Home > kdrama > Squid Game

Squid Game

[mengandung spoiler]

Menggunakan permainan yang melibatkan kematian sebagai sarana utama untuk menghantar cerita, Squid Game mengajukan pertanyaan mengenai masih adakah kebaikan dalam diri tiap orang pada para penontonnya.

Squid adalah nama sebuah permainan anak-anak di Korea. Dinamakan demikian karena menggunakan arena dengan bentuk menyerupai cumi-cumi yang digambar di atas tanah. Dalam serial ini, sekelompok orang mengadakan serangkaian permainan yang terdiri dari 6 permainan anak-anak dengan imbalan uang tunai dalam jumlah luar biasa jika menang, dan resiko kematian jika kalah. Para pesertanya adalah orang-orang yang dipilih dan diundang secara rahasia, semuanya orang yang memiliki hutang yang sangat banyak. Tiap peserta diberi nomor urut, yang digunakan sebagai identitas selama permainan berlangsung. Permainan diadakan di sebuah tempat yang dirahasiakan dari publik.

Di antara 456 orang peserta, terdapat Seong Gi-hoon seorang duda cerai yang hidup pas-pasan bersama ibunya, Cho Sang-woo seorang manajer investasi yang menyalahgunakan uang kliennya, Kang Sae-byeok seorang gadis pelarian dari Korea Utara, kakek tua Oh Il-nam yang punya tumor di kepala, dan Ali imigran dari Pakistan yang terjerat hutang karena gajinya tidak dibayarkan selama berbulan-bulan.

Kesulitan hidup sebagai orang yang dihimpit masalah finansial digambarkan dengan lugas. Keikutsertaan dalam Squid Game ditawarkan sebagai solusi atas masalah hidup para peserta. Bagi para calon peserta, Squid Game memang benar tampak sebagai jalan keluar satu-satunya, sedangkan konsekuensi adanya kematian tidak terlalu dipikirkan. Baru ketika di permainan pertama benar ada peserta yang tewas karena melanggar aturan permainan atau kalah, para peserta menyadari bahwa lebih dari sekedar permainan dengan iming-iming hadiah uang, ini adalah soal hidup dan mati.

Kematian digambarkan secara brutal dan apa adanya. Darah muncrat, kepala berlubang, dicitrakan secara visual. Kengerian dalam porsi yang pas – tidak kurang dan tidak berlebih – disampaikan pada para penonton.

Sifat manusia sebagai makhluk sosial yang punya keinginan untuk saling membantu dan bekerja sama terakomodasi di permainan-permainan awal, ketika jumlah peserta masih banyak dan memang masih tersedia ruang untuk itu. Penonton diberi harapan bahwa dengan bekerja sama, para tokoh utama akan bisa memenangkan secara bersama-sama. Kejadian perkelahian hebat di malam hari makin menguatkan harapan itu.

Namun ilusi harapan itu dihancurkan begitu permainan makin bersifat individual dan jumlah peserta makin sedikit. Peserta-peserta yang saling akrab dan saling percaya, harus mulai saling berhadapan dan saling bunuh.

Episode Gganbu menggambarkan dengan sangat baik hal itu. Ketika peserta diminta untuk bermain secara berpasangan, harapan adanya ruang untuk saling bekerja sama itu terus dipupuk. Para peserta memilih pasangan yang paling mereka percaya, ada yang pasangan suami istri bahkan. Peserta saling bersalaman, mengikat rasa saling percaya. Semua berharap mereka akan bisa memenangkan permainan berikutnya secara berpasangan. Kakek Il-nam berkata pada Gi-hoon pasangannya, bahwa mereka adalah gganbu – sahabat yang saling berbagi. Namun ternyata peraturan permainan mengharuskan mereka untuk saling berhadapan. Tidak ada celah untuk mereka keluar bersama sebagai pemenang. Salah satu harus kalah (dan tewas) agar yang satunya menang.

Bagian yang menurut saya paling cemerlang adalah dialog antara kakek Il-nam dan Gi-hoon. Gi-hoon yang merasa terdesak dan putus asa berkali-kali menipu kakek Il-nam yang sudah setengah pikun. Ketika akhirnya tinggal satu kelereng di tangan si kakek, si kakek mengajak Gi-hoon untuk memainkan satu babak permainan lagi yang mempertaruhkan semua kelereng yang dimiliki. Gi-hoon mengeluh bahwa itu tidak adil. Lepas dari kesan pikun yang sebelumnya digambarkan, Kakek Il-nam menohok balik, “Apakah berkali-kali menipuku itu adil?” Ketika Gi-hoon tak mampu lagi berkata-kata, kakek Il-nam melanjutkan, “Kita adalah ‘gganbu’, satu kelereng ini buatmu..”

Squid Game mengajukan pertanyaan bertubi-tubi pada para penontonnya: andaikan kita dalam situasi terdesak semacam itu, jadi karakter yang manakah kita, apa yang mau kita lakukan?

Apakah kejutan di bagian akhir membuka ruang untuk hadirnya season lanjutan?

Categories: kdrama Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: