Home > budaya > Superblok

Superblok

Tiap hari Minggu pagi, ada tayangan di TV yang mengiklankan berbagai hunian di ibukota. Belakangan ini (atau sudah lama sebetulnya, saya saja yang baru tahu) kata “superblok” sering muncul. Apa sih superblok itu? Dari apa yang saya dengar di tayangan itu, superblok adalah suatu konsep tata ruang yang berusaha menyatukan atau mendekatkan ruang residensial, komersial, dan perkantoran dalam satu area.

Saya jadi ingat ketika bertahun2 yang lalu saya sering memainkan game SimCity. Game SimCity menantang kita untuk menata sebuah kota dengan segala kelengkapan dan permasalahannya. Saya masih ingat, area kota dibedakan menjadi 3: residensial (area tempat tinggal), komersial (area perdagangan dan pertokoan), dan industrial (area untuk industri). Pemain diminta untuk mengatur peletakan area2 tersebut di dalam bidang permainan yang tersedia. Tentu saja, nantinya pemain juga diminta untuk mengatur peletakan jalan raya dan berbagai sarana umum lainnya, tapi menurut saya, kunci keberhasilan dalam menata kota pada game SimCity ini adalah pengaturan area kota tadi.

Saya bukan ahli tata ruang. Saya bahkan bekerja di bidang yang sama sekali berjauhan dengan soal tata ruang. Namun saya paham, bahwa tata ruang sebuah kota dapat mempengaruhi nyaman tidaknya sebuah kota untuk didiami. Kemacetan jalan, permukiman yang terlampau padat, adanya area yang terlalu sepi dan area yang terlalu ramai, menunjukkan ada yang salah dalam tata ruang. Tata ruang yang tidak terencana menimbulkan adanya perubahan penggunaan area secara mendadak. Area yang tadinya adalah area residensial, mendadak berubah menjadi area komersial. Biasanya perubahan ini ditandai dengan menjamurnya ruko (di mana peran “ko” alias toko lebih besar ketimbang peran “ru” atau rumah, karena bangunan ruko tersebut kebanyakan tidak ditinggali, sekedar jadi tempat berdagang) di area tersebut.

Kita tentunya mengamati, hampir di semua kota, arus lalu lintas amat padat saat pagi hari (saat anak2 berangkat sekolah dan para pekerja berangkat bekerja) dan sore hari (saat mereka semua pulang). Tata ruang yang kurang terencana, mengakibatkan arus lalu lintas yang saling silang. Ada yang tinggal di area utara kota, bekerja di area selatan kota. Ada yang sebaliknya. Ada yang tinggal di tengah kota, bekerja di area timur kota. Macam2. Akibatnya, semua arus lalu lintas itu bertemu di tengah kota, menimbulkan kemacetan. Waktu, tenaga, bahan bakar terbuang. Tidak jarang juga membuat orang saling marah. Orang makin lelah di jalan. Banyak jalur lingkar pinggir kota dibuat. Desakan untuk menggalakkan penggunaan sarana transportasi publik terus disuarakan. Tapi ini tidak mudah. Arus lalu lintas terlanjur kusut.

Superblok, ditawarkan oleh para pengembangnya sebagai jawaban atas ketidaknyamanan ini. Menyatukan berbagai jenis area tadi (residensial, perkantoran, dan komersial) dipandang sebagai alternatif solusi. Orang dapat tinggal, bekerja, dan berbelanja berbagai kebutuhan di area yang sama. Transportasi yang dibutuhkan amat minim, kalo tidak bisa dibilang tidak ada. Tidak ada lagi waktu yang diperlukan untuk bermacet ria di jalanan.

Yang saya lihat dari superblok ini adalah, pada akhirnya orang kembali pada kondisi zaman dulu, tinggal di area yang tidak begitu luas, saling berdekatan, semua kebutuhan relatif terjangkau. Hidup di area yang terlalu luas, di mana berbagai sarana terpencar jauh satu sama lain, tidak lagi nyaman. Ukuran kota yang sudah meraksasa, kembali “dikecilkan” dengan superblok. Superblok dipandang sebagai kota tersendiri dan mandiri.

Mungkin saja, alternatif solusi superblok ini bisa menjawab ketidaknyamanan warga kota. Mungkin. Sayangnya, berbagai hunian superblok yang ditawarkan, diberi label harga yang amat jauh dari jangkauan rakyat banyak.

Catatan: saya tidak dibayar sepeserpun oleh siapapun, termasuk pengembang superblokšŸ™‚

Categories: budaya Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: