Archive

Posts Tagged ‘facebook’

Sebuah Eksperimen di Facebook

Anda pengguna Facebook atau aplikasi jaringan sosial lainnya? Bagaimana Anda biasanya memutuskan untuk memasukkan seseorang dalam daftar teman Anda di sana? Hanya orang yang Anda telah kenal sebelumnya? Atau juga orang2 yang belum pernah dijumpai tapi tampaknya profilnya menarik? Atau bagaimana?

Minggu lalu, saya bertemu dengan teman saya. Kami ngobrol santai soal aplikasi jaringan sosial, salah satunya Facebook. Teman saya, sebut saja Joko, bercerita bahwa ia sudah beberapa bulan ini melakukan suatu eksperimen di Facebook. Dia membuat sebuah profil, dengan diisi beberapa foto gadis cantik (yang aslinya memang adalah temannya). Foto tersebut diberi nama dan biodata rekaan, sebut saja Sari. Foto tersebut tentunya digunakan atas seizin pemiliknya. Joko ingin tahu sejauh mana profil jadi2an ini bisa menarik perhatian orang. Sebagai teman Facebook pertama, Joko meminta adiknya laki2, yang masih duduk di bangku SMA. Hanya itu. Dalam waktu seminggu pertama, friend request berdatangan. Menurut ingatan Joko, tak kurang dari 100 friend request diperolehnya pada minggu pertama itu. Saat ini, sekitar setengah tahun sejak dibuatnya profil si Sari, jumlah friend sudah sekitar 1000 orang, kebanyakan remaja pria/pemuda.

Saya sempat mengintip profil dan wall milik Sari. Dan menurut saya, Joko sudah berusaha menghidupkan profil Sari dengan cukup baik, dalam artian tidak vulgar mengumbar daya tarik sebagai wanita, tapi cukup komunikatif sehingga menarik orang untuk berinteraksi. Pada hari ultah Sari (yang tentu saja sepenuhnya hasil karangan Joko), cukup banyak yang memberi ucapan selamat ulang tahun. Semuanya direspon dengan baik oleh Joko.

Yang menarik, ada juga beberapa friend Sari yang menghubungi secara pribadi lewat fitur message Facebook untuk mengajak bertemu langsung, ada yang lain yang meminta pin BB. Semuanya dielak secara halus oleh Joko. Lebih gilanya lagi, ada teman pribadi Joko (yang sudah berkeluarga) yang mengajak berkenalan dan bertendensi untuk berselingkuh dengan Sari.

Saya bilang pada Joko, bahwa eksperimennya itu sangat menarik. Bagi saya menarik karena, dari sini terlihat benar pengaruh penampilan sebuah profil terhadap ketertarikan orang (terutama lawan jenis) untuk menjalin hubungan. Sari, yang jelas2 saja tidak punya teman siapa2 di dunia nyata, sejauh ini bisa menarik perhatian 1000 lebih orang untuk mengajaknya berteman, dengan berbagai tujuan di benak mereka masing2. Di sisi lain, saya juga mengatakan pada Joko, bahwa tanggung jawab moralnya besar dan berat. Salah sedikit saja ia dalam “mengemudikan” profil Sari, itu bisa merusak hidup orang. Joko menjelaskan bahwa sedari awal ia menyadari sisi itu, dan ia tetap berusaha berada dalam jalur yang benar. Sekedar berpetualang dan bereksperimen, dalam rangka mengetahui apa isi benak orang, bagaimana respon mereka terhadap profil rekaan.

Berapa banyak di antara teman Facebook Anda yang belum pernah Anda jumpai secara langsung? Ada banyak? Bisa jadi ada Sari di antaranya 🙂

Situs jaringan sosial mengubah cara kita berteman?

Beberapa waktu yang lalu saya membaca slideshow The Real Life Social Network v2. Sebenarnya artikel itu ditulis untuk para pengembang situs jaringan sosial, tapi saya merasa pengguna situs jaringan sosialpun akan mendapat manfaat dari membaca artikel ini. Bila Anda punya waktu, bacalah artikel tersebut. Tapi bila tidak, Anda bisa membaca artikel saya ini, yang sedikit banyak merupakan ringkasan dari artikel tersebut 🙂 Selamat menikmati.

==========================================

Siapa di antara Anda yang tidak memiliki akun Facebook? Saya tidak akan heran bila banyak dari Anda yang memilikinya. Hampir setiap orang yang saya kenal memilikinya. Mereka yang akrab dengan internet biasanya memilikinya.

Teman2 kita di Facebook biasanya adalah teman2 kita di dunia nyata, walau kadang tidak juga demikian. Para selebritis biasanya punya banyak teman yang tidak dikenalnya secara pribadi. Tiap orang biasanya punya teman dari berbagai macam pergaulan hidupnya di dunia nyata. Ada sanak saudara, ada teman sekolah atau kuliah, ada teman kerja (bisa ada lebih dari satu kelompok teman, bila kita bekerja pada lebih dari satu tempat), ada teman relasi sosial (teman arisan, teman perkumpulan keagamaan, teman satu kelompok hobi, dll), mungkin ada kelompok teman lain lagi.

Meski belakangan ditambahkan fitur kelompok teman, tapi umumnya orang sudah terlanjur meletakkan semua temannya, yang berasal dari berbagai latar belakang pertemanan itu, pada satu kelompok besar. Selain itu, pengelompokan teman sifatnya juga tidak diwajibkan. Karena cenderung merepotkan, orangpun akhirnya mengabaikan pengelompokan itu, dan membiarkan semua temannya ada dalam satu kelompok besar.

Dalam dunia nyata, manusia cenderung berperilaku sesuai dengan kelompok di mana ia sedang berada. Tiap kelompok memiliki ciri komunikasi tersendiri, memiliki topik pembicaraan tersendiri, dan memiliki tata aturan sendiri.

Sebut saja ada seorang bernama Andi. Andi adalah seorang mahasiswa fakultas ekonomi. Dalam lingkungan teman2nya di kampus, mungkin Andi lebih banyak berbincang seputar topik kuliah atau kegiatan kampus. Ia menggunakan bahasa Indonesia di sana. Namun, selain sebagai seorang mahasiswa, Andi juga aktif dalam sebuah klub sepakbola. Saat berada bersama teman2 klubnya, mungkin ia banyak berbicara seputar topik pemain2 tenar sepakbola, atau hasil2 pertandingan klub sepakbola idola. Tutur bahasa yang digunakan cenderung lebih santai, tidak seformal saat Andi berada di kampus. Andi kebetulan juga memiliki banyak sanak saudara di desa. Di desa sana, walau pengaruh modernisasi telah mulai masuk, sanak saudara Andi masih hidup lekat dengan budaya Jawa. Saat bersama sanak saudaranya, Andi menggunakan bahasa Jawa, dan banyak berbincang seputar apa dan bagaimana sanak saudara yang masih ada.

Jika suatu saat Andi dan semua kenalannya masuk ke Facebook, maka semua akan berada pada posisi yang sama, yaitu teman Andi. Mereka semua, teman kampus, teman klub sepakbola, dan sanak saudara Andi, akan melihat semua kegiatan Andi di situ. Misalnya Andi menulis status “jadi main bola nggak nih?”, maka semua teman Facebook Andi akan membacanya, meski mungkin hanya teman main sepakbola Andi yang memahaminya dan mungkin menanggapinya. Jika suatu kali ada seorang teman Andi yang iseng men-tag Andi pada sebuah foto konyol, tidak semua teman Facebook Andi akan menanggapinya secara positif. Bayangkan bila kasus ini terjadi pada seseorang yang bekerja, dan kebetulan atasannya atau relasi usahanya juga menjadi teman Facebook dari orang tersebut.

Andi mewakili kebanyakan pengguna situs jaringan sosial, tidak hanya Facebook. Kebanyakan pengguna situs jaringan sosial meletakkan semua teman mereka, dari berbagai latar belakang pertemanan, dalam satu kelompok yang sama, yang mampu melihat hal yang sama persis dari akun kita. Situs jaringan sosial juga tidak begitu mendukung pemisahan kelompok teman ini. Fitur disediakan, tapi diletakkan di dalam, dan bukan sesuatu yang wajib untuk digunakan. Makin tinggi peluang untuk terjadi kesalahpahaman dan kesalahcitraan terhadap seseorang.

Situasi itu masih ditambah pula dengan mudahnya bagi seseorang untuk berteman dengan orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan. Beberapa kali saya diajak berteman dengan orang (atau lebih tepatnya: akun) yang sama sekali tidak saya kenal. Tidak ada salam perkenalan apapun darinya. Bahkan di situs jaringan sosial yang ditujukan untuk membangun relasi profesional seperti LinkedIn juga terjadi yang demikian. Beberapa kali saya menerima ajakan berteman dari seseorang yang sama sekali tidak saya kenal, belum pernah bertemu atau bercakap, baik di dunia nyata ataupun di dunia nyata.

Lalu bagaimana?

Yang penting bagi kita sebagai pengguna situs jaringan sosial adalah, menyadari bahwa situasi pertemanan di dunia maya berbeda dengan situasi pertemanan di dunia nyata. Di dunia nyata, terdapat “sekat2” yang memisahkan lingkungan pertemanan yang satu dengan yang lain. Di dunia maya, “sekat” itu bisa dibilang nyaris tidak ada. Kondisi semacam ini membutuhkan kebijaksanaan dan kehati2an kita sebagai pengguna untuk menempatkan diri secara tepat di lingkungan pertemanan dunia maya.

Jalan lain yang bisa kita tempuh adalah, menggunakan fitur yang telah disediakan untuk membuat “sekat” itu dengan sebaik2nya. Butuh waktu dan tenaga untuk menyusunnya, tapi mungkin hasilnya akan sepadan. Mungkin.

Kita juga perlu bijaksana dalam menerima ajakan pertemanan dari orang lain. Apakah orang itu sungguh seseorang yang pernah kita kenal? Informasi yang kita sediakan di profil maya kita juga akan tersedia bagi orang tersebut nantinya, bila kita memasukkannya dalam daftar teman kita.

Saya pribadi sedang menilik ulang langkah saya di dunia pertemanan maya ini, mencoba mencari langkah yang tepat untuk saya.

Bagaimana dengan Anda?