Cara mendidik anak ala “ibu Cina”
Sedikit waktu luang di akhir tahun lalu saya isi dengan membaca buku Battle Hymn of The Tiger Mother (edisi terjemahan bahasa Indonesia) tulisan Amy Chua. Amy Chua adalah seorang profesor hukum di Yale Law School. Istri dari suami berdarah Yahudi (dan seorang profesor juga). Putri dari imigran Cina yang berasal dari Filipina. Dilahirkan di tahun Cina berzodiak Macan. Seorang ibu dari dua anak perempuan. Buku ini mengisahkan pengalaman Amy membesarkan kedua putrinya dengan cara ala “ibu Cina”.
Lalu sebenarnya siapa saja yang dimaksud dengan “ibu Cina”, dan apa yang dimaksud dengan cara mendidik anak ala “ibu Cina” oleh Amy?
Buku ini ditulis dalam konteks Amerika, dan di sana banyak dijumpai anak imigran Cina (atau negara Asia Timur lainnya) yang sukses, terutama dalam studinya, tentunya berkat peran seorang “ibu Cina”. Dalam buku Amy Chua ini, “Ibu Cina” tidak selalu merujuk pada seorang ibu berdarah Cina, tapi merujuk pada setiap ibu yang memiliki atribut tertentu, yang umumnya (lagi-lagi dalam konteks Amerika) dimiliki oleh seorang ibu imigran Cina. Jadi, bisa saja seorang ibu Amerika, ibu imigran Polandia atau India termasuk “ibu Cina” juga. “Ibu Cina” percaya bahwa anak-anak mereka mampu menjadi murid yang “terbaik”, dan bahwa “pencapaian di sekolah mencerminkan keberhasilan dalam membesarkan anak”, dan jika anak tidak jadi juara di sekolah pasti ada “masalah” dan orang tua “tidak berhasil melakukan tugasnya”. Berbeda dengan “orang tua Barat”, “orang tua Cina” menggunakan waktu jauh lebih banyak untuk mendampingi dan melatih anak-anak belajar. Keyakinan yang umumnya dimiliki oleh seorang “ibu Cina” di antaranya:
1. Tugas sekolah selalu menempati urutan pertama.
2. Nilai A minus itu jelek.
3. Orangtua tidak boleh memuji anak di depan orang lain.
4. Pergi menginap di rumah teman itu tidak perlu.
5. Menonton TV atau main game komputer itu tidak baik.
Berbeda dengan “ibu Barat” yang “harus memahami anaknya”, yang “berusaha mencari tahu bakat dan minat anaknya”, yang “selalu berusaha membuat anak dalam suasana hati baik dan gembira”, yang “tidak memaksa anaknya untuk melakukan ini dan itu”, membiarkan mereka “menemukan jalannya sendiri”; “ibu Cina” meyakini bahwa adalah tanggung jawab orang tua untuk memandu (dan bila perlu memaksa) anak untuk menjalani sesuatu yang dianggap terbaik. Ini bukan berarti “ibu Cina” seperti Amy mudah tugasnya. Sebaliknya, bagi Amy, ini justru tugas berat untuk orang tua. Orang tua harus mendedikasikan tenaga dan waktu yang besar untuk berperan sebagai “orang tua Cina”.
Buku ini hadir (pada awal 2011 di Amerika) tepat pada saat Cina tengah hadir mengancam dominasi ekonomi Amerika. Dari berbagai pembahasan yang saya baca tentang buku ini, kehadiran buku ini sedikit banyak memaksa orang Amerika untuk bertanya ulang pada diri mereka sendiri, “adakah yang salah dalam sistem pendidikan kita, yang berpengaruh pada merosotnya ekonomi kita?” Pada rilis hasil tes PISA (Program for International Student Assessment) Desember 2010, para siswa Amerika menempati peringkat 17 dalam hal membaca, 23 dalam ilmu pengetahuan alam, dan 31 pada matematika; dalam nilai totalnya menempati peringkat ke 17. Pada rilis tahun 2010 itu, siswa dari Shanghai (bukan Cina secara keseluruhan) mengikuti PISA. Dan hasilnya menggetarkan: mereka menempati peringkat pertama dalam ketiga kategori tersebut. Para analis menjelaskan bahwa ini karena siswa dari Shanghai belajar lebih keras, dengan konsentrasi lebih baik, dalam jumlah jam yang lebih banyak ketimbang siswa Amerika.
Yang cukup mengejutkan, tindakan “ibu Cina” yang selalu menuntut 110% dari anak-anaknya, ternyata mendapat dukungan dari riset dalam bidang ilmu psikologi. Dalam buku A Nation of Wimps, Hara Estroff Marano (editor majalah Psychology Today) mengatakan “riset menunjukkan bahwa anak yang tidak mengalami situasi ‘bergulat’ dengan tugas-tugas sulit, tidak mengembangkan apa yang disebut sebagai ‘pengalaman untuk menguasai sesuatu (kemampuan/keadaan)’”. Marano menjelaskan, “anak-anak yang punya kemampuan dan pengalaman itu cenderung lebih optimistis dan tegas; mereka telah belajar bahwa mereka mampu untuk menaklukkan kesulitan dan meraih berbagai tujuan.”
Terlepas dari semua itu, buku ini jelaslah bukan sebuah manual tentang “bagaimana menjadi ‘ibu Cina’”. Buku ini mengisahkan pengalaman Amy Chua sebagai seorang “ibu Cina”. Dan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang dimaksud oleh Amy dengan “ibu Cina” (karena apa yang coba saya tuliskan di atas tentu tidak lengkap), tidak ada cara lain selain membaca sendiri buku ini.
Buku ini menarik bagi saya, salah satunya karena ternyata cara mendidik anak ala “ibu Cina” tidak begitu asing bagi saya. Kembali ke masa saya duduk di bangku SD dulu, banyak “ibu Cina” yang mendorong anak-anaknya untuk duduk di peringkat satu kelas. Menunggui anak mengerjakan PR, menjejali anak dengan berbagai les selepas jam sekolah, rajin berkonsultasi dengan para guru membahas apa yang masih kurang dari anak-anak mereka. Ada di antara anak-anak itu yang menjadi orang sukses, ada di antaranya yang terpuruk dalam berbagai kesulitan pribadi.
Secara umum buku ini menarik perhatian saya, bukan karena saya tertarik untuk mencoba pendekatan “ibu Cina”, tapi karena ini sebuah kisah yang cukup lengkap dan detail tentang menjadi orang tua beserta segala tantangannya, yang disampaikan dalam bahasa yang sederhana dan menarik.
============
Beberapa pembahasan yang menarik untuk dibaca:
http://www.time.com/time/printout/0,8816,2043477,00.html
http://healthland.time.com/2011/01/11/chinese-vs-western-mothers-q-a-with-amy-chua/
http://www.theatlantic.com/magazine/archive/2011/04/sympathy-for-the-tiger-moms/8399/?single_page=true
Catatan dari Forum Informatika Kesehatan (FIKI), 3-4 Desember 2011
Acara Workshop SIKDA Generik dan Connectathon dilanjutkan dengan FIKI 2011. Ini adalah catatan saya tentang FIKI 2011. Catatan ini tidak direncanakan untuk menjadi catatan kronologis, sehingga memang bisa jadi tidak akan lengkap.
FIKI adalah Forum Informatika Kesehatan Indonesia. FIKI 2011 adalah FIKI yang kedua. FIKI pertama diadakan tahun lalu, 2010, di Yogyakarta. FIKI 2011 ini diadakan di Jakarta, tepatnya di Novotel Mangga Dua Jakarta. Bagi saya, FIKI adalah forum yang menarik, karena menggabungkan dua bidang ilmu besar: ilmu kesehatan dan informatika. Informatika ditakdirkan sebagai ilmu yang fleksibel, karena ia hadir dengan harapan untuk mempermudah pengelolaan informasi, yang tentu saja diperlukan di banyak (atau bahkan semua) bidang kehidupan. Termasuk di bidang ilmu kesehatan.
Dari beragamnya latar belakang peserta FIKI yang saya jumpai, terlihat bahwa bidang informatika kesehatan menarik perhatian banyak pihak dari berbagai bidang ilmu. Sekedar menyebut beberapa di antaranya: tenaga medis (dokter, dokter gigi, perawat, dll), perusahaan pengembang SIK dan programmer lepas (terutama yang mengembangkan aplikasi untuk dunia medis, seperti Mas Jojok dan saya), pengelola RS, perusahaan telekomunikasi, perusahaan alat medis, akademisi dan universitas, peneliti, lembaga pemerintah (terutama yang terkait dengan soal kesehatan, dari berbagai lini: Dinkes Kabupaten, Dinkes Propinsi, lembaga di dalam Kemenkes).
FIKI Hari Pertama
Pada hari pertama, ada beberapa presentasi yang menarik bagi saya. Salah satunya adalah presentasi tentang Telkom e-Health Cloud yang sedang dikembangkan oleh PT. Telkom. Solusi cloud computing diajukan untuk menjawab beberapa persoalan, di antaranya: tidak terintegrasinya dan begitu beragamnya format data berbagai sistem informasi kesehatan (SIK) yang selama ini telah ada (persis dengan isu yang sedang dicoba untuk diatasi oleh Pusdatin – melalui penyusunan dataset standar), relatif mahalnya biaya investasi SIK, dan terbatasnya akses atas data kesehatan yang berada di dalam SIK.
Tentang cloud computing sebagai solusi untuk mengatasi masalah tidak terintegrasinya dan begitu beragamnya format data berbagai SIK yang selama ini ada, menurut saya solusi cloud computing yang diajukan hanya akan menjadi sekedar satu jenis SIK baru, dengan standar data dan alur proses yang juga baru. Ia baru akan menjawab persoalan itu, jika semua institusi medis yang ada meninggalkan SIK yang selama ini dipakai dan beralih pada cloud computing yang ditawarkan PT. Telkom. Format data yang digunakan, saya yakin (meski saya belum melihat), juga adalah format data yang berbeda, sejajar (dalam artian sama berbedanya) dengan berbagai format data dari SIK yang selama ini telah ada. Sehingga menurut saya, belum tentu cloud computing dapat hadir sebagai bentuk jawaban atas persoalan multi format data dan tidak terintegrasinya SIK yang ada.
Tentang cloud computing sebagai solusi atas mahalnya biaya investasi SIK, menurut saya persoalannya tidak sesederhana itu. Secara umum, biaya investasi sebuah sistem informasi (bukan hanya SIK) akan jauh melambung tinggi jika dirancang secara spesifik / custom. Biaya dapat ditekan jika sistem informasi yang ditawarkan bersifat generik, satu sistem yang sama untuk semua orang. Solusi cloud computing yang dijelaskan dalam presentasi itu, cenderung merupakan solusi satu sistem untuk semua orang. Variasi mungkin bisa disajikan dalam bentuk pilihan modul, tapi tentu saja ini terbatas, dan tidak bisa disebut sebagai solusi spesifik / custom. Pada kenyataannya, SIK selalu cenderung bersifat beragam, karena beragamnya kebijakan lokal, sesuai dengan tempat SIK tersebut digunakan. Ini saja terjadi di puskesmas, institusi yang sebetulnya relatif seragam, apalagi dengan RS (yang lebih banyak disinggung dalam presentasi kemarin). Sejauh tidak ada keseragaman kebijakan di berbagai institusi medis pengguna SIK, cloud computing akan menghadapi tantangan dalam menerapkan solusinya pada situasi dan kebutuhan yang amat beragam.
Tentang terbatasnya akses atas data kesehatan yang berada di dalam SIK yang selama ini terjadi, cloud computing menjanjikan akses yang lebih mudah, termasuk bagi mereka yang mobile. Asalkan koneksi internet tersedia, data kesehatan di dalam cloud dapat diakses di mana saja dan kapan saja. Pertanyaan saya adalah, sejauh mana ini sudah diperlukan di lingkungan Indonesia saat ini? Mungkin dalam sekian tahun mendatang, kebutuhan aksesibilitas semacam ini akan semakin nyata, meski mungkin sekarang belum tampak. Menurut saya, ini adalah sebentuk antisipasi PT. Telkom untuk bersiap memenuhi kebutuhan di masa mendatang. Jika antisipasi ini pas, PT. Telkom akan menjadi pionir dalam solusi e-health yang berupa cloud computing.
Saya rasa akan menarik jika Anda juga membaca tentang Practice Fusion, sebuah solusi cloud computing di dunia medis yang disediakan secara gratis. Menarik pula untuk membaca sebuah ulasan tentang Practice Fusion di sini: http://www.readwriteweb.com/archives/practise_fusion_partners_with_salesforce.php.
FIKI Hari Kedua
Pada hari kedua, terdapat pula beberapa presentasi yang cukup menarik perhatian saya. Satu di antaranya adalah presentasi dari Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan (BUK) Kemenkes. Presentasi dibuka dengan penjelasan tentang tugas pokok Ditjen BUK, yaitu “merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang pembinaan upaya kesehatan”. Ditjen BUK melihat ada beberapa persoalan di lingkungan RS saat ini, di antaranya: pengembangan IT di RS masih dijalankan terpisah (tidak terintegrasi), belum tersedia blueprint untuk HMIS (Hospital Management Information System). Dari tugas pokok yang diberikan kepadanya, Ditjen BUK mengusulkan beberapa solusi untuk permasalahan yang ada saat ini. Beberapa usulan solusi itu di antaranya: penyusunan standar minimal SIMRS, penyusunan aplikasi SIMRS opensource. Di masa mendatang, Ditjen BUK juga berencana untuk menyiapkan sebuah data center yang menampung kiriman data dari semua RS yang ada. Disampaikan juga di dalam presentasi yang sama bahwa Ditjen BUK akan (atau mungkin telah) bekerja sama dengan PT. Telkom untuk mengimplementasikan e-RM (rekam medis online – yang dalam pemahaman saya mungkin adalah Telkom e-Health Cloud – lihat catatan saya di atas) sebagai bentuk kegiatan CSR PT. Telkom.
Secara sekilas tampak adanya kemungkinan tumpang tindih tugas dan kegiatan antara Pusdatin (silakan baca catatan saya sebelumnya) dan Ditjen BUK. Keduanya memiliki tugas pokok yang cukup mirip, dan kemudian juga melakukan beberapa kegiatan yang hampir sama. Pusdatin, meski saat ini masih bergelut dengan pengembangan SIKDA Generik yang ditujukan untuk puskesmas, pada tahun 2012 merencanakan untuk juga mengembangkan SIM RS Generik (yang akan diikuti dengan SIK Dokter Generik). Pusdatin juga tengah mengembangkan Bank Data Daerah dan Nasional untuk menampung data dari puskesmas dan juga RS nantinya (yang jika tidak mengalami kendala teknis, direncanakan untuk diujicoba pada acara Connectathon 2 hari sebelumnya).
Sebagai pengembang SIK, Mas Jojok dan saya merasa bingung dengan kemungkinan dualisme ini. Bagaimana jika nantinya muncul dua standar data dan standar minimal aplikasi, dari Pusdatin dan Ditjen BUK? Yang mana yang harus diikuti oleh para pengembang SIK?
Mas Jojok memutuskan untuk mengambil kesempatan untuk bertanya. Pertanyaannya kurang lebih adalah seperti ini:
“Saya kemarin diundang untuk mengikuti salah satu acara… (menghela nafas) BUK tadi menyampaikan tentang e-health blablabla, data center blablabla. Saya ikut di acara connectathon. Pusdatin sekarang sedang mengembangkan itu juga Pak. Bagaimana sebenarnya bisa ada dualisme pengembangan seperti ini? Pusat saja belum bisa berkoordinasi Pak, bagaimana mau membenahi sistem yang ada? Sudahkah ada koordinasi di antara Ditjen-ditjen yang ada di sini dan Pusdatin? Sudahkah semuanya duduk bareng dan membahas bersama? Saya vendor SIK dengan pengguna lebih dari 400 puskesmas, dan semuanya standar sesuai standar punya saya sendiri. Dan saya menunggu saat seperti ini untuk menyesuaikan diri dengan standar nasional. Kemarin semua vendor juga sudah hadir, dari Ngawi, dari Purworejo, dan semuanya sudah berkomitmen bahwa kami akan selalu mendukung upaya pemerintah untuk menstandarkan ini. Tapi tolong, pemerintah juga sepakat di jajarannya yang berbeda-beda ini untuk saling menstandarkan di antara mereka sendiri.”
Saya melihat pertanyaan ini mewakili kegelisahan para pengembang SIK yang hadir. Dan adanya kegelisahan terbukti dari munculnya pertanyaan senada dari penanya yang lain.
Presenter dari BUK kemudian menanggapi dengan menyatakan bahwa selama ini Ditjen BUK dan Pusdatin telah dan akan selalu berkoordinasi, komunikasi di antara mereka berjalan dengan sangat baik. Beliau menjelaskan bahwa memang setiap direktorat memiliki kebutuhan data yang berbeda, sesuai dengan bidang tugasnya. Dan dalam soal RS, BUK disebutkan sebagai pihak yang memahami kebutuhan data dari RS yang ada. Oleh karena itu BUK memiliki wewenang untuk menentukan dataset minimal RS. Beliau menjelaskan bahwa ini semua tidak berarti tidak ada koordinasi antara BUK dan Pusdatin. Koordinasi berjalan terus dalam rangka menyusun dan mengembangkan sistem-sistem yang diperlukan.
Dari tanggapan tersebut, saya memahami bahwa mungkin memang secara umum BUK lebih memiliki wewenang untuk soal RS, termasuk dalam soal menentukan dataset standar minimal. Dan tentu baik jika benar bahwa BUK telah dan selalu berkoordinasi dengan Pusdatin terkait masalah ini. Namun demikian, tanggapan yang diberikan, seingat saya, tidak menyinggung soal mengapa BUK juga mengembangkan SIMRS opensource dan sebuah data center. Bagaimana itu dikoordinasikan, belum dijelaskan. Sebagai orang lapangan, saya sangat berharap koordinasi itu benar telah dan akan selalu dilakukan. Tersusunnya sebuah dataset kesehatan standar yang dirancang secara matang dengan pertimbangan dan masukan banyak pihak, terutama dari para pengembang SIK dan para pengguna, tentu akan menjadi langkah awal yang baik untuk terbentuknya sebuah data kesehatan nasional yang utuh dan akurat.
Satu hal lain yang menarik dalam FIKI 2011 ini adalah hadirnya beberapa peserta dari Malaysia. Mereka tampak aktif mengikuti setiap acara, dan pada beberapa kesempatan ikut juga mengajukan pertanyaan. Dugaan saya, ini menunjukkan bahwa ada minat dari akademisi / pengusaha Malaysia untuk mulai melirik potensi pasar di dunia kesehatan Indonesia. Jika ini benar, tentu seluruh pihak yang terlibat di dunia kesehatan, terutama informatika kesehatan, patut menjadikan ini sebagai sebuah tantangan untuk makin serius menggarap peluang di negeri kita sendiri, sebelum pihak asing ikut masuk dan mendapat manfaat.
Tentu para peserta FIKI 2011 lainnya bisa memiliki sudut pandang yang berbeda soal hal mana saja yang menarik perhatian mereka. Catatan ini mewakili sudut pandang saya. Semoga catatan ini bermanfaat.
Catatan dari Workshop SIKDA Generik dan Connectathon, 2 Desember 2011
Pada tanggal 2 Desember 2011, saya dan Mas Jojok diundang untuk menghadiri Workshop SIKDA Generik dan Connectathon yang diadakan di Novotel Mangga Dua Jakarta. Workshop dan Connectathon adalah dua acara terpisah, meski diadakan di tempat dan hari yang sama. Workshop diselenggarakan pagi hingga menjelang sore, sedangkan Connectathon diselenggarakan setelahnya hingga larut malam, dengan hanya dihadiri oleh pihak pengembang sistem informasi kesehatan (SIK) yang diundang. Mengutip Term of Reference (TOR) yang dibagikan panitia, tujuan dari kegiatan workshop ini terutama adalah sebagai ajang sosialisasi SIKDA Generik sebagai salah satu alternatif pilihan dan acuan standar SIK di Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Sedangkan connectathon direncanakan sebagai kegiatan ujicoba teknis dalam usaha mengintegrasikan data kesehatan dari berbagai sistem informasi puskesmas dengan Bank Data Nasional. Pada umumnya, connectathon diadakan dengan melibatkan tim programmer untuk memodifikasi kode program secara langsung di lokasi acara connectathon sesuai standar yang diharapkan. Kami diundang selaku salah satu pihak pengembang SIK di Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Jika saya tidak salah menghitung, dalam acara tersebut terdapat 6 pihak pengembang yang diundang.
SIKDA Generik (Sistem Informasi Kesehatan Daerah Generik) adalah sebuah SIK yang sedang dikembangkan oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Pusdatin Kemkes). SIKDA Generik dirancang untuk menjadi model SIK yang sesuai standar. Dalam waktu yang sama, sebuah format data kesehatan standar (agar sederhana, kita sebut saja sebagai dataset standar) sedang dikembangkan oleh Pusdatin, dan dataset standar inilah yang diacu oleh SIKDA Generik. Dataset standar ini direncanakan untuk menjadi acuan semua SIK yang telah ada selama ini. Keberadaan sebuah dataset standar diperlukan, karena selama ini SIK yang telah ada tidak memiliki dataset standar yang sama, dan tentu ini menimbulkan kesulitan ketika pengguna data (Kemkes misalnya) menerima data dengan berbagai format yang berbeda.
Workshop SIKDA Generik
Pada hari Jumat itu, dari pagi hingga menjelang sore acara diisi oleh paparan dari beberapa pihak yaitu: drg. Rudi Kurniawan, M.Kes. mewakili Pusdatin, Kelvin Hui dari GIZ selaku konsultan teknis yang membantu Pusdatin, Yudi Permana dari Dinkes Bekasi selaku pihak pengguna sebagai lokasi ujicoba SIKDA Generik, dr. Lutfan Lazuardi, PhD dari SIMKES UGM, dan tim pengembang SIKDA Generik. Sebagian besar (atau bahkan semua) paparan berisi daftar poin-poin dan bagan konseptual. Bahkan ketika tim pengembang SIKDA Generik memberikan paparan tentang fitur-fitur SIKDA Generik, screenshot SIKDA Generik (yang sebenarnya adalah tema utama workshop ini) tidak tampil. Setelah sedari pagi sebagian peserta menahan rasa penasaran tentang “look-and-feel” SIKDA Generik, akhirnya ada juga peserta yang meminta secara terbuka agar peserta dapat melihat tampilan dan jika memungkinkan mencoba SIKDA Generik. Tim pengembang menjelaskan bahwa sebenarnya SIKDA Generik akan ditampilkan dan dicobakan nanti pada sesi Connectathon (yang menurut rencana hanya akan dihadiri oleh para pengembang SIK yang diundang). Namun demi menjawab keinginan peserta workshop, akhirnya SIKDA Generik disediakan secara terbuka untuk diakses dan dicoba oleh para peserta. Saya sendiri belum begitu banyak mencoba, karena akses baru dibuka pada sekitar 15 – 30 menit terakhir sebelum sesi workshop diakhiri (dan kemudian dilanjutkan oleh acara Connectathon).
Dalam sesi tanya jawab yang dibuka pada acara workshop, ada beberapa pertanyaan yang diajukan, termasuk dari saya. Dari beberapa peserta yang mewakili Dinkes dari berbagai daerah (terutama yang telah mengembangkan atau menggunakan SIK non SIKDA Generik), muncul kekhawatiran adanya keharusan untuk beralih dari SIK yang selama ini telah dengan lancar digunakan ke SIKDA Generik. Pertanyaan ini dijawab tuntas oleh staf Pusdatin, bahwa itu tidak benar. SIKDA Generik disiapkan sebagai SIK alternatif, terutama bagi daerah yang selama ini tidak memiliki kemampuan dana yang memadai untuk membeli (atau apalagi mengembangkan) SIK. SIKDA Generik akan diedarkan secara gratis dan opensource (catatan: gratis dan opensource adalah dua hal yang berbeda), sehingga diharapkan ini akan mengeliminasi keperluan biaya pengadaan perangkat lunak SIK. Menurut saya pribadi, dari pengalaman selama ini, sejauh yang saya tahu, biaya harga SIK (terutama Simpus Jojok, dengan berbagai versinya) justru tidak pernah menjadi komponen biaya utama dari total biaya implementasi SIK di berbagai daerah. Komponen biaya terbesar justru terletak pada biaya pelatihan dan pendampingan sebagai upaya penyiapan manajemen dan SDM puskesmas / Dinkes pengguna. Oleh karena itu, menurut saya ketika SIK disediakan secara gratis (dalam konteks SIKDA Generik), persoalan masih ada: bagaimana dengan pembiayaan dan pelaksanaan pelatihan dan pendampingan? Belum lagi, bagaimana dengan pembiayaan pengadaan perangkat keras? Sayangnya pertanyaan ini belum sempat saya ajukan dalam acara workshop kemarin.
Pertanyaan lain yang juga diajukan oleh peserta adalah, bagaimana dengan pelatihan dan pendampingan penggunaan SIKDA Generik nantinya? Pusdatin menjawab, pelatihan dan pendampingan SIKDA Generik akan melibatkan penyedia jasa lokal. Para penyedia jasa lokal ini sebelumnya akan dilatih tentang penggunaan SIKDA Generik. Hanya memang bagaimana mekanismenya, juga seperti apa materi pelatihan para penyedia jasa lokal ini belum sempat dipaparkan secara terperinci. Saya sendiri mengajukan beberapa pertanyaan terkait dataset standar. Salah satu pertanyaan saya adalah tentang mekanisme sinkronisasi pengkodean. Di dalam rancangan dataset standar yang telah diedarkan secara terbatas di kalangan pengembang SIK, terdapat kode standar untuk berbagai variabel, misalnya kode jenis kelamin, kode obat, kode tindakan. Ada sebagian kode yang sifatnya dinamis, karena bisa diubah sesuai situasi di masing-masing daerah. Misalnya kode obat. Dengan sifatnya yang dinamis, tentu ada kemungkinan untuk terjadinya situasi kode obat yang sama digunakan untuk obat yang berbeda. Misalnya, di satu daerah, kode obat “A01″ digunakan untuk obat bernama “Obat ABC”, sedangkan di daerah lain, kode obat “A01″ digunakan untuk obat bernama “Obat ACD”. Ketika data dikirimkan ke Bank Data Nasional, tentu bisa terjadi kekacauan, karena yang dikirim sama-sama kode “A01″, padahal yang dimaksud adalah obat yang sepenuhnya berbeda. Bagaimana strategi sinkronisasinya? Tim pengembang menjawab, jika ditemui kejadian seperti itu, Pusdatin akan melakukan revisi dataset standar dengan menambahkan kode dan nama obat baru tersebut ke dalam dataset standar. Secara berkala, setiap puskesmas pengguna SIK (baik SIKDA Generik ataupun SIK lain) harus menyesuaikan kode-kode obat (juga kode-kode variabel lain yang direvisi) agar sesuai dengan dataset standar. Terus terang saya belum mampu membayangkan kerumitan pelaksanaannya. Kelvin Hui lalu menambahkan keterangan, bahwa revisi tidak bersifat historikal, artinya data yang sudah terlanjur ada dengan kode lama dibiarkan saja, kode baru hanya digunakan pada data yang baru saja. Ini tentunya lebih mudah dilaksanakan.
Connectathon
Terus terang, saya dan Mas Jojok berangkat tanpa memiliki bayangan akan seperti apa acara connectathon itu nantinya. Jika benar connectathon adalah acara yang bersifat sangat teknis (seperti yang saya jelaskan di atas), tentunya petunjuk dan dokumentasi teknis sudah disebarkan semenjak jauh-jauh hari, agar para peserta siap. Memang benar, petunjuk teknis telah dikirimkan sebelumnya, namun sejujurnya saya tidak begitu memahami isinya, karena isinya didominasi daftar variabel yang masuk dalam dataset standar, dan tanpa disertai satupun contoh. Melalui beberapa obrolan, saya mendapati peserta connectathon yang lain juga belum memahami petunjuk teknis yang telah dikirimkan.
Dalam pembukaan connectathon oleh Kelvin Hui, disampaikan bahwa connectathon kali ini tidak akan terlalu bersifat teknis, karena ini baru kali pertama connectathon diadakan. Connectathon ini akan didominasi oleh penjelasan konsep dataset standar dan jika memungkinkan, beberapa ujicoba sederhana. Ini sedikit melegakan beberapa peserta yang tidak membawa serta tim programmer mereka. Acara dilanjutkan dengan paparan konsep SDMX-HD dan rancangan dataset standar. Melihat kebingungan yang mungkin tampak di wajah sebagian peserta saat paparan teknis disampaikan, tim pengembang SIKDA Generik berulang kali bertanya, “apakah penjelasan teknis ini dapat diikuti?”. Saya mengajukan usul, bagaimana jika penjelasan teknis disampaikan dalam bentuk contoh, langsung saja didemokan bagaimana SIKDA Generik dioperasikan untuk mengirimkan data (dalam format yang sesuai dengan dataset standar, karena SIKDA Generik diposisikan sebagai acuan SIK lainnya terkait dengan dataset standar) ke Bank Data yang telah disiapkan. Usulan saya disambut baik oleh sebagian besar peserta dan juga tim pengembang SIKDA Generik. Server untuk menjalankan SIKDA Generik dan Bank Data disiapkan. Namun rupanya terjadi kendala teknis, sehingga server belum dapat difungsikan.
Sekian menit diitunggu-tunggu, penyebab permasalahan teknis tak kunjung ditemukan meski teman-teman itu sudah berupaya keras. Akhirnya Mas Jojok mengusulkan untuk mengisi waktu dengan perkenalan dan diskusi. Usulan ini disambut baik oleh Pak Rudi. Peserta yang hadir bergantian memperkenalkan diri. Bagi saya, terlepas dari kenyataan bahwa saya merupakan bagian dari tim Simpus Jojok, apa yang disampaikan oleh Mas Jojok dalam sesi diskusi malam itu sangat menarik dan menyentuh hati. Saya tidak yakin mampu menuliskannya secara akurat, tapi yang saya coba tulis berikut ini adalah kurang lebihnya.
Mas Jojok menyampaikan bahwa dia berangkat ke acara ini dengan membawa titipan dari beberapa teman staf Puskesmas pengguna Simpus Jojok. Mereka menyampaikan titipan harapan, agar jangan sampai Simpus yang telah mereka gunakan diubah atau diganti. Artinya ada harapan agar tidak terjadi perubahan yang berarti pada kenyamanan menggunakan SIK yang telah ada, meskipun akan diberlakukan standar nasional untuk data kesehatan. Di situ tampak jelas pentingnya komunikasi antara pembuat kebijakan dan stakeholder yang lain.
Mas Jojok juga menyampaikan bahwa dia mengawali perjalanan sebagai pengembang SIK sekitar 10 tahun yang lalu dengan kesadaran, bahwa ini adalah semacam panggilan hidup. Pengguna Simpus Jojok telah menaruh kepercayaan pada produk yang ia buat, dan dengan demikian ia mesti menjawab kepercayaan itu dengan pendampingan secara utuh. Relasi itu bukan sekedar relasi transaksi jual beli. Pengguna membeli Simpus Jojok, produk diinstall, dilatihkan, lalu selesai. Bukan seperti itu menurut Mas Jojok. Pengguna mesti selalu didampingi, terutama jika mereka mengalami kendala terkait penggunaan produk. Masalah bukan hanya mungkin datang sepanjang masa kontrak yang biasanya hanya 1 tahun setelah produk dibeli, tapi juga bisa datang dalam tahun-tahun mendatang, jauh setelah kontrak awal berakhir. Dan Mas Jojok berharap itu juga yang akan terjadi pada produk bernama SIKDA Generik. Dalam tahun-tahun sebelumnya, banyak produk hasil proyek dari instansi pusat dikirimkan dan “dipaksakan” untuk digunakan di puskesmas, hanya untuk diabaikan dan dilupakan segera setelah masa kontrak pengembang produk tersebut berakhir. (Mas Jojok menyebut beberapa contohnya, yang tidak akan saya kutip di sini.)
Mas Jojok menyadari bahwa adanya suatu standar format data secara nasional amat penting, bahkan standar semacam itu telah ia nanti-nantikan selama bertahun-tahun. Dalam momentum yang cukup baik ini (dalam konteks pengembangan SIK dan dataset standar), ia berharap komunikasi antara pengembang SIK dan Pusdatin selaku pembuat kebijakan tentang standar nasional untuk data kesehatan dapat terus berlangsung, agar pengalaman dari berbagai pengembang SIK selama bertahun-tahun dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan standar.
Satu hal lain yang sangat menarik dikemukakan di dalam diskusi oleh Mas Harmi, pengembang Sikesda (sebuah SIK yang dikembangkan oleh Sisfomedika). Di Kabupaten Sleman, terdapat 3 produk SIK yang hidup berdampingan. Ada puskesmas yang menggunakan Simpus Jojok, ada yang menggunakan Sikesda, dan ada yang menggunakan IHIS (semoga saya tidak salah menyebutkan nama produknya). Pak Haryanto dari Dinkes Sleman mengajak pengembang ketiga SIK ini untuk saling berkomunikasi, agar Dinkes Sleman tetap dapat memperoleh data dalam format seragam dari ketiga SIK tersebut. Dengan komunikasi intensif, terutama antara tim Sikesda dan Simpus Jojok, itu dapat diwujudkan. SIK yang ketiga menyusul kemudian. Format datanya tidak kompleks, hanya menggunakan text file berformat CSV (comma seperated value). Ini sebenarnya merupakan gambaran mini dari apa yang saat ini dihadapi oleh Pusdatin: ada berbagai SIK dengan fitur dan format beragam dan ada kebutuhan untuk mendapatkan data dari semua SIK dalam format seragam (agar dapat masuk dalam sebuah bank data). Seingat saya, proses teknis penambahan fitur untuk menghasilkan format data yang disepakati bersama itu hanya beberapa jam saja, tidak melebihi setengah hari. Sangat singkat! Tentu data yang dikirimkan belum semua, baru beberapa data standar saja, seperti data laporan LB 1. Tapi setidaknya, itu membuktikan bahwa hal semacam itu memungkinkan untuk dikerjakan. Mulai dengan sesuatu data dan format yang sederhana, disepakati bersama, lalu langsung dikerjakan.
Bagi saya, dalam forum itu, hal-hal yang penting telah disampaikan, terutama setidaknya dari yang saya ingat dari Mas Jojok dan Mas Harmi seperti saya tuliskan tadi. Sekarang perlu ditunggu kelanjutannya, baik dalam soal pengembangan SIKDA Generik dan dataset standar, juga dalam soal komunikasi antara Pusdatin dan para pengembang dan pengguna SIK yang telah ada. Semoga tulisan panjang ini bermanfaat.
Pak Tarno
Ada seorang tukang langganan kami sekeluarga. Pak Tarno namanya. Berusia paruh baya, anaknya sudah mapan semua. Meski demikian, Pak Tarno menolak tinggal duduk diam di rumah menimang cucu. Pak Tarno selalu aktif bekerja memperbaiki rumah orang, sesuai pesanan. Tinggal di Solo, tapi tidak jarang kami minta ke Yogya jika ada yang perlu diperbaiki di rumah kami di Yogya.
Bermula dari kebutuhan kami untuk memperbaiki beberapa bagian rumah agar rapi dan tidak berbahaya bagi anak kami yang masih kecil, saya dikenalkan oleh Pak Tarno oleh mertua. Sudah beberapa waktu Pak Tarno jadi andalan perbaikan rumah di rumah mertua. Semenjak itu, setiap ada kebutuhan perbaikan rumah, mulai dari pintu yang rusak, kusen yang keropos, pemasangan keramik, hingga saluran air yang bermasalah, kami selalu menggunakan jasa Pak Tarno. Di mata kami, Pak Tarno tukang yang hebat. Hasil kerjanya rapi, penuh akal dalam menyelesaikan permasalahan yang ada, selalu berusaha menggunakan apapun yang ada agar biaya bahan optimal, bekerja tanpa banyak cakap.
Tiap kali kami undang ke Yogya, Pak Tarno naik kereta Prameks. Saya jemput dari dan antar ke stasiun. Pak Tarno tidak pernah mau punya handphone, namun Pak Tarno selalu datang pada jam yang sama, jadi saya sudah hafal jam berapa mesti menjemputnya di stasiun.
Anak kami selalu senang saat bertemu Pak Tarno. Pak Tarno dipanggilnya Eyang, “Yang” begitu panggil anak kami. Gerak gerik Pak Tarno saat bekerja tak jarang ditirunya. Pak Tarno selalu tersenyum melihat tingkah polah anak kami.
====================
Hari Kamis minggu yang lalu, Pak Tarno kami minta ke Yogya untuk mengatasi saluran air rumah kami yang bermasalah. Bekerja dari pagi hingga sore, hingga akhirnya saluran air kembali lancar. Sore itu, seperti biasanya Pak Tarno saya antar ke stasiun untuk pulang ke Solo. Di jalan, saat saya boncengkan naik motor, tidak seperti biasanya Pak Tarno menitipkan pesan pada saya agar mengabarkan pada menantunya untuk tidak menjemput ke stasiun (biasanya Pak Tarno diantar-jemput oleh menantunya di stasiun). “Soalnya kalo sore biasanya pada repot Mas. Nanti bilang saja saya mau naik ojek,” pesan Pak Tarno pada saya. Pesan saya kerjakan. Terus terang, saya dan mertua (yang mendengar ini dari saya) merasa agak heran. “Kok tumben,” kata mertua saya waktu itu.
Esoknya, hari Jumat, tepat seminggu yang lalu, pada sore hari istri saya menerima kabar dari ayahnya bahwa Pak Tarno jatuh dari ketinggian hingga tidak sadarkan diri. Informasi lanjutan terus disusulkan. Perkaranya amat sepele. Pak Tarno jatuh dari pohon matoa karena dahannya patah. Dan jatuhnya kepala duluan. Dokter di Rumah Sakit memutuskan untuk mengoperasi. Operasi dilangsungkan, namun Pak Tarno masih belum juga siuman. Ada gerakan-gerakan kecil pada tangan dan kakinya. Ada air mata yang mengalir ketika istri, anak, cucunya berbicara padanya.
Sore ini, istri saya mendapat kabar bahwa Pak Tarno meninggal dunia.
Terimakasih Pak Tarno, untuk semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan pada kami sekeluarga. Hasil karyamu akan terukir abadi di sudut-sudut rumah kecil kami dan juga di hati kami. Selamat jalan.
Ide itu gratis..
Sekitar 8 tahun yang lalu, saya dan beberapa teman mempunyai ide untuk membuat sebuah software manajemen parkir. Berbeda dengan software sejenis yang saat itu mulai marak digunakan, terutama di daerah Jateng – DIY, software yang kami buat itu menambahkan beberapa fitur yang dalam pengamatan kami belum digunakan di software sejenis yang lain. Salah satu dari fitur itu adalah karcis parkir dengan barcode, tanpa mencantumkan nomor polisi kendaraan yang diparkir. Karcis parkir yang mencantumkan nomor polisi akan sangat memudahkan orang untuk mencuri kendaraan kita. Karcis parkir itu adalah kunci penentu berhasilnya seorang pengendara mengeluarkan kendaraannya dari lahan parkir. Nomor polisi yang tercantum jelas, memudahkan orang lain (katakanlah pencuri karcis) yang memegang karcis parkir itu untuk menemukan kendaraan kita.
Software itu sudah dirancang dengan baik, dengan mempertimbangkan berbagai skenario yang mungkin muncul, misalnya karcis hilang, petugas gerbang masuk salah ketik nomor polisi, dll. Dalam kondisi terbatas, software itu sudah diujicoba, meski tentunya tidak dalam situasi nyata. Kecepatan proses pemberian karcis di gerbang masuk dan juga penerimaan pembayaran di gerbang keluar, semua sudah diperhitungkan, dan menghasilkan angka tunggu yang layak bagi para pengantre lahan parkir. Kekurangannya cuma satu: sangat sulit menemukan perusahaan pengelola lahan parkir yang bersedia mempercayai kualitas software buatan anak-anak muda dari antah berantah Yogya. Keberanian sudah dikumpulkan untuk akhirnya mencoba menghubungi berbagai perusahaan pengelola lahan parkir dan meminta waktu pihak manajemen untuk melihat presentasi dan demo software kami, namun tak satupun tembus. Beberapa eksemplar proposal juga sudah sempat dikirimkan, tapi tak ada balasan. Kami sepenuhnya menyadari, mengirimkan proposal yang menjelaskan secara sekilas beberapa fitur kunci yang kami tawarkan tentulah mengandung resiko: ide dibajak, tapi tak ada jalan lain untuk menawarkan produk kami tanpa melalui langkah itu.
Akhirnya, kami tak pernah mendapat satupun kesempatan untuk mempresentasikan software itu.
Beberapa bulan yang lalu, saya mendapati karcis parkir sebuah mal sudah mengimplementasikan ide kami dulu itu: karcis parkir yang tidak mencantumkan nomor polisi, dan menampilkan barcode sebagai gantinya. Beberapa minggu setelahnya, saya mendapati karcis parkir sebuah mal yang lain juga menggunakan model karcis parkir yang sama. Sambil tersenyum, saya cuma berkata di dalam benak, “Rupanya ide kami terlalu awal 8 tahun.”
Ide itu sesuatu yang gratis. Siapa saja bisa mendapat ide yang sama. Saya yakin bahwa kemungkinan besar kami bukanlah yang pertama kali menemukan ide itu, meski mungkin kami termasuk beberapa orang yang paling awal memikirkannya. Tapi, meski ide gratis, orang butuh daya upaya, butuh kemampuan, dan butuh kesempatan untuk mewujudkan dan menerapkannya. Satu hal yang kurang dari kami waktu itu adalah kesempatan. Pintu kesempatan belum terbuka bagi kami.
Tapi tentu saja, itu bukan berarti akhir dari segala-galanya. Kami mendapatkan pengalaman yang menarik terkait software manajemen parkir itu. Kami belajar banyak memikirkan berbagai skenario dalam pengelolaan lahan parkir. Kami belajar untuk berani menawarkan apa yang kami punya, mencoba mengetuk pintu-pintu yang asing bagi kami. Kami belajar menerima penolakan. Kami belajar banyak trik pemrograman baru saat membuatnya. Mungkin kami belum cukup keras berusaha, belum cukup ngotot dan berani mengetuk lebih banyak pintu lagi.
Anda punya ide? Jangan terburu gembira dulu dengan membayangkan bahwa mungkin Andalah orang pertama yang mendapatkan ide itu. Masih butuh banyak keringat untuk mewujudkannya menjadi sesuatu yang benar-benar berarti. Selamat berjuang.
Jalan mengubah perilaku orang?
Bapak itu tampak seperti bapak baik-baik. Ia mengendarai mobil yang ditumpangi wanita yang mungkin adalah istrinya, juga beserta anak-anak kecil yang mungkin adalah anak-anaknya. Mungkin memang benar ia bapak yang baik bagi keluarganya. Tapi bagi saya, sesama pengguna jalan, jelas ia bukan pengguna jalan yang baik. Di tengah laju lambat antrian lampu merah, ia mengambil jalur berlawanan (jelas memotong garis lurus batas tengah jalan), lalu setelah mendahului beberapa mobil mendesakkan mobilnya kembali masuk jalur, pas di tempat mobil yang saya kendarai tengah mengantri lampu merah yang sama. Akhirnya saya beri jalan, semata hanya karena mobilnya lebih jelek ketimbang mobil yang tengah saya kendarai, rugi jika harus serempetan. “Menang elek” istilah istri saya.
Sudah barang tentu itu bukan kejadian pertama yang saya alami. Tapi saya tak henti-hentinya heran, betapa jalan raya dengan kepadatan dan kemacetannya berpotensi mengubah orang yang sebenarnya (mungkin) orang baik-baik, menjadi pengendara yang ganas dan beringas. Di posisi yang sebenarnya salahpun, masih pula berani marah.
Andrew Young
Pada suatu tengah malam, setelah iseng-iseng mencoba berbagai saluran siaran TV, saya tertarik pada tayangan Oprah Winfrey Show. Kebetulan saat itu seorang yang bernama Andrew Young menjadi bintang tamunya. Sebelum menonton acara Oprah tersebut, saya belum pernah mendengar dan tahu siapa itu Andrew Young. Ternyata kisah Andrew Young yang disampaikan dalam OWS ini menarik perhatian saya.
Sebagai informasi awal, Andrew Young adalah mantan pembantu/ajudan utama dalam tim kampanye John Edwards, saat John Edwards maju berkampanye sebagai bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat pada tahun 2008 yang lalu. John Edwards sendiri, sebelum maju dalam pencalonan presiden AS, adalah seorang senator dari Partai Demokrat.
Lalu apa yang menarik bagi saya?
Andrew Young adalah seorang teman lama John Edwards, mereka sudah berteman selama hampir sekitar 10 tahun, dan ia sangat mendukung ide-ide besar John Edwards untuk Amerika. Itu sebabnya ia mendukung dan bahkan terlibat sebagai staf penting dalam tim kampanye John Edwards. Pada bulan Oktober 2007, di tengah sengitnya persaingan antar kandidat Partai Demokrat – John Edwards, Barack Obama, dan Hillary Clinton, sebuah surat kabar memberitakan kabar tentang dugaan perselingkuhan John Edwards dengan Rielle Hunter, dan Rielle Hunter dikabarkan tengah mengandung anak dari hubungan mereka. Sebagai kandidat kuat pada proses pencalonan internal Partai Demokrat (menjelang akhir tahun 2007 John Edwards bersaing ketat pada posisi 1 dan 2, dengan Barack Obama), tentunya pemberitaan ini berpotensi merugikan John Edwards.
Menurut apa yang disampaikan oleh Andrew Young dalam OWS (ya, tulisan ini didasarkan pada cerita Andrew Young, yang tentu bisa dipandang sebagai kisah subyektif), pada titik itulah John Edwards meminta bantuannya, sebagai teman baik, agar tampil mengaku bahwa Andrew Young-lah ayah dari bayi yang tengah dikandung Rielle Hunter. John Edwards menjanjikan pada Andrew Young bahwa ini hanya untuk sementara, sebagai upaya penyelamatan kampanyenya dan (ini yang lebih ditekankan John Edwards) untuk melindungi istrinya yang tengah menderita kanker payudara (dan diperkirakan tidak akan lama bertahan hidup) dari pemberitaan negatif. John Edwards menjanjikan akan mengaku pada publik apa sebenarnya yang terjadi pada suatu saat nanti. Andrew Young hanya memiliki waktu sekitar 12 jam (saya lupa mengapa 12 jam) untuk memutuskan sesuatu atas permintaan bantuan ini. Ia bercerita pada istrinya tentang hal ini. Sedari awal Andrew Young cenderung bersedia membantu John Edwards, di samping demi kebaikan Elizabeth Edwards (istri John Edwards), juga agar ide-ide besar John Edwards untuk Amerika dapat terus diperjuangkan (dengan harapan John Edwards berhasil menjadi presiden Amerika). Entah bagaimana, istri Andrew Young akhirnya setuju. Maka tampillah Andrew Young ke publik, mengaku bahwa ialah ayah dari bayi yang tengah dikandung Rielle Hunter.
Tentu saja, pengakuan Andrew Young tersebut bukannya tanpa efek apa-apa terhadap diri dan keluarganya. Ia menanggung segala penghinaan dan aib yang ditimpakan kepadanya. Ia bahkan dijauhi oleh sesama rekannya dalam tim kampanye John Edwards. Dan semua itu demi John Edwards serta istrinya. Elizabeth Edwards, yang tidak mengetahui soal kesepakatan tersebut, tentu juga berpandangan dan berkomentar negatif pada Andrew Young, seseorang yang dianggapnya adalah teman baik suaminya. Andrew Young dan keluarganya hidup berpindah-pindah di rumah sewaan, bersama Rielle Hunter (dan bayinya). Sebuah kehidupan yang jauh dari nyaman tentunya, untuk tidak menyebutnya bagai hidup di neraka.
Titik balik dalam diri Andrew Young mulai muncul ketika ia melihat bahwa setelah pengakuan itu, semakin lama John Edwards tampak semakin menjauhi dirinya. Ditambah lagi kenyataan bahwa John Edwards sepertinya tidak menaruh perhatian pada Rielle Hunter dan bayinya. Hingga akhirnya Andrew Young mulai membuka kisah sebenarnya ke publik, dan pada Februari 2010 ia menerbitkan sebuah buku yang menceritakan secara detail kisah ini.
Selama saya mengikuti tayangan itu, saya tak henti-hentinya merasa heran, mengapa Andrew Young (dan istrinya) bisa bersedia berkorban sejauh itu? Terlebih dalam wawancara di OWS, Andrew Young menjelaskan bahwa sedari awal ia tahu ini adalah hal yang salah dan akan sangat merugikan diri dan keluarganya. Namun ia selalu menekankan bahwa ini ia tempuh demi Elizabeth Edwards dan ide-ide besar John Edwards untuk Amerika. Menanggapi pernyataan ini, sebuah pertanyaan menohok dilontarkan Oprah, “apakah seorang yang telah berbuat sesuatu yang salah, dan kemudian meminta sahabatnya berkorban untuknya, untuk menutupinya, masih layak menjabat sebagai presiden Amerika, dengan ide-ide besarnya?” Tak ada jawaban jelas dari Andrew Young soal ini.
Banyak pemikiran yang berkelebat di benak saya selepas mengikuti tayangan itu. Apakah dunia politik memang sekotor itu? Mengutamakan pencitraan diri di atas segalanya, bahkan di atas kebenaran, dengan mengatasnamakan ide-ide besar dan mulia yang sedang diusung? Tidak jarang saya melihat atau setidaknya mendengar seseorang mengorbankan nilai-nilai dan kebenaran yang diyakininya demi lancarnya karir yang sedang ditempuh, namun saya tidak menduga ada yang bersedia mengorbankan sebegitu banyak nilai hidup. Saya naif? Mungkin. Tapi kisah ini mengantar saya untuk bertanya juga pada diri saya sendiri, adakah nilai-nilai yang sedang saya korbankan demi kegiatan-kegiatan saya saat ini? Kisah ini juga mungkin akan mendorong kita untuk lebih kritis pada tokoh-tokoh publik, yaitu mereka yang memiliki tekanan lebih besar untuk menampilkan citra yang benar-benar baik, tanpa cela. Tanpa niat melakukan generalisasi, kenyataannya apa yang tampak baik, bisa jadi sebenarnya tidak demikian.
Menarik pula jika kita mencoba berolah pikir. Apa yang akan kita lakukan jika kita menjadi John Edwards, yang menghadapi ancaman kehancuran karir politik? Apa yang akan kita lakukan jika kita menjadi Andrew Young, yang setelah bertahun-tahun berjuang mendukung seseorang dengan ide-ide yang ia yakini benar dan baik untuk bangsanya mendapati orang tersebut melakukan hal yang sebenarnya tercela? Bagaimana pula jika kita menjadi istri Andrew Young, atau Elizabeth Edwards? Bagaimana jika Anda menjadi masyarakat biasa, pendukung John Edwards? Apa yang akan Anda katakan atau lakukan?
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Catatan: Tulisan ini dibuat dengan dasar pernyataan-pernyataan Andrew Young dan istrinya dalam tayangan Oprah Winfrey Show dan beberapa artikel Wikipedia. Penulis sudah berupaya secermat mungkin mencantumkan fakta yang terkait. Jika ada kesalahan tulis atau kutip dalam penyampaian fakta, silakan sampaikan koreksi Anda.
Catatan saya tentang KLC Yogya 4 Juli 2011
Kemarin malam saya mengikuti pertemuan sebuah kelompok kecil alumni UGM (terwadahi dalam KLC) yang menghadirkan Mas Hikmat Hardono, Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar (bagi rekan2 yang belum pernah mendengar apa itu Indonesia Mengajar (IM), bisa coba baca halaman ini dan ini). Dalam pertemuan tersebut, Mas Hikmat Hardono berbagi kisah tentang IM.
Kisah dibuka dengan cerita tentang seorang Koesnadi Hardjasoemantrimuda yang menginisiasi PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa) – sebuah gerakan yang mengajak mahasiswa untuk membuka SMA dan menjadi guru di daerah terpencil. Pak Koes berangkat ke Kupang pada tahun 1950an. Silakan dibayangkan. Kupang. 1950an. Selama beberapa tahun beliau tinggal di sana. Dan sekembalinya dari sana, beliau membawa tiga orang siswa paling cerdas dari sana untuk berkuliah di UGM. Seorang di antaranya, Adrianus Mooi, kemudian menjadi Gubernur BI. Mengajar di ujung negeri dan mengubah jalan hidup banyak orang. Itu inspirasi yang mengilhami IM.
Menurut saya ide besar IM menarik, sangat menarik bahkan. IM berusaha membantu menyuntikkan kemajuan ke berbagai pelosok negeri, sambil berusaha merekatkan rajutan ikatan antar anak bangsa. Anak muda yang tinggal selama setahun di daerah yang sebelumnya ia tidak kenal, akan pulang dengan ikatan tali persaudaraan dengan masyarakat tempat ia pernah tinggal itu. Dan bisa jadi ikatan itu terjalin seumur hidup. Setinggi apapun karir profesional si anak muda kemudian, kemungkinan besar ia tidak akan pernah lupa pada daerah tempat ia pernah tinggal dan berbagi selama satu tahun itu. Ia akan selalu ingat bahwa masih ada banyak pojok2 Indonesia yang perlu diperhatikan dan dibantu untuk terus maju. Ia akan ingat bahwa Indonesia amat luas dan amat beragam budayanya.
Saya kira ini tawaran jawaban yang menarik dari IM untuk tantangan Indonesia masa kini. Tentu kita tidak pernah tahu akan menjadi apa anak2 muda itu nantinya. Apakah nantinya mereka akan masih berpegang pada idealisme mereka sekarang, yang mendorong mereka untuk berangkat mengajar, kita tidak akan tahu. Tapi setidaknya, IM sudah memberi kesempatan bagi banyak anak muda untuk mengenal Indonesia dengan lebih baik.
Kupasan Mas Hikmat soal KAGAMA tidak kalah menariknya.
Kupasan soal KAGAMA dibuka dengan sebuah disclaimer bahwa dia akan berbicara terus terang apa adanya, dan berharap tidak ada yang sakit hati ![]()
Pertama, Mas Hikmat menyampaikan tentang ketidaksesuaian bentuk organisasi KAGAMA dengan platform komunikasi modern. Organisasi KAGAMA masih bersifat teritorial, mengikuti struktur administrasi negara, selain juga bersifat mengelompokkan diri sesuai bidang ilmu. Pada masa sekarang ini, komunikasi umumnya tidak lagi berjalan dalam struktur teritorial ataupun kelompok bidang ilmu (saja), melainkan justru berjalan melintasi struktur teritorial dan juga kelompok bidang ilmu. Sekarang orang berkomunikasi juga melalui media online, dan di situ tatanan teritorial tidak lagi penting. Mungkin perlu dipikirkan bentuk organisasi yang lebih mengakomodasi hal2 semacam ini. Dan sepertinya KAGAMA Virtual berusaha mengisi ruang di sini.
Selanjutnya adalah soal solidaritas alumni. Seperti yang sering disebutkan dan diakui banyak orang, solidaritas alumni UGM termasuk rendah. Mengapa demikian? Menurut Mas Hikmat, ini imbas dari kurangnya usaha untuk merekatkan hubungan antar mahasiswa, baik seangkatan ataupun antar angkatan, semasa kuliah. Berbeda dengan ITB, yang masa orientasinya berlangsung selama satu tahun pada tahun pertama kuliah, yang di dalamnya ada program mentoring yang berupaya mendekatkan hubungan antara kakak angkatan dengan adik angkatan. Terkait soal solidaritas, Pak Budi Wignyosukarto juga mengakui bahwa bahkan antar dosen sendiri juga masih kurang kompak, tidak jarang malah sikut2an saat berburu proyek. Tentu ini jadi catatan dan PR banyak pihak untuk diperbaiki. KLC, yang dulu diawali dengan KLP di Jakarta, adalah salah satu upaya untuk menjalin solidaritas alumni. Solidaritas selalu berawal dari hubungan pertemanan yang intens. KLP/KLC berupaya menyediakan wadah seperti itu secara mandiri. Berbeda dengan kursus atau pelatihan singkat, di mana ada penyelenggara dan ada peserta, KLP/KLC memiliki anggota yang sekaligus sebagai penyelenggara. Mereka menentukan kurikulum sendiri dan berupaya mendapatkan narasumber yang sesuai untuk setiap topik dalam kurikulum yang telah disepakati bersama. Melalui hubungan yang intens selama beberapa bulan, diharapkan tumbuh solidaritas dalam kelompok tersebut. Tentunya kelompok tersebut diharapkan tidak terlalu besar, hanya berisi sekitar 20-30 orang saja.
Pak Budi WS menjelaskan bahwa sebenarnya dalam tingkatan tertentu sudah terjalin komunikasi dan solidaritas yang baik antar alumni UGM. Saat ada delegasi UGM berangkat ke Palembang untuk mengikuti lomba, beliau bisa dengan mudah menghubungi teman2 KAGAMA Palembang untuk membantu delegasi yang diberangkatkan. Dan benar, bantuan itu diberikan oleh teman2 KAGAMA Palembang pada delegasi yang berlomba. Tentu diharapkan agar alumni/peserta KLP/KLC dapat membantu KAGAMA untuk menjalin solidaritas antar alumni.
========================
Pertemuan ini berlangsung tanggal 4 Juli 2011, diawali pukul 19:20, dan diakhiri pukul 21:40, diadakan di Wisma KAGAMA. Dihadiri oleh sekitar 15 orang (daftar hadirnya tidak ada pada saya).
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai resume utuh pertemuan KLC, sehingga mungkin memang tidak lengkap. Tulisan ini hanya menampilkan hal2 yang menurut saya menarik, yang muncul dalam pertemuan kemarin.
Semoga bermanfaat.
Kata di dalam benak..
Terbersit ketika melihat anakku tidur lelap malam ini..
==================
Anakku, kita berdua terikat oleh nasib untuk menjalani hubungan sebagai ayah dan anak.
Semua orang tua tidak dapat memilih siapa-siapa saja yang akan dilahirkannya menjadi anak, sebagaimana setiap anak tidak dapat memilih pada orang tua mana ia akan lahir sebagai seorang anak.
Tapi, setiap orang tua dapat memilih cara yang akan ditempuhnya untuk membesarkan si anak.
Setiap orang tua juga dapat memilih warisan baik dan buruk apa yang akan diberikan pada si anak.
Setiap orang tua dapat memilih kata-kata dan tingkah laku apa yang akan ditunjukkan dan dicontohkan pada si anak.
Termasuk aku dan ibumu, kami juga memiliki pilihan-pilihan itu.
Setiap anak dapat memilih tanggapan apa yang akan diberikannya pada sikap dan tingkah laku orang tuanya.
Setiap anak juga dapat memilih cara apa yang akan ditempuhnya untuk membahagiakan orang tuanya.
Termasuk dirimu, engkau juga memiliki pilihan-pilihan itu.
Anakku, aku dan ibumu bersyukur atas kehadiranmu di keluarga kecil kami.
Bisa saja engkau hadir di keluarga lain, rumah lain, atau kota lain.
Tapi ternyata engkau hadir di sini.
Engkau anak kami, kami orang tuamu, itu bukan pilihan, itu sudah ditentukan.
Tapi kita – aku, ibumu, dan engkau – punya banyak sekali pilihan pikiran, sikap, kata-kata, dan tindakan untuk kita isikan dalam perjalanan hubungan kita sebagai orang tua dan anak.
Aku berdoa, agar kita bijaksana – dan terus makin bijaksana – dalam mengambil pilihan-pilihan kita.
Selamat malam anakku. Tidurlah lelap. Ayah menjagamu.
==================


Komentar terbaru