Home > anak > Apa Yang Anak Saya Ajarkan Kepada Saya

Apa Yang Anak Saya Ajarkan Kepada Saya

Anak saya, Karel, saat ini berusia 2 bulan 2 minggu. Kebersamaan kami selama rentang waktu itu membuat hidup saya lebih berwarna ketimbang sebelumnya. Sebagai orang tua baru, saya belajar banyak, sama seperti orang tua lainnya. Mulai dari keterampilan kecil, seperti menggantikan popok, menggendongnya dengan nyaman, menyendawakan, hingga yang sedikit lebih sulit, seperti meredakan tangisnya, mencari tahu kebiasaan2 dia, mencari tahu apa yang dia sukai (dia suka warna kuning!).

Suatu hari saat ia berusia hampir 2 bulan, pagi2 saat kami orang tuanya belum bangun, saya mendengar suara “ah uh” pelan dari box tempat dia tidur. Saya mengintip untuk mencoba melihat apa yang terjadi dengannya. Ternyata, dengan penuh semangat, ia sedang belajar sendiri untuk tengkurap. Saat saya amati, badannya sudah miring, dan dengan segala daya upaya, ia berusaha mendorong badannya lebih jauh lagi untuk bisa tengkurap. Istri saya bangunkan, untuk ikut mengamati. Usaha yang anak saya jalani tidak mudah, usaha mendorong badannya belum berhasil, dan kami terus mengamati. Akhirnya ia bisa tengkurap sendiri. Kami bersorak gembira, Karel tertawa2.

Keesokan paginya, ternyata ia kembali melakukan usaha yang sama. Tidak mau ketinggalan momen, saya merekamnya dengan kamera handphone. Usahanya kembali berakhir sukses. Saya hitung durasinya, ternyata lebih dari 5 menit. Saya sangat bangga dengan kegigihannya berusaha. Rentang waktu itu menurut saya termasuk lama untuk ukuran bayi. Hebatnya lagi, segera setelah berhasil tengkurap, ia melanjutkan dengan usaha untuk membalikkan badannya. Usahanya pagi itu belum berhasil. Ia menyerah kelelahan setelah sekian menit berusaha.

Bukan Karel namanya kalau tidak kembali berusaha. Semenjak hari itu, tiap hari, pada jam2 yang berbeda, ia dengan sengaja membuat tubuhnya tengkurap, untuk kemudian berusaha membalikkan badan. Tidak jarang, setelah dibantu orang tuanya untuk membalikkan badan, sepertinya ia tidak terima dan segera tengkurap lagi, untuk kembali berusaha membalikkan badan sendiri. Saya amat kagum dengan persistensinya. Hal yang sama, secara rutin dilakukan dan diusahakan, oleh bayi berusia 2 bulan! Lebih hebat lagi, tampak ada proses belajar di dalamnya, karena tiap kali berusaha membalikkan badan, ada variasi cara yang dicoba. Kepalanya didorong dulu lah, tangan posisi terlipat di perut, tangan posisi lurus ke bawah, kaki digerakkan dulu, dll. Hebat! Hingga akhirnya, beberapa hari yang lalu, akhirnya dia berhasil membalikkan badannya.

Bukan soal keberhasilannya yang jadi perhatian saya. Saya merasa anak saya sedang mengajari saya tentang persistensi, kegigihan. Tak mudah putus asa menghadapi tantangan. Terus berupaya, dengan cerdik dan penuh akal. Minggu2 belakangan ini, saya menghadapi banyak kesulitan dalam pekerjaan. Saya berterimakasih pada anak saya untuk mengingatkan saya agar terus berusaha, dengan cerdik dan penuh akal, mengatasi segala tantangan. Anakku, ayahmu akan terus gigih berusaha, mengatasi setiap tantangan yang ada. Mari anakku, kita berjuang bersama, menghadapi tantangan kita masing2.

Categories: anak Tags: , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: