Hubungan antara pasien buta huruf dan sistem informasi

“Yohana Anau!” panggil staf RS bagian farmasi. (Nama pasien, diagnosis, dan obat yang disebutkan adalah fiktif belaka, dimaksudkan sebagai contoh kasus saja.)

Seorang wanita muda yang menggendong anak berjalan mendekati loket farmasi. Ia menyerahkan selembar kartu pasien yang berlumur ingus anaknya kepada staf farmasi. Staf farmasi yang mengenakan sarung tangan karet menerima kartu pasien tersebut, memeriksa nomor rekam medisnya, mengambil obat yang sudah disiapkan, lalu berusaha menjelaskan cara pemakaian obat pada si pasien yang tidak begitu memahami bahasa Indonesia dan juga tak lincah membaca menulis.

Image

“Mama sakit batuk kah?” tanya staf farmasi, sambil memperagakan batuk.
Si pasien mengangguk.
“Obat ini diminum sebutir sehari empat kali,” jelas staf farmasi, sambil menunjukkan empat jari tangan.
“Mengerti?”
Si pasien kembali mengangguk.
“Sekarang cap jempol tangan di sini.” Staf farmasi mengangsurkan selembar kertas bukti tanda terima obat dan bantalan tinta.
Pasien memberikan cap jempolnya di lembar yang disediakan, dan obat diserahterimakan.

==============

Rutinitas semacam itu yang tampak hampir sepanjang jam operasional di ruang farmasi pada sebuah RS kecil di bagian timur Indonesia sana.
Sekilas tampak normal. Namun di balik apa yang tampak itu, ada berbagai kendala yang dihadapi.

Sebagian besar pasien hanya sedikit memahami bahasa Indonesia. Dan sebanyak itu pula pasien yang tidak mampu membaca dan menulis.
Penjelasan mesti diberikan dengan bantuan bahasa isyarat, didukung dengan harapan: semoga informasi yang disampaikan dipahami dengan benar dan dijalankan oleh pasien. Terkadang ada pasien lain yang paham bahasa Indonesia, dan mereka dapat membantu menyampaikan penjelasan petugas medis pada si pasien dalam bahasa lokal.

Tidak jarang dijumpai pasien yang tidak mengonsumsi obat sesuai dengan cara yang telah dijelaskan. Obat yang berwarna-warni itu berakhir di dinding rumah, diperlakukan layaknya pajangan, karena warna-warninya yang dianggap menarik. Tidak jarang pula jatah obat untuk sekian hari dikonsumsi sekaligus, mungkin karena pasien mengira itu bisa membuat ia makin cepat sembuh.

Bukan hal yang langka pula, pasien yang datang mendekat ke loket bukanlah pasien yang memiliki nama yang sebelumnya dipanggil staf farmasi (atau dipanggil staf medis di poliklinik). Pasien yang mendekat itu datang hanya karena agar ia bisa segera menerima obat (yang adalah obat pasien lain) dan segera bisa pulang. Bila staf farmasi tidak jeli memeriksa kartu pasien, obat yang salah dapat diserahterimakan. Resiko ini makin besar untuk terjadi bila pasien kebetulan tidak membawa kartu, atau bahkan membawa kartu milik pasien lain.

Sebagian besar pasien yang datang tidak tahu tanggal lahirnya sendiri.

==============

Bagaimana cara memperkecil kemungkinan kesalahan pemberian obat? Bagaimana cara mengurangi kemungkinan kejadian salah panggil pasien (sekalipun si pasien dengan sengaja datang walau bukan namanya yang dipanggil)? Bagaimana cara mencatat umur pasien yang tidak diketahui jelas tanggal lahirnya?

Ini adalah sekedar beberapa contoh tantangan nyata bagi implementasi teknologi informasi. Bagaimana teknologi informasi mampu mendukung kerja staf RS dalam menghadapi berbagai persoalan non-teknis seperti itu. Sekedar membuat sistem informasi (sistem informasi apapun), yang memiliki kolom isian lengkap dan alur kerja yang detail tentu adalah hal yang benar. Tapi membuat agar sistem informasi dengan kolom isian lengkap dan alur kerja detail itu dapat diisi dengan data nyata dalam kerangka waktu yang masuk akal oleh petugas di lapangan, bagi saya adalah tantangan sebenarnya.

Tidak jarang penyusun kebijakan dan pengembang sistem informasi berbincang panjang dan lebar tentang berbagai aspek teknis dalam teknologi informasi: menggunakan DBMS apa, menggunakan framework apa, mengapa memilih teknologi ini ketimbang itu, seperti apa dataset yang lengkap dan mampu menampung seluruh data yang diminta berbagai stakeholder, dst.

Tapi mungkin adakalanya kita juga perlu berbicara tentang berbagai aspek ‘manusiawi’ dari kebijakan dan sistem informasi yang tengah dibangun: seberapa mampu SDM yang ada menggunakan sistem yang tengah dibuat, seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisi sebuah form, apakah kolom data mandatory (harus terisi) yang ada di dalam form isian itu sungguh adalah data yang tersedia di lapangan, apakah sungguh sistem informasi yang tengah dibangun itu mempercepat kerja petugas lapangan alih-alih memperlambatnya, dst.

Menuliskan tulisan ini sungguh mengingatkan saya pada slogan: information technology for everyone..

Headline

Kemarin sebuah harian nasional menuliskan headline: “Papua Kembali Memanas” (http://cetak.kompas.com/read/2013/02/22/02034064/papua.kembali..memanas). Setelah membaca detail beritanya, ternyata menceritakan serangan bersenjata di dua tempat: Tingginambut dan Sinak.

Saya tak hendak membahas detail kejadian serangan bersenjata tersebut. Namun menurut saya agak kurang pas jika kejadian serangan tersebut lantas diberi headline: “Papua Kembali Memanas”. Headline tersebut mengesankan seluruh (atau setidaknya sebagian besar) wilayah Papua berada dalam situasi genting.

Jika kita mencoba menggali kembali ingatan kita akan kejadian gempa bumi di wilayah Yogya, Klaten, dan sekitarnya, pantaskah kejadian tersebut membuahkan headline: “Bencana Dahsyat Menimpa Jawa”? Adakah harian yang memunculkan headline semacam itu? Sejauh yang saya tahu tidak ada.

Jelas ada “perasaan tentang ruang” yang berbeda antara tempat yang jauh dan tidak begitu kita kenal dengan tempat yang dekat dan kita kenal dengan baik. Ini hal yang lumrah. Ketika seseorang dari pelosok desa Wonogiri merantau ke ibukota misalnya, ia akan merasa lebih mudah mengidentifikasikan dirinya sebagai “wong Solo”, ketimbang sebagai “wong Wonogiri”. Orang yang menerima penjelasannyapun akan lebih mudah memahami dan menerima, toh Wonogiri (relatif) berdekatan dengan Solo. Ketika nama Wonogiri dimunculkan, penjelasan yang lebih panjang dan rinci cenderung akan dibutuhkan, dan ini terkadang merepotkan, jika keperluannya hanya untuk perkenalan sambil lalu.

Itu dalam konteks perkenalan basa-basi. Namun bagaimana bila kebetulan konteksnya adalah hal yang negatif, seperti bencana, huru-hara, atau label jelek?

Di mata sebagian orang luar Sukoharjo, nama Sukoharjo (Kabupaten di Jawa Tengah) terlanjur lekat dengan image “teroris”. Dugaan saya, ini karena banyak berita yang muncul mengaitkan nama wilayah tersebut dengan kegiatan terorisme. Wilayah tersebut sebetulnya relatif luas, penduduknya juga beragam, namun label yang terlanjur tertempel di benak khalayak cuma satu, dan (sialnya) negatif.

Kebetulan saya baru saja pulang dari jalan-jalan, eh mengurus kerjaan, di Papua. Sepulangnya dari sana, saya mendapat beberapa pertanyaan senada dari beberapa teman dan kerabat: ada tembak-tembakan tidak di sana?

Dibutuhkan pengetahuan geografis yang cukup bagi pembaca berita, dan juga bagi penulis berita, untuk menempatkan sebuah kejadian dalam konteks ruang yang tepat, dan dalam “zoom” lokasi yang pas.

Categories: media Tags: , ,

Mesin penerjemah yang dibuat 11 tahun yang lalu

Gara-gara sebuah obrolan ringan tentang Google Translate di sebuah group FB kemarin, di mana saya nimbrung dengan sedikit cerita tentang proyek skripsi saya tentang machine translation, saya jadi tergelitik untuk mencoba hasil penerjemahan mesin buatan saya itu dengan hasil terjemahan Google Translate :)

Skripsi saya ditulis tahun 2002, dan waktu itu belum ada Google Translate, yang ada adalah Babelfish Altavista, sebuah mesin penerjemah yang cukup bagus pada saat itu. Babelfish Altavista itu pulalah yang memberikan inspirasi pada saya untuk memilik topik machine translation untuk skripsi saya. Babelfish Altavista menyediakan banyak pilihan bahasa, namun Bahasa Indonesia tidak termasuk di dalamnya. Jadi, yang terpikir saat itu: mengapa tidak mencoba membuat mesin penerjemah untuk Inggris – Indonesia?

Pada mesin penerjemah yang akhirnya saya buat, ada dua mode yang dapat digunakan: penerjemahan situs dan penerjemahan teks. Pada intinya keduanya sama, yang sedikit berbeda adalah mode penerjemahan situs memiliki fungsi tambahan untuk memilah teks yang berada di antara tag HTML dan lalu mengembalikannya lagi ke dalam tag HTML yang sesuai ketika penerjemahan teks selesai dilakukan.

Ada berbagai hal teknis yang mungkin menarik pula untuk diceritakan, namun sepertinya tidak dalam tulisan ini.

Nah, dalam skripsi saya dulu itu, saya menguji mesin penerjemah saya itu dengan memberikan masukan berupa dua cerita humor pendek berbahasa Inggris. Sekarang sudah ada Google Translate, dan saya penasaran untuk membandingkan hasil terjemahan mesin penerjemah saya dengan hasil terjemahan Google Translate. Berikut ini adalah teks asli, hasil terjemahan Google Translate, dan hasil terjemahan mesin penerjemah saya:

Cerita asli 1:

An old admiral was famous in the navy for his bad temper, so everyone tried hard not to annoy him. One week his ships were going to take part in a big international exercise, so he came on board in the evening, had his dinner and then went to bed. In the morning he had his breakfast early, came up to the bridge and examined the ships in his group carefully. Then he said angrily, ‘There should be two cruisers in this group, but I can only see one. Where’s the other?’ No one dared to answer, and this made the admiral even angrier. His face became redder and redder.
‘Well?’ he shouted. ‘What are you fools hiding from me? Where’s the second cruiser? What happened to it? Answer me!’
At last a young sailor found enough courage to speak.
‘Please, Sir,’ he said, ‘you’re on it’.

Hasil terjemahan Google Translate:

Seorang laksamana tua itu terkenal di angkatan laut untuk emosi buruknya, sehingga semua orang berusaha keras untuk tidak mengganggunya. Satu minggu kapalnya akan mengambil bagian dalam latihan internasional yang besar, sehingga ia datang ke kapal di malam hari, makan malam dan kemudian pergi tidur. Di pagi hari ia sarapan nya pagi, datang ke jembatan dan memeriksa kapal-kapal dalam kelompok dengan hati-hati. Lalu ia berkata dengan marah, “Harus ada dua kapal penjelajah di grup ini, tapi aku hanya bisa melihat satu. Mana yang lain? “Tidak ada yang berani untuk menjawab, dan ini membuat admiral bahkan marah. Wajahnya menjadi merah dan merah.
‘Yah? “dia berteriak. “Apa yang kamu bodoh bersembunyi dari saya? Mana yang cruiser kedua? Apa yang terjadi padanya? Jawab aku! ‘
Akhirnya seorang pelaut muda menemukan cukup keberanian untuk berbicara.
“Tolong, Pak,” katanya, “Anda berada di itu.

Hasil terjemahan mesin penerjemah saya:

Laksamana muda tua dulunya terkenal dalam Angkatan Laut itu untuk watak miliknya yang jelek, sehingga setiap orang mencoba keras tidak ke mengganggu dia. Minggu satu kapalnya sedang pergi ke bagian dalam latihan internasional besar, sehingga dia datang di atas papan dalam malam hari itu, memiliki makan malamnya dan kemudian pergi ke tempat tidur. Dalam pagi hari itu dia memiliki makan paginya awal, datang di atas ke jembatan itu dan memeriksa kapal itu dalam kelompoknya dengan teliti. Kemudian dia berkata dengan marah,’ di sana seharusnya dua cruisers dalam ini, tetapi saya hanya melihat satu. Di mana yang yang lain?’ tidak satu berani untuk menjawab, dan ini membuat laksamana muda itu seimbang semakin marah. Wajahnya menjadi semakin merah dan semakin merah.’ baik?’ dia berteriak.’ apa apakah kamu membodohi menyembunyikan dari saya? Di mana yang kedua? Apa terjadi ke itu? Jawaban saya!’ di terakhir muda sailor menemukan keberanian cukup ke berbicara.’ menyenangkan, tuan,’ dia berkata,’ kamu adalah di atas itu’.

Cerita asli 2:

The cautious captain of a small ship had to go along a coast with which he was unfamiliar, so he tried to find a qualified pilot to guide him. He went ashore in one of the small ports where his ship stopped, and a local fisherman pretended that he was one because he needed some money. The captain took him on board and let him tell him where to steer the ship.
After half an hour the captain began to suspect that the fisherman did not really know what he was doing or where he was going, so he said to him, ‘Are you sure you are a qualified pilot?’
‘Oh, yes,’ answered the fisherman. ‘I know every rock on this part of the coast.’ Suddenly there was a terrible tearing sound from under the ship. At once the fisherman added, ‘And that’s one of them.’

Hasil terjemahan Google Translate:

Kapten hati-hati dari sebuah kapal kecil harus pergi sepanjang pantai dengan yang ia tidak terbiasa, jadi dia mencoba untuk menemukan pilot yang memenuhi syarat untuk membimbingnya. Dia pergi ke darat di salah satu pelabuhan kecil di mana kapalnya berhenti, dan nelayan lokal berpura-pura bahwa ia adalah satu karena ia membutuhkan uang. Kapten membawanya di papan dan biarkan dia memberitahu padanya di mana untuk mengarahkan kapal.
Setelah setengah jam kapten mulai menduga bahwa nelayan tidak benar-benar tahu apa yang dia lakukan atau ke mana ia pergi, sehingga ia berkata kepadanya, ‘Apakah Anda yakin Anda adalah seorang pilot yang memenuhi syarat? “
“Oh, ya,” jawab nelayan. “Aku tahu setiap batu pada bagian ini dari pantai.” Tiba-tiba ada suara robek mengerikan dari bawah kapal. Sekaligus nelayan menambahkan, “Dan itu salah satu dari mereka.”

Hasil terjemahan mesin penerjemah saya:

Kapten hati-hati dari kapal kecil harus pergi sepanjang pantai dengan yang mana dia dulunya tidak kenal, sehingga dia mencoba untuk menemukan pengemudi layak ke memandu dia. Dia pergi menepi dalam satu dari pelabuhan kecil di mana kapalnya menghentikan, dan nelayan lokal berpura-pura itu dia dulunya satu karena dia membutuhkan uang beberapa. Kapten itu mengambil dia di atas papan dan membiarkan dia dia di mana ke mengemudikan kapal itu. Setengah setelah jam kapten itu mulai untuk mencurigai itu nelayan itu tidak mengetahui apa dia sedang melakukan atau di mana dia sedang pergi, sehingga dia berkata ke dia,’ apakah kamu yakin kamu adalah pengemudi layak?” oh, ya,’ menjawab nelayan itu.’ saya mengetahui karang setiap di atas ini dari pantai itu.’ tiba-tiba di sana adalah bunyi yang parah dari di bawah kapal itu. Seketika nelayan itu menambahkan,’ dan itu satu dari mereka.

Menurut pendapat saya, not too bad :)
Bagaimana menurut Anda?

Bagan Silsilah Keluarga

“Oh berarti kamu itu cucu dari adiknya kakek saya..”
“Rupanya ibu saya dan suami sepupu saya punya marga (nama keluarga) yang sama..”

Sudah dua kali saya diminta (dan setengah mengajukan diri, karena merasa berminat) untuk menyusun data dan bagan silsilah keluarga. Kali pertama hampir 10 tahun yang lalu, untuk keluarga saya, dari pihak ayah dan ibu. Lalu kali kedua baru saja tahun ini, untuk keluarga besar istri saya.

Ilmu mengumpulkan data silsilah keluarga ini dikenal dengan nama genealogi.

Contoh bagan silsilah keluarga

Contoh bagan silsilah keluarga

Bagi saya, silsilah keluarga adalah hal yang menarik. Dari situ saya bisa lebih mengenal anggota-anggota keluarga dan menelusuri hubungan antar kerabat. Orang-orang yang sering saya lihat hadir dalam acara-acara keluarga namun belum saya kenal, jadi bisa dikenal dengan tahu nama dan hubungan kekerabatannya dengan saya. Data yang tadinya kebanyakan hanya tersimpan dalam memori orang – dan akan tergerus dengan makin pudarnya daya ingat – dapat dilestarikan. Tidak jarang potongan-potongan data tentang satu hal dikumpulkan dari beberapa sumber. Sangat menyenangkan ketika data sudah terkumpul cukup lengkap dan akhirnya tergelar dalam bentuk daftar dan bagan.

Dalam sejarah, data silsilah banyak digunakan dalam keluarga-keluarga bangsawan, untuk menentukan hak atas kekuasaan dan jabatan di antara mereka. Tidak jarang dalam satu keluarga dengan nama marga yang sama, diciptakan simbol keluarga, seperti coats-of-arms atau dalam bentuk panji-panji bertuliskan karakter nama marga yang dibawa ketika berperang.

Dalam pengalaman saya, yang dikumpulkan terutama hanya data-data pribadi yang penting, seperti nama diri, nama keluarga, foto diri, tempat tanggal lahir, tempat tanggal meninggal (bila telah meninggal) beserta data-data yang sama dari pasangan (istri/suami) dan anak-anaknya. Bila ada, bisa pula disertakan tanggal pernikahan, pekerjaan, data kontak (alamat, no telepon, dll). Tidak jarang dari leluhur yang telah lama meninggal, data yang pentingpun hanya tersedia sebagian saja, misalnya hanya diketahui nama panggilannya saja, nama lengkapnya tidak ada yang tahu. Dari 2 silsilah yang telah saya susun, saat ini saya telah berhasil mengumpulkan data dari 5 generasi, yang secara total meliputi hampir 500 data pribadi, meski tidak semuanya lengkap.

Ada banyak software yang bisa digunakan untuk membantu kita mengumpulkan data silsilah ini. Setelah mencoba beberapa, salah satu di antaranya yang akhirnya saya gunakan adalah Family Tree Builder.

Buku Silsilah Gan Peng

Buku Silsilah Gan Peng

Gara-gara saya mengumpulkan data silsilah ini, saya jadi tahu bahwa keluarga Gan Peng (atau singkatnya keluarga Gan) juga mencoba menyusun silsilah keluarga mereka. Data yang berhasil dikumpulkan sudah mencapai ribuan orang dan meliputi 13 generasi, jumlah yang luar biasa menurut saya. Ketika membaca buku silsilah keluarga Gan ini – yang dari namanya kita bisa tebak berasal dari Cina, saya sempat heran ketika mendapati wajah-wajah dan nama-nama orang keturunan Arab. Rupanya, pada suatu masa dahulu ada beberapa anggota keluarga Gan yang menikah dengan orang Arab, dan dari situlah muncul keturunan-keturunannya yang berwajah dan bernama khas Arab. Keluarga Gan telah beberapa kali mengadakan acara reuni, dan banyak anggota keluarga Gan dari berbagai tempat (bahkan dari berbagai negara) dan berbagai latar belakang budaya hadir.

Tapi yang paling hebat, bahkan hingga masuk dalam Guinness Book of Records, adalah silsilah keluarga Konfusius yang meliputi 80 generasi, yang telah dicatat mulai 2.500 tahun yang lalu. (Referensi: http://www.china.org.cn/china/features/content_16696029.htm, http://news.xinhuanet.com/english/2008-02/16/content_7616027.htm, http://en.wikipedia.org/wiki/Family_tree_of_Confucius_in_the_main_line_of_descent)

Mau mencoba mencatat data silsilah keluarga juga?

Anak dan Dokter Gigi

Di rumah kami yang mungil, tidak sedikit sore dan malam hari di mana istri saya berbagi cerita tentang berbagai kasus yang dihadapinya di ruang prakteknya bersama pasien-pasien yang tanpa nama itu (tanpa nama bagi saya, pasien dengan nama bagi dia). Dari banyak kisah yang diceritakannya, saya melihat bahwa kasus gigi pada anak membutuhkan tindakan dengan pertimbangan akan paling mendatangkan manfaat bagi diri si anak dalam jangka panjang.

Mari kita lihat contoh satu kasus ini.

Seorang anak didampingi ayah dan ibunya masuk ke ruang praktek. Keluhannya adalah gigi susunya ‘kesundulan’. Ini kasus yang banyak dijumpai pada anak-anak, di mana gigi permanen sudah mendesak hendak keluar, sedangkan gigi susu masih melekat kuat belum goyah sedikitpun. Biasanya dokter gigi (terlebih dokter gigi anak) akan memberikan saran agar gigi susu itu digoyang-goyang sendiri di rumah, hingga goyah dan akhirnya lepas sendiri. Gigi ‘kesundulan’ tersebut biasanya disebabkan oleh pertumbuhan rahang yang kurang sehingga rahang tidak dapat menampung gigi permanen yang menggantikan gigi susu tersebut. Perlu diperhatikan di sini bahwa gigi permanen ukurannya lebih besar dari gigi susu. Makan makanan yang keras (misalnya buah apel yang dipotong potong, bukan di jus), bisa membantu merangsang pertumbuhan rahang. Jika pertumbuhan rahang selaras dengan besar gigi yang tumbuh maka diharapkan tidak terjadi lagi gigi susu ‘kesundulan’. Jika gigi susu ‘kesundulan’ tadi, setelah digoyang-goyang tidak dapat lepas sendiri, mungkin perlu bantuan dokter gigi untuk membantu melepasnya.

Dapat dibayangkan kegundahan hati si anak ketika ia diberitahu bahwa giginya hendak dicabut. Jangankan dicabut, untuk duduk di kursi gigi dan diperiksa giginya saja banyak anak yang sudah merasa gentar. Jangankan anak-anak, tidak sedikit pula orang dewasa yang seandainya bisa ingin menghindar dari keharusan duduk di kursi gigi.

Lalu bagaimana jika si anak takut dicabut giginya?

Tidak jarang diambil keputusan untuk memaksakan tindakan pencabutan itu. Anak dipangku orang tuanya duduk di kursi gigi, dipegangi sambil dicabut giginya. Anak menangis dan meronta hampir dapat dipastikan bukan karena kesakitan, namun karena ketakutan.

Pilihan tindakan di atas sebisa mungkin sebaiknya dihindari.

Mengapa? Karena dengan menjalankan tindakan semacam itu, dapat dipastikan anak akan menolak diajak ke dokter gigi di kemudian hari, juga ketika terjadi kegawatdaruratan, di mana diperlukan tindakan segera.

Lalu tindakan apa yang dapat dilakukan?

Percakapan ini menggambarkan alternatif tindakan yang mungkin lebih baik:

Dokter gigi anak (D) : “Adek, boleh dilihat giginya sama Bu Dokter?”
Anak (A) : “Nggak mau!”
D : “Lihatnya di sini saja (di tempat duduk pengantar, bukan di kursi gigi) kok. Cuma buka mulut saja. Gimana?”

Pelan-pelan si anak membuka mulutnya

D : “Ah, pintar sekali Adek ini.. Coba diintip sebentar ya..”

Dokter melihat gigi si anak.

D : “Nah, sekarang kalau melihat kursi gigi mau tidak? Kursinya bisa naik dan turun lho. Lampunya jika diusap bisa nyala dan mati lho.. (diperagakan, sambil diam-diam kaki si Dokter menginjak saklar lampu)”

Anak mungkin akan tertarik untuk mendekat dan melihat kursi gigi.

D : “Mau mencoba duduk di kursi gigi?”

Anak menggeleng.

D : “Oh, mungkin bapak atau ibu mau mencoba dulu duduk di kursi yang bisa naik turun ini.”

Ibu mendekat dan duduk di kursi gigi, si anak mengamati.

D : “Wah ibu duduknya enak sekali ya Bu? Adek mau ikut? Dipangku ibu?”

Si anak menggeleng.

D : “Oh ya sudah, mungkin lain kali ya.. Nggak apa-apa. Lain kali masih boleh main ke sini kok..”

Pada kunjungan kali itu, mungkin memang tidak ada tindakan medis yang bisa dilakukan. Tapi itu tidak berarti kunjungan kali itu sia-sia belaka. Si anak pulang dengan kesan baik dan nyaman tentang dokter gigi dan ruang prakteknya. Tumbuh keberanian dan kesediaan untuk diajak lagi ke dokter gigi.

Biasanya sebagai solusi kasus di atas (gigi susu ‘kesundulan’), anak yang pada kunjungan pertama tidak mau, pada kunjungan selanjutnya, karena gigi susu tersebut tidak bisa lepas sendiri, dengan sukarela menyerahkan giginya untuk dibantu dilepas oleh dokter gigi.

Tidak jarang, orang tua berusaha mendesak agar dokter gigi segera melakukan tindakan medis yang diperlukan, sekalipun si anak jelas-jelas ketakutan. Di sini diperlukan edukasi terhadap orang tua. Pemaksaan hampir selalu berarti menumbuhkan ketakutan dan keengganan dalam diri si anak untuk pergi ke dokter gigi di kemudian hari. Katakanlah masalah pada gigi yang satu itu hari ini selesai. Namun bukankah gigi ada banyak jumlahnya? Dan tidak tertutup kemungkinan muncul masalah pada gigi yang lain. Lalu bagaimana bila si anak sudah terlanjur jera (takut) pada dokter gigi? Mau dipaksa lagi? Seiring pertumbuhan si anak, akan tiba saatnya di mana pemaksaan tak lagi mungkin dilakukan.

Ada beberapa hal yang saya lihat berperan di sini, di antaranya: komunikasi anak dengan dokter gigi, komunikasi orang tua dengan anak, komunikasi dokter gigi dengan orang tua, dan pertimbangan jangka panjang, bukan hanya untuk kasus kali itu saja.

Sudah pernahkah teman-teman membawa anak-anaknya pergi ke dokter gigi?

Memberi Hingga Terluka?

Minggu lalu, dalam kunjungan terkait pengerjaan sebuah proyek, dalam beberapa hari berturut-turut saya mengunjungi RS Waa Banti, sebuah RS yang dikelola oleh LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro), yang berada sekitar 5 kilometer dari Tembagapura, Kabupaten Mimika. Sebuah pengalaman perjalanan yang baru dan berkesan buat saya.

RS Waa Banti banyak dikunjungi pasien warga lokal, terutama dari suku Amungme dan Kamoro, juga dari 5 suku lain yang berkerabat dengan 2 suku tersebut. Sekitar 90% pasien berstatus tidak bekerja. Heran dengan statistik ini, saya mendapat penjelasan dari staf RS bahwa sebagian besar pasien adalah penambang emas di sungai yang mengalirkan tailing (sisa hasil proses tambang). Pekerjaan tersebut dianggap bukan pekerjaan tetap, sehingga pasien dianggap tidak bekerja. Umumnya, orang setempat baru bekerja bila membutuhkan uang, meski bila mereka bekerja dalam sehari mereka bisa mendapat 2 gram emas.

Penambang emas dari tailing. Sehari. 2 gram emas. Bekerja bila butuh uang.

Dalam salah satu waktu luang yang ada selama di sana (yang adalah kesempatan langka), saya sempat berbincang dengan seorang staf RS, menggali pengalaman dia selama bekerja di RS Waa Banti. Kisah menarik muncul dari penuturannya. Suatu kali seorang pasien warga lokal menyodorkan selembar uang seratus ribu rupiah kepada dia setelah si pasien diperiksa (penting untuk dicatat, kebanyakan pasien tidak perlu membayar untuk mendapat pelayanan di RS Waa Banti). Percakapan pun terjadi dalam bahasa Indonesia logat lokal (yang sayangnya saya tidak mampu mereplikasinya di sini). Ibu staf RS bertanya pada si pasien, “Untuk apa uang itu diberikan pada saya? Bukankah pelayanan di sini gratis?” Si pasien (yang juga seorang ibu) menjawab, “Untuk anak kamu, untuk membeli susu buat anak kamu, untuk membeli makanan untuk anak kamu.” Padahal jelas-jelas gaji si staf RS tentu sudah amat mencukupi untuk kebutuhan dia dan keluarganya, dan di sisi lain uang itu tentu lebih berarti bagi si pasien. Si pasien terus mendesak, “Sudahlah ibu, terima saja. Saya memberi dengan senang hati. Kalau saya sudah beri, janganlah ditolak.” Diterimalah uang itu. Namun si ibu staf RS tak kurang akal, ia berkata, “Sekarang uang ini milik saya. Saya mau beri uang ini untuk kamu. Untuk anakmu. Untuk beli susu dan makanan untuk anakmu. Tolong diterima, janganlah ditolak.” Diterima kembalilah uang itu oleh si pasien.

Kejadian seperti itu bukan hanya sekali dua kali terjadi. Dari keterangan yang saya kumpulkan kemudian dari obrolan dengan beberapa staf RS, tidak ada konsep menabung dalam budaya setempat. Itu menjelaskan mengapa mereka bekerja hanya bila butuh uang. Bila mereka telah punya cukup uang untuk hari tersebut, bisa saja mereka dengan senang hati memberikan sisa uangnya untuk orang lain. Ini menjelaskan mengapa terjadi kejadian seperti yang dikisahkan staf RS di atas.

Teringatlah saya pada potongan doa yang terkenal itu: “berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya”.

Ketika saya mengambil gambar beberapa anak yang melintas di depan RS, Mas Jojok (yang mengajak saya ikut serta dalam kunjungan kerja itu) berkata, “Mungkin mereka itulah pemilik sesungguhnya emas di gunung sana.” Saya tidak sepenuhnya paham mengenai sistem bagi hasil pertambangan yang diterapkan untuk pertambangan emas di sana: berapa bagian pemerintah Indonesia, berapa bagian perusahaan pengelola, berapa bagian yang dialokasikan untuk pengembangan masyarakat setempat. Tapi melihat kenyataan itu, tak terelakkan sebuah pertanyaan melintas di benak saya: apakah mereka telah memberi terlalu banyak pada orang lain termasuk kita? Dan: apakah kita telah mengambil terlalu banyak dari mereka?

Saya bukan seorang ekonom, dan mungkin benar seperti yang pernah dikatakan seseorang pada saya bahwa saya terlalu bodoh untuk memahami konsep-konsep ekonomi sehingga saya tak bisa memahami apa yang saya lihat di sana.

Film “Di Timur Matahari”

“Di Timur Matahari” tidak begitu menarik sebagai sebuah film. Alur cerita terkesan kurang mulus, terselipnya humor ‘garing’ di sana-sini (contoh: Mazmur yang awalnya dikabarkan meninggal, ternyata tidak), akting yang tampak agak kaku dari beberapa aktornya.

Tapi sebagai sebentuk usaha menyampaikan apa saja yang ada dan terjadi di tanah Papua, ia tampak lengkap, tentu dengan asumsi kita percaya pada kacamata produser dan sutradaranya. Ada banyak hal yang ditampilkan di film itu, mulai dari keindahan pemandangan di sana, hingga ketimpangan kondisi masyarakatnya bila dibandingkan dengan bagian Indonesia yang lain, katakanlah Jawa.

Persoalan dalam hal pendidikan ditunjukkan dengan sekolah yang hadir tanpa tenaga guru hingga berbulan-bulan. Jomplangnya harga bahan pokok dan potensi masalah dalam NKRI ditampilkan secara mencolok melalui ucapan tokoh Vina: “Minyak goreng 10 liter Rp 350 ribu. Beras 2 karung Rp 1,8 juta. Gila.. Gimana nggak pada minta merdeka…”

Masalah perbedaan cara pandang terhadap hukum adat ditampilkan berkali-kali, diwakili oleh soal denda adat, balas dendam hutang nyawa, dan soal adat potong jari tangan.

Tak ketinggalan pula ditunjukkan potensi SDA Papua, yang menarik Ucok si perantau untuk mengadu nasib di sana, di tengah banyaknya SDM setempat yang menganggur dan sulit mencari kerja karena tak punya kemampuan bekerja yang memadai.

“Di Timur Matahari” mencoba menyampaikan begitu banyak hal, sehingga tiap penonton bisa saja menangkap pesan yang berbeda. Adegan penutupnya pun bisa ditafsirkan beraneka rupa: seorang bocah Papua beringus duduk menunggu di gubuk sebelah lapangan rumput tempat pendaratan pesawat perintis sambil memegang secarik kain merah putih yang tampak kusam.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.