dan Ruth sempat mencoba membantu kami mengatasi masalah pada Simkes yang terinstall di sana. Belum berhasil, tapi ada hal yang mereka temukan yang mungkin dapat membantu saya mencari penyebab masalahnya. Sempat berbincang sejenak dengan Pak Dwi, perjalanan segera kami lanjutkan ke Puskesmas Magelang Selatan.

Di Puskesmas Magelang Selatan, saya melakukan update Simpus, sementara Mas Didieb dan Ruth berbincang dengan Pak Deddy. Mas Didieb bertanya pada Pak Deddy, seberapa jauh manfaat keberadaan Simpus untuk pasien yang berkunjung ke puskesmas. Pak Deddy menjelaskan, bahwa efek langsungnya susah dilihat. Ya tentu saja data yang akurat, alur data yang lebih cepat dari bagian ke bagian, menunjang baiknya pelayanan untuk pasien, tapi tidak terlihat langsung. Saya menambahkan bahwa jika sistem informasinya baik, efek langsungnya ke pasien tidak akan banyak terasa, tapi jika sistem informasinya buruk, efek (buruk) langsungnya ke pasien akan langsung terasa (pelayanan jadi jauh lebih lama, data sering salah, dll). Pak Deddy menjelaskan bahwa manfaat keberadaan Simpus lebih terasa bagi staf puskesmas yang tiap bulan harus menyusun laporan ke Dinas Kesehatan. Penyusunan laporan dapat dilakukan seketika, tidak lagi perlu banyak waktu. Hal baik lain bagi staf puskesmas adalah, proses input data selesai bersamaan dengan selesainya proses pelayanan pasien. Tidak ada lagi pekerjaan tambahan yang perlu dilakukan selepas usainya pelayanan pasien.

Selepas berbincang dengan Pak Deddy, sebelum pulang, kami menyempatkan diri foto bersama di depan Puskesmas Magelang Selatan 🙂

Mas Jojok, saya, Mas Didieb di depan Puskesmas Magelang Selatan

Mas Jojok, saya, Mas Didieb di depan Puskesmas Magelang Selatan

Harapan kami, pengalaman yang kami berikan buat Mas Didieb ini bermanfaat sebagai bekal kehadirannya ada acara di Hanoi.

Categories: simpus Tags: , ,

Memandu perbaikan database Simpus secara remote, dengan operator awam

Minggu lalu, terjadi masalah kegagalan proses restore data di salah satu puskesmas di kota Magelang. Puskesmas tersebut, Puskesmas Magelang Tengah, menggunakan Simpus Web. Akibat dari kegagalan proses restore data ini, data yang ada di dalam database tidak lagi utuh. Ada sebagian data yang tidak lengkap. Tentu saja karena kondisi ini Simpus Web tidak dapat berjalan sempurna. Penyebab kegagalan proses restore sudah diidentifikasi dan sudah dibuatkan patch perbaikannya.

Mengapa sampai terjadi masalah kegagalan restore adalah topik menarik, dan mungkin akan saya bahas pada posting lain. Yang ingin saya ceritakan saat ini adalah bagaimana saya secara remote via telepon memandu dr. Majid (Kapus Puskesmas Magelang Tengah) untuk memulihkan database yang rusak tersebut.

Pak Majid adalah pengguna komputer yang cukup cakap. Operasional dasar komputer dan aplikasinya, termasuk Simpus Web, beliau kuasai. Tapi untuk mengakses server, masuk ke database, menghapus dan memuat ulang data backup yang tersedia, beliau belum berpengalaman sama sekali. Saat terjadi masalah tersebut, saya belum dapat datang ke lokasi untuk membenahinya secara langsung. Saya bersedia memandu proses tersebut, dan kebetulan Pak Majid (setelah dibujuk2 sedikit, hehehe) bersedia juga saya pandu.

Yang perlu dilakukan sebetulnya relatif sederhana, bagi mereka yang paham tentunya, yaitu memeriksa backup mana yang terbaru, menghapus database yang rusak, memuat data backup yang terlengkap dan terbaru, dan mengubah beberapa kode PHP untuk menanggulangi masalah serupa di kemudian hari. Aplikasi bantu yang digunakan adalah, WinSCP, PuTTY, dan phpMyAdmin.

WinSCP & PuTTY

WinSCP & PuTTY

Bermodalkan program telepon murah dari salah satu penyedia jasa telepon seluler, saya memandu Pak Majid via handphone. Oh ya, penting untuk diketahui pula bahwa Simpus Web diinstall di server Ubuntu, Pak Majid mengaksesnya dari komputer dengan Windows XP. Pertama-tama, Pak Majid saya minta untuk masuk ke server dengan menggunakan PuTTY. Untungnya saya mengingat user dan password yang dapat digunakan. Pak Majid berhasil masuk ke server, kemudian saya minta masuk ke folder tempat data backup disimpan. Perintah yang perlu diketikkan oleh Pak Majid saya diktekan satu per satu, bila perlu huruf per huruf. Saya hanya membayangkan saja apa yang tampil di layar komputer Pak Majid. Yang perlu kami ketahui pertama kali adalah, yang mana file backup yang terbaru. Dengan mengetikkan perintah “ls“, akan tampil daftar file yang ada. Ketika saya minta Pak Majid mencari data tanggal file, Pak Majid bingung. Pikir punya pikir, saya meralat perintahnya menjadi “ls -al”, agar data tanggal file muncul. File backup terbarunya ketemu!

Langkah selanjutnya adalah menghapus database yang ada dengan bantuan phpMyAdmin (selanjutnya saya sebut PMA, biar singkat). PMA sudah terinstall, dan Pak Majid saya pandu mengaksesnya dengan browser. Ternyata user dan password yang saya ingat salah. Wah gawat, pikir saya, bagaimana cara mendapatkan user dan password yang benar? Akhirnya saya teringat bahwa di salah satu file konfigurasi aplikasi Simpus Web terdapat data itu. Pak Majid saya minta menggunakan WinSCP (diawali dengan mengatur setting untuk dapat masuk ke server) untuk melihat salah satu isi file konfigurasi Simpus Web. Data user dan passwordnya ketemu! Dengan data tersebut, masuklah Pak Majid ke PMA, untuk dapat memilih database yang rusak dan menghapusnya. Layar tampilan PMA cukup simpel, tidak susah memandu Pak Majid untuk mengeksekusi langkah ini.

Untuk memuat data backup yang tadi telah diidentifikasi, Pak Majid kembali saya minta masuk ke server dengan PuTTY. Dengan perintah “mysql -u blablabla…” Pak Majid tinggal mengisikan password untuk mengeksekusi proses restore data secara manual ini. Sempat terjadi kebingungan ketika Pak Majid berusaha memasukkan password, tapi tidak menjumpai indikator apapun di layar yang menunjukkan bahwa password telah dimasukkan. Saya lupa memberitahu Pak Majid bahwa ketika password dimasukkan, memang tidak akan muncul indikator apapun. Kebingungan segera teratasi, data backup termuat.

Saat memandu Pak Majid untuk mengubah kode PHP, saya harus memastikan bahwa kode ditulis secara benar, dan ditulis pada tempat yang benar. Untuk memastikannya, saya minta Pak Majid untuk membacakan kode beberapa baris di atas dan beberapa baris di bawah tempat kode PHP tambahan ditempatkan. Sedikit repot, tapi cukup aman.

Akhirnya, setelah beberapa sesi panduan, Simpus Web dapat digunakan lagi untuk sementara. Setidaknya, input data dapat dilakukan dengan aman. Beberapa masalah yang masih tersisa, terkait dengan masalah restore data yang gagal, saya benahi beberapa hari kemudian saat saya pergi ke Magelang. Saat ini semuanya sudah berfungsi normal seperti sediakala.

Dari pengalaman ini, saya mendapatkan beberapa hal yang menarik:

  1. Dengan ketekunan, kekompakan, dan ketelitian, panduan secara remote mungkin dilakukan, termasuk dengan operator yang awam teknis, tapi cukup cakap mengoperasikan komputer.
  2. Pemandu harus dapat membayangkan secara utuh apa yang sedang dihadapi, baik dengan pengalaman sebelumnya yang ia miliki, juga dilengkapi dengan informasi yang detil dari operator.
  3. Ketersediaan akses internet pada kedua pihak amat membantu. Pada pengalaman kemarin, Pak Majid hanya memiliki akses internet di rumah, dan tidak di Puskesmas.
  4. Program telepon murah amat membantu 🙂

Buat Pak Majid, saya mengucapkan terimakasih untuk kesediaannya saya pandu 🙂 Jangan kapok ya Pak.

Menginstall Pidgin di Ubuntu 9.10… (tanpa koneksi internet)

Topik seperti ini kok dibahas? Bukannya tinggal buka Synaptic Package Manager, centang Pidgin (kalau belum ada di daftarnya, update dulu list package-nya), terus klik Apply? Betul, 100% gampang……. jika Anda punya koneksi internet di Ubuntu yang mau diinstalli Pidgin.

Ini malah lebih aneh lagi, sudah tidak punya koneksi internet, mau install Pidgin buat apa? Buat gaya2an aja?

(Orang sabar disayang Tuhan..)

Jadi ceritanya begini. Puskesmas2 sekota Magelang menggunakan Simpus Web, belakangan ini mereka menambah komputer2 baru, dengan sistem operasi Ubuntu 9.10. Sebelumnya, saat semua komputer di sana menggunakan Windows XP, mereka menggunakan Yak sebagai alat bantu komunikasi antar ruang. Karena Yak hanya dapat diinstall di Windows XP, saya sebagai salah satu pihak pengompor penggunaan Ubuntu harus ikut bertanggung jawab mencarikan pengganti Yak.

Sebentar… Jadi hubungannya dengan Simpus Web apa yah?

Mmmmm… Nggak ada ya?

Itu tadi niatnya numpang ngiklan aja sih… (ngaku) 🙂

Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya mendapat informasi bahwa Pidgin dapat digunakan untuk komunikasi antar komputer dalam LAN. Segera setelah mendapat kabar itu, saya dengan gembira menuju ke situs resmi Pidgin, langsung ke bagian download untuk mencari paket installasi untuk Ubuntu. Eng ing eng.. Ternyata yang ada cuma petunjuk untuk menambahkan Pidgin dalam daftar paket Ubuntu, untuk kemudian didownload dan diinstall lewat package manager. Atau, bisa juga install dengan mengompile source code Pidgin.

Awalnya, saya ambil pilihan untuk mencoba compile dulu saja. Source Pidgin diperoleh. Kemudian.. masalah berikutnya mulai muncul. Untuk bisa mengompile Pidgin, banyak sekali dependensinya. Sampai tingkatan cucu saya coba cari dependensinya (maksudnya dependensi level ke 3), tidak habis2. Selalu saja ada paket instalasi yang butuh paket lain. Dan, paket2 dependensi ini saya download di komputer lain, karena saya cuma punya modem ZTE AC2726 nya Smart. Beda dengan modem Huaweinya Telkomflash, modem ZTE ini tidak langsung dikenali oleh Ubuntu. Jadi, saya download paket dependensi yang dibutuhkan Pidgin di komputer lain (dengan Windows XP), lalu dikopi ke Ubuntu, baru dicoba diinstall, kalo masih butuh lagi, cari lagi di komputer Windows XP. Total hingga saat saya menyerah dengan cara ini, saya sudah mengumpulkan lebih dari 30 paket instalasi.

Saya putuskan mencari cara agar si Ubuntu bisa pakai modem ZTE. Jadi, saya harus cari cara install modem ZTE dulu di Ubuntu. Ternyata, di internet bertebaran informasi soal ini, yang saya acu yang ini. Semua saya ikuti dengan lancar, sampai pada langkah “.. lalu jalankan usb_modeswitch ..”. usb_modeswitch sudah dijalankan, tapi tidak ada perubahan. Macet. Stress.

Dikutak kutik, dikutak kutik.. Ternyata jalan, dengan tambahan sudo: “sudo usb_modeswitch”. Sama juga dengan langkah terakhir, yang di acuan itu dituliskan “untuk konek ke internet jalankan perintah wvdial pada terminal..”, juga minta pake sudo. Mungkin user yang saya pakai tidak memiliki otoritas yang cukup untuk menjalankan kedua perintah itu.

Akhirnya, bisa juga internetan dengan ZTE AC2726 di Ubuntu 9.10. Singkat kata, paket instalasi Pidgin muncul di daftarnya Synaptic. Centang, dan jalankan. Pidgin terinstall.

Tapi tunggu..

Di sana ada beberapa komputer Ubuntu yang lain. Konyol rasanya kalau setiap kali mau install harus setting modem dulu.

Pikir punya pikir, tadi waktu muncul di Synaptic, yang dicentang adalah paket “pidgin” dan “pidgin-data”, kenapa tidak mencoba download langsung kedua paket itu, untuk kemudian langsung diinstall di komputer Ubuntu yang lain? Didownloadlah kedua paket itu, di sini dan di sini.

Dan ternyata, bisa!!

ubuntu-pidgin

Setelah menjalani banyak ketersesatan, akhirnya saya mendapati jalan yang lurus dan terang (halah!). Cukup download 2 paket itu, lalu install. Selesai.

Lalu bagaimana dengan cara setting Pidgin agar bisa dipakai untuk chat dalam LAN? Soal ini sudah banyak dibahas di internet. Bisa langsung dicari pakai google.

Categories: IT, pekerjaan Tags: , , , ,

Simpus, diakses dengan Puppy Linux

Hari ini, saya dan Roy pergi ke Puskesmas Magelang Selatan dengan dua tujuan: mengupdate Simpus dan mencoba menginstall Linux untuk PC klien. Ubuntu 9.10 Karmic Koala (beta) yang selama ini terinstall tidak dapat memberikan tampilan lebih dari 800×600. Berbagai upaya utak atik sudah dilakukan, tapi tidak memberikan hasil. Demi menghindari frustasinya para staf puskesmas (karena 34 PC baru diserahkan dengan Ubuntu KK beta, dengan kendala tampilan yang seragam, seperti saya jelaskan tadi), saya mencoba memberikan solusi mudah dan ringan. Saya membawa Puppy Linux 4.2.1, Nusantara IGOS, dan DSL, untuk dicoba pada PC yang ada. Saya juga membawa Sabayon release lawas, sekedar untuk dicoba juga.

Instalasi dilakukan pada PC Acer (tidak mencatat serinya), dengan monitor LCD Acer X163W, yang kebetulan memiliki resolusi maksimal dengan angka yang agak ganjil: 1366×768. Pertama kali mencoba Puppy Linux (selanjutnya saya singkat PL) yang sudah saya siapkan di flashdisk bootable saya. PL berjalan lancar, resolusi yang digunakan 1280×1024, tampilan agak tidak proporsional, tapi semua fungsi berjalan. Ethernet card dikenali. Tampilan Simpus baik, secara sekilas, fungsi2 Simpus berjalan, termasuk peta persebaran penyakit dan laporan2 grafis.

Selanjutnya, sekalian mencoba pikir saya, saya mencoba booting dengan CD Sabayon dan CD Nusantara. Dengan Sabayon, tidak bisa masuk mode grafis (runlevel 5), entah mengapa. Tidak ada waktu untuk menyelidiki lebih jauh (dan itu bukan tujuan saya ke Magelang hari ini), saya segera tinggalkan dan melanjutkan menjajal Nusantara. CD Nusantara yang saya punya tidak memiliki mode LiveCD, jadi harus menginstall dulu. Baiklah, saya ikuti proses instalasi. Selesai instalasi, ternyata Nusantara juga tidak dapat memberikan tampilan apapun saat masuk mode grafis. Saya memutuskan langsung kembali ke PL saja.

PL yang ada di flashdisk saya install ke harddisk. PC yang ada memiliki kapasitas harddisk yang besar, bahkan berlebihan menurut saya (300GB), mengingat fungsi utamanya hanya untuk mengakses aplikasi berbasis web. Bahkan seandainya tanpa disertai harddiskpun tidak apa2, bisa langsung booting dengan flashdisk. Flashdisk berukuran 128MB juga sudah memadai, seperti yang saya gunakan tadi. Instalasi berjalan relatif lancar. Sedikit coba2 saat instalasi GRUB, tapi secara umum tidak ada hambatan. Setting jaringan juga mudah dan cepat. Berikut beberapa contoh tampilan Simpus dengan menggunakan browser SeaMonkey (browser ini memakai engine Mozilla):

Grafik Kunjungan per Diagnosis

Grafik Kunjungan per Diagnosis

Form Isian Rekam Medis

Form Isian Rekam Medis

Peta Persebaran Penyakit

Peta Persebaran Penyakit

Setelah 1 PC terinstall dengan baik, hal berikutnya yang perlu saya lakukan adalah memberikan pelatihan singkat cara instalasi PL pada Pak Deddy, staf Puskesmas Magelang Selatan, yang bantuan dan dukungannya untuk Simpus sudah tidak perlu dipertanyakan lagi (makasih Pak!). Langkah2 yang tadi telah saya lakukan dicatat oleh Pak Deddy. Master PL saya serahkan juga. Semoga langkah2 tadi cukup jelas, dan bisa diajarkan juga pada rekan2 dari puskesmas2 Magelang yang lain.