Archive

Archive for the ‘budaya’ Category

Memberi Hingga Terluka?

Minggu lalu, dalam kunjungan terkait pengerjaan sebuah proyek, dalam beberapa hari berturut-turut saya mengunjungi RS Waa Banti, sebuah RS yang dikelola oleh LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro), yang berada sekitar 5 kilometer dari Tembagapura, Kabupaten Mimika. Sebuah pengalaman perjalanan yang baru dan berkesan buat saya.

RS Waa Banti banyak dikunjungi pasien warga lokal, terutama dari suku Amungme dan Kamoro, juga dari 5 suku lain yang berkerabat dengan 2 suku tersebut. Sekitar 90% pasien berstatus tidak bekerja. Heran dengan statistik ini, saya mendapat penjelasan dari staf RS bahwa sebagian besar pasien adalah penambang emas di sungai yang mengalirkan tailing (sisa hasil proses tambang). Pekerjaan tersebut dianggap bukan pekerjaan tetap, sehingga pasien dianggap tidak bekerja. Umumnya, orang setempat baru bekerja bila membutuhkan uang, meski bila mereka bekerja dalam sehari mereka bisa mendapat 2 gram emas.

Penambang emas dari tailing. Sehari. 2 gram emas. Bekerja bila butuh uang.

Dalam salah satu waktu luang yang ada selama di sana (yang adalah kesempatan langka), saya sempat berbincang dengan seorang staf RS, menggali pengalaman dia selama bekerja di RS Waa Banti. Kisah menarik muncul dari penuturannya. Suatu kali seorang pasien warga lokal menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah kepada dia setelah si pasien diperiksa (penting untuk dicatat, kebanyakan pasien tidak perlu membayar untuk mendapat pelayanan di RS Waa Banti). Percakapan pun terjadi dalam bahasa Indonesia logat lokal (yang sayangnya saya tidak mampu mereplikasinya di sini). Ibu staf RS bertanya pada si pasien, “Untuk apa uang itu diberikan pada saya? Bukankah pelayanan di sini gratis?” Si pasien (yang juga seorang ibu) menjawab, “Untuk anak kamu, untuk membeli susu buat anak kamu, untuk membeli makanan untuk anak kamu.” Padahal jelas-jelas gaji si staf RS tentu sudah amat mencukupi untuk kebutuhan dia dan keluarganya, dan di sisi lain uang itu tentu lebih berarti bagi si pasien. Si pasien terus mendesak, “Sudahlah ibu, terima saja. Saya memberi dengan senang hati. Kalau saya sudah beri, janganlah ditolak.” Diterimalah uang itu. Namun si ibu staf RS tak kurang akal, ia berkata, “Sekarang uang ini milik saya. Saya mau beri uang ini untuk kamu. Untuk anakmu. Untuk beli susu dan makanan untuk anakmu. Tolong diterima, janganlah ditolak.” Diterima kembalilah uang itu oleh si pasien.

Kejadian seperti itu bukan hanya sekali dua kali terjadi. Dari keterangan yang saya kumpulkan kemudian dari obrolan dengan beberapa staf RS, tidak ada konsep menabung dalam budaya setempat. Itu menjelaskan mengapa mereka bekerja hanya bila butuh uang. Bila mereka telah punya cukup uang untuk hari tersebut, bisa saja mereka dengan senang hati memberikan sisa uangnya untuk orang lain. Ini menjelaskan mengapa terjadi kejadian seperti yang dikisahkan staf RS di atas.

Teringatlah saya pada potongan doa yang terkenal itu: “berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya”.

Ketika saya mengambil gambar beberapa anak yang melintas di depan RS, Mas Jojok (yang mengajak saya ikut serta dalam kunjungan kerja itu) berkata, “Mungkin mereka itulah pemilik sesungguhnya emas di gunung sana.” Saya tidak sepenuhnya paham mengenai sistem bagi hasil pertambangan yang diterapkan untuk pertambangan emas di sana: berapa bagian pemerintah Indonesia, berapa bagian perusahaan pengelola, berapa bagian yang dialokasikan untuk pengembangan masyarakat setempat. Tapi melihat kenyataan itu, tak terelakkan sebuah pertanyaan melintas di benak saya: apakah mereka telah memberi terlalu banyak pada orang lain termasuk kita? Dan: apakah kita telah mengambil terlalu banyak dari mereka?

Saya bukan seorang ekonom, dan mungkin benar seperti yang pernah dikatakan seseorang pada saya bahwa saya terlalu bodoh untuk memahami konsep-konsep ekonomi sehingga saya tak bisa memahami apa yang saya lihat di sana.

Film “Di Timur Matahari”

“Di Timur Matahari” tidak begitu menarik sebagai sebuah film. Alur cerita terkesan kurang mulus, terselipnya humor ‘garing’ di sana-sini (contoh: Mazmur yang awalnya dikabarkan meninggal, ternyata tidak), akting yang tampak agak kaku dari beberapa aktornya.

Tapi sebagai sebentuk usaha menyampaikan apa saja yang ada dan terjadi di tanah Papua, ia tampak lengkap, tentu dengan asumsi kita percaya pada kacamata produser dan sutradaranya. Ada banyak hal yang ditampilkan di film itu, mulai dari keindahan pemandangan di sana, hingga ketimpangan kondisi masyarakatnya bila dibandingkan dengan bagian Indonesia yang lain, katakanlah Jawa.

Persoalan dalam hal pendidikan ditunjukkan dengan sekolah yang hadir tanpa tenaga guru hingga berbulan-bulan. Jomplangnya harga bahan pokok dan potensi masalah dalam NKRI ditampilkan secara mencolok melalui ucapan tokoh Vina: “Minyak goreng 10 liter Rp 350 ribu. Beras 2 karung Rp 1,8 juta. Gila.. Gimana nggak pada minta merdeka…”

Masalah perbedaan cara pandang terhadap hukum adat ditampilkan berkali-kali, diwakili oleh soal denda adat, balas dendam hutang nyawa, dan soal adat potong jari tangan.

Tak ketinggalan pula ditunjukkan potensi SDA Papua, yang menarik Ucok si perantau untuk mengadu nasib di sana, di tengah banyaknya SDM setempat yang menganggur dan sulit mencari kerja karena tak punya kemampuan bekerja yang memadai.

“Di Timur Matahari” mencoba menyampaikan begitu banyak hal, sehingga tiap penonton bisa saja menangkap pesan yang berbeda. Adegan penutupnya pun bisa ditafsirkan beraneka rupa: seorang bocah Papua beringus duduk menunggu di gubuk sebelah lapangan rumput tempat pendaratan pesawat perintis sambil memegang secarik kain merah putih yang tampak kusam.

Sekilas tentang Pendidikan Seks untuk Anak

Hari Minggu 22 April 2012 kemarin, saya dan istri mengikuti Kelas Belajar Bersama yang diadakan oleh Jogja Parenting Community. Kebetulan kami tertarik dan merasa butuh untuk tahu tentang topik yang akan dibahas: “Gimana Bicara tentang Seksualitas dengan Anak?”. Acara dipandu oleh Fitri Andyaswuri dari JPC, yang akrab disapa Mbak Titi; sedangkan topik dibawakan oleh Arief Sugeng Widodo, yang akrab disapa Paman Dodod. Keduanya alumni Fakultas Psikologi UGM.

Saat melakukan daftar ulang, peserta diberi secarik kertas dengan sebuah pertanyaan: “Apa sebutan yang Anda kenalkan pada anak Anda untuk alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan?” Peserta diminta menuliskan jawabannya di situ sebelum kertas kembali dikumpulkan. Paman Dodod membuka pembahasan dengan menjelaskan bahwa kita adalah produk masyarakat yang belum matang. Ini ditandai dengan belum netralnya kata “seks” di tengah masyarakat. Apa sebetulnya makna kata “seks”? Banyak orang masih keliru dengan mengartikan “seks” sebagai “hubungan seks”, “tabu atau saru”, “jorok”, atau “sesuatu yang hanya untuk orang dewasa”. Padahal arti sebenarnya dari “seks” adalah “jenis kelamin”. Salah satu hambatan dalam memberikan pendidikan seks pada anak adalah dalam hal bahasa. Bahasa dalam pendidikan seks yang mestinya lugas apa adanya. Contoh selain kata “seks” tadi adalah istilah untuk alat kelamin laki-laki dan perempuan. Ada yang mengenalkan alat kelamin laki-laki pada anaknya sebagai “gajah-gajahan”. Padahal semestinya cukup disebutkan sebagai “penis”, dan untuk alat kelamin perempuan: “vagina”. Kedua istilah tersebut adalah istilah baku, sehingga mestinya tidak akan menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu.

Anak dikaruniai rasa ingin tahu yang tinggi. Keingintahuan yang tinggi ini seringkali terwujud dalam bentuk lontaran pertanyaan-pertanyaan, terutama mungkin pada orang tuanya. Saat anak bertanya adalah salah satu momen yang baik untuk memberikan pendidikan seks pada anak, tentunya bila pertanyaan anak menyangkut masalah seks, seperti misalnya: “mengapa punyaku (seorang anak laki-laki misalnya) berbeda dengan punya dik Lina (yang adalah perempuan)?”. Keingintahuan yang sehat ini tentu perlu dipuaskan dengan jawaban-jawaban yang benar dan bijaksana, dan bukan dengan jawaban yang “sopan” tapi salah, atau yang bersifat “menghindar”, karena misalnya orang tua merasa tidak nyaman atau malu menjelaskannya. Semakin keingintahuan tersebut tidak terpuaskan, akan semakin penasaran si anak, dan mungkin ini akan mendorong ia untuk mencari informasi dari sumber lain, seperti misalnya dari internet atau dari sesama teman (yang mungkin sama-sama masih terbatas pengetahuannya). Resiko yang timbul adalah, diperolehnya informasi yang salah. Idealnya, di dalam sebuah keluarga, orang tua dipandang sebagai sumber informasi terpercaya bagi anak. Ini bukan berarti orang tua harus tahu segalanya dan mampu menjawab semua pertanyaan anak. Namun setidaknya orang tua mampu mengarahkan anak untuk mencari (atau bersama-sama mencari) jawaban yang tepat.

Pendidikan seks idealnya mengikuti tumbuh kembang anak. Untuk anak balita misalnya, dapat mulai dikenalkan dengan nama-nama anggota tubuh, termasuk organ seks, untuk menjelaskan identitas jenis kelamin. Kemudian juga meliputi cara perawatan kebersihan dan kesehatan tubuh, termasuk alat kelamin. Dan tentunya, tidak ketinggalan juga pesan-pesan moral dan nilai, seperti misalnya: alat kelamin perlu selalu tertutup, tidak dipertontonkan, tidak boleh disentuh orang lain, dan tidak boleh menyentuh alat kelamin orang lain. Semakin bertambah usia anak, tentu keingintahuan mereka akan makin meluas cakupannya, dan pendidikan seks perlu untuk terus diberikan sesuai dengan usia anak.

Di tengah-tengah acara, ada banyak pertanyaan dan sharing yang muncul dari peserta, salah satu yang menarik menurut saya adalah sharing dari seorang ibu berusia 30 tahun. Ia menceritakan cara ibunya memberikan pendidikan seks pada dirinya. Salah satunya adalah dengan mandi bersama sang ibu. Melalui acara mandi bersama tersebut, si anak dikenalkan pada organ tubuh wanita dewasa. Sang ibu juga terbuka pada si anak saat sedang menstruasi. Sang ibu tidak menganggap hal-hal ini sebagai hal yang tabu. Si anak mendapatkan kesan yang sangat positif, ini membuatnya tidak bingung atau gelisah ketika masa pubertasnya tiba. Informasi yang telah diterimanya sebelumnya dari sang ibu membuatnya siap menghadapi perkembangan tubuhnya. Dan ia berniat untuk memberikan pengetahuan yang sama pada anaknya sekarang.

Tanpa terasa acara tersebut berlangsung selama 2,5 jam. Sebuah acara yang menarik dan bermanfaat bagi kami sebagai orang tua, yang memberikan bekal awal pada kami untuk mampu memberikan pendidikan seks yang tepat untuk anak kami.

Jalan mengubah perilaku orang?

Bapak itu tampak seperti bapak baik-baik. Ia mengendarai mobil yang ditumpangi wanita yang mungkin adalah istrinya, juga beserta anak-anak kecil yang mungkin adalah anak-anaknya. Mungkin memang benar ia bapak yang baik bagi keluarganya. Tapi bagi saya, sesama pengguna jalan, jelas ia bukan pengguna jalan yang baik. Di tengah laju lambat antrian lampu merah, ia mengambil jalur berlawanan (jelas memotong garis lurus batas tengah jalan), lalu setelah mendahului beberapa mobil mendesakkan mobilnya kembali masuk jalur, pas di tempat mobil yang saya kendarai tengah mengantri lampu merah yang sama. Akhirnya saya beri jalan, semata hanya karena mobilnya lebih jelek ketimbang mobil yang tengah saya kendarai, rugi jika harus serempetan. “Menang elek” istilah istri saya.

Sudah barang tentu itu bukan kejadian pertama yang saya alami. Tapi saya tak henti-hentinya heran, betapa jalan raya dengan kepadatan dan kemacetannya berpotensi mengubah orang yang sebenarnya (mungkin) orang baik-baik, menjadi pengendara yang ganas dan beringas. Di posisi yang sebenarnya salahpun, masih pula berani marah.

Categories: budaya Tags: , ,

Sebuah Eksperimen di Facebook

Anda pengguna Facebook atau aplikasi jaringan sosial lainnya? Bagaimana Anda biasanya memutuskan untuk memasukkan seseorang dalam daftar teman Anda di sana? Hanya orang yang Anda telah kenal sebelumnya? Atau juga orang2 yang belum pernah dijumpai tapi tampaknya profilnya menarik? Atau bagaimana?

Minggu lalu, saya bertemu dengan teman saya. Kami ngobrol santai soal aplikasi jaringan sosial, salah satunya Facebook. Teman saya, sebut saja Joko, bercerita bahwa ia sudah beberapa bulan ini melakukan suatu eksperimen di Facebook. Dia membuat sebuah profil, dengan diisi beberapa foto gadis cantik (yang aslinya memang adalah temannya). Foto tersebut diberi nama dan biodata rekaan, sebut saja Sari. Foto tersebut tentunya digunakan atas seizin pemiliknya. Joko ingin tahu sejauh mana profil jadi2an ini bisa menarik perhatian orang. Sebagai teman Facebook pertama, Joko meminta adiknya laki2, yang masih duduk di bangku SMA. Hanya itu. Dalam waktu seminggu pertama, friend request berdatangan. Menurut ingatan Joko, tak kurang dari 100 friend request diperolehnya pada minggu pertama itu. Saat ini, sekitar setengah tahun sejak dibuatnya profil si Sari, jumlah friend sudah sekitar 1000 orang, kebanyakan remaja pria/pemuda.

Saya sempat mengintip profil dan wall milik Sari. Dan menurut saya, Joko sudah berusaha menghidupkan profil Sari dengan cukup baik, dalam artian tidak vulgar mengumbar daya tarik sebagai wanita, tapi cukup komunikatif sehingga menarik orang untuk berinteraksi. Pada hari ultah Sari (yang tentu saja sepenuhnya hasil karangan Joko), cukup banyak yang memberi ucapan selamat ulang tahun. Semuanya direspon dengan baik oleh Joko.

Yang menarik, ada juga beberapa friend Sari yang menghubungi secara pribadi lewat fitur message Facebook untuk mengajak bertemu langsung, ada yang lain yang meminta pin BB. Semuanya dielak secara halus oleh Joko. Lebih gilanya lagi, ada teman pribadi Joko (yang sudah berkeluarga) yang mengajak berkenalan dan bertendensi untuk berselingkuh dengan Sari.

Saya bilang pada Joko, bahwa eksperimennya itu sangat menarik. Bagi saya menarik karena, dari sini terlihat benar pengaruh penampilan sebuah profil terhadap ketertarikan orang (terutama lawan jenis) untuk menjalin hubungan. Sari, yang jelas2 saja tidak punya teman siapa2 di dunia nyata, sejauh ini bisa menarik perhatian 1000 lebih orang untuk mengajaknya berteman, dengan berbagai tujuan di benak mereka masing2. Di sisi lain, saya juga mengatakan pada Joko, bahwa tanggung jawab moralnya besar dan berat. Salah sedikit saja ia dalam “mengemudikan” profil Sari, itu bisa merusak hidup orang. Joko menjelaskan bahwa sedari awal ia menyadari sisi itu, dan ia tetap berusaha berada dalam jalur yang benar. Sekedar berpetualang dan bereksperimen, dalam rangka mengetahui apa isi benak orang, bagaimana respon mereka terhadap profil rekaan.

Berapa banyak di antara teman Facebook Anda yang belum pernah Anda jumpai secara langsung? Ada banyak? Bisa jadi ada Sari di antaranya 🙂

Insentif

Setiap hal yang dilakukan semua orang, selalu didorong oleh iming2 insentif, entah insentif itu berwujud ataupun tidak, entah besar atau kecil, entah di mata orang lain itu merupakan insentif atau bukan. Orang bekerja, karena ada insentif uang. Cuma uang? Bisa jadi tidak hanya karena uang. Tapi juga karena status sosial yang diperoleh dari pekerjaan itu. Atau karena ada insentif lain lagi. Orang menaati peraturan, karena ada insentif berupa terhindar dari sanksi. Orang melanggar peraturan? Ya bisa jadi karena insentif yang berupa terhindarnya dia dari sanksi dianggapnya tidak lagi memadai sebagai insentif yang layak diterima dari usahanya menaati peraturan.

Kira2 seperti itulah kerja insentif.

Tantangan bagi regulator, dalam level apapun – entah Ketua RT, Pak/Ibu Lurah, seorang ayah, dll, adalah menentukan bentuk dan letak insentif secara tepat. Aturan dari si ayah agar anak belajar tiap malam bisa saja tidak ditaati oleh si anak, karena insentif berupa ‘tidak dimarahi jika tidak belajar’ dianggap tidak cukup layak olehnya. Kenikmatan (?) tidak belajar lebih besar ketimbang ‘kesengsaraan’ dimarahi si ayah karena tidak belajar. Aturan agar kendaraan pribadi tidak masuk jalur busway, bisa saja dilanggar ketika jalur umum begitu macetnya, sehingga si pengendara lebih memilih mengambil resiko dengan masuk jalur busway. Banyak orang memilih beralih menggunakan LPG ketika menyadari bahwa minyak tanah makin sulit diperoleh, dan harganya makin mahal. Sekarang, orang kembali harus berpikir, ketika menyimak berita2 kompor gas yang meledak (terlepas dari faktor apapun penyebab ledakan itu), layakkah insentif murahnya dan mudahnya diperoleh LPG itu bila dibandingkan dengan resiko yang mereka lihat di berbagai media.

Insentif yang tidak ditawarkan dan diletakkan secara tepat, bisa mengakibatkan kacaunya tatanan dan perencanaan.

Contohnya? Baiklah. Ketika orang melihat peluang kerja dan peluang mendapat penghasilan yang layak di Jakarta amat besar, dianggap jauh lebih besar ketimbang di daerah2 lain, orangpun berbondong2 pergi ke Jakarta. Mungkin insentif itu tidak dengan sengaja dirancang dan dibuat, tapi itulah yang orang lihat.

Contoh lain? Baiklah. Banyak jabatan ditentukan bermasa kerja 5 tahun. Menurut saya, sistem 5 tahunan ini memberi insentif pada mereka yang menjabat untuk berjuang secara 5 tahunan, dengan klimaks perjuangan terletak pada awal dan akhir masa jabatan. Pada awal masa jabatan, karena janji mereka pada awal masa jabatan secara gencar ditagih orang2 yang mendudukkan mereka pada kursi jabatan tersebut. Pada akhir masa kerja, karena sebentar kemudian akan datang masa pemilihan atau penentuan, di mana terjadi penentuan diperpanjang atau tidaknya masa kerja mereka. Bila kita berharap, banyak kegiatan dirancang secara jangka panjang misalnya, saya khawatir kita telah menyusun sistem insentif yang salah untuk harapan itu. Sistem insentif yang ada mendorong orang, siapapun yang duduk pada jabatan itu, untuk bekerja secara 5 tahunan. Apakah semua pejabat demikian? Mungkin tidak. Ada yang bekerja secara hebat dan tekun sepanjang masa jabatannya. Bisa jadi karena ia meyakini adanya insentif non material, di luar soal gaji dan status.

Mmm… dan saya diharapkan memberi usulan atau saran, di ujung tulisan ini? Maaf, belum ada insentif yang layak bagi saya untuk melakukan itu 😀

*Ide catatan ini muncul setelah berhasil menyelesaikan membaca sebuah buku ekonomi populer, hampir setahun setelah dibeli 🙂

Categories: budaya, ekonomi Tags:

Situs jaringan sosial mengubah cara kita berteman?

Beberapa waktu yang lalu saya membaca slideshow The Real Life Social Network v2. Sebenarnya artikel itu ditulis untuk para pengembang situs jaringan sosial, tapi saya merasa pengguna situs jaringan sosialpun akan mendapat manfaat dari membaca artikel ini. Bila Anda punya waktu, bacalah artikel tersebut. Tapi bila tidak, Anda bisa membaca artikel saya ini, yang sedikit banyak merupakan ringkasan dari artikel tersebut 🙂 Selamat menikmati.

==========================================

Siapa di antara Anda yang tidak memiliki akun Facebook? Saya tidak akan heran bila banyak dari Anda yang memilikinya. Hampir setiap orang yang saya kenal memilikinya. Mereka yang akrab dengan internet biasanya memilikinya.

Teman2 kita di Facebook biasanya adalah teman2 kita di dunia nyata, walau kadang tidak juga demikian. Para selebritis biasanya punya banyak teman yang tidak dikenalnya secara pribadi. Tiap orang biasanya punya teman dari berbagai macam pergaulan hidupnya di dunia nyata. Ada sanak saudara, ada teman sekolah atau kuliah, ada teman kerja (bisa ada lebih dari satu kelompok teman, bila kita bekerja pada lebih dari satu tempat), ada teman relasi sosial (teman arisan, teman perkumpulan keagamaan, teman satu kelompok hobi, dll), mungkin ada kelompok teman lain lagi.

Meski belakangan ditambahkan fitur kelompok teman, tapi umumnya orang sudah terlanjur meletakkan semua temannya, yang berasal dari berbagai latar belakang pertemanan itu, pada satu kelompok besar. Selain itu, pengelompokan teman sifatnya juga tidak diwajibkan. Karena cenderung merepotkan, orangpun akhirnya mengabaikan pengelompokan itu, dan membiarkan semua temannya ada dalam satu kelompok besar.

Dalam dunia nyata, manusia cenderung berperilaku sesuai dengan kelompok di mana ia sedang berada. Tiap kelompok memiliki ciri komunikasi tersendiri, memiliki topik pembicaraan tersendiri, dan memiliki tata aturan sendiri.

Sebut saja ada seorang bernama Andi. Andi adalah seorang mahasiswa fakultas ekonomi. Dalam lingkungan teman2nya di kampus, mungkin Andi lebih banyak berbincang seputar topik kuliah atau kegiatan kampus. Ia menggunakan bahasa Indonesia di sana. Namun, selain sebagai seorang mahasiswa, Andi juga aktif dalam sebuah klub sepakbola. Saat berada bersama teman2 klubnya, mungkin ia banyak berbicara seputar topik pemain2 tenar sepakbola, atau hasil2 pertandingan klub sepakbola idola. Tutur bahasa yang digunakan cenderung lebih santai, tidak seformal saat Andi berada di kampus. Andi kebetulan juga memiliki banyak sanak saudara di desa. Di desa sana, walau pengaruh modernisasi telah mulai masuk, sanak saudara Andi masih hidup lekat dengan budaya Jawa. Saat bersama sanak saudaranya, Andi menggunakan bahasa Jawa, dan banyak berbincang seputar apa dan bagaimana sanak saudara yang masih ada.

Jika suatu saat Andi dan semua kenalannya masuk ke Facebook, maka semua akan berada pada posisi yang sama, yaitu teman Andi. Mereka semua, teman kampus, teman klub sepakbola, dan sanak saudara Andi, akan melihat semua kegiatan Andi di situ. Misalnya Andi menulis status “jadi main bola nggak nih?”, maka semua teman Facebook Andi akan membacanya, meski mungkin hanya teman main sepakbola Andi yang memahaminya dan mungkin menanggapinya. Jika suatu kali ada seorang teman Andi yang iseng men-tag Andi pada sebuah foto konyol, tidak semua teman Facebook Andi akan menanggapinya secara positif. Bayangkan bila kasus ini terjadi pada seseorang yang bekerja, dan kebetulan atasannya atau relasi usahanya juga menjadi teman Facebook dari orang tersebut.

Andi mewakili kebanyakan pengguna situs jaringan sosial, tidak hanya Facebook. Kebanyakan pengguna situs jaringan sosial meletakkan semua teman mereka, dari berbagai latar belakang pertemanan, dalam satu kelompok yang sama, yang mampu melihat hal yang sama persis dari akun kita. Situs jaringan sosial juga tidak begitu mendukung pemisahan kelompok teman ini. Fitur disediakan, tapi diletakkan di dalam, dan bukan sesuatu yang wajib untuk digunakan. Makin tinggi peluang untuk terjadi kesalahpahaman dan kesalahcitraan terhadap seseorang.

Situasi itu masih ditambah pula dengan mudahnya bagi seseorang untuk berteman dengan orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan. Beberapa kali saya diajak berteman dengan orang (atau lebih tepatnya: akun) yang sama sekali tidak saya kenal. Tidak ada salam perkenalan apapun darinya. Bahkan di situs jaringan sosial yang ditujukan untuk membangun relasi profesional seperti LinkedIn juga terjadi yang demikian. Beberapa kali saya menerima ajakan berteman dari seseorang yang sama sekali tidak saya kenal, belum pernah bertemu atau bercakap, baik di dunia nyata ataupun di dunia nyata.

Lalu bagaimana?

Yang penting bagi kita sebagai pengguna situs jaringan sosial adalah, menyadari bahwa situasi pertemanan di dunia maya berbeda dengan situasi pertemanan di dunia nyata. Di dunia nyata, terdapat “sekat2” yang memisahkan lingkungan pertemanan yang satu dengan yang lain. Di dunia maya, “sekat” itu bisa dibilang nyaris tidak ada. Kondisi semacam ini membutuhkan kebijaksanaan dan kehati2an kita sebagai pengguna untuk menempatkan diri secara tepat di lingkungan pertemanan dunia maya.

Jalan lain yang bisa kita tempuh adalah, menggunakan fitur yang telah disediakan untuk membuat “sekat” itu dengan sebaik2nya. Butuh waktu dan tenaga untuk menyusunnya, tapi mungkin hasilnya akan sepadan. Mungkin.

Kita juga perlu bijaksana dalam menerima ajakan pertemanan dari orang lain. Apakah orang itu sungguh seseorang yang pernah kita kenal? Informasi yang kita sediakan di profil maya kita juga akan tersedia bagi orang tersebut nantinya, bila kita memasukkannya dalam daftar teman kita.

Saya pribadi sedang menilik ulang langkah saya di dunia pertemanan maya ini, mencoba mencari langkah yang tepat untuk saya.

Bagaimana dengan Anda?

Angka Dunbar (Dunbar’s Number)

Berapa jumlah teman Anda di Facebook? Berapa pula yang di Friendster? Atau di jaringan sosial lainnya? 100? 500? 1000? Atau malah lebih dari itu? Dan berapa banyak di antaranya yang termasuk inner circle Anda, yang Anda kenal baik? Berapa teman dekat Anda sebenarnya?

Apakah makin banyak orang yang kita kenal, makin banyak pula teman dekat kita? Apakah orang yang kenal dengan puluhan ribu orang memiliki teman dekat lebih banyak ketimbang orang yang kenal dengan ratusan orang saja?

mesh

mesh

Beberapa tahun yang lalu saya pernah tanpa sengaja memikirkan hal ini, setelah melihat ada seorang teman yang memiliki relasi dengan ribuan orang di Facebook. Saya tahu, tidak semua dari ribuan orang yang berelasi dengannya ia kenal baik. Mungkin juga dia asal terima saja ajakan pertemanan dari orang lain. Tapi pertanyaan saya adalah, apakah semakin banyak orang membuka diri berelasi dengan orang lain, akan semakin banyak pula teman dekatnya? Teman yang tidak saja kita kenal baik, tapi juga mengenal kita dengan baik. Yang mampu jadi tempat saling berbagi pikiran, tempat curhat (terutama buat Anda yang wanita). Dugaan saya, jumlah teman kita ada hubungannya dengan jumlah teman dekat kita. Jadi, mestinya semakin banyak teman kita, makin banyak juga teman dekat kita. Tapi bagaimana perbandingannya, saya belum tahu.

Hingga akhirnya saya mendapati bahwa ternyata ada ahli antropologi yang pernah melakukan penelitian tentang hal ini. Robin Dunbar, antropolog dari Inggris, meneliti dan kemudian menyimpulkan bahwa manusia memiliki batas relasi optimal. Batasnya adalah sekitar 150, dan angka ini kemudian dikenal sebagai angka Dunbar (Dunbar’s number). Dalam penelitiannya, Dunbar mendapati bahwa jumlah penduduk desa pada zaman neolitikum berkisar 150 orang, 150 adalah batas jumlah saat komunitas Hutterite memecah diri, 150 adalah jumlah personel satuan militer dasar prajurit Romawi. Dunbar berpendapat bahwa 150 adalah jumlah yang optimal bagi sekelompok orang untuk saling berhubungan dekat dan mampu saling bekerja sama secara efektif. Angka ini tidak mutlak tentunya. Pada masyarakat pedesaan yang tinggal saling berjauhan, bisa jadi angkanya di bawah itu, karena mereka tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk saling mengakrabkan diri.

Bagaimana bila angka ini diterapkan dalam hal2 praktis? Misalnya untuk mengatur pengelompokan RT atau RW, atau untuk mengatur jumlah maksimal karyawan dalam sebuah kantor. Mungkin menarik untuk dicoba 🙂

Berikut adalah beberapa tulisan menarik tentang Dunbar’s number:

Tentang Pasar Tradisional

Waktu saya kecil dulu, saya sering diajak ibu saya pergi ke pasar. Pasar yang saya maksud adalah yang belakangan ini sering dibilang pasar tradisional. Ibu saya memiliki beberapa warung langganan di pasar itu, dan biasanya kesanalah kami menuju. Transaksi selalu diawali dengan tawar menawar singkat, kadang ditambah sedikit bincang2 akrab, sebelum akhirnya barang dan uang bertukar pemilik. Transaksi di pasar selalu kental dengan aroma kepercayaan. Jika penjual tidak memiliki kembalian, salah satu pihak akan dengan mudahnya mempercayakan kekurangannya (bisa kekurangan kembalian ataupun kekurangan pembayaran) ke pihak yang lain untuk digenapi di lain waktu. Pasar itu berada di dekat rumah kami. Dapat dicapai dengan berjalan kaki tidak lebih dari 10 menit. Penjualnya banyak, dengan komoditas yang mereka jual sebagian besar sama antara satu penjual dengan penjual yang lain. Hingga saat ini saya tidak pernah tahu, mengapa ibu lebih memilih membeli pada penjual yang ini dan itu, dan bukan yang lain. Mungkin kaitannya dengan kepercayaan tadi. Mungkin.

Selepas ritual pergi ke pasar saat masa kecil itu, sekarang saya amat jarang pergi ke pasar tradisional (tradisional terpaksa saya sebut untuk membedakan dengan jenis pasar yang lain, seperti supermarket). Dari beberapa kali kunjungan terakhir saya ke pasar tradisional, saya mendapati suasana yang tidak berbeda dengan kunjungan2 saya yang dulu itu. Faktor kepercayaan masih lekat di dalamnya, walau dalam pengamatan saya sebagian penjual telah beralih generasi. Kondisi fisiknya juga tidak jauh berbeda. Masih panas hawanya, sering becek, dan tidak jarang orang2 masih harus saling berdesakan. Di luar pasar masih banyak sepeda, walau sekarang sepedanya sudah ditambahi motor, alias jadi sepeda motor 🙂 Juga masih banyak becak.

Belakangan ini makin sering diributkan soal bakal matinya pasar tradisional, jika pasar modern semacam minimarket, supermarket, atau hipermarket (wew! semua kata serapan, tidak ada istilah asli lokalnya ya?) tidak ditata penyebarannya. Soal aturan tata ruang, saya tidak memiliki informasi yang cukup, jadi saya tidak akan berbicara soal itu. Tapi bincang2 ringan dengan seorang teman kemarin membuat saya jadi berpikir ulang, benarkah pasar tradisional akan mati oleh menjamurnya pasar modern?

Pasar tradisional, hadir dengan keberadaannya seperti yang kita lihat sekarang tidak secara begitu saja. Di sebuah tanah kosong dibangun sebuah bangunan pasar, lalu voila! orang berdatangan dan bertransaksi di situ. Bukan, saya yakin bukan seperti itu. Seperti halnya proses terbentuknya sebuah kota, sebuah pasar hadir di situ, di tempat itu, karena di titik itulah terdapat simpul pertemuan orang. Bisa jadi karena di tempat itulah pada mulanya dulu orang sering berlalu lalang. Mungkin awalnya ada seorang mbok atau mbah melihat peluang berjualan sayur di sekitar titik simpul itu karena ramai dilalui orang, dan kemudian menggelar dagangannya di atas sebuah tikar. Orang yang lewat melihat, mungkin jaraknya dari rumahnya cukup dekat, lalu memutuskan untuk membeli dagangan si mbah tadi. Orang lain mengikuti jejak si mbah tadi, ikut menggelar dagangan di dekat si mbah. Bertambah pula pembelinya. Terciptalah sebuah pasar.

Pasar tradisional, akan terus hadir di sana, menjalankan fungsinya mempertemukan penjual dan pembeli, selama lingkungannya mendukung. Yang dimaksud dengan lingkungan yang mendukung itu seperti misalnya, permukiman di sekitar pasar masih dihuni orang, masih tersedia jalan untuk mengakses pasar, dan pasokan komoditas masih terus mengalir ke pasar itu.

Lalu, bagaimana jika misalnya tidak lebih dari 1 kilometer dari pasar itu dibangun sebuah supermarket?

Mari coba kita lihat terlebih dahulu karakteristik pembeli pasar tradisional. Dari pengamatan sekilas saya, pembeli di pasar tradisional biasanya adalah ibu2 rumah tangga dan pemilik warung2 makan ukuran kecil atau sedang. Mereka datang ke pasar tradisional karena rumahnya relatif dekat pasar, atau karena ada ikatan emosional dengan penjual2 di pasar itu. Berbelanja sambil bertukar cerita, itu sering saya lihat. Ada rasa saling percaya, seperti yang sempat saya singgung di atas. Ada kepuasan tersendiri berbelanja setelah sebelumnya terjadi tawar menawar. Apa yang dirasakan oleh pembeli2 di pasar tradisional tidak dijumpai di pasar modern. Pasar modern dingin (selain karena ber-ac juga karena minim nuansa keramahan dan keakraban di sana, pembeli memilih dan mengambil sendiri belanjaannya) dan kaku (tidak ada tawar menawar). Selain itu, rasanya kurang pas pergi ke pasar modern bersandal jepit dan berbaju sedikit kumal yang nyaman di badan.

Mungkin yang akan beralih ke pasar modern adalah ibu2 modern, yang tidak lagi memiliki waktu luang di pagi hari untuk berbelanja, yang mungkin akan rusak dandanan dan aroma tubuhnya bila membalik dan memilih ayam di pasar tradisional (oke, saya agak berlebih2an dalam poin yang terakhir ini, walau mungkin poin itu tidak salah sepenuhnya). Selain itu, mungkin juga pemilik warung yang merasa barang yang dijual di pasar modern berkualitas sedikit lebih baik. Saya sebut mungkin, karena saya sendiri tidak begitu paham soal kualitas barang bahan makanan. Hanya kebetulan saya pernah mendengar dari seorang teman bahwa dengan kekuatan modalnya dan jangkauannya, pasar modern mampu memilih terlebih dahulu barang dengan kualitas terbaik dan sisanya baru masuk ke pasar tradisional. Saya rasa ini masuk akal, mungkin saja kenyataannya memang benar begitu. CMIIW.

Jadi?

Jadi, mungkin pasar tradisional akan terus bertahan, selama masih ada masyarakat atau calon pembeli yang memiliki karakteristik pembeli pasar tradisional seperti dijabarkan tadi, dan selama masih ada daya dukung dari lingkungan sekitarnya. Pasar tradisional tidak akan bertahan jika misalnya, pemerintah memutuskan untuk memindahkan pasar itu ke lokasi lain (tanpa mempertimbangkan lingkungan pendukungnya: tempat terlalu jauh dari permukiman, akses jalan tidak memadai, dll), atau masyarakatnya sudah berubah total menjadi masyarakat modern yang sibuk dengan karier yang tidak lagi sempat menikmati interaksi harian di dalam pasar tradisional, atau terdapat perbedaan kualitas komoditas yang terlalu menyolok antara pasar tradisional dengan pasar modern.

Jika demikian halnya, apakah dengan ini berarti tidak ada alasan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pasar tradisional? Tentu saja pasar tradisional perlu terus diperbaiki. Apa yang perlu diperbaiki? Banyak juga menurut saya. Pertama, kebersihan dan kerapiannya. Citra yang melekat di benak kita tentang pasar tradisional adalah becek, kotor, dan panas. Bukankah akan makin menarik bila pasar tradisional tampil rapi, bersih, dan nyaman? Selain itu, ketertiban lahan parkir biasanya juga masih menjadi kendala. Di pasar tradisional manapun, saat pagi hari biasanya parkir kendaraan meluber ke jalan raya. Parkir yang tertib akan menarik orang untuk datang ke pasar tradisional. Masih ada beberapa lagi: standarisasi kualitas barang dagangan, pengaturan tata letak pedagang (biasanya juga meluber sampai ke luar pasar), penertiban arus lalu lintas sekitar pasar (banyak kendaraan umum berhenti di dekat pasar).

Ini pendapat saya. Ada pendapat lain? Mari berbincang.

Superblok

Tiap hari Minggu pagi, ada tayangan di TV yang mengiklankan berbagai hunian di ibukota. Belakangan ini (atau sudah lama sebetulnya, saya saja yang baru tahu) kata “superblok” sering muncul. Apa sih superblok itu? Dari apa yang saya dengar di tayangan itu, superblok adalah suatu konsep tata ruang yang berusaha menyatukan atau mendekatkan ruang residensial, komersial, dan perkantoran dalam satu area.

Saya jadi ingat ketika bertahun2 yang lalu saya sering memainkan game SimCity. Game SimCity menantang kita untuk menata sebuah kota dengan segala kelengkapan dan permasalahannya. Saya masih ingat, area kota dibedakan menjadi 3: residensial (area tempat tinggal), komersial (area perdagangan dan pertokoan), dan industrial (area untuk industri). Pemain diminta untuk mengatur peletakan area2 tersebut di dalam bidang permainan yang tersedia. Tentu saja, nantinya pemain juga diminta untuk mengatur peletakan jalan raya dan berbagai sarana umum lainnya, tapi menurut saya, kunci keberhasilan dalam menata kota pada game SimCity ini adalah pengaturan area kota tadi.

Saya bukan ahli tata ruang. Saya bahkan bekerja di bidang yang sama sekali berjauhan dengan soal tata ruang. Namun saya paham, bahwa tata ruang sebuah kota dapat mempengaruhi nyaman tidaknya sebuah kota untuk didiami. Kemacetan jalan, permukiman yang terlampau padat, adanya area yang terlalu sepi dan area yang terlalu ramai, menunjukkan ada yang salah dalam tata ruang. Tata ruang yang tidak terencana menimbulkan adanya perubahan penggunaan area secara mendadak. Area yang tadinya adalah area residensial, mendadak berubah menjadi area komersial. Biasanya perubahan ini ditandai dengan menjamurnya ruko (di mana peran “ko” alias toko lebih besar ketimbang peran “ru” atau rumah, karena bangunan ruko tersebut kebanyakan tidak ditinggali, sekedar jadi tempat berdagang) di area tersebut.

Kita tentunya mengamati, hampir di semua kota, arus lalu lintas amat padat saat pagi hari (saat anak2 berangkat sekolah dan para pekerja berangkat bekerja) dan sore hari (saat mereka semua pulang). Tata ruang yang kurang terencana, mengakibatkan arus lalu lintas yang saling silang. Ada yang tinggal di area utara kota, bekerja di area selatan kota. Ada yang sebaliknya. Ada yang tinggal di tengah kota, bekerja di area timur kota. Macam2. Akibatnya, semua arus lalu lintas itu bertemu di tengah kota, menimbulkan kemacetan. Waktu, tenaga, bahan bakar terbuang. Tidak jarang juga membuat orang saling marah. Orang makin lelah di jalan. Banyak jalur lingkar pinggir kota dibuat. Desakan untuk menggalakkan penggunaan sarana transportasi publik terus disuarakan. Tapi ini tidak mudah. Arus lalu lintas terlanjur kusut.

Superblok, ditawarkan oleh para pengembangnya sebagai jawaban atas ketidaknyamanan ini. Menyatukan berbagai jenis area tadi (residensial, perkantoran, dan komersial) dipandang sebagai alternatif solusi. Orang dapat tinggal, bekerja, dan berbelanja berbagai kebutuhan di area yang sama. Transportasi yang dibutuhkan amat minim, kalo tidak bisa dibilang tidak ada. Tidak ada lagi waktu yang diperlukan untuk bermacet ria di jalanan.

Yang saya lihat dari superblok ini adalah, pada akhirnya orang kembali pada kondisi zaman dulu, tinggal di area yang tidak begitu luas, saling berdekatan, semua kebutuhan relatif terjangkau. Hidup di area yang terlalu luas, di mana berbagai sarana terpencar jauh satu sama lain, tidak lagi nyaman. Ukuran kota yang sudah meraksasa, kembali “dikecilkan” dengan superblok. Superblok dipandang sebagai kota tersendiri dan mandiri.

Mungkin saja, alternatif solusi superblok ini bisa menjawab ketidaknyamanan warga kota. Mungkin. Sayangnya, berbagai hunian superblok yang ditawarkan, diberi label harga yang amat jauh dari jangkauan rakyat banyak.

Catatan: saya tidak dibayar sepeserpun oleh siapapun, termasuk pengembang superblok 🙂

Categories: budaya Tags: ,