Home > kehidupan > Menghabiskan makanan

Menghabiskan makanan

Saat usia saya belum lagi menginjak 10 tahun, saya pernah diajak ayah saya pergi ke beberapa kota di Jawa Timur selama beberapa hari. Pada tahun2 itu, biasanya setahun sekali beliau mengadakan perjalanan ke daerah Jawa Timur untuk mengunjungi beberapa toko yang menyalurkan bola bulutangkis buatan industri rumah tangga kami. Biasanya beliau pergi sendiri, namun pada kali itu, saya diajak. Kami berdua menumpang bus antar kota. Saya menyadari, bepergian dengan anak kecil tidaklah mudah. Dengan kendaraan umum pula. Tapi ayah saya tampak senang pergi mengajak anaknya. Saya merasa kecil di tengah ramainya orang. Di dalam bus yang berisi banyak orang, terlebih di dalam terminal, yang tidak hanya penuh orang, tapi juga bus2 raksasa itu.

Suatu siang, kami makan di sebuah warung di dekat terminal. Seingat saya, warung tenda itu menghidangkan kari ayam. Entah mengapa, siang itu saya tidak begitu suka dengan hidangan itu. Saya tidak menghabiskannya. Saya ingat, saat itu ayah saya menanyai saya, “Yakin kamu tidak bisa menghabiskannya?” Saya mengangguk, yakin tidak akan menghabiskannya. Saya tahu, beliau agak kecewa, walau hanya sekilas terbersit di wajahnya. Beliau segera berdiri untuk membayar makanan kami. Saat kami beranjak hendak pergi dari warung itu, ada kejadian yang tidak akan saya lupakan dari benak saya. Pemilik warung, yang mengangkat mangkuk2 kami, menyerahkan mangkuk saya yang masih setengah berisi makanan pada seorang bocah penyemir sepatu yang duduk di belakang warung tenda itu. Saya amat terkejut ketika si bocah, yang kurang lebih seusia saya itu, segera menyantap lahap sisa makanan saya! Saya tidak begitu ingat, apakah ayah saya, yang juga melihat kejadian itu mengatakan sesuatu pada saya. Seingat saya beliau tidak mengatakan apapun. Beliau hanya memandangi saya, menyakinkan dirinya bahwa anaknya belajar sesuatu dari apa yang dilihatnya, dan kemudian menggandeng saya pergi untuk melanjutkan perjalanan.

Saya, yang biasanya memang sudah amat jarang tidak menghabiskan makanan karena itulah yang diajarkan orang tua saya, menjadi lebih jarang lagi tidak menghabiskan makanan. Jika biasanya yang teringat saat makan adalah betapa untuk makanan itu bisa terhidang di piring saya banyak orang dan proses yang terlibat di dalamnya sehingga saya harus menghargainya, maka setelah kejadian tersebut, yang tertempel di benak saya adalah wajah si bocah penyemir sepatu itu.

Saya amat jengkel melihat orang tidak menghargai makanan yang dihidangkan untuknya. Di warung makan, di perjamuan pernikahan, di acara yang diadakan tetangga, di mana saja, saya merasa amat kesal pada orang yang tidak menghabiskan makanannya, terlebih mereka yang memilih dan menakar sendiri makanan yang akan dimakannya. Makanan yang dibuang mewakili tenaga dan waktu manusia yang tersia2, hanya untuk berakhir di tempat sampah.

Categories: kehidupan Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: