Home > media > Headline

Headline

Kemarin sebuah harian nasional menuliskan headline: “Papua Kembali Memanas” (http://cetak.kompas.com/read/2013/02/22/02034064/papua.kembali..memanas). Setelah membaca detail beritanya, ternyata menceritakan serangan bersenjata di dua tempat: Tingginambut dan Sinak.

Saya tak hendak membahas detail kejadian serangan bersenjata tersebut. Namun menurut saya agak kurang pas jika kejadian serangan tersebut lantas diberi headline: “Papua Kembali Memanas”. Headline tersebut mengesankan seluruh (atau setidaknya sebagian besar) wilayah Papua berada dalam situasi genting.

Jika kita mencoba menggali kembali ingatan kita akan kejadian gempa bumi di wilayah Yogya, Klaten, dan sekitarnya, pantaskah kejadian tersebut membuahkan headline: “Bencana Dahsyat Menimpa Jawa”? Adakah harian yang memunculkan headline semacam itu? Sejauh yang saya tahu tidak ada.

Jelas ada “perasaan tentang ruang” yang berbeda antara tempat yang jauh dan tidak begitu kita kenal dengan tempat yang dekat dan kita kenal dengan baik. Ini hal yang lumrah. Ketika seseorang dari pelosok desa Wonogiri merantau ke ibukota misalnya, ia akan merasa lebih mudah mengidentifikasikan dirinya sebagai “wong Solo”, ketimbang sebagai “wong Wonogiri”. Orang yang menerima penjelasannyapun akan lebih mudah memahami dan menerima, toh Wonogiri (relatif) berdekatan dengan Solo. Ketika nama Wonogiri dimunculkan, penjelasan yang lebih panjang dan rinci cenderung akan dibutuhkan, dan ini terkadang merepotkan, jika keperluannya hanya untuk perkenalan sambil lalu.

Itu dalam konteks perkenalan basa-basi. Namun bagaimana bila kebetulan konteksnya adalah hal yang negatif, seperti bencana, huru-hara, atau label jelek?

Di mata sebagian orang luar Sukoharjo, nama Sukoharjo (Kabupaten di Jawa Tengah) terlanjur lekat dengan image “teroris”. Dugaan saya, ini karena banyak berita yang muncul mengaitkan nama wilayah tersebut dengan kegiatan terorisme. Wilayah tersebut sebetulnya relatif luas, penduduknya juga beragam, namun label yang terlanjur tertempel di benak khalayak cuma satu, dan (sialnya) negatif.

Kebetulan saya baru saja pulang dari jalan-jalan, eh mengurus kerjaan, di Papua. Sepulangnya dari sana, saya mendapat beberapa pertanyaan senada dari beberapa teman dan kerabat: ada tembak-tembakan tidak di sana?

Dibutuhkan pengetahuan geografis yang cukup bagi pembaca berita, dan juga bagi penulis berita, untuk menempatkan sebuah kejadian dalam konteks ruang yang tepat, dan dalam “zoom” lokasi yang pas.

Categories: media Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: