Home > opensource, simpus > Catatan dari Workshop SIKDA Generik dan Connectathon, 2 Desember 2011

Catatan dari Workshop SIKDA Generik dan Connectathon, 2 Desember 2011

Pada tanggal 2 Desember 2011, saya dan Mas Jojok diundang untuk menghadiri Workshop SIKDA Generik dan Connectathon yang diadakan di Novotel Mangga Dua Jakarta. Workshop dan Connectathon adalah dua acara terpisah, meski diadakan di tempat dan hari yang sama. Workshop diselenggarakan pagi hingga menjelang sore, sedangkan Connectathon diselenggarakan setelahnya hingga larut malam, dengan hanya dihadiri oleh pihak pengembang sistem informasi kesehatan (SIK) yang diundang. Mengutip Term of Reference (TOR) yang dibagikan panitia, tujuan dari kegiatan workshop ini terutama adalah sebagai ajang sosialisasi SIKDA Generik sebagai salah satu alternatif pilihan dan acuan standar SIK di Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Sedangkan connectathon direncanakan sebagai kegiatan ujicoba teknis dalam usaha mengintegrasikan data kesehatan dari berbagai sistem informasi puskesmas dengan Bank Data Nasional. Pada umumnya, connectathon diadakan dengan melibatkan tim programmer untuk memodifikasi kode program secara langsung di lokasi acara connectathon sesuai standar yang diharapkan. Kami diundang selaku salah satu pihak pengembang SIK di Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Jika saya tidak salah menghitung, dalam acara tersebut terdapat 6 pihak pengembang yang diundang.

SIKDA Generik (Sistem Informasi Kesehatan Daerah Generik) adalah sebuah SIK yang sedang dikembangkan oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Pusdatin Kemkes). SIKDA Generik dirancang untuk menjadi model SIK yang sesuai standar. Dalam waktu yang sama, sebuah format data kesehatan standar (agar sederhana, kita sebut saja sebagai dataset standar) sedang dikembangkan oleh Pusdatin, dan dataset standar inilah yang diacu oleh SIKDA Generik. Dataset standar ini direncanakan untuk menjadi acuan semua SIK yang telah ada selama ini. Keberadaan sebuah dataset standar diperlukan, karena selama ini SIK yang telah ada tidak memiliki dataset standar yang sama, dan tentu ini menimbulkan kesulitan ketika pengguna data (Kemkes misalnya) menerima data dengan berbagai format yang berbeda.

Workshop SIKDA Generik

Pada hari Jumat itu, dari pagi hingga menjelang sore acara diisi oleh paparan dari beberapa pihak yaitu: drg. Rudi Kurniawan, M.Kes. mewakili Pusdatin, Kelvin Hui dari GIZ selaku konsultan teknis yang membantu Pusdatin, Yudi Permana dari Dinkes Bekasi selaku pihak pengguna sebagai lokasi ujicoba SIKDA Generik, dr. Lutfan Lazuardi, PhD dari SIMKES UGM, dan tim pengembang SIKDA Generik. Sebagian besar (atau bahkan semua) paparan berisi daftar poin-poin dan bagan konseptual. Bahkan ketika tim pengembang SIKDA Generik memberikan paparan tentang fitur-fitur SIKDA Generik, screenshot SIKDA Generik (yang sebenarnya adalah tema utama workshop ini) tidak tampil. Setelah sedari pagi sebagian peserta menahan rasa penasaran tentang “look-and-feel” SIKDA Generik, akhirnya ada juga peserta yang meminta secara terbuka agar peserta dapat melihat tampilan dan jika memungkinkan mencoba SIKDA Generik. Tim pengembang menjelaskan bahwa sebenarnya SIKDA Generik akan ditampilkan dan dicobakan nanti pada sesi Connectathon (yang menurut rencana hanya akan dihadiri oleh para pengembang SIK yang diundang). Namun demi menjawab keinginan peserta workshop, akhirnya SIKDA Generik disediakan secara terbuka untuk diakses dan dicoba oleh para peserta. Saya sendiri belum begitu banyak mencoba, karena akses baru dibuka pada sekitar 15 – 30 menit terakhir sebelum sesi workshop diakhiri (dan kemudian dilanjutkan oleh acara Connectathon).

Dalam sesi tanya jawab yang dibuka pada acara workshop, ada beberapa pertanyaan yang diajukan, termasuk dari saya. Dari beberapa peserta yang mewakili Dinkes dari berbagai daerah (terutama yang telah mengembangkan atau menggunakan SIK non SIKDA Generik), muncul kekhawatiran adanya keharusan untuk beralih dari SIK yang selama ini telah dengan lancar digunakan ke SIKDA Generik. Pertanyaan ini dijawab tuntas oleh staf Pusdatin, bahwa itu tidak benar. SIKDA Generik disiapkan sebagai SIK alternatif, terutama bagi daerah yang selama ini tidak memiliki kemampuan dana yang memadai untuk membeli (atau apalagi mengembangkan) SIK. SIKDA Generik akan diedarkan secara gratis dan opensource (catatan: gratis dan opensource adalah dua hal yang berbeda), sehingga diharapkan ini akan mengeliminasi keperluan biaya pengadaan perangkat lunak SIK. Menurut saya pribadi, dari pengalaman selama ini, sejauh yang saya tahu, biaya harga SIK (terutama Simpus Jojok, dengan berbagai versinya) justru tidak pernah menjadi komponen biaya utama dari total biaya implementasi SIK di berbagai daerah. Komponen biaya terbesar justru terletak pada biaya pelatihan dan pendampingan sebagai upaya penyiapan manajemen dan SDM puskesmas / Dinkes pengguna. Oleh karena itu, menurut saya ketika SIK disediakan secara gratis (dalam konteks SIKDA Generik), persoalan masih ada: bagaimana dengan pembiayaan dan pelaksanaan pelatihan dan pendampingan? Belum lagi, bagaimana dengan pembiayaan pengadaan perangkat keras? Sayangnya pertanyaan ini belum sempat saya ajukan dalam acara workshop kemarin.

Pertanyaan lain yang juga diajukan oleh peserta adalah, bagaimana dengan pelatihan dan pendampingan penggunaan SIKDA Generik nantinya? Pusdatin menjawab, pelatihan dan pendampingan SIKDA Generik akan melibatkan penyedia jasa lokal. Para penyedia jasa lokal ini sebelumnya akan dilatih tentang penggunaan SIKDA Generik. Hanya memang bagaimana mekanismenya, juga seperti apa materi pelatihan para penyedia jasa lokal ini belum sempat dipaparkan secara terperinci. Saya sendiri mengajukan beberapa pertanyaan terkait dataset standar. Salah satu pertanyaan saya adalah tentang mekanisme sinkronisasi pengkodean. Di dalam rancangan dataset standar yang telah diedarkan secara terbatas di kalangan pengembang SIK, terdapat kode standar untuk berbagai variabel, misalnya kode jenis kelamin, kode obat, kode tindakan. Ada sebagian kode yang sifatnya dinamis, karena bisa diubah sesuai situasi di masing-masing daerah. Misalnya kode obat. Dengan sifatnya yang dinamis, tentu ada kemungkinan untuk terjadinya situasi kode obat yang sama digunakan untuk obat yang berbeda. Misalnya, di satu daerah, kode obat “A01” digunakan untuk obat bernama “Obat ABC”, sedangkan di daerah lain, kode obat “A01” digunakan untuk obat bernama “Obat ACD”. Ketika data dikirimkan ke Bank Data Nasional, tentu bisa terjadi kekacauan, karena yang dikirim sama-sama kode “A01”, padahal yang dimaksud adalah obat yang sepenuhnya berbeda. Bagaimana strategi sinkronisasinya? Tim pengembang menjawab, jika ditemui kejadian seperti itu, Pusdatin akan melakukan revisi dataset standar dengan menambahkan kode dan nama obat baru tersebut ke dalam dataset standar. Secara berkala, setiap puskesmas pengguna SIK (baik SIKDA Generik ataupun SIK lain) harus menyesuaikan kode-kode obat (juga kode-kode variabel lain yang direvisi) agar sesuai dengan dataset standar. Terus terang saya belum mampu membayangkan kerumitan pelaksanaannya. Kelvin Hui lalu menambahkan keterangan, bahwa revisi tidak bersifat historikal, artinya data yang sudah terlanjur ada dengan kode lama dibiarkan saja, kode baru hanya digunakan pada data yang baru saja. Ini tentunya lebih mudah dilaksanakan.

Connectathon

Terus terang, saya dan Mas Jojok berangkat tanpa memiliki bayangan akan seperti apa acara connectathon itu nantinya. Jika benar connectathon adalah acara yang bersifat sangat teknis (seperti yang saya jelaskan di atas), tentunya petunjuk dan dokumentasi teknis sudah disebarkan semenjak jauh-jauh hari, agar para peserta siap. Memang benar, petunjuk teknis telah dikirimkan sebelumnya, namun sejujurnya saya tidak begitu memahami isinya, karena isinya didominasi daftar variabel yang masuk dalam dataset standar, dan tanpa disertai satupun contoh. Melalui beberapa obrolan, saya mendapati peserta connectathon yang lain juga belum memahami petunjuk teknis yang telah dikirimkan.

Dalam pembukaan connectathon oleh Kelvin Hui, disampaikan bahwa connectathon kali ini tidak akan terlalu bersifat teknis, karena ini baru kali pertama connectathon diadakan. Connectathon ini akan didominasi oleh penjelasan konsep dataset standar dan jika memungkinkan, beberapa ujicoba sederhana. Ini sedikit melegakan beberapa peserta yang tidak membawa serta tim programmer mereka. Acara dilanjutkan dengan paparan konsep SDMX-HD dan rancangan dataset standar. Melihat kebingungan yang mungkin tampak di wajah sebagian peserta saat paparan teknis disampaikan, tim pengembang SIKDA Generik berulang kali bertanya, “apakah penjelasan teknis ini dapat diikuti?”. Saya mengajukan usul, bagaimana jika penjelasan teknis disampaikan dalam bentuk contoh, langsung saja didemokan bagaimana SIKDA Generik dioperasikan untuk mengirimkan data (dalam format yang sesuai dengan dataset standar, karena SIKDA Generik diposisikan sebagai acuan SIK lainnya terkait dengan dataset standar) ke Bank Data yang telah disiapkan. Usulan saya disambut baik oleh sebagian besar peserta dan juga tim pengembang SIKDA Generik. Server untuk menjalankan SIKDA Generik dan Bank Data disiapkan. Namun rupanya terjadi kendala teknis, sehingga server belum dapat difungsikan.

Sekian menit ditunggu-tunggu, penyebab permasalahan teknis tak kunjung ditemukan meski teman-teman itu sudah berupaya keras. Akhirnya Mas Jojok mengusulkan untuk mengisi waktu dengan perkenalan dan diskusi. Usulan ini disambut baik oleh Pak Rudi. Peserta yang hadir bergantian memperkenalkan diri. Bagi saya, terlepas dari kenyataan bahwa saya merupakan bagian dari tim Simpus Jojok, apa yang disampaikan oleh Mas Jojok dalam sesi diskusi malam itu sangat menarik dan menyentuh hati. Saya tidak yakin mampu menuliskannya secara akurat, tapi yang saya coba tulis berikut ini adalah kurang lebihnya.

Mas Jojok menyampaikan bahwa dia berangkat ke acara ini dengan membawa titipan dari beberapa teman staf Puskesmas pengguna Simpus Jojok. Mereka menyampaikan titipan harapan, agar jangan sampai Simpus yang telah mereka gunakan diubah atau diganti. Artinya ada harapan agar tidak terjadi perubahan yang berarti pada kenyamanan menggunakan SIK yang telah ada, meskipun akan diberlakukan standar nasional untuk data kesehatan. Di situ tampak jelas pentingnya komunikasi antara pembuat kebijakan dan stakeholder yang lain.

Mas Jojok juga menyampaikan bahwa dia mengawali perjalanan sebagai pengembang SIK sekitar 10 tahun yang lalu dengan kesadaran, bahwa ini adalah semacam panggilan hidup. Pengguna Simpus Jojok telah menaruh kepercayaan pada produk yang ia buat, dan dengan demikian ia mesti menjawab kepercayaan itu dengan pendampingan secara utuh. Relasi itu bukan sekedar relasi transaksi jual beli. Pengguna membeli Simpus Jojok, produk diinstall, dilatihkan, lalu selesai. Bukan seperti itu menurut Mas Jojok. Pengguna mesti selalu didampingi, terutama jika mereka mengalami kendala terkait penggunaan produk. Masalah bukan hanya mungkin datang sepanjang masa kontrak yang biasanya hanya 1 tahun setelah produk dibeli, tapi juga bisa datang dalam tahun-tahun mendatang, jauh setelah kontrak awal berakhir. Dan Mas Jojok berharap itu juga yang akan terjadi pada produk bernama SIKDA Generik. Dalam tahun-tahun sebelumnya, banyak produk hasil proyek dari instansi pusat dikirimkan dan “dipaksakan” untuk digunakan di puskesmas, hanya untuk diabaikan dan dilupakan segera setelah masa kontrak pengembang produk tersebut berakhir. (Mas Jojok menyebut beberapa contohnya, yang tidak akan saya kutip di sini.)

Mas Jojok menyadari bahwa adanya suatu standar format data secara nasional amat penting, bahkan standar semacam itu telah ia nanti-nantikan selama bertahun-tahun. Dalam momentum yang cukup baik ini (dalam konteks pengembangan SIK dan dataset standar), ia berharap komunikasi antara pengembang SIK dan Pusdatin selaku pembuat kebijakan tentang standar nasional untuk data kesehatan dapat terus berlangsung, agar pengalaman dari berbagai pengembang SIK selama bertahun-tahun dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan standar.

Satu hal lain yang sangat menarik dikemukakan di dalam diskusi oleh Mas Harmi, pengembang Sikesda (sebuah SIK yang dikembangkan oleh Sisfomedika). Di Kabupaten Sleman, terdapat 3 produk SIK yang hidup berdampingan. Ada puskesmas yang menggunakan Simpus Jojok, ada yang menggunakan Sikesda, dan ada yang menggunakan IHIS (semoga saya tidak salah menyebutkan nama produknya). Pak Haryanto dari Dinkes Sleman mengajak pengembang ketiga SIK ini untuk saling berkomunikasi, agar Dinkes Sleman tetap dapat memperoleh data dalam format seragam dari ketiga SIK tersebut. Dengan komunikasi intensif, terutama antara tim Sikesda dan Simpus Jojok, itu dapat diwujudkan. SIK yang ketiga menyusul kemudian. Format datanya tidak kompleks, hanya menggunakan text file berformat CSV (comma seperated value). Ini sebenarnya merupakan gambaran mini dari apa yang saat ini dihadapi oleh Pusdatin: ada berbagai SIK dengan fitur dan format beragam dan ada kebutuhan untuk mendapatkan data dari semua SIK dalam format seragam (agar dapat masuk dalam sebuah bank data). Seingat saya, proses teknis penambahan fitur untuk menghasilkan format data yang disepakati bersama itu hanya beberapa jam saja, tidak melebihi setengah hari. Sangat singkat! Tentu data yang dikirimkan belum semua, baru beberapa data standar saja, seperti data laporan LB 1. Tapi setidaknya, itu membuktikan bahwa hal semacam itu memungkinkan untuk dikerjakan. Mulai dengan sesuatu data dan format yang sederhana, disepakati bersama, lalu langsung dikerjakan.

Bagi saya, dalam forum itu, hal-hal yang penting telah disampaikan, terutama setidaknya dari yang saya ingat dari Mas Jojok dan Mas Harmi seperti saya tuliskan tadi. Sekarang perlu ditunggu kelanjutannya, baik dalam soal pengembangan SIKDA Generik dan dataset standar, juga dalam soal komunikasi antara Pusdatin dan para pengembang dan pengguna SIK yang telah ada. Semoga tulisan panjang ini bermanfaat.

  1. 06/12/2011 at 16:12

    Kalimat dan rekomendasi yang penting adalah seperti yang disampaikan oleh mas Albert yaitu :”Sekarang perlu ditunggu kelanjutannya, baik dalam soal pengembangan SIKDA Generik dan dataset standar, juga dalam soal komunikasi antara Pusdatin dan para pengembang dan pengguna SIK yang telah ada.”
    Kemarin ada teman dari salah satu atau dinkes di Provinsi Jawa Timur yang sudah mencoba. Ada sedikit error, tapi kelihatannya bisa diatasi. Itu saja sudah menunjukkan kekuatan kerjasama pemerintah dan komunitas. Tetapi, yang terpenting adalah bagaimana pendekatan top-down approach dengan model open source seperti bisa berhasil. Apa syaratnya berhasil? Apakah cukup hanya open source? Dugaan saya tidak. Seperti yang disebutkan oleh mas Albert, banyak aspek lain, pendampingan, maintenance, maupun belajar dari error yang akan menyempurnakan sistem tersebut. Pusdatin tentu harus siap, membuka telinga lebar-lebar serta merespon ketika ada pertanyaan, komentar, atau bahkan caci-maki. Ini juga memerlukan skill tersendiri. Kalau perlu mas Jojok diminta menjadi trainer atas pengalamannya bertahun tahun melayani para pengguna di tingkat dasar.
    Standar pun juga harus dipersiapkan dan disempurnakan. Kepmenkes 844/2006 tentang kodifikasi dan standar pun juga harus menjadi kepmenkes yang adaptif dan mengikuti perubahan. Connectathon seperti apa, kita memang perlu belajar dari teman-teman lain yang sudah menerapkan seperti FIlipina dan Malaysia. Moga-moga nanti mas Lutfan dan mas Gugu yang akan menjadi pengamat Connectathon di KL pada 21 Oktober dapat berbagi pengalaman dan teknisnya sehingga pada acara serupa tahun depan dapat lebih baik. Tentu saja, yang tahun depan seharusnya bisa dimulai untuk rumah sakit juga, tidak hanya dinas kesehatan/puskesmas.

  2. 06/12/2011 at 16:19

    eh salah 21 Desember mas Lutfan dan mas Gugu akan belajar Connectathon di KL. Info ada di http://www.mscmalaysia.my/codenavia/portals/msc/images/pdf/FAQ%20for%20MSC%20Malaysia%20IHE%20Connectathon%202011%20v3.pdf

  3. albertpratama
    06/12/2011 at 17:37

    Anis (@anistmu) :
    Tetapi, yang terpenting adalah bagaimana pendekatan top-down approach dengan model open source seperti bisa berhasil. Apa syaratnya berhasil? Apakah cukup hanya open source? Dugaan saya tidak. Seperti yang disebutkan oleh mas Albert, banyak aspek lain, pendampingan, maintenance, maupun belajar dari error yang akan menyempurnakan sistem tersebut. Pusdatin tentu harus siap, membuka telinga lebar-lebar serta merespon ketika ada pertanyaan, komentar, atau bahkan caci-maki. Ini juga memerlukan skill tersendiri.

    Dalam setiap proyek opensource, saya selalu mendapati adanya tim pengelola. Tim ini yang akan mengkoordinasikan arah pengembangan. Tanpa adanya tim ini, rasanya proyek opensource tidak akan jalan. Kira-kira siapa yang bisa memainkan peran ini? Kalo kode sekedar dibuka dan dilepas begitu saja, saya yakin nggak akan bisa jalan dalam jangka waktu lama. Forking akan jadi banyak.

    Saya kurang begitu paham mekanisme birokrasi. Saya agak kuatir dengan aspek pendampingan dan maintenance. Apakah ini bisa dilakukan dengan pendekatan proyek seperti yang selama ini dilakukan? Saya terus terang kurang yakin. Jika pendekatan proyek tidak bisa, pendekatan seperti apa yang bisa dilakukan oleh Pusdatin?

    Anis (@anistmu) :
    Standar pun juga harus dipersiapkan dan disempurnakan. Kepmenkes 844/2006 tentang kodifikasi dan standar pun juga harus menjadi kepmenkes yang adaptif dan mengikuti perubahan. Connectathon seperti apa, kita memang perlu belajar dari teman-teman lain yang sudah menerapkan seperti FIlipina dan Malaysia. Moga-moga nanti mas Lutfan dan mas Gugu yang akan menjadi pengamat Connectathon di KL pada 21 Oktober dapat berbagi pengalaman dan teknisnya sehingga pada acara serupa tahun depan dapat lebih baik. Tentu saja, yang tahun depan seharusnya bisa dimulai untuk rumah sakit juga, tidak hanya dinas kesehatan/puskesmas.

    Dari apa yang dipaparkan saat Connectathon kemarin, terutama oleh Kelvin Hui, sebetulnya bagaimana seharusnya connectathon itu sudah cukup dipahami oleh penyelenggara, meski belum cukup disebarluaskan pada para pengembang yang diundang. Masalahnya kemarin mungkin karena persiapan teman-teman pengembang SIKDA Generik yang terlalu mepet sehingga kurang matang, dan akhirnya connectathon belum bisa berjalan sebagaimana mestinya.

    Semoga untuk kemudian hari, jika diadakan connectathon lagi, persiapannya bisa lebih baik.

  4. 07/12/2011 at 11:22

    Menarik pertanyaannya, pendekatan seperti apa ya untuk terus memperbaiki SIKDA generik dan memperluas adopsinya?
    Saya pernah mengutip konsep dari Were et al yang terdapat di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2995711/?tool=pubmed. Pak Were adalah anggota tim OpenMRS, salah satu bosnya mas Nyoman Winardi. Dalam paper tersebut ada skema yang menarik yang terdapat di gambar http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2995711/bin/amiajnl2303fig1.jpg
    Saya mengutip referensi tersebut di salah satu posting saya http://anisfuad.blog.ugm.ac.id/2011/11/16/a-breakthrough-for-his-strengthening-in-indonesia/ tetapi konteksnya memang pengembangan Center of Excellence (COE) on Health Information Systems. Dulu saya pernah membantu Pusdatin untuk menyusu proposal Global Fund Round 10 dan salah satu kegiatan yang cukup penting adalah pengembangan COE tersebut. Nah, dengan adanya SIKDA Generik, kini saatnya materi SIKDA generik dijadikan sebagai salah satu perangkat dilengkapi dengan kurikulum serta panduan untuk implementasi. Saya juga nggak tahu persis, siapa nanti yang bisa jadi COE. Selain ada komponenen training, mereka juga harus mendampingi pengguna. Pada aspek pendampingan, universitas bisa kalah kuat dibanding tim seperti mas Jojok. Di sisi yang lain, banyak contoh pendampingan a la universitas yang juga cukup menginspirasi seperti KKN. Tetapi, model yang lain seperti “pengajar muda” pak Anies Baswedan juga sangat menarik. Ini kalau kita lihat bahwa pengguna SIKDA juga puskesmas dari berbagai daerah yang sangat bervariasi di Indonesia.
    Mengenai connectathon, meskipun gagal, tapi ini terobosan yang baik dari Pusdatin. Akhirnya kita bisa melaksanakannya. Seminar di UGM tentang integrasi yang mengundang bu Vensya sebenarnya merupakan inisiatif sebelum Connectathon yang sebenarnya. Saya kira tahun depan kita sudah bisa membuat connectathon yang lebih baik. Semoga Kemenkes juga selalu terbuka seperti saat ini.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: