Home > kehidupan > Pak Tarno

Pak Tarno

Ada seorang tukang langganan kami sekeluarga. Pak Tarno namanya. Berusia paruh baya, anaknya sudah mapan semua. Meski demikian, Pak Tarno menolak tinggal duduk diam di rumah menimang cucu. Pak Tarno selalu aktif bekerja memperbaiki rumah orang, sesuai pesanan. Tinggal di Solo, tapi tidak jarang kami minta ke Yogya jika ada yang perlu diperbaiki di rumah kami di Yogya.

Bermula dari kebutuhan kami untuk memperbaiki beberapa bagian rumah agar rapi dan tidak berbahaya bagi anak kami yang masih kecil, saya dikenalkan oleh Pak Tarno oleh mertua. Sudah beberapa waktu Pak Tarno jadi andalan perbaikan rumah di rumah mertua. Semenjak itu, setiap ada kebutuhan perbaikan rumah, mulai dari pintu yang rusak, kusen yang keropos, pemasangan keramik, hingga saluran air yang bermasalah, kami selalu menggunakan jasa Pak Tarno. Di mata kami, Pak Tarno tukang yang hebat. Hasil kerjanya rapi, penuh akal dalam menyelesaikan permasalahan yang ada, selalu berusaha menggunakan apapun yang ada agar biaya bahan optimal, bekerja tanpa banyak cakap.

Tiap kali kami undang ke Yogya, Pak Tarno naik kereta Prameks. Saya jemput dari dan antar ke stasiun. Pak Tarno tidak pernah mau punya handphone, namun Pak Tarno selalu datang pada jam yang sama, jadi saya sudah hafal jam berapa mesti menjemputnya di stasiun.

Anak kami selalu senang saat bertemu Pak Tarno. Pak Tarno dipanggilnya Eyang, “Yang” begitu panggil anak kami. Gerak gerik Pak Tarno saat bekerja tak jarang ditirunya. Pak Tarno selalu tersenyum melihat tingkah polah anak kami.

====================

Hari Kamis minggu yang lalu, Pak Tarno kami minta ke Yogya untuk mengatasi saluran air rumah kami yang bermasalah. Bekerja dari pagi hingga sore, hingga akhirnya saluran air kembali lancar. Sore itu, seperti biasanya Pak Tarno saya antar ke stasiun untuk pulang ke Solo. Di jalan, saat saya boncengkan naik motor, tidak seperti biasanya Pak Tarno menitipkan pesan pada saya agar mengabarkan pada menantunya untuk tidak menjemput ke stasiun (biasanya Pak Tarno diantar-jemput oleh menantunya di stasiun). “Soalnya kalo sore biasanya pada repot Mas. Nanti bilang saja saya mau naik ojek,” pesan Pak Tarno pada saya. Pesan saya kerjakan. Terus terang, saya dan mertua (yang mendengar ini dari saya) merasa agak heran. “Kok tumben,” kata mertua saya waktu itu.

Esoknya, hari Jumat, tepat seminggu yang lalu, pada sore hari istri saya menerima kabar dari ayahnya bahwa Pak Tarno jatuh dari ketinggian hingga tidak sadarkan diri. Informasi lanjutan terus disusulkan. Perkaranya amat sepele. Pak Tarno jatuh dari pohon matoa karena dahannya patah. Dan jatuhnya kepala duluan. Dokter di Rumah Sakit memutuskan untuk mengoperasi. Operasi dilangsungkan, namun Pak Tarno masih belum juga siuman. Ada gerakan-gerakan kecil pada tangan dan kakinya. Ada air mata yang mengalir ketika istri, anak, cucunya berbicara padanya.

Sore ini, istri saya mendapat kabar bahwa Pak Tarno meninggal dunia.

Terimakasih Pak Tarno, untuk semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan pada kami sekeluarga. Hasil karyamu akan terukir abadi di sudut-sudut rumah kecil kami dan juga di hati kami. Selamat jalan.

Categories: kehidupan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: