Home > budaya > Tentang Pasar Tradisional

Tentang Pasar Tradisional

Waktu saya kecil dulu, saya sering diajak ibu saya pergi ke pasar. Pasar yang saya maksud adalah yang belakangan ini sering dibilang pasar tradisional. Ibu saya memiliki beberapa warung langganan di pasar itu, dan biasanya kesanalah kami menuju. Transaksi selalu diawali dengan tawar menawar singkat, kadang ditambah sedikit bincang2 akrab, sebelum akhirnya barang dan uang bertukar pemilik. Transaksi di pasar selalu kental dengan aroma kepercayaan. Jika penjual tidak memiliki kembalian, salah satu pihak akan dengan mudahnya mempercayakan kekurangannya (bisa kekurangan kembalian ataupun kekurangan pembayaran) ke pihak yang lain untuk digenapi di lain waktu. Pasar itu berada di dekat rumah kami. Dapat dicapai dengan berjalan kaki tidak lebih dari 10 menit. Penjualnya banyak, dengan komoditas yang mereka jual sebagian besar sama antara satu penjual dengan penjual yang lain. Hingga saat ini saya tidak pernah tahu, mengapa ibu lebih memilih membeli pada penjual yang ini dan itu, dan bukan yang lain. Mungkin kaitannya dengan kepercayaan tadi. Mungkin.

Selepas ritual pergi ke pasar saat masa kecil itu, sekarang saya amat jarang pergi ke pasar tradisional (tradisional terpaksa saya sebut untuk membedakan dengan jenis pasar yang lain, seperti supermarket). Dari beberapa kali kunjungan terakhir saya ke pasar tradisional, saya mendapati suasana yang tidak berbeda dengan kunjungan2 saya yang dulu itu. Faktor kepercayaan masih lekat di dalamnya, walau dalam pengamatan saya sebagian penjual telah beralih generasi. Kondisi fisiknya juga tidak jauh berbeda. Masih panas hawanya, sering becek, dan tidak jarang orang2 masih harus saling berdesakan. Di luar pasar masih banyak sepeda, walau sekarang sepedanya sudah ditambahi motor, alias jadi sepeda motoršŸ™‚ Juga masih banyak becak.

Belakangan ini makin sering diributkan soal bakal matinya pasar tradisional, jika pasar modern semacam minimarket, supermarket, atau hipermarket (wew! semua kata serapan, tidak ada istilah asli lokalnya ya?) tidak ditata penyebarannya. Soal aturan tata ruang, saya tidak memiliki informasi yang cukup, jadi saya tidak akan berbicara soal itu. Tapi bincang2 ringan dengan seorang teman kemarin membuat saya jadi berpikir ulang, benarkah pasar tradisional akan mati oleh menjamurnya pasar modern?

Pasar tradisional, hadir dengan keberadaannya seperti yang kita lihat sekarang tidak secara begitu saja. Di sebuah tanah kosong dibangun sebuah bangunan pasar, lalu voila! orang berdatangan dan bertransaksi di situ. Bukan, saya yakin bukan seperti itu. Seperti halnya proses terbentuknya sebuah kota, sebuah pasar hadir di situ, di tempat itu, karena di titik itulah terdapat simpul pertemuan orang. Bisa jadi karena di tempat itulah pada mulanya dulu orang sering berlalu lalang. Mungkin awalnya ada seorang mbok atau mbah melihat peluang berjualan sayur di sekitar titik simpul itu karena ramai dilalui orang, dan kemudian menggelar dagangannya di atas sebuah tikar. Orang yang lewat melihat, mungkin jaraknya dari rumahnya cukup dekat, lalu memutuskan untuk membeli dagangan si mbah tadi. Orang lain mengikuti jejak si mbah tadi, ikut menggelar dagangan di dekat si mbah. Bertambah pula pembelinya. Terciptalah sebuah pasar.

Pasar tradisional, akan terus hadir di sana, menjalankan fungsinya mempertemukan penjual dan pembeli, selama lingkungannya mendukung. Yang dimaksud dengan lingkungan yang mendukung itu seperti misalnya, permukiman di sekitar pasar masih dihuni orang, masih tersedia jalan untuk mengakses pasar, dan pasokan komoditas masih terus mengalir ke pasar itu.

Lalu, bagaimana jika misalnya tidak lebih dari 1 kilometer dari pasar itu dibangun sebuah supermarket?

Mari coba kita lihat terlebih dahulu karakteristik pembeli pasar tradisional. Dari pengamatan sekilas saya, pembeli di pasar tradisional biasanya adalah ibu2 rumah tangga dan pemilik warung2 makan ukuran kecil atau sedang. Mereka datang ke pasar tradisional karena rumahnya relatif dekat pasar, atau karena ada ikatan emosional dengan penjual2 di pasar itu. Berbelanja sambil bertukar cerita, itu sering saya lihat. Ada rasa saling percaya, seperti yang sempat saya singgung di atas. Ada kepuasan tersendiri berbelanja setelah sebelumnya terjadi tawar menawar. Apa yang dirasakan oleh pembeli2 di pasar tradisional tidak dijumpai di pasar modern. Pasar modern dingin (selain karena ber-ac juga karena minim nuansa keramahan dan keakraban di sana, pembeli memilih dan mengambil sendiri belanjaannya) dan kaku (tidak ada tawar menawar). Selain itu, rasanya kurang pas pergi ke pasar modern bersandal jepit dan berbaju sedikit kumal yang nyaman di badan.

Mungkin yang akan beralih ke pasar modern adalah ibu2 modern, yang tidak lagi memiliki waktu luang di pagi hari untuk berbelanja, yang mungkin akan rusak dandanan dan aroma tubuhnya bila membalik dan memilih ayam di pasar tradisional (oke, saya agak berlebih2an dalam poin yang terakhir ini, walau mungkin poin itu tidak salah sepenuhnya). Selain itu, mungkin juga pemilik warung yang merasa barang yang dijual di pasar modern berkualitas sedikit lebih baik. Saya sebut mungkin, karena saya sendiri tidak begitu paham soal kualitas barang bahan makanan. Hanya kebetulan saya pernah mendengar dari seorang teman bahwa dengan kekuatan modalnya dan jangkauannya, pasar modern mampu memilih terlebih dahulu barang dengan kualitas terbaik dan sisanya baru masuk ke pasar tradisional. Saya rasa ini masuk akal, mungkin saja kenyataannya memang benar begitu. CMIIW.

Jadi?

Jadi, mungkin pasar tradisional akan terus bertahan, selama masih ada masyarakat atau calon pembeli yang memiliki karakteristik pembeli pasar tradisional seperti dijabarkan tadi, dan selama masih ada daya dukung dari lingkungan sekitarnya. Pasar tradisional tidak akan bertahan jika misalnya, pemerintah memutuskan untuk memindahkan pasar itu ke lokasi lain (tanpa mempertimbangkan lingkungan pendukungnya: tempat terlalu jauh dari permukiman, akses jalan tidak memadai, dll), atau masyarakatnya sudah berubah total menjadi masyarakat modern yang sibuk dengan karier yang tidak lagi sempat menikmati interaksi harian di dalam pasar tradisional, atau terdapat perbedaan kualitas komoditas yang terlalu menyolok antara pasar tradisional dengan pasar modern.

Jika demikian halnya, apakah dengan ini berarti tidak ada alasan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pasar tradisional? Tentu saja pasar tradisional perlu terus diperbaiki. Apa yang perlu diperbaiki? Banyak juga menurut saya. Pertama, kebersihan dan kerapiannya. Citra yang melekat di benak kita tentang pasar tradisional adalah becek, kotor, dan panas. Bukankah akan makin menarik bila pasar tradisional tampil rapi, bersih, dan nyaman? Selain itu, ketertiban lahan parkir biasanya juga masih menjadi kendala. Di pasar tradisional manapun, saat pagi hari biasanya parkir kendaraan meluber ke jalan raya. Parkir yang tertib akan menarik orang untuk datang ke pasar tradisional. Masih ada beberapa lagi: standarisasi kualitas barang dagangan, pengaturan tata letak pedagang (biasanya juga meluber sampai ke luar pasar), penertiban arus lalu lintas sekitar pasar (banyak kendaraan umum berhenti di dekat pasar).

Ini pendapat saya. Ada pendapat lain? Mari berbincang.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: